
Diana kini telah selesai memeriksa keadaan Henry. Ia juga sudah menjahit luka di kening laki-laki tersebut. Dan sembari ia mengemasi perlengkapan yang telah ia keluarkan tadi, ia bersuara, "Kenapa dia bisa diare?" tanyanya yang tentunya ia tujukan kepada Digo karena Henry belum juga bangun dari pingsannya sekaligus dari pengaruh obat bius yang Diana tadi berikan.
"Memangnya Henry tidak memberitahumu kenapa dia bisa diare tadi?" Diana menggelengkan kepalanya.
"Dia tadi menghubungiku hanya untuk terus bersiaga saja jika dirinya membutuhkan bantuanku karena sebentar lagi dia akan mengalami diare seperti ini tanpa memberi tahu penyebabnya. Tapi tunggu, jangan-jangan dia iseng lagi kayak dulu dengan meminum air kran?" Tebakan dari Diana tadi hampir benar. Tapi kali ini Henry tidak sedang iseng meminum air kran itu.
"Penyebab dia menjadi sakit diare memang karena ia sempat minum air kran tadi tapi bukan karena ia iseng." Diana mengerutkan keningnya.
"Kalau tidak iseng terus apa? Keinginan dia sendiri? Aku rasa tidak mungkin," ucap Diana.
"Memang tidak keinginan dia sendiri tapi, Monik tadi tidak sengaja memberikan air itu ke Henry."
"Monik? Siapa itu? Salah satu maid disini? Kalau begitu pecat saja dia. Kerajaannya gak becus seperti itu. Lagian kenapa dia lancang sekali memberikan tuannya sendiri minuman kran padahal di mansion ini sudah ada banyak botol air mineral yang jauh lebih higienis daripada air kran. Dia pasti sengaja melakukan hal itu kepada Henry," ujar Diana dengan tuduhannya.
"Tidak seperti itu, Di. Dia memang tidak sengaja melakukannya. Dan dia dulu memang salah satu maid di mansion ini tapi tidak untuk sekarang karena dia besok akan menjadi istri Henry," ucap Digo yang berhasil membuat Diana membuka matanya lebih lebar lagi.
"Hah? Henry mau menikah besok?" tanyanya untuk memastikan.
"Ya. Apa kamu tidak melihat dekorasi yang sudah terpasang didalam mansion ini tadi." Diana tampak terdiam, benar saja saat dirinya baru masuk kedalam manison Digo tadi ia langsung disambut dengan dekorasi pernikahan. Ia tadi berpikir jika dekorasi pernikahan itu milik Digo dan Sheilla yang akan menggelar resepsi keduanya di negara ini. Tapi ternyata tebakannya itu salah besar, justru dekorasi pernikahan itu milik Henry dan Monik.
Digo yang melihat keterkejutan dari Diana pun ia menepuk pundak perempuan itu sembari berkata, "Kenapa kamu kayak kaget gitu? Jangan bilang kamu tidak di kasih surat undangan oleh Henry."
__ADS_1
Tebakan dari Digo tadi sangat tepat sekali, Diana memang tidak mendapatkan undangan dari Henry, perihal laki-laki itu yang akan menikah besok.
"Tidak. Dia tidak memberikan undangan pernikahannya kepadaku. Bahkan dia tidak mengabariku masalah hari bahagianya itu lewat telepon atau chat. Dia benar-benar melupakanku. Haishhhh sialan. Laki-laki ini," ucap Diana dengan tangan yang melayang seakan-akan ia ingin memukul tubuh Henry. Namun karena laki-laki itu dalam keadaan tak sadarkan diri ia urungkan niatannya tadi.
"Ya sudah lah lagian kamu sekarang juga sudah mendengar berita ini yang artinya kamu besok boleh datang kesini. Lagian belum tentu dia melupakanmu dan melewatkan untuk tidak mengundangmu ke acara pernikahan dia besok. Karena mungkin saja dia mengundangmu lewat kartu undangan tapi kartu itu belum sampai ke tanganmu. Maklum saja lah yang menyebar kartu undangan itu adalah salah satu anak buahnya yang harus mencari alamat rumah seseorang satu-satu," ujar Digo yang membuat Diana menggangguk. Mungkin apa yang dikatakan oleh Digo tadi ada benarnya juga.
"Ya sudah kalau begitu lebih baik kita keluar dari kamar ini. Biarkan dia istirahat dulu. Dan untuk biayanya akan saya transfer seperti biasanya," sambung Digo yang lagi-lagi diangguki oleh Diana.
Dimana setelah itu, dua orang berbeda jenis kelamin tersebut berjalan keluar dari dalam kamar tersebut.
