
Pagi ini Digo bangun lebih awal dari jam biasanya. Dan saat matanya terbuka hal pertama yang ia lihat adalah wajah damai Sheilla yang masih terlelap di sampingnya.
Digo tersenyum dengan tangan yang bergerak untuk menyingkirkan rambut Sheilla yang menutupi sebagian wajah perempuan itu.
Setelah ramput itu ia singkirkan, dengan lekat Digo menatap seluruh wajah Sheilla yang entah kenapa setelah pertama kali ia melihat wajah Sheilla, wajah perempuan itu selalu menghantui pikirannya. Apalagi saat ia melihat mata Sheilla yang seakan-akan mengingatkan dirinya kepada seseorang yang sudah tak pernah bisa ia gapai lagi.
"Sheilla, apa memang benar itu namamu? Jika benar kenapa hati saya selalu berkata tidak. Nama yang tersemat padamu, saya selalu yakin kalau nama itu hanya nama samaran kamu. Walaupun semua indentitasmu sudah saya tau tapi sama saja, saya tidak yakin jika kamu itu Sheilla. Saya yakin kamu sebenarnya menyembunyikan identitas aslimu." Digo mengusap pipi Sheilla dengan pelan agar tak membangunkan perempuan itu. Sebelum tangannya berpindah mengelus mata Sheilla.
"Dan kamu tau Sheilla, mata indahmu ini sama persis dengan mata indah seseorang yang tak akan pernah bisa saya lihat lagi. Tapi setelah kehadiranmu saya merasakan jika dia hidup kembali. Dan hal itu yang membuat saya ragu jika kamu sebenarnya bukan Sheilla tapi---" belum sempat Digo menyelesaikan kalimatnya di dalam hati, pergerakan Sheilla menghentikan dirinya bahkan tangannya kini ia jauhkan dari wajah perempuan itu.
Sheilla menggeliatkan tubuhnya sebelum perlahan matanya terbuka.
"Tuan sudah bangun," ucap Sheilla dengan suara seraknya.
"Belum. Saya masih tidur Sheilla," ujar Digo yang justru membuat Sheilla terkekeh sebelum dirinya mendudukkan tubuhnya dan bersandar di sandaran ranjang. Untuk mengumpulkan nyawanya kembali.
"Nanti berangkat jam berapa tuan?" tanya Sheilla dengan menoleh kearah Digo yang juga sudah duduk di sampingnya.
"Jam 7," ujar Digo yang diangguki oleh Sheilla.
"Berarti masih dua jam lagi." Digo berdehem untuk menimpali ucapan dari Sheilla tadi. Dan setelah itu tak ada percakapan dari keduanya hingga beberapa menit sebelum akhirnya suara Sheilla kembali terdengar memecahkan keheningan yang tercipta.
"Tuan pagi ini mau sarapan apa?" tanya Sheilla.
__ADS_1
"Apa saja jika yang masak kamu akan saya makan," jawab Digo.
"Hmmm mau nasi goreng atau---"
"Nasi goreng saja dengan telur mata sapi," ujar Digo yang membuat Sheilla lagi-lagi mengangguk kemudian ia beranjak dari atas ranjang. Kalau begini mereka terlihat seperti pasangan suami istri bukan?
"Mau kemana?" tanya Digo.
"Mau ke kamar mandi. Saya mau mandi dulu tuan. Sebelum saya mulai kerja," ucap Sheilla.
"Baiklah kalau begitu. Mandi sana setelah itu saya yang mandi. Atau malah mau bareng saja?" Sheilla memelototkan matanya saat mendengar ucapan terakhir Digo.
"Enak saja. Gak, gak boleh. Mandi sendiri-sendiri," ujar Sheilla dan dengan cepat ia berlari kearah kamar mandi.
"Sheilla. Kamu gak mau bawa baju sekalian? atau mau ganti didepan saya!" teriak Digo saat pintu kamar mandi sudah Sheilla tutup rapat.
Perempuan itu tampak berjalan menuju ke walk in closed untuk mengambil baju maid baru yang tadi malam di berikan oleh Digo. Dan setelah dirinya selesai mengambil baju tersebut, ia kembali berjalan menuju kearah kamar mandi dengan sesekali ia menghentak-hentakkan kakinya.
"Menyebalkan!" ujar Sheilla sebelum....
Brakkk!
Pintu kamar mandi ia tutup dengan sekencang mungkin, berharap Digo marah karena aksinya namun ternyata laki-laki itu terkekeh. Ia gemas dengan Sheilla, ingin sekali ia mendobrak pintu kamar mandi itu dan ikut mandi bersama Sheilla, ehhhh.
