
Dimana penjelasan dari Franda tadi tetap saja membuat Digo diam tak menimpali ucapan dari ibu sang kekasih itu.
Sheilla yang sedari tadi juga menyimak penjelasan tersebut pun ia kini angkat suara.
"Jadi Yoga yang selama ini menindas Sheilla itu karena perintah Bunda sama Papa?" tanya Sheilla yang membuat semua mata tertuju kepadanya termasuk Digo.
"Dia menindasmu?" tanya Bian dengan ekspresi wajah yang terkejut itu.
"Ya, dia menindasku," jawab Sheilla yang membuat Digo kini mengalihkan pandangannya kearah kedua orangtua Sheilla tersebut.
"Kalian sudah tau jika Yoga telah menindas Sheilla. Jadi apa yang akan kalian lakukan kepada dia?" tanya Digo dengan aura dinginnya.
"Apa kalian bisa membunuh orang kepercayaan kalian saat ini juga di depan mata Sheilla dan saya?" sambung Digo yang membuat semua orang disana tampak terdiam.
"Kenapa kalian diam saja? Apa kalian tidak berani melakukannya?"
"Kita bukannya tidak berani melakukannya Al. Hanya saja kita tidak percaya jika Yoga melakukan penindasan kepada Sheilla karena Yoga merupakan anak yang baik, sangat baik malahan," ujar Mama Ciara yang justru membuat Digo tersenyum miring.
"See, kamu lihat sendiri kan sayang. Mereka lebih percaya dengan orang lain daripada kamu yang merupakan seseorang yang mempunyai hubungan lebih dekat daripada Yoga. Ahhhh atau jangan-jangan kita memang sudah dianggap tidak memiliki hubungan dengan mereka karena jika ucapanmu saja tidak di gubris oleh mereka semua maka mereka sama saja juga tidak akan pernah percaya sama aku," ujar Digo yang ia tujukan kepada sang kekasih namun menyindir orang-orang yang ada disana.
Ia memang tidak benci dengan mereka semua namun rasa kecewa masih menyelimuti dirinya yang entah kekecewaan itu akan hilang sampai kapan.
"Eh eh eh tidak tidak. Aku tidak ikut komplotan keempat manusia yang sudah lanjut usia ini ya. Soalnya aku masih percaya dengan ucapan Kak Sheilla dan Abang," ujar Kiya yang tak ingin lebih dalam lagi terjerumus ataupun sampai di benci oleh Abangnya sendiri karena ia paling tidak bisa di benci oleh Digo. Bahkan jika dia disuruh memilih, ia pilih dibenci kedua orangtuanya daripada Digo. Aneh memang perempuan satu ini.
__ADS_1
Sedangkan keempat orang yang dikatai manusia lanjut usia oleh Kiya dengan serempak langsung memberikan tatapan tajam kearah Kiya.
Dimana hal tersebut membuat Kiya langsung memberikan cengirannya.
"Santai. Woles everybody. Jangan sampai itu mata copot ya, karena kalau sampai itu bola mata kalian copot, Kiya akan ganti dengan bola mata boneka," ujar Kiya yang benar-benar tidak tau kondisi situasi yang masih mencekam seperti saat ini.
Dimana hal itu membuat Mama Ciara kini bangkit dari sofa yang ia duduki tadi lalu menghampiri Kiya. Dan saat dirinya sudah duduk disamping anak perempuannya itu, ia langsung membungkam mulut cerewet Kiya tersebut.
Kiya yang mendapat bungkaman dari sang ibunda pun ia tampak memberontak dengan berusaha untuk bersuara.
"Diam! Kalau kamu tidak mau diam, Mama akan ganti pita suaramu itu dengan pita kado," ancam Mama Ciara.
Dan setelah mengucapkan hal tersebut, ia kembali menatap kearah suami dan kedua orangtua Sheilla.
Dimana Franda kini kembali angkat suara.