Terbukanya pintu kamar itu berhasil mengalihkan perhatian dua perempuan yang tengah berada di ruang keluarga. Dua perempuan yang sedari tadi tak bersuara pun dengan cepat mereka, lebih tepatnya Monik berjalan mendekati Digo juga Diana.
"Bagaimana keadaan Henry?" tanya Monik saat dirinya sudah berdiri didepan dua orang tadi.
"Dia Monik. Calon istri Henry," bisik Digo.
Diana yang mendengar bisikan itu ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Not bad juga pilihan Henry. Oke kalau begini calonnya aku memberikan restuku untuk mereka," batin Diana menilai penampilan Monik.
Diana memang sering keluar masuk mansion tersebut tapi untuk mengingat seluruh orang didalam mansion itu tak akan pernah bisa. Ia hanya mengenal 4 orang saja, hanya Digo, Henry, bik Nah dan Sheilla selain itu ia tak mengenalnya. Mungkin pernah melihat tapi setelah itu ia lupa. Begitu juga dengan Monik, ia mungkin pernah berinteraksi dengan calon istri Henry itu tapi ia lupa setelahnya.
__ADS_1
Diana kini berdehem sesaat sebelum dirinya menjawab pertanyaan yang Monik tadi layangkan kepadanya.
"Kondisi Henry lumayan baik-baik saja. Dia hanya perlu istirahat yang cukup untuk saat ini dan juga minum obat yang sudah aku berikan tadi. Obatnya aku sudah taruh diatas nakas. Dan ganti perbannya setiap hari, tetesi juga obat merah di keningnya yang terdapat luka. Satu lagi yang perlu aku beritahu kamu, karena kondisi Henry yang sangat rentan sakit, tolong perhatikan dia dari mulai minum, makanan dan kebersihan pada dirinya. Karena imunnya terlalu rendah dan tidak bisa melawan virus yang ia terima," jelas Diana yang membuat Monik kini menganggukkan kepalanya sembari berkata, "Terimakasih Dok. Saya akan melakukan apa yang diperintahkan dokter tadi."
Dengan tersenyum sangat ramah Diana menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau gitu aku pamit dulu. Nanti kalau ada apa-apa tuan Digo atau Nyonya Sheilla atau bahkan kamu, Monik bisa segara menghubungiku," ujar Diana.
"Baik Dok," balas Monik sedangkan Sheilla dan Digo, dua orang itu hanya menganggukkan kepalanya untuk membalas ucapan dari Diana tadi.
Dimana Diana yang sudah melihat hal itu, ia kini berjalan keluar dari mansion tersebut.
Setelah kepergian dari Diana tadi tak ada pergerakan sama sekali dari tiga orang itu terutama Monik yang sepertinya perempuan itu kini bisa menghela nafas lega karena setidaknya tidak ada hal serius yang menimpa Henry.
Namun Sheilla yang melihatnya, ia kini menyenggol lengan Monik hingga perempuan itu menatapnya.
"Kamu tidak mau masuk kedalam kamar, menemani Henry disana?" tanya Sheilla yang membuat Monik kini menggigit bibir bawahnya.
"Aku sebenarnya sangat ingin masuk kedalam dan menemani Henry. Tapi kata dokter Diana tadi, dia perlu istirahat yang cukup hari ini. Aku takut saat aku masuk malah aku mengganggu waktu istirahatnya," jelas Monik yang tak bohong sama sekali.
"Memangnya apa yang ingin kamu lakukan di dalam kamar? Kamu mau teriak-teriak seperti orang gila sampai Henry membuka matanya? Tidak kan?" tanya Sheilla yang mendapat gelengan kepala dari Monik.
__ADS_1
"Sudahlah lagian Diana tadi hanya bilang Henry harus istirahat cukup hari ini tapi bukan berarti dia melarang kamu untuk menemani dia. Kalau kamu tidak mau menganggu waktu istirahat Henry, pelan-pelan saja kamu masuk kedalam tanpa menimbulkan keributan dan jangan melakukan hal yang sekiranya bisa membangunkan Henry," timpal Digo yang dibenarkan oleh Monik.
"Hmmmm benar juga. Ya sudah kalau begitu aku masuk kedalam dulu. Tuan Digo dan Sheilla terimakasih atas bantuannya," ucap Monik dengan membungkukkan tubuhnya di hadapan sepasang suami-istri itu. Sebelum ia kini menegakkan tubuhnya kembali. Dan setelah ia melihat anggukan kepala dari dua orang tersebut sebagai balasan atas ucapannya tadi, Monik bergegas masuk kedalam kamarnya dan Henry.