The Dark Love

The Dark Love
40. Memberi Penjelasan


__ADS_3

Sheilla yang tersentak akan tindakan mendadak yang dilakukan oleh Digo untuk kedua kalinya, dengan cepat ia mendorong tubuh Digo hingga ciuman yang tak menuntut lebih itu dengan mudah terlepas.


"Huwaaaaa itu namanya bukan mengembalikan first kiss saya. Tapi modus. Huwaaaaa," jerit Sheilla. Rasa kesal di dirinya semakin menjalar di tambah ia melihat Digo justru tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang membuat laki-laki itu sampai sebahagia malam ini, Sheilla juga tidak tau. Tapi Sheilla cukup senang melihat tawa Digo yang lagi-lagi bisa ia lihat. Namun saat Sheilla ingin mengangkat bibirnya untuk tersenyum, ia ingat jika dirinya sekarang tengah menangis. Alhasil bibir yang hampir ia lengkungankan keatas dengan cepat ia lengkungankan lagi kebawa.


"Huwaaaaa tuan jahat!" ucap Sheilla dengan memukul-mukul lengan Digo sekencang mungkin. Namun pukulannya itu tak berarti apapun bagi Digo yang masih saja terkekeh sekarang.


"Tuan jahat hiks." Karena lelah Sheilla menghentikan aksinya itu dan memilih menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.


Sedangkan Digo yang sepertinya sudah sedikit puas ia menghentikan tawanya. Dan tangannya kini bergerak untuk membuka tangan Sheilla.


"Jangan menangis. Saya akui saya salah. Jadi maafkan saya, oke," ujar Digo dengan menatap lekat mata Sheilla yang tampak memerah itu.


Sheilla tak menjawab akan memaafkan Digo atau tidak. Karena terus terang saja dirinya masih sebal dengan laki-laki didepannya itu.


"Tuan tidak boleh begitu. Hargai perasaan nona yang ada di kamar sebelah," ujar Sheilla dengan menundukkan kepalanya.


"Kenapa saya harus menghargai perasaan dia?" tanya Digo dengan santai.


"Ka---karena nona---"


"Pacar saya? Omong kosong dari mana itu? Saya dan dia tidak memiliki hubungan apapun. Saya kebetulan menolong dia tadi saat di bandara. Saya rasa kamu tau hari ini ada kegaduhan apa dibandara? Dan teman dia menjadi salah satu korban yang nyawanya sudah melayang. Dan jika saya tadi tidak menolong dia, nyawa dia juga akan sama dengan nasib temannya," ujar Digo terus terang. Namun dia juga bingung kenapa harus menjelaskan dan menegaskan jika perempuan yang ia bawa bukan pacarnya kepada Sheilla. Padahal jika dipikir-pikir untuk apa ia memberitahu masalah tersebut kepada perempuan yang merupakan maid di rumahnya. Haishhhhh ini sangat lah rumit bagi Digo, karena ia juga tak tau apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.


Sedangkan Sheilla, ia kini menengadahkan kepalanya, menatap wajah Digo yang tengah menaikkan salah satu alisnya.


"Kenapa? Kamu tidak percaya?" Sheilla menggelengkan kepalanya.


"Kalau kamu tidak percaya, saya akan panggil Henry kesini. Tanya sama dia apapun yang mau kamu tanyakan," ujar Digo lalu tangannya bergerak meraih ponselnya. Namun saat dirinya ingin menekan nomor Henry, dengan cepat Sheilla merebut ponselnya.


"Tidak perlu tuan. Saya sudah percaya dengan tuan," ucap Sheilla.


"Kamu yakin?" Dengan mantap Sheilla menganggukkan kepalanya. Lalu setelahnya ia mengembalikan ponsel yang ada di tangannya kepada Digo yang langsung diterima oleh laki-laki tersebut.


"Kamu sudah tidak nangis lagi?" Sheilla menggelengkan kepalanya. Namun tak urung raut wajah yang tadi sudah kembali normal kini murung lagi. Dan hal tersebut membuat Digo gemas sendiri.


"Kamu tak perlu menyesalinya Sheilla. Karena kamu juga sudah merebut first kiss saya. Jadi kita impas," ujar Digo sembari mengacak rambut Sheilla kemudian ia berdiri dari duduknya saat pintu kamarnya di ketuk seseorang dari luar.


