
Disisi lain tepatnya di lantai utama mansion tersebut, Vina yang baru keluar dari dalam lift, ia langkahkan kakinya cukup lebar menuju ke arah dapur dengan raut wajah yang sangat masam.
Dan saat dirinya sampai di dapur, langkahnya semakin ia percepatan hingga...
Byurr!
Satu gelas kopi yang masih panas kini membasahi tubuh bagian depan Sheilla.
"Awss," ringis Sheilla saat tak sedikit air kopi itu mengenai tangannya yang tak terlapisi oleh apapun.
"Kamu berani sekali membuat minuman yang tidak disukai oleh Digo. Apa kamu memang berniat untuk mempermalukanku dihadapan dia hah?" suara nyaring dari Vina membuat beberapa maid yang berada di sekitar mereka langsung berkerumun mendekati kedua perempuan itu.
"Maaf Nona. Saya tidak bermaksud untuk mempermalukan, Nona. Saya sebenernya juga tidak tau kalau tuan Digo tidak suka kopi. Dan saya---"
"Halah alasan saja kamu. Seharusnya kamu sadar diri Sheilla sebelum kamu melakukan hal yang membuat saya malu seperti ini. Kamu itu harus sadar jika kamu disini hanyalah seorang maid dan saya itu seorang tamu khusus yang dibawa langsung oleh tuanmu. Harusnya kamu itu menghormati saya seperti kamu menghormati tuanmu. Kalau seperti ini kamu benar-benar sangat mencerminkan kalau seorang maid itu sangat memalukan dan sangat rendahan!" bentak Vina yang membuat semua maid disana sepertinya tersindir akan ucapan dari Vina tadi.
"Jika kita rendahan dan memalukan, bagaimana dengan anda, nona? Bukankah dengan sikap nona yang arogan seperti ini justru sangat mencerminkan jika harga diri nona lebih rendah daripada seorang maid seperti kita ini. Kita tau jika anda tamu yang dibawa langsung oleh tuan Digo. Tapi tamu seharusnya juga punya sopan santun dengan siapapun yang berada di rumah orang yang telah ia kunjungi. Bukan seperti seorang penguasa yang seolah-olah dirinya juga pemilik rumah yang sedang dia kunjung," balas salah satu maid muda yang berusia sepantaran dengan Sheilla, sebut saja dia, Monik, mantan pembunuh bayaran dari musuh Digo yang berhasil Digo taklukan.
Bahkan Monik sekarang sudah berdiri disamping Sheilla yang masih meniup-niup tangannya yang terlihat memerah itu dengan sesekali ia meringis kesakitan.
"Kamu jangan ikut campur. Urusanku bukan denganmu tapi dengan dia," ucap Vina dengan menunjuk kearah Sheilla.
__ADS_1
"Saya berhak untuk ikut campur masalah ini karena anda sudah menyangkut pautkan tentang pekerjaan kami. Seolah-olah jika menjadi seorang maid itu memiliki harga diri rendah. Heh, come on. Anda perlu tau Nona jika semua maid yang ada disini memiliki pendidikan yang tak kalah tinggi dengan pendidikan Nona dan satu lagi yang lebih penting semua maid disini lebih berpengalaman dibandingkan Nona," ujar Monik dengan menatap Vina dengan tatapan membunuhnya. Tak bisa dipungkiri walaupun dirinya sudah menjadi maid, aura pembunuhnya masih melekat di dirinya.
"Dan daripada saya memperlihatkan pengalaman saya, lebih baik Nona segara minta maaf dengan Sheilla," sambung Monik yang justru membuat Vina tertawa kecil.
"Hahaha apa kamu bilang? Aku minta maaf dengan dia? Mimpi. Dia yang salah dan seharusnya dia yang minta maaf. Kamu yang tidak tau masalahnya dari awal sudah aku bilang jangan ikut campur. Dan satu lagi aku tidak takut dengan kalian semua. Karena kalian hanyalah sampah yang tak akan pernah bisa menandingi berlian sepertiku ini," ujar Vina dengan kesombongan yang tercetak jelas di wajahnya.
Dan hal tersebut membuat Monik semakin geram saja.
"Kamu!" Saat Monik ingin menghampiri Vina dan memberikan pelajaran kepada perempuan sombong itu, lengannya lebih dulu dicekal oleh Sheilla. Dan saat dirinya menolehkan kepalanya, Sheilla menggeleng, bertanda jika Monik tak boleh melakukan hal yang berbahaya kepada Vina.
