
Digo, Bian dan Papa Devano telah kembali ke rumah sakit setelah menyelesaikan pesta kecil-kecilan untuk perayaan Digo memegang alih Los Asteriscaz. Sesampainya mereka bertiga di ruang inap Sheilla, Digo langsung mendekati kekasihnya itu yang tampak berbaring dengan ponsel di tangannya. Sedangkan kedua laki-laki paruh baya tadi, memilih untuk menghampiri istri mereka masing-masing yang tengah bersantai di sofa yang masih berada di dalam ruang inap Sheilla.
"Jangan terlalu banyak main hp saat kamu lagi sakit," ucap Digo dengan mengambil ponsel milik Sheilla tadi lalu menaruhnya di atas nakas.
Dimana hal yang dilakukan oleh Digo itu membuat Sheilla sadar akan keberadaan Digo.
"Ehhhh sejak kapan kamu ada disini?" tanya Sheilla penasaran.
"Baru saja," jawab Digo yang sudah mendudukkan tubuhnya di kursi samping brankar Sheilla tadi. Dan ucapannya itu membuat Sheilla menganggukkan kepalanya.
"Oh ya, bagaimana tadi? Apa ada salah satu anggota Los Asteriscaz yang memberontak kah karena kamu yang jadi pemegang Los Asteriscaz saat ini?"
"Tidak ada. Semuanya berjalan dengan lancar. Anggota Los Asteriscaz tidak ada yang protes ke aku maupun Uncle dan Papa, mereka setuju semua," ujar Digo.
"Syukurlah kalau memang begitu." Digo menganggukkan kepalanya untuk membalas ucapan dari Sheilla tadi. Sebelum dirinya kembali angkat suara.
"Aku belum menanyakan satu hal kepadamu," ucap Digo yang membuat Sheilla mengerutkan keningnya.
"Menanyakan soal?"
"Soal amnesiamu itu. Apa kamu sudah mengingat semua hal yang dulu pernah kita lalui?" tanya Digo sembari meraih tangan Sheilla dan menggenggamnya dengan sangat erat.
Pertanyaan dari Digo itu membuat Sheilla tampak terdiam dengan mengingat-ingat kembali tentang memory masa kecilnya itu sebelum dirinya menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya belum semua. Karena aku merasa jika masih ada memory yang belum aku ingat tentang kita saat kecil dulu. Bahkan saat kejadian yang membuat kita berdua berpisah pun aku belum menemukan rekaman memory di otakku ini," ujar Sheilla.
Digo tersenyum kala mendengar jawaban dari Sheilla tadi dan dengan satu tangannya yang lain, ia mengelus kepala Sheilla.
"Tidak apa-apa. Ingat perlahan saja. Jangan dipaksakan. Karena aku sudah sangat bersyukur saat kamu mengingat aku sebagai Al bukan Digo. Tapi apa kamu mengingat tentang rumah pohon kita berdua?" tanya Digo penasaran.
"Rumah pohon yang mana?"
__ADS_1
"Rumah pohon yang dulu kamu berikan kepadaku untuk hadiah."
"Ehhhh maaf, tapi aku belum mengingat akan hal itu," ucap Sheilla dengan lesu dan penuh dengan rasa penyesalan karena belum bisa mengingat semua hal yang dulu pernah ia lakukan dengan kekasihnya.
"Sudah tidak apa-apa. Nanti kalau kamu sudah keluar dari rumah sakit, aku akan bawa kamu ke tempat itu," kata Digo yang berhasil membuat mata Sheilla berbinar.
"Benarkah?" tanyanya untuk memastikan.
"Tentu saja."
"Kalau begitu besok kita akan kesana. Karena hari ini kata dokter yang menanganiku, aku sudah diizinkan untuk pulang," ujar Sheilla.
"Baiklah. Tapi jika kondisimu besok belum memungkinkan, kita tunda dulu karena kesehatanmu lebih penting dan lagian kita satu minggu ini akan melangsungkan acara pernikahan kita." Sheilla yang mendengar ucapan dari Digo itu, matanya langsung terbuka lebar.
"Ehhhh jadi kita beneran akan menikah?" tanya Sheilla.
"Tentu saja."
"Apa kamu tidak mau menikah denganku?" tanya Digo dengan tatapan penuh intimidasinya. Hingga membuat Sheilla yang di tatap kini menggerakkan tangan untuk menutup mata kekasihnya itu.
