The Dark Love

The Dark Love
207. Drama Bumil


__ADS_3

Waktu terus berlalu, hingga tak terasa sudah 1 minggu setelah kehamilan Monik di ketahui oleh Henry dan tepat di hari itu juga, semua orang yang ada di mansion disibukkan dengan kegiatan mereka untuk menyiapkan segala sesuatu mengenai pernikahan Henry dan Monik yang akan di selenggarakan besok pagi.


Dan yap, semua orang yang ada di mansion itu sudah tau kenapa Henry bersikap berbeda kepada Monik yang notabenenya adalah salah satu maid di manison itu satu minggu yang lalu karena ternyata Monik adalah calon istri dari Henry. Awalnya semua orang yang ada di mansion itu tak percaya dengan berita tersebut karena mereka baru mendengarnya dari mulut ke mulut sampai kemarin Henry menegaskan juga sekaligus mengumumkan kalau Monik memang benar calon istrinya. Dimana hal tersebut baru membuat semua orang di mansion itu percaya dengan berita yang sempat beredar. Walaupun tak hayal jika ada beberapa maid ataupun bodyguard yang sudah menaruh rasa dengan Monik ataupun Henry harus patah hati, tapi mereka tetap mendukung hubungan keduanya kecuali satu orang. Di luar ia tersenyum tapi didalam hatinya ia selalu meronta untuk merebut Monik dari genggaman Henry.


Sampai disaat dia mengerjakan pekerjaannya untuk menghias mansion tersebut, sesekali ia melirik kearah Monik juga Henry yang tengah duduk berdua di salah satu sofa di ruang tamu yang besok akan disulap menjadi ruang ijab kabul mereka berdua. Keduanya sudah tidak canggung lagi untuk mengumbar kemesraan mereka di depan banyak pasang mata yang melihat mereka berdua. Contohnya seperti sekarang ini, Henry dengan telaten ia menyuapi Monik karena perlu diketahui entah itu bawaan bayi atau memang keinginan Monik sendiri, perempuan itu justru semakin menempel dengan Henry, sifat tegas yang selalu Monik pancarkan justru sekarang menghilang jika berdua dengan Henry dan berganti menjadi manja, makan saja ia harus di suapi oleh Henry jika tidak ia tidak mau makan, tidur minta di peluk, tak hanya itu saja jika Henry mau pergi ia harus ikut jika tidak ia akan berubah menjadi anak kecil yang tak segan-segan untuk merengek kepada Henry yang pada akhirnya Henry yang tak tega melihatnya mengalah dan membiarkan Monik ikut dengannya walaupun harus di ruang meeting sekalipun. Dan untungnya Digo memaklumi hal itu jika tidak mungkin Henry akan pusing sendiri mengatasi calon istrinya tersebut. Dan untungnya juga jika Henry mau ke kamar mandi, Monik tidak merengek untuk ikut masuk kedalam kamar mandi. Walaupun mereka sudah ingin menikah bahkan sudah ada calon buah hati, tetap saja mereka akan merasa canggung bahkan malu jika harus mengumbar tubuh polos mereka satu sama lain, maklum saja mereka melakukan adegan sampai membuahkan janin itu karena dipengaruhi oleh obat perangsang jadi tidak heran kalau mereka merasa canggung untuk memperlihatkan tubuh polos mereka masing-masing.


Henry kini menyodorkan satu sendok makanan lagi ke mulut Monik namun kali ini perempuan itu menggelengkan kepalanya.


"Udah kenyang," ucap Monik yang membuat salah satu alis Henry terangkat.


"Udah kenyang? Yang benar saja sayang. Kamu baru makan 5 suap lho. Ayo buka mulutnya lagi," ujar Henry. Tadi saja Monik merengek mau makan giliran sudah di ambilkan dan di suapi, makanan itu hanya dimakan sedikit saja.


Lagi dan lagi, Monik menggelengkan kepalanya.


"Aku tuh udah kenyang tau. Kalau aku udah kenyang dan aku paksain untuk terus makan yang ada semua makanan yang aku makan tadi keluar lagi," tutur Monik yang membuat Henry kini menghela nafas. Sabar, batinnya.