"Monik, sudah. Aku tidak kenapa-kenapa kok. Dan ini juga salahku bukan salah nona ini," ucap Sheilla.
"Nahhh kamu dengar sendiri kan, pengakuan dari dia tadi jika dia yang salah. Jadi hilangkan otot emosi di leher kamu itu sebelum otot-otot itu aku putus saat ini juga," ucap Vina dengan garangnya yang justru dibalas dengan senyum miring oleh Monik.
"Sebelum anda melakukan itu bahkan sebelum anda menyentuh kulit saya. Anda akan saya buat mati terlebih dahulu," ujar Monik.
Vina dan Monik sekarang tengah melemparkan tatapan permusuhan satu sama lain. Sebelum ucapan Sheilla kembali masuk kedalam indar pendengaran mereka semua yang ada di dapur.
"Monik, sudah. Jangan memperpanjang masalah ini lagi oke. Tidak enak jika nanti sampai di lihat oleh tuan Digo atau tuan Henry. Dan apa kamu tidak takut jika salah satu dari tuan kita itu lihat kita tengah bertengkar dengan nona ini, mereka pasti akan menghukum kita dengan hukuman yang mengerikan?" bisik Sheilla yang membuat Monik tampak terdiam sebelum perempuan yang sudah siap untuk menghabisi Vina tadi kini menghela nafas. Dan pisau lipat yang tadi sudah berada di genggamannya dan hanya di ketahui oleh Sheilla saja, pisau itu sudah ia masukkan kembali ke saku bajunya.
Sheilla yang melihat jika benda tajam itu sudah aman, ia menghela nafas lega setidaknya dia tidak harus melihat pertumpahan darah di depan matanya langsung untuk saat ini. Lalu Sheilla buru-buru mendekati Vina sebelum perempuan itu kembali bersuara yang akan membuat masalah ini semakin runyam saja.
__ADS_1
"Maaf atas kesalahan yang sudah saya buat nona. Saya harap nona bisa memaafkan saya. Dan saya akan segara memperbaiki kesalahan saya agar tak terulang kembali di hari selanjutnya," ucap Sheilla sembari membungkukkan tubuhnya tepat didepan tubuh Vina.
Vina tampak memutar bola matanya malas saat mendengar permintaan maaf dari Sheilla tadi.
"Untuk saat ini aku akan memaafkan kesalahan kamu. Tapi dengan syarat." Sheilla menegakkan tubuhnya kembali dengan mengerutkan keningnya.
"Syarat?" Vina menganggukkan kepalanya.
"Ya, dan syaratnya kamu harus mencari tahu semuanya tentang Digo. Mulai dari dia berasal dari negara mana? Orangtua dia siapa? Jumlah saudara dia? Akun media sosial dia? alamat kedua orangtuanya? Makanan dan minuman favorit dia? Dan nomor ponselnya," ucap Vina menyebut apa syarat yang harus dipenuhi oleh Sheilla.
"Syarat macam apa itu? Apa anda berniat untuk menjadi fans fanatik tuan saya, Nona?" Bukan, bukan Sheilla yang bersuara tapi Monik lah yang melakukannya. Dan hal tersebut membuat Vina melirik tajam kearah Monik.
"Aku sedang tidak berdiskusi denganmu. Jadi diamlah sebelum mulut kamu yang bau sampah itu aku sobek nanti," ujar Vina.
Sheilla memejamkan matanya sesaat setelah ia mendengar keributan dari dua perempuan yang tak ada yang mau mengalah itu. Dan dia yakin jika ia tak segera menengahi mereka, apa yang ia takutkan akan terjadi.
"Baiklah Nona. Saya akan berusaha mencari tahu semua yang nona sebutkan tadi," ujar Sheilla dengan pasrah. Mungkin akan sedikit sulit ia melakukannya tapi tak apa daripada dirinya melihat pertumpahan darah itu benar-benar terjadi.
"Oke kalau kamu setuju segara kerjakan syarat yang aku ucapkan tadi. Dan aku beri waktu kamu 3 hari, jika sampai kamu tak bisa mencari tahu semuanya ataupun ada yang tertinggal salah satunya, maka aku tidak akan segan-segan melaporkan tindakanmu dan tindakan teman kamu itu ke tuan kalian. Biar kalian kena hukuman sama Digo. Paham?!" Sheilla tampak menelan salivanya dengan susah payah sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya.
Vina yang melihat anggukan dari Sheilla pun ia segara beranjak dari tempat tersebut dengan menyenggol bahu Sheilla sebelum dirinya melangkahkan kakinya meninggalkan area dapur di mansion tersebut.
__ADS_1