The Dark Love

The Dark Love
07. Ancaman


__ADS_3

Digo yang kini telah siap dengan kemeja serta celana kainnya, tangannya kini bergerak untuk memakai dasi sebelum aktivitasnya itu terhenti kala suara ketukan pintu terdengar memasuki telinganya.


"Masuk!" teriak Digo dari dalam. Dan tak berselang lama pintu kamarnya terbuka yang langsung memperlihatkan satu maid dibalik pintu tadi.


"Maaf mengganggu tuan. Saya hanya ingin memberitahu jika Nona sudah sadar," ucapnya dengan kepala tertunduk, tak berani menatap wajah laki-laki yang juga hampir membunuhnya dulu.


Digo yang mendengar hal itu pun ia menganggukkan kepala. Lalu setelahnya ia melangkahkan kakinya mendekati maid tersebut, kemudian ia meneruskan langkahnya menuju ke kamar yang tengah di tempati oleh perempuan tadi diikuti oleh maid yang memberikan informasi kepadanya.


Digo yang telah sampai di depan pintu kamar, ia langsung membukanya tanpa mengucapakan salam atau mengetuk terlebih dahulu pintu tersebut sehingga membuat dua perempuan yang tadi tampak saling diam itu terkejut dan secara bersamaan mereka menolehkan kepalanya kearah sumber suara. Satu maid yang ada di dalam ruangan tersebut langsung mendudukkan kepalanya. Sedangkan perempuan yang masih terduduk di atas ranjang pun ia kini mengepalkan tangannya tak lupa ia memberikan tatapan dingin ke laki-laki yang sekarang juga tengah menatapnya.


Digo yang melihat tatapan itu pun bukannya ia takut melainkan ia kini menampilkan senyum miringnya.


"Kamu boleh keluar," ujar Digo yang ia tujukan kepada satu maid tadi tanpa mengalihkan pandangannya kearah perempuan tadi. Dan ucapannya itu mendapat anggukan dari maid itu dan ia segara bergegas keluar dari kamar tersebut tak lupa ia juga menutupnya.


Digo yang melirik pintu di ruangan itu sudah tertutup pun ia mulai melangkahkan kakinya mendekati perempuan yang ia rasa tak ada takutnya sama sekali dengan dirinya dan jangan lupakan ia berjalan dengan posisi kedua tangan ia lipat di depan dada.


Ketukan sepatu yang di kenakan oleh Digo perlahan mendekati perempuan itu hingga saat Digo telah berdiri disampingnya, wajahnya yang sedari tadi melihat wajah Digo, kini menengadah dengan beraninya.

__ADS_1


"Arsheilla Anastasya. Bukankah itu nama kamu?" ucap Digo yang membuat perempuan itu terkesiap.


Digo yang melihat respon dari perempuan itu kini kembali menampilkan senyum miringnya. Jangan tanya ia bisa mendapatkan informasi itu dari siapa yang jelas seperti yang ia katakan kemarin sebelum perempuan di hadapannya saat ini sadar, dia harus sudah mendapatkan informasi mengenai perempuan itu. Dan lihatlah sekarang, apa yang ia inginkan tercapai juga yang pastinya dengan bantuan Henry karena ia tak mungkin membuang waktunya hanya untuk sekedar mencari sesuatu yang ia rasa tak terlalu penting baginya.


"Perempuan asli negara Indonesia. Tinggal di salah satu desa yang terletak di kota Bandung. Sudah tidak memiliki kedua orangtua tapi masih memiliki seorang nenek yang merawat kamu dari kecil. Dan kamu juga memiliki seorang adik perempuan bernama Shinta Haruna Putri. Adik kamu masih berumur 17 tahun dan dia merupakan anak yang cerdas sehingga dia mendapatkan beberapa penghargaan dalam bidang pendidikan dan juga dia mendapatkan beasiswa disekolah yang dia tempati untuk belajar saat ini. Hmmmm cukup menarik," ujar Digo yang semakin membuat Sheilla mengepalkan tangannya. Ia sebenarnya tak perlu heran jika laki-laki yang kini berdiri di sampingnya saat ini dengan cepat bisa mengorek identitasnya, karena yang ia hadapi bukanlah orang sembarangan yang dengan mudah bisa ia taklukan. Jika laki-laki itu menginginkan sesuatu maka hanya dengan menjentikkan jarinya saja semua yang dia inginkan akan ia dapatkan, seperti identitas Sheilla saat ini.


"Mau apa kamu? Jangan macam-macam dengan mereka. Jika kamu tidak mau lihat akibatnya," ucap Sheilla yang justru kini membuat Digo terkekeh sesaat sebelum dirinya kini menampilkan wajah datarnya kembali.


"Apa kamu sedang mengancam saya, Nona Arsheilla? Tapi sayangnya saya tidak pernah takut dengan ancaman dalam bentuk apapun apalagi ancamannya datang dari kamu," tutur Digo dengan tangan yang bergerak untuk mencengkeram kuat rahang Sheilla, tak peduli jika kuku tangannya melukai pipi Sheilla.


