The Dark Love

The Dark Love
98. Mencurigai Vina


__ADS_3

Di pagi harinya, Monik mengerjabkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam indra penglihatannya itu dengan rasa pegal yang ia rasakan di seluruh tubuhnya.


"Sttt kenapa tubuhku rasanya sangat pegal sekali dan kenapa daerah kewanitaanku juga sangat sakit? Apa sebenarnya yang terjadi?" gumam Monik dengan memijit kepalanya. Ia belum menyadari jika tubuhnya saat ini tidak memakai sehelai benang alias telanjang bulat.


Hingga saat dirinya terdiam beberapa detik dengan pijatan yang ia berikan di kepalanya, seklibat bayangan tentang tadi malam membuat dirinya langsung membuka matanya lebar-lebar.


"Jangan-jangan aku tadi malam---" ucap Monik sengaja ia putus dengan kepala yang saat ini ia tundukkan, dimana ia saat itu baru menyadari dirinya telanjang bulat. Dengan keadaan masih terkejut, Monik menolehkan kepalanya kearah samping tubuhnya dimana disana ada Henry yang tegah tidur dengan memunggungi dirinya.


"Sialan ternyata seklibat bayangan itu memang nyata. Arkhhhh sialan. Dan kenapa aku bisa melakukannya dengan tuan Henry? Kenapa beliau juga mau tidur denganku? Astaga apakah aku tadi malam sangat agresif sehingga tuan Henry tidak punya kesempatan untuk menolaknya? Arkhhhh sial sial sial," ucap Monik.


Ia tak marah sama sekali dengan Henry karena ia tau jika yang memulai duluan adalah dirinya bukan Henry.


"Ini semua gara-gara minuman itu. Aku yakin minuman tadi malam yang aku minum dicampur sesuatu. Tapi siapa yang sudah melakukannya? Aku saja tadi malam tidak lihat orang yang menaruh minuman itu? Terus aku harus apa sekarang? Dan apakah tuan Henry nanti akan marah? Astaga Monik kenapa kamu tadi malam tidak langsung lari ke kamar kamu sendiri, mengunci diri kamu disana! Bodoh bodoh bodoh. Monik bodoh. Sialan!" geram Monik pada dirinya sendiri.


Henry yang mendengar gerutuan dari belakang tubuhnya pun tidurnya harus terganggu. Laki-laki itu mengerjabkan matanya dan setelah tersadar sepenuhnya barulah ia menolehkan kepalanya kearah belakang dimana Monik saat ini tengah memukul-mukul kepalanya dengan posisi yang masih telentang, air mata yang sedari tadi Monik tahan pun akhirnya turun juga dari ujung matanya.


Henry yang melihat hal itu pun ia mencekal tangan kanan Monik agar perempuan itu tidak lagi memukul kepalanya sendiri.


"Monik stop! Apa yang kamu lakukan?" ucap Henry yang membuat Monik kini menolehkan kepalanya kearah Henry. Dan disitulah air matanya semakin deras menetes.


Henry yang paham dengan perasaan Monik yang saat ini pasti sangat hancur karena mereka berdua telah melakukan hal yang seharusnya tidak pernah mereka lakukan pun Henry mengikis jarak antara keduanya lalu memeluk tubuh Monik yang masih polos itu dengan memberikan usapan di kepala Monik.

__ADS_1


"Maafkan saya karena tadi malam saya tidak bisa menahan napsu saya," ucap Henry. Ia sangat marah dengan dirinya sendiri terutama dengan orang yang telah memasukkan obat sialan itu kedalam minumannya.


"Tidak. Seharusnya saya yang minta maaf ke tuan karena saya sudah lancang mencium dan hiks." Monik tak sanggup melanjutkan ucapannya itu lagi kala bayangan tentang kejadian tadi malam justru semakin jelas di ingatannya itu.


"Maafkan saya tuan.Tadi malam saya benar-benar tidak bisa mengendalikan diri saya sendiri. Maafkan saya. Maafkan saya tuan," ucap Monik masih di dalam pelukan Henry yang kini tengah terdiam. Sebelum dirinya kini angkat suara.