Sedangkan Sheilla, perempuan itu masih memproses ucapan dari laki-laki tadi.


"Apa aku tidak salah dengar? Ciuman tadi juga first kiss untuknya? Jadi kita tadi sama-sama melepas first kiss kita?" batin Sheilla yang masih terbengong.

__ADS_1


Dan tanpa Sheilla sadari jika Digo telah kembali dengan seseorang di belakangnya.


Digo yang melihat keterbengongan Sheilla, ia menyentil kening perempuan itu yang membuat Sheilla mengaduh kesakitan sembari menoleh kearah Digo yang sudah berdiri di depannya.


"Jangan bengong," ucapnya lalu setelahnya Digo menggeser posisi berdirinya membuat orang yang berada di belakangnya mendekati Sheilla.


Sheilla mengerutkan keningnya saat ia tak asing dengan pakaian perempuan yang tengah mendekati dirinya dengan sebuah senyuman.


Digo yang melihat kerutan di kening Sheilla itu pun ia kini angkat suara.


"Dia Shofie, dokter pribadi saya selain Diana. Dia kesini saya suruh untuk memeriksa luka di tanganmu itu," jelas Digo yang membuat Sheilla menatapnya sebelum ia mengalihkan pandangannya kearah perempuan didepannya yang sudah lebih dulu berbicara sebelum dirinya melayangkan protesan kepada Digo.


"Selamat malam Nona Sheilla. Perkenalkan saya Shofie dan seperti yang tuan tadi katakan, saya memang dokter pribadi tuan yang akan memeriksa keadaan Nona," ulang Sofie sembari mendudukkan tubuhnya disamping Sheilla.


Dan saat Sofie ingin meraih tangan Sheilla, perempuan itu justru menjauhkan lengannya.


"Luka ini tidak dalam dok. Hanya luka bekas kuku saya saja. Tidak parah seperti terkena goresan benda tajam. Jadi tidak perlu di periksa nanti juga sudah sembuh sendiri," ujar Sheilla. Apa-apaan Digo menyuruh seorang dokter malam-malam begini ke rumahnya hanya untuk memeriksa luka Sheilla saja? Padaha luka Sheilla tak parah sama sekali.


"Tapi luka kamu bisa infeksi Sheilla." Bukan Sofie yang menjawab melainkan Digo.


"Tapi saya tadi sudah mengobati luka ini dengan antiseptik, tuan. Dan sungguh, luka ini tak parah sama sekali," ujar Sheilla.


Namun lagi-lagi saat Sofie ingin meraih tangan gadis itu, Sheilla kembali menjauhkan tangannya bahkan tangannya kini ia sembunyikan di balik tubuhnya.


"Sheilla! Mau menurut dengan saya atau hukuman kamu akan saya tambah?!" geram Digo yang membuat Sheilla menggelengkan kepalanya.


"Jika tidak mau hukuman kamu ditambah. Menurut lah dan jangan buang-buang waktu Sofie," ujar Digo. Namun Sheilla masih enggan menyerahkan tangannya untuk diperiksa dokter cantik dihadapannya itu.


Digo yang sudah sebal pun dengan cepat ia duduk dibelakang tubuh Sheilla dan dengan gerakan cepat ia menarik tangan Sheilla dari belakang tubuh gadis itu dan mengarahkan tangan gadis itu kepada Sofie yang tengah tersenyum melihat adegan yang baru saja ia lihat. Bagaimana ia tak tersenyum ketika laki-laki yang ia kenal sangat dingin dan tak tersentuh itu, justru ia melakukan skinship dengan seorang gadis. Bahkan posisi mereka saat ini terlihat Digo tengah memeluk gadis itu dari belakang dan hal itu sangat manis sekali dimata Sofie.


Sedangkan Sheilla, perempuan itu terus memberontak agar Digo melepaskan lengannya dan menjauh dari tubuhnya. Jujur saja Sheilla sekarang sangat malu dengan posisinya saat ini apalagi didepannya ada orang lain yang melihatnya.


"Diamlah Sheilla, jika kamu benar-benar tak mau saya menambah hukuman kamu. Dan kamu, Sofie. Apa yang kamu lakukan di tempatmu itu? Kamu diam saja tak akan bisa menyelesaikan pekerjaanmu!" geram Digo.