"Jangan menatapku seperti itu. Dan kata siapa aku tidak mau menikah denganmu. Karena kamu tau menikah denganmu itu adalah salah satu cita-citaku. Jadi kalau mau menikah 1 minggu lagi atau bahkan besok sekalian, aku tidak akan menolaknya," tutur Sheilla dengan menjauhkan tangannya dari mata Digo sembari memperlihatkan senyuman manisnya itu.
Dimana senyuman yang di berikan oleh Sheilla tadi dibalas senyuman pula oleh Digo.
"Baiklah kalau begitu, kita besok selain mengunjungi rumah pohon, kita juga akan mencari cincin pernikahan kita," ujar Digo.
"Apa kita tidak melakukan acara pertunangan dulu?"
"Untuk apa melakukan acara pertunangan segala kalau kita bisa langsung menikah saja?" Sheilla tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, membenarkan ucapan dari Digo itu.
"Hmmm benar juga. Ya sudah aku ikut saja apa maumu," ujar Sheilla yang membuat Digo kini tersenyum sebelum dirinya memberikan kecupan di punggung tangan Sheilla.
__ADS_1
Kini waktu terus berputar, dimana jam telah menunjukkan pukul 5 sore yang berarti dijam itu pula Sheilla telah di perbolehkan untuk pulang ke rumah.
Dan kini dirinya, Digo, kedua orangtua Digo juga kedua orangtuanya telah keluar dari lobi rumah sakit.
"Kamu yakin tidak mau pulang ke rumah Bunda, sayang?" tanya Franda dengan mengusap lembut kepala sang anak.
"Nanti kalau Sheilla sudah menjelaskan semuanya ke nenek jika Sheilla sudah ingat semuanya, baru Sheilla akan menginap di rumah Bunda," jawab Sheilla yang membuat Franda kini hanya bisa menghela nafas panjang.
"Baiklah terserah kamu karena pintu rumah selalu terbuka lebar untuk kamu. Dan apa kamu benar-benar tidak mau bantuan dari Bunda dan Papa untuk menjelaskan semuanya?" Sudah ke lima kalinya Franda bertanya seperti itu kepada Sheilla namun jawaban Sheilla, "Tidak usah Bun, Sheilla bisa menjelaskan sendiri ke nenek kok."
Sheilla selalu menolak jika ingin di bantu oleh Franda dan Bian. Dan hal tersebut hanya bisa membuat Franda harus benar-benar pasrah dengan apa yang akan anaknya itu inginkan.
"Baiklah kalau gitu. Tapi kalau sampai kamu tidak bisa menyelesaikannya sendiri, ingat ada Bunda dan Papa yang akan membantumu," ujar Franda yang diangguki oleh Sheilla.
"Iya Bunda. Ya sudah kalau begitu Sheilla pulang dulu ya. Mobil Al sudah sampai soalnya. Bye Bunda, titip salam ke Papa," ucap Sheilla dengan mengecup punggung tangan Franda. Sebelum dirinya memutar tubuhnya untuk menghadap kearah Mama Ciara berada.
"Ma, Sheilla pulang dulu. Salam untuk Papa Dev." Sheilla menyalami tangan Mama Ciara.
"Baiklah, nanti Mama sampaikan salammu ini ke Papa Dev." Sheilla menganggukkan kepalanya. Dan setelahnya dirinya beranjak dari sisi kedua wanita paruh baya yang masih menunggu suami mereka masing-masing.
Dimana saat Sheilla telah masuk kedalam mobil Digo, Mama Ciara kembali berteriak.
"Al, bawa mobilnya hati-hati, jangan ngebut-ngebut. Ingat kamu bersama dengan Sheilla yang jika sampai lecet sedikitpun, Mama potong burungmu sampai habis," ancam Mama Ciara yang membuat Digo memutar bola matanya malas.
"Tanpa di beritahu pun Al juga tidak akan membiarkan Sheilla luka," balas Digo dengan berteriak pula.
"Bagus kalau begitu," ucap Mama Ciara.
"Ya sudah kalian hati-hati dijalan. Jangan lupa besok mulai fitting baju pengantin kalian."
"Iya Ma iya. Kita pulang," ujar Digo sebelum dirinya mulai menjalankan mobilnya dengan membunyikan klakson mobilnya itu untuk tanda pamit kepada dua wanita paruh baya tersebut.
__ADS_1