
Digo kini telah kembali kedalam mobil dimana saat dirinya mengalihkan pandangannya kearah Sheilla, perempuan itu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke sisi jalan bahkan tubuhnya pun ia miringkan hingga membelakangi Digo. Dan hal tersebut membuat Digo tersenyum. Ia yakin betul kalau Sheilla benar-benar cemburu kepadanya.
"Kalau cemburu bilang, Honey," ucap Digo sembari mencubit gemas pipi Sheilla yang membuat kekasihnya itu langsung menghentakkan tangan Digo agar menjauh dari pipinya tanpa mengalihkan atau melirik sedikitpun kearah laki-laki tersebut.
"Apakah tingkah seseorang yang katanya tidak cemburu seperti ini? Saya rasa sikap yang kamu perlihatkan saat ini membuktikan kalau ucapanmu tadi salah dan kamu sekarang tengah cemburu," ucap Digo.
"Tingkah dan sikap saya biasa saja. Saya tidak cemburu," ujar Sheilla dengan sinis.
"Masa sih? Tapi saya rasa kekasih saya yang cantik ini sehari-hari sikapnya tidak seperti ini. Kekasih saya selalu tersenyum, bukan cemberut seperti saat ini. Dan lebih baik kamu jujur saja, Honey kalau kamu memang tengah cemburu kepada saya kan? Tidak apa cemburu, karena cemburu dengan seorang kekasih itu wajar. Saya juga malah suka kalau kamu mencemburui saya. Jadi katakan apa kamu benar-benar cemburu karena kasir itu tadi memegang tangan saya?" tanya Digo dengan meraih tangan Sheilla. Tapi baru saja tangannya menyentuh sedikit kulit Sheilla, perempuan itu dengan cepat menjauhkan tangannya dari jangkauan Digo. Dan hal tersebut membuat Digo menghela nafas terlebih ia tak mendengarkan jawaban dari Sheilla tadi. Kekasihnya itu sekarang diam dan membuat Digo bingung sendiri jadinya.
Hingga suara isakan tangis terdengar di telinga Digo. Digo mengerutkan keningnya, apakah dia salah mendengar tadi? Tapi sepertinya tidak setelah dirinya melihat tubuh Sheilla bergetar.
Dan dengan gerakan cepat, Digo mengubah posisi tubuh Sheilla hingga tubuh kekasihnya yang tadi miring menghadap kearah jalan kini berhasil menghadap kedepan. Dan saat Sheilla ingin kembali ke posisi semula, Digo menahannya.
"Kenapa nangis hmmm?" tanya Digo dengan tangannya bergerak untuk menghapus air mata Sheilla namun untuk yang kesekian kalinya tangannya itu di tepis oleh kekasihnya itu. Dan baru kali ini Digo harus mencoba bersabar menghadapi seseorang selain keluarganya sendiri. Mungkin jika yang melakukan hal tersebut bukan Sheilla, Digo sudah menendang orang itu keluar dari mobilnya dan ia tinggalkan begitu saja di jalanan.
__ADS_1
"Oke-oke. Saya akui saya salah karena sudah membiarkan tangan saya di sentuh oleh kasir tadi dan membuat kamu cemburu. Tapi perlu kamu tau Honey sebenarnya saya melakukan hal itu saya ingin tau reaksi kamu. Saya takut kamu mau menjadi kekasih saya hanya karena terpaksa saja bukan karena kamu memiliki rasa yang sama seperti yang tengah saya rasakan. Tapi setelah saya melihat secara langsung tingkah kamu ini saya percaya kalau kamu menerima saya sebagai kekasih kamu bukan karena paksaan yang saya lakukan melainkan kamu juga suka dan cinta sama saya. Dan saya sekarang sudah lega telah mengetahui hal itu. Sekali lagi saya minta maaf, Honey. Saya tadi sebenarnya juga tidak suka tangan saya di pegang kasir itu tapi karena saya mau membuktikan kamu cemburu atau tidak jadi terpaksa saya harus menahan diri saya agar tidak menghajar kasir tadi. Jadi kamu bisa memanfaatkan saya kan, Honey?" ucap Digo menjelaskan kenapa ia tak berbuat apapun saat kasir tadi menegang tangannya dan berakhir membuat Sheilla cemburu.
Sheilla yang mendengar hal tersebut pun bukannya tangisannya terhenti justru tangisannya itu semakin menjadi dan hal tersebut membuat Digo bingung mau berbuat apa untuk menenangkan Sheilla dari tangisnya itu. Hingga matanya tak sengaja melihat sebuah permen di dasbor mobilnya dan dengan cepat ia mengambil permen tersebut lalu menyodorkan permen itu kehadapan Sheilla.
Sheilla menghentikan tangisannya, menatap permen serta wajah Digo secara bergantian.
"Apa ini?" tanya Sheilla.
"Ini namanya permen, Honey."
"Iya saya tau itu permen. Maksud saya kenapa kamu memberikan saya permen ini?" tanya Sheilla heran.
Dan hal tersebut bukannya membuat Sheilla berhenti menangis, ia sekarang justru meneruskan tangisannya tadi yang sempat terputus.
"Lho lho lho kenapa malah menangis lagi. Bukannya saya sudah kasih kamu permen? Jadi sudah ya nangisnya. Saya ikhlas lho kasih kamu permen ini. Apa mau saya bukakan sekalian? Baiklah saya akan membukanya, tunggu sebentar ya. Jangan nangis lagi oke," ucap Digo lalu tangannya bergerak untuk membuka bungkus permen tersebut. Setelahnya ia menyodorkan permen tadi kehadapan Sheilla kembali.
__ADS_1
"Bungkus permennya sudah saya bukan. Jadi jangan nangis lagi ya. Dan coba buka mulutnya, aaaaa karena permennya sebentar lagi akan segera masuk ke goa... Ngengggg," ucap Digo dengan menggerak-gerakkan permen yang ada di tangannya tadi seperti dia tengah membujuk seorang anak kecil agar mau membuka mulutnya.
Namun bukannya permen itu masuk kedalam mulut Sheilla, justru permen itu masuk kedalam mulut Digo sendiri karena saat tangan Digo tadi sudah mendekat kearah bibir Sheilla, Sheilla langsung menyahut permen itu dari tangan Digo dan langsung memasukkannya kedalam mulut laki-laki tersebut.
"Heyyy kenapa kamu malah memasukkan permen ini ke dalam mulut saya? Harusnya permen ini tuh masuk kedalam mulut kamu," protes Digo tak terima.
"Hiks jangan protes! Jalan sekarang!" perintah Sheilla tak terbantahkan.
"Tapi---"
"Jalan sekarang Digo!!!" geram Sheilla memutus ucapan dari Digo tadi.
"Tapi Honey."
"Digo!" teriak Sheilla.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah, saya jalankan mobilnya sekarang juga," final Digo yang tak ingin melihat kemurkaan Sheilla untuk yang kesekian kalinya.
Dan setelah mengucapkan hal tersebut, Digo langsung menjalankan mobilnya menuju ke kantornya kembali dengan sesekali melirik kearah Sheilla yang masih menangis sesenggukan. Ingin sekali ia menenangkan kekasihnya itu tapi ia tak tau caranya.