__ADS_1
...****************...
Waktu kini terus berjalan hingga kurang dari 40 menit, Digo harus berangkat menuju ke negara tujuannya. Dan selama persiapan Digo untuk pergi, selama itu Sheilla selalu berada bersama laki-laki tersebut. Bahkan ia tadi sempat menyuapi laki-laki itu atas permintaan Digo sendiri dengan alasan dirinya tengah membereskan beberapa berkas yang akan ia bawa ke negara Australia. Padahal tanpa Sheilla duga, Digo hanya modus saja supaya Sheilla mau menyuapi dirinya. Karena entah kenapa, jika disuapi Sheilla rasa masakan yang ia makan semakin nikmat saja rasanya.
Dan saat ini laki-laki itu dan juga Henry telah berdiri di depan pintu utama rumah mewah miliknya. Semua maid dan bodyguard yang berkerja disana tak terkecuali dengan Sheilla kini keluar untuk mengantar tuan mereka.
"Baik-baik dirumah. Jangan pernah mengulangi kesalahan sebelumnya. Jangan pernah pakai pakaian yang kekurangan bahan seperti kemarin. Jika pakaian khusus maid kamu itu rusak atau apapun yang mengakibatkan kamu tidak bisa memakainya lagi, kamu bilang sama bik Nah, beliau nanti akan memberikan pakaian maid untuk kamu. Jadi jangan harap kamu memakai pakaian seperti kemarin lagi. Jika sampai saya dapat laporan dari bik Nah kamu pakai pakaian seperti kemarin, saat saya kembali kesini lagi, siap-siap perjanjian kita waktu itu akan saya minta. Dan satu lagi jangan pernah mencoba untuk kabur dari rumah ini karena saat kamu mencoba kabur makan nyawa keluargamu juga akan hilang saat itu juga," ucap Digo panjang kali lebar. Sebenarnya ia ingin sekali mengajak Sheilla karena terus terang saja ia sangat tak suka berjauhan dengan perempuan yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya. Tapi jika ia mengingat tujuannya, sepertinya menahan Sheilla tetap di rumah itu adalah keputusan terbaik.
Sedangkan Sheilla yang mendengar ucapan dari Digo pun ia menghela nafas panjang.
"Iya-iya tuan. Saya mengerti dan saya pastikan tidak akan pernah mengulangi kesalahan saya sebelumnya," ujar Sheilla yang membuat Digo menganggukkan kepalanya. Lalu tatapan laki-laki itu berpindah ke bik Nah yang berdiri disamping tubuh Sheilla.
"Bik Nah, saya berangkat dulu. Titip Sheilla. Jika dia berulah, kasih hukuman ke dia." Bik Nah tampak terkekeh kecil.
"Baiklah tuan saya akan melaksanakan tugas tuan. Hati-hati ya," ujar bik Nah yang diangguki oleh Digo. Kemudian mata laki-laki itu kembali menatap Sheilla.
"Saya berangkat dulu. Jadi anak baik selama saya tinggal."
"Iya-iya tuan. Saya akan jadi anak baik," ujar Sheilla.
"Good girl," ucap Digo dengan mengacak rambut Sheilla dengan gemas.
Dan apa yang di lakukan oleh Digo tadi membuat semua maid kecuali bik Nah menahan nafasnya. Digo yang mereka kenal sangat dingin dengan semua orang tapi kenapa saat ini orang yang menjadi bos mereka tampak berbeda. Laki-laki itu terlihat sangat hangat saat dirinya bersama Sheilla. Bahkan ucapannya yang biasanya sangat irit, tadi untuk pertama kalinya mereka mendengar Digo mengucapakan kata-kata panjang kali lebar hingga membuat para maid tadi sempat melongo di buatnya. Dan karena hal tersebut pula membuat otak mereka semakin bertanya-tanya. Ada hubungan apa sebenarnya Digo dan Sheilla? Karena perlu kalian tau, mereka semua kecuali bik Nah dan Henry tidak tau tentang Sheilla yang tidur satu kamar bahkan berbagi satu ranjang dengan Digo. Karena setiap pagi, pasti Sheilla keluar lebih dulu sebelum para maid mulai bekerja.
__ADS_1
Dan setelah berpamitan dengan Sheilla dan bik Nah, Digo dan Henry kini mulai masuk kedalam mobil yang akan mengantar mereka menuju ke bandara.
Semua orang yang ada di rumah itu membungkukkan badan mereka kala mobil yang di tumpangi oleh Digo dan Henry mulai berjalan meninggalkan rumah tersebut.