"Kita percaya sama ucapan Sheilla. Dan akan aku lakukan apa yang kamu inginkan tadi," ujar Franda dan dengan cepat tangannya kini mengambil ponselnya untuk menghubungi Yoga.
Satu kali sambungan telepon itu terhubung, Yoga kini menjawabnya.
📞 : "Ya halo Nyonya bos. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Yoga yang terdengar di semua pasang telinga di ruang inap tersebut karena Franda dengan sengaja me-lostpacker telepon tersebut.
"Bisa ke rumah sakit Sriwijaya sekarang?"
__ADS_1
📞 : "Oh bisa Nyonya bos. 10 menit saya akan sampai di rumah sakit itu."
"Baiklah kalau begitu saya tunggu di ruang VVIP lantai 5 nomor 3," ucap Franda.
📞 : "Baik Nyonya Bos," balas Yoga sebelum sambungan telepon tersebut di putus sepihak oleh Franda.
"Kamu sudah dengar sendiri bukan. Kita akan menunggu kehadiran dia 10 menit lagi. Dan saat itu kita akan melakukan apa yang kamu mau tadi sebagai bukti kalau kita percaya dengan ucapan Sheilla yang berarti akan terus percaya dengan ucapanmu," ujar Franda dengan menaruh ponselnya di atas meja di depannya itu.
Dimana setelah ucapan Franda tadi tak ada yang angkat suara kembali hingga 10 menit telah berlalu, orang yang tengah mereka tunggu sedari tadi pun akhirnya tiba juga. Dan dengan mengetok pintu terlebih dahulu, sebelum Yoga kini masuk kedalam ruang inap Sheilla tersebut. Dimana saat dirinya baru masuk, ia tampak sangat terkejut saat mendapati Sheilla juga Digo ada di ruangan yang sama dengan keempat bosnya itu.
"Ehhhh apakah kita sudah---"
Bibir Yoga kembali di buat tertutup kala melihat ada tiga pistol yang tertuju kearahnya. Pistol-pistol itu tentunya dari Papa Devano, Bian juga Franda.
Bahkan bukan hanya bibirnya saja yang seakan kelu untuk berbicara, melainkan tubuhnya seakan-akan membeku di tempatnya berdiri saat ini.
Dan ketika dirinya melihat pergerakan jari telunjuk ketiga orang yang tengah membidik dirinya itu, ia memejamkan matanya dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya. Ia tak tau alasan kenapa dirinya bisa mengalami situasi seperti saat ini, padahal dia rasa ia tak melakukan kesalahan apapun kepada ketiga bosnya itu. Tapi entah alasan apa sampai mereka bertiga kini ingin membunuhnya, Yoga pun tidak tau.
Ia ingin sekali kabur dari bidikan ketiga bosnya itu. Namun sayangnya, tubuhnya tak mengizinkan hal itu terjadi. Jadi ia sekarang hanya pasrah saja jika tepat di hari ini juga dia harus meregang nyawa di tangan ketiga bos-nya itu.
Bahkan di dalam lubuk hatinya itu tampak menjerit ketakutan.
"Ya Tuhan, Ya Allah, Ya Gusti. Mati sudah diri hamba saat ini. Jika sampai diri hampa saat ini sudah harus berpulang, tolong tempatkan hamba di surgamu. Dan tolong lapangkan hati keluarga hamba yang harus membayar hutang hamba selama di dunia ini. Aamiin. Huwaaaa bye-bye world, bye-bye emak bapak di kampung, bye-bye calon istri hiks, sebentar lagi Yoga akan jauh dari kalian!" teriak Yoga di dalam hatinya dengan tangis kesedihan dan meronta-ronta ingin melawan namun tak bisa.
__ADS_1
Entah kenapa saat berhadapan dengan lawan, ia tak pernah gentar sama sekali dan tak pernah merasakan yang namanya takut. Namun saat dirinya berhadapan dengan para bos-nya itu, nyalinya seakan-akan lenyap entah kemana yang membuat dirinya di penuhi rasa ketakutan yang luar biasa dan hanya bisa pasrah saja menerima nasibnya itu.