Sofie yang mendengar suara Digo itu ia mendengus sebal. Bisakah laki-laki itu memberikan waktu kepadanya agar ia bisa lebih lama lagi melihat fenomena didepan matanya ini?


"Sofie! Segera lakukan perkejaanmu!" bentakan Digo membuat Sofie tersadar dari lamunannya.


"Iya-iya tunggu sebentar. Dasar tak sabaran," ujar Sofie sebelum ia meraih lengan Sheilla yang terluka dan dengan perlahan ia membuka perban di pergelangan tangan perempuan itu.

__ADS_1


Ia mendengus saat melihat luka yang di miliki Sheilla memang tak parah sama sekali. Bahkan luka itu juga sudah mengering.


Dan setelah melihat, Sofie kembali menutup luka tersebut dengan perban baru yang ia bawa.


"Luka nona Sheilla memang tak dalam, tuan. Lukanya tak separah yang kamu pikirkan. Bahkan lukanya sekarang sudah mengering dan besok juga akan sembuh," jelas Sofie.


"Tidak mungkin? Kamu pasti salah memeriksanya! Saya tadi juga lihat luka dia yang penuh darah di pergelangan tangannya Sofie. Dan kamu bilang lukanya sudah mengering?!Gila kamu?!" Sheilla memejamkan matanya saat suara keras Digo memenuhi telinganya.


"Tuan kecilkan suaramu. Telinga saya hampir pecah gara-gara mendengar suaramu itu," ujar Sheilla yang telinganya sudah pengang. Dan perkataan dari Sheilla tadi membuat Digo memelototkan matanya.


"Kamu sudah berniat memerintah saya, Sheilla?" Sheilla menelan salivanya susah payah saat mendengar suara rendah tepat di samping telinganya.


"Ti---tidak saya tidak berani tuan," ujar Sheilla dengan takut-takut.


Dan hal tersebut membuat Sofie menggeleng-gelengkan kepalanya sembari berdiri dari duduknya.


"Apa yang kamu lihat tadi dipergelangan tangan nona Sheilla bukan darah tuan. Melainkan obat merah," ucap Sofie yang mengalihkan pandangan Digo yang sedari tadi menatap tajam wajah Sheilla dari samping.


"Jadi kamu tidak perlu khawatir. Luka nona Sheilla akan baik-baik saja. Jika tidak ada hal lain lagi, saya permisi," ujar Sofie. Lalu karena ia tak ingin mengganggu keromantisan mereka berdua, Sofie dengan cepat keluar dari kamar tersebut. Meninggalkan Sheilla dan Digo berdua didalam sana.


"Tuh kan, apa saya bilang tadi jika luka saya ini tidak parah. Tuan ngeyel sih dibilangin," ujar Sheilla sembari melepaskan lengannya dari genggaman laki-laki itu. Lalu setelah lengannya terlepas, Sheilla dengan cepat menjauh dari tubuh Digo.


Sedangkan Digo, ia berdecak sebelum ia mulai angkat suara.


"Sudah cukup ngomelnya Sheilla. Sekarang tidur!" titah Digo.


"Iya saya akan tidur sekarang," ujar Sheilla sembari mencebikkan bibirnya. Lalu setelahnya ia kini mengambil satu bantal untuk ia bawa ke sofa di kamar tersebut.


"Ehhhh mau kemana?"


"Kan saya tadi di suruh tidur. Ya saya akan tidur lah tuan di sofa itu," jawab Sheilla.


Digo mendengus sebal.


"Saya tidak menyuruh kamu untuk tidur disana. Tidur disini seperti biasanya!" ujar Digo.


"Tapi---"


"Oke, hukuman kamu saya---" ucapan Digo terhenti saat bantal di tangan Sheilla tadi sudah berada di tempat sebelumnya diikutin oleh tubuh gadis itu yang ikut duduk diatas ranjang miliki Digo.

__ADS_1


"Fine, saya tidur disini," ujar Sheilla kemudian ia merebahkan tubuhnya di ranjang tersebut lalu menutup tubuhnya dengan selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya hingga ujung kepala. Sedangkan Digo, ia tersenyum penuh kemenangan, kemudian dirinya kini ikut berbaring disamping Sheilla, menatap punggung Sheilla yang berjarak beberapa senti didepannya saat ini sebelum dirinya menutup matanya, mulai menjelajahi alam mimpi.


__ADS_2