"Ya sudah kalau memang kamu sudah kenyang," ucap Henry mengalah dan tanpa ada rasa jijik sama sekali, ia menyuapkan makanan sisa itu ke dirinya sendiri.


Namun beberapa saat setelahnya, Monik yang tadi sibuk memainkan ponselnya ia kini berucap sembari menatap wajah Henry dari samping, "Aku mau minum susu."

__ADS_1


Henry yang tengah fokus dengan makanannya, kini kepalanya menoleh kearah Monik.


"Kamu mau minum susu?" tanya Henry yang diangguki oleh Monik.


"kamu mau kan buatin susu untukku?"


"Iya nanti aku buatin ya. Tapi tunggu sebentar, aku habisin makanan ini dulu, oke." Monik yang mendengar ucapan dari Henry tadi ia mengerucutkan bibirnya.


"Aku maunya sekarang," ujarnya.


"Tapi ini tinggal sedikit lagi habis sayang. Tunggu sebentar saja ya tidak ada 5 menit kok." Monik menggelengkan kepalanya dengan bersedekap dada.


"Oke, fine. Aku buatin susu sekarang juga," ucap Henry sembari meletakkan piring yang masih tersisa sedikit itu keatas meja didepannya sebelum dirinya berdiri lalu beranjak dari samping Monik. Dimana hal tersebut membuat Monik kini tersenyum senang lalu setelahnya ia kembali memainkan ponselnya.


Tak berselang lama, Henry telah kembali dengan membawa satu gelas susu ditangannya. Tenang saja susu itu adalah susu khusus ibu hamil yang dengan sengaja mereka taruh ke kotak susu biasa agar semua orang disana yang belum tau berita kehamilan Monik menaruh curiga.


"Nih susunya." Henry menyodorkan satu gelas susu tadi kehadapan calon istrinya tersebut sembari duduk ditempatnya sebelumnya.


Namun sayang gelas itu hanya di tatap oleh perempuan itu. Dimana hal tersebut membuat Henry mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Kenapa malah ditatap gitu sih? Ini ambil lalu minum," ucap Henry yang semakin mendekatkan satu gelas tadi ke tubuh Monik.


Tapi Monik kali ini justru mendorong pelan lengan Henry agar gelas berisi susu itu menjauh darinya.


"Aku sudah tidak ingin minum susu." Ucapan dari Monik membuat Henry melongo tak percaya. Apakah dia sedang di kerjai oleh Monik?


"Kamu apa-apaan sih sayang, kamu tadi yang minta lho ini dengan acara pakai ngancem segala lagi tadi. Dan setelah susunya jadi kamu malah menolak untuk meminumnya. Kamu mau ngerjain aku ya?"


"Kamu nuduh aku ngerjain kamu?" tanya Monik yang sepertinya salah mengartikan kalimat terakhir yang di lontarkan oleh Henry. Mungkin ia menganggap jika kalimat itu bukan kalimat tanya.


"Aku tadi tanya sayang bukan mau menuduh kamu," ucap Henry meluruskan.


"Bohong. Jelas-jelas tadi ucapan kamu sudah terkesan menuduhku."


"Menuduh apa sih sayang. Astaga. Aku tadi tanya. Kamu mau ngerjain aku ya, diakhiri dengan tanda tangan sayang, tanda tanya." Monik menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Kamu bohong. Tega banget sih kamu nuduh aku seperti itu. Padahal aku memang tadi menginginkan susu itu. Tapi kamu malah jahat menuduhku yang tidak-tidak," ucap Monik yang kali ini dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu jahat kamu jahat kamu jahat." Monik memukul-mukul kecil lengan Henry yang tengah memejamkan matanya. Sepertinya laki-laki itu tengah mencoba untuk menambah kesabarannya yang sudah mulai menipis itu. Hingga saat matanya itu terbuka kembali, ia memutar tubuhnya yang tadinya menghadap sepenuhnya kearah Monik, kini lurus kedepan. Dan dengan membiarkan Monik terus memukul-mukul dirinya, Henry justru meminum susu yang baru saja ia buat tadi hingga tandas sebelum ia melanjutkan makannya yang belum habis tadi. Ia akan menyalurkan emosinya itu lewat makanan saja daripada menyalurkannya ke Monik langsung, bisa di hukum dia nanti.

__ADS_1


__ADS_2