
Prankkk!!!
Vina yang terbengong lebih tepatnya takut dengan dua orang yang tengah berjalan kearahnya ia sampai lupa jika dirinya membawa gelas berisi susu yang akan ia minum. Hingga tanpa sengaja gelas itu terjatuh dan serpihan gelas tersebut mengenai kakinya.
"Arkhhhh," erang Vina kesakitan dengan melangkahkan kakinya untuk mundur dari tempatnya berdiri tadi.
Dan saat dirinya berjongkok untuk memastikan keadaan kakinya, Monik dan Henry telah berdiri di depannya. Dan hal tersebut membuat Vina menelan salivanya dengan susah payah, rasa sakit yang ia rasakan di kakinya itu hilang dengan seketika saat dirinya melihat dua pasang kaki tepat di hadapannya itu.
"Selamat pagi nona Vina. Apa kabar? Saya rasa kabar anda hari ini sangat baik ya. Dan saya lihat anda juga sangat bahagia," ucap Monik dengan ikut berjongkok agar ia bisa melihat wajah Vina.
"Kalau boleh tau nona sedang bahagia karena apa nih? Apa karena tuan Digo sudah melihat keberadaan anda karena selama ini beliau menganggap anda tidak ada atau justru anda bahagia dengan alasan lain contohnya tentang rencana penjebakan yang anda lakukan tadi malam mungkin," sindir Monik yang membuat Vina membeku ditempat.
"Hmmmm tapi saya rasa alasan anda bahagia pagi ini bukan karena ada sangkut-pautnya tentang rencana ya kan nona. Masa nona Vina yang merupakan seorang artis papan atas dari Indonesia melakukan hal licik seperti itu. Tidak mungkin. Dan saya yakin alasan anda bahagia ya karena tuan Digo bukan. Iya kan nona?" sambung Monik yang membuat Vina tersadar dari keterbengongannya tadi dan dengan cepat ia menganggukkan kepala.
"I---iya dong. Tentu saja alasan aku bahagia ya karena Digo, memangnya apalagi. Dan perlu kamu ingat ya, sebenci-bencinya aku sama kamu. Aku juga tidak akan melakukan hal yang bisa mencelakakan kamu," ujar Vina dengan memberanikan diri menatap wajah Monik yang kini tengah tersenyum kepadanya.
"Ya, saya tau akan hal itu nona. Makanya saya tidak percaya jika nona melakukan suatu rencana tadi malam. Nona kan baik hati," ucap Monik yang membuat Vina kini besar kepala.
"Kemana saja kamu, baru sadar jika aku ini baik hati. Dan daripada kamu membahas hal yang tidak penting mending kamu bantu aku buat mengobati luka di kakiku ini." Monik melirik kearah kaki Vina yang tampak terluka dan mengeluarkan darah itu.
__ADS_1
"Ahhhh baiklah. Tapi lebih baik saya bantu Nona untuk membersihkan luka di kaki nona ini jangan disini deh. Gimana kalau di kamar Nona saja? Biar Nona sekalian rebahan nanti. Toh kalau disini juga ada pecahan gelas yang bisa membuat nona terluka kembali nanti," ujar Monik.
"Baiklah kalau begitu kita ke kamarku saja," tutur Vina.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Papah aku!" perintah Vina yang diangguki oleh Monik.
Dan dengan susah payah Monik memapah tubuh Vina. Namun saat ia ingin melangkahkan kakinya, ia merasakan jika ada sesuatu yang baru saja di berikan oleh Henry ke tangannya yang berada di belakang tubuh Vina.
Dan agar Vina tak curiga, Monik kini mulai melangkahkan kakinya dengan mata yang diam-diam melirik kearah sebuah beda kecil yang berada di tangan kanannya itu. Dan saat ia tau benda apa yang di berikan oleh Henry itu, ia kini menolehkan kepalanya kearah laki-laki yang sedari tadi diam namun tengah menelisik setiap gerak-gerik yang di lakukan oleh Vina tadi.