"Dan jika kamu tidak mau saya berbuat macam-macam dengan keluarga kamu, katakan siapa yang menyuruhmu untuk membunuh saya!" ucap Digo tanpa melepaskan cengkeramannya tadi.


Digo yang tak kunjung mendapat jawaban dari Sheilla pun ia mulai geram dan dengan kasar ia melepaskan cengkraman tangannya tadi hingga membuat tubuh Sheilla limbung kesamping. Dan tak sampai disitu saja, Digo kini menjambak rambut panjang Sheilla hingga membuat sang empu meringis kesakitan dan mau tak mau ia mengikuti arah jambakkan dari Digo tadi hingga kepalanya kini menengadah menatap Digo.


"Saya bukan orang yang sabar hanya untuk menunggu jawaban dari kamu. Jadi sebelum saya membunuh kamu, katakan sekarang! Siapa yang menyuruh kamu!" ucap Digo dengan suara meninggi.


Sheilla semakin meringis saat merasakan tarikan di rambutnya semakin kencang.

__ADS_1


"Saya tidak akan pernah memberi tahu kamu siapa orang yang telah menyuruhku. Dan bukankah kamu orang hebat? kenapa kamu tidak mencari tahu sendiri tentang siapa yang menyuruhku? Apa kehebatanmu sekarang sudah menghilang dan digantikan dengan kebodohan sehingga identitas orang yang berada di belakangku saja kamu tidak bisa menemukannya? Atau jangan-jangan kehebatanmu itu hanya omong kosong saja, buktinya orang yang ada di belakangku lebih pintar menyembunyikan identitasnya dari kamu. Dan apa kamu berpikir akan takut dengan ancaman kamu tadi? Tidak, aku tidak takut sama sekali. Jika kamu mau membunuhku, silahkan. Bunuh aku sekarang juga! " ucap Sheilla dengan berani. Lebih tepatnya memberanikan dirinya. Karena terus terang saja ia masih sangat sayang dengan nyawanya dan ia juga masih ingin bertemu serta berkumpul dengan nenek dan adiknya.


"Heh, nyali kamu benar-benar besar," ujar Digo dengan melepaskan jambakkannya tadi. Tak lupa setelahnya ia membersihkan tangannya yang terdapat beberapa helai rambut Sheilla.


Tapi sesaat setelahnya dengan pergerakan yang secepat kilat Digo langsung menodongkan pistol kearah Sheilla yang membuat perempuan tadi yang masih merasakan denyut di kepalanya, kini melebarkan matanya saat melihat senjata api itu sudah berada tepat di dahinya.


"A---apa yang akan kamu lakukan," gugup Sheilla.


"Bukankah kamu tadi mengatakan jika kamu ingin mati saja daripada mengatakan siapa orang yang sudah menyuruhmu. Jadi saya saat ini akan mengabulkan permintaan kamu tadi," ujar Digo yang membuat Sheilla kesulitan menelan salivanya sendiri. Apalagi saat ia melihat Digo kini mendekatkan wajahnya ke wajah Sheilla.


"Katakan selama tinggal pada dunia dan juga nenek serta adik kamu, Arsheilla Anastasya," bisik Digo yang membuat Sheilla kini memejamkan matanya. Mungkin memang hari ini adalah hari terakhirnya di dunia. Hari dimana ia akan bebas dari beratnya beban di kehidupannya. Dan hari ini juga dia akan berpisah selama-lamanya dengan nenek serta adiknya yang selalu ia rindukan itu.


Mata Sheilla semakin tertutup rapat saat ia merasa jika wajah Digo sudah menjauh dari samping wajahnya.


Sedangkan Digo yang melihat perempuan di hadapannya itu tampak pasrah pun ia menyunggingkan senyumannya. Lalu dengan gerakan perlahan jari telunjuknya kini menarik pelatuk pistol tersebut, hingga...


Dorrr!!!

__ADS_1


Suara tembakan terdengar nyaring memenuhi ruangan tersebut. Tak hanya di ruangan itu saja yang bisa mendengar suara tembakan itu sebenarnya, melainkan seluruh penghuni rumah telah mendengar suara yang membuat siapa saja kini menghentikan aktivitasnya dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi sebenarnya? Apa bos besar mereka telah membunuh perempuan yang ada di dalam kamar itu? Atau bosnya itu hanya tengah bermain-main saja? Ahhhh, mereka sangat penasaran tapi tak mungkin mereka sekarang berbondong-bondong menuju ke tempat kejadian, jika mereka tak ingin melihat bosnya itu murka dan berakhir mereka nanti terkena amukan singa jantan itu. Maka dari itu tingkat penasaran mereka harus mereka sembunyikan dalam-dalam dan memilih mengabaikan apa yang mereka dengan tadi.


__ADS_2