"Lupakan tentang kata maaf Monik. Saya sekarang hanya perlu jawaban kamu. Apa kamu tadi malam seperti itu bukan karena niat kamu sendiri melainkan karena kamu merasa di kendalikan oleh sesuatu?" tanya Henry penasaran. Karena ia ingat tingkah Monik tadi malam sangat-sangat berbeda dan kemungkinan Monik tadi malam juga terpengaruh oleh obat itu.


Monik sedikit mengendorkan pelukan dari Henry tadi agar dirinya bisa melihat wajah laki-laki di hadapannya itu sebelum dirinya menganggukkan kepalanya.


"Benar tuan. Saya merasa jika tadi malam bukan mau saya sendiri melainkan diri saya tengah di kendalikan oleh sesuatu. Saya awalnya tidak mau curiga, tapi sepertinya kejadian tadi malam ada sangkut pautnya dengan minuman yang saya minum sebelumnya," ujar Monik.


"Jus alpukat." Henry terkejut mendengar minuman yang Monik minum tadi malam sama dengan yang ia minum juga.


"Siapa yang memberikanmu jus itu?"


"Saya tidak tau tuan. Minuman itu tiba-tiba ada di meja makan saya dengan secarik kertas di bawahnya. Dan sepetinya saya masih menyimpan kertas itu di celana piyama saya," ucap Monik yang diangguki oleh Henry sebelum laki-laki itu beranjak dari ranjang tersebut untuk memungut celana piyama milik Monik. Namun sebelumnya ia meraih celana bokser miliknya tadi malam yang untungnya masih berada di atas ranjang tersebut untuk ia pakai sebelum turun dari atas ranjang.


Monik cukup terkesima dengan bentuk tubuh Henry yang cukup atletis itu. Namun beberapa saat setelahnya ia menggelengkan kepalanya, menghalau pikiran mesum yang tiba-tiba berada di pikirannya itu.


"Apakah ini kertasnya?" tanya Henry setelah dirinya mendapat secarik kertas dari celana Monik.

__ADS_1


Monik yang tadinya mengalihkan pandangannya kearah lainpun, dengan pipi yang bersemu merah ia menatap Henry lalu ia menganggukkan kepala.


Henry yang melihat anggukan itu pun ia segera membuka kertas tersebut dan saat itu juga tangannya terkepal erat saat membaca isi dari kertas tersebut.


"Kertas ini sama dengan kertas yang saya temukan tadi malam di bawah gelas berisi jus alpukat di bar dapur," ucap Henry dengan tangan yang bergerak mengambil celananya sendiri lalu mengambil kertas itu yang untungnya belum ia buang kemudian setelah mendapatkannya ia kembali naik keatas ranjang.


Monik yang melihat Henry terduduk diatas ranjang, ia dengan perlahan mendudukkan tubuhnya dengan selimut yang ia gunakan untuk menutup tubuhnya.


"Sial. Tulisan didalam kertas ini sama," ucap Henry yang sekarang tau penyebab Monik tadi malam bersikap sangat agresif itu karena ternyata perempuan itu juga tengah di kendalikan oleh obat perangsang sama seperti dirinya tadi malam.


"Dan saya yakin kita tadi malam di jebak oleh seseorang dengan memasukkan obat perangsang kedalam minuman itu," sambungnya yang membuat Monik mengganggukan kepalanya.


"Sepetinya memang seperti itu tuan. Tapi siapa orangnya yang berani melakukan hal ini kepada tuan? Jika maid dan para bodyguard tidak mungkin karena mereka tau jika melakukan hal ini kepada tuan sama saja mereka mempertaruhkan nyawa mereka," ujar Monik yang sangat yakin jika yang menjebak mereka berdua bukanlah para maid ataupun bodyguard di mansion tersebut.


Dan ucapan dari Monik tadi membuat Henry mencurigai seseorang.


"Vina," ucap Henry.


"Hah? Maksud tuan?" tanya Monik tak paham.


"Saya mencurigai Vina yang telah melakukannya. Tapi kita tidak bisa membalas perbuatan dia sebelum kita memiliki bukti. Dan untuk membuktikannya, kita lihat rekaman CCTV," ujar Henry yang diangguki setuju oleh Monik.

__ADS_1


__ADS_2