Henry yang melihat tatapan mata Monik mengarah ke dirinya itupun ia menganggukkan kepalanya. Monik yang untungnya tau benda itu apa dan apa yang akan ia lakukan tanpa harus bertanya kepada Henry terlebih dahulu pun dengan mengalihkan pandangannya kembali kedepan ia memberikan kode oke dari jari telunjuk dan jari jempol yang ia satukan sebelum dirinya dan Vina masuk kedalam lift.
"Selamat pagi tuan," sapa salah satu penjaga CCTV itu kala melihat Henry masuk kedalam ruangan tersebut.
"Pagi. Bolehkah saya minta tolong ke kalian untuk mengecek rekaman CCTV yang mengarah ke dapur dijam setengah tujuh tadi malam?" tanya Henry yang membuat kedua penjaga ruang CCTV itu saling tatap satu sama lain sebelum salah satu dari mereka kembali bersuara.
"Sebelumnya saya minta maaf tuan. Semua CCTV yang mengarah ke dapur sejak kemarin pagi rusak tuan dan tukang yang akan memperbaiki kerusakan itu baru akan datang nanti siang."
"Apa katamu? Semua CCTV yang mengarah ke dapur semuanya rusak?" tanya Henry memastikan jika ia tadi tak salah dengar.
__ADS_1
"Benar tuan," ujar dua penjaga ruang CCTV tersebut secara serempak dan hal tersebut justru membuat Henry kini mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sialan. Kenapa semua CCTV yang mengarah ke dapur bisa rusak semua?" geram Henry. Kalau memang rusak semua, ia tak bisa mendapatkan bukti tentang seseorang dibalik kejadian tadi malam itu dong? batin Henry.
.
"Kita juga tidak tau penyebab CCTV itu rusak secara bersamaan tuan," jawab salah satu dari penjaga tadi.
"Arkhhhh sial," erang Henry.
"Kalau semua CCTV itu rusak, aku harus mencari dimana lagi bukti agar aku bisa membalas kejadian tadi malam itu ke pelaku sialan itu? Apa jangan-jangan kerusakan CCTV ini memang di rencanakan lagi? Dan kerusakan CCTV ini ada sangkut-pautnya dengan kejadian yang menimpa aku dan Monik tadi malam? Jika memang iya, berarti orang itu memiliki niat jahat sudah dari lama. Ck, sialan kenapa aku bisa tidak sadar sih arkhhhh. Dan aku juga tidak bisa menghakimi Vina kalau tidak ada bukti seperti ini walaupun gerak-gerik yang aku lihat tadi sudah benar-benar sangat jelas kalau perempuan itu ada sangkut-pautnya dengan kejadian yang menimpaku dan Monik tadi malam. Sial sial sial," batih Henry yang benar-benar sebal setengah mati karena gagal melihat siapa pelaku sebenarnya yang dengan beraninya bermain-main dengannya itu karena ia tak mungkin menghakimi seseorang tanpa bukti walaupun orang itu sudah sangat ia curigai.
"Kalau suatu saat nanti aku tau siapa dalang di dalam kejadian itu. Aku tidak akan pernah melepaskannya sedikitpun," sambung Henry masih didalam hatinya.
Dan saking geramnya dia, ia sampai mengepalkan tangannya hingga urat-urat ditangannya itu terlihat. Dan hal tersebut membuat dua orang penjaga CCTV itu tampak menelan salivanya dengan susah payah. Mereka takut saat melihat Henry mode marah seperti ini yang terlihat begitu menyeramkan.
"Tu---tuan," panggil salah satu penjaga tadi yang membuat Henry kini mengalihkan pandangannya kearah laki-laki yang berdiri dihadapannya itu.
"Suruh tukang servis itu segara datang kesini jangan menunggu sampai nanti siang. Jika dia tidak bisa maka cari yang lain yang sekiranya bisa langsung kesini tanpa harus menunda waktu lagi," ucap Henry dengan suara tegasnya itu. Dan ucapannya itu hanya bisa diangguki oleh kedua penjaga tadi.
__ADS_1
Henry yang melihat anggukan kepala itu pun, ia langsung pergi keluar dari ruang CCTV tersebut dengan rasa kesal, sebal dan emosi yang memuncak yang sebisa mungkin ia tahan.