The Dark Love

The Dark Love
177. Keluarga


__ADS_3

"Nek," ucap Sheilla dengan rasa takut yang menjalar di tubuhnya.


Namun sesaat setelahnya, Sheilla kembali di buat terkejut kala sang nenek yang ia anggap akan marah dan tidak menerima dirinya atau tidak akan menganggap dirinya sebagai cucunya lagi pun justru sekarang neneknya itu memeluk dirinya dengan sangat erat sembari berkata.


"Maafkan nenek, nak. Maafkan nenek yang sudah menyembunyikan identitas kamu yang sebenarnya selama ini. Nenek hanya takut saat kamu tau semuanya kamu akan benci dengan nenek, walaupun memang nenek pantas mendapatkan kebencian darimu karena sudah berbohong dengan kamu selama puluhan tahun ini. Maafkan nenek, Sheilla. Maafkan nenek," ucap wanita tua itu penuh dengan penyesalan. Bahkan suara nenek terdengar serak, bertanda jika dirinya tengah menangis saat ini.


Sheilla yang mendengar ucapan dari sang nenek pun ia kini membalas pelukan dari wanita tua itu dengan memberikan elusan lembut di punggung wanita tua tersebut.


"Nenek tidak perlu meminta maaf kepada Sheilla. Karena Sheilla yakin nenek menyembunyikan tentang identitas asli Sheilla juga terpaksa, bukan? karena Sheilla lupa ingatan dan jika nenek memberitahu akan hal itu saat ingatan Sheilla masih belum pulih, nenek takut akan membuat Sheilla kesakitan. Dan Nek, walaupun Sheilla sudah tau akan semua fakta yang nenek sembunyikan itu, Sheilla tidak akan pernah benci dengan nenek, Sheilla justru akan berterimakasih kepada nenek karena Sheilla yang bukan siapa-siapa nenek saja sudah di terima baik oleh ibu, ayah dan seluruh keluarga besar nenek. Sheilla juga sangat-sangat berterimakasih karena sudah di rawat sebaik mungkin oleh nenek sampai nenek harus bekerja saat usia nenek sudah tidak muda lagi. Sheilla yang harusnya minta maaf karena telah merepotkan nenek selama ini dan belum bisa membalas jasa nenek selama ini. Maafin Sheilla, nek," ucap Sheilla yang akhirnya ia kini juga ikut meneteskan air matanya.


Dimana saat Sheilla mengucapakan hal tersebut, nenek kini melepas pelukan yang terjadi diantara keduanya dan kedua tangannya kini berpindah, menangkup kedua pipi Sheilla.


"Tidak sayang. Kamu tidak pernah merepotkan nenek sama sekali. Nenek melakukan semua itu dengan tulus dan tidak mengharapkan kamu membalas budi apa yang sudah nenek lakukan ke kamu. Nenek hanya mau kamu tetap menganggap nenek sebagian nenek kamu selamanya. Jangan pernah melupakan nenek walaupun kamu sudah tau keluarga kandungmu. Nenek hanya meminta itu saja nak dari kamu dan nenek berharap kamu bersedia melakukan hal itu," ujar nenek Sheilla yang diangguki dengan mantap oleh Sheilla.


"Nenek akan selalu menjadi nenek Sheilla sampai kapanpun. Sheilla tidak akan pernah melupakan nenek. Nenek adalah keluarga Sheilla selamanya," balas Sheilla yang membuat wanita tua itu kini tersenyum kepadanya sebelum ia kembali memeluk tubuh cucunya itu.


Digo yang sedari tadi memperhatikan interaksi dari dua perempuan beda usia itu, ia tersenyum kala masalah yang membuat Sheilla khawatir tadi akhirnya selesai juga.


Dan beberapa saat setelahnya pelukan keduanya kembali terlepas kembali dengan air mata yang sudah mengering.

__ADS_1


"Oh ya kalian tadi bilang kalau mau menikah 1 Minggu lagi kan?" Sheilla menganggukkan kepalanya begitu juga dengan Digo.


"Acaranya akan di laksanakan dimana? Dan apa nenek boleh menghadiri acara pernikahan kalian berdua?" tanya Nenek.


"Tentu saja boleh dong nek." Bukan, bukan Sheilla ataupun Digo yang menjawab pertanyaan dari wanita tua itu melainkan seorang wanita yang baru masuk kedalam ruang keluarga itu.


Dimana hal tersebut membuat ketiga orang yang sedari tadi berada di ruangan itu menolehkan kepalanya kearah sumber suara.


Yang mana saat ketiganya menolehkan kepalanya, mereka bisa melihat ada 4 orang yang tengah berjalan mendekati mereka. Dan orang-orang itu siapa lagi kalau bukan Mama Ciara, Papa Devano, Bian juga Franda.


Nenek Sheilla yang melihat mereka pun ia langsung berdiri dari duduknya kemudian ia membungkukkan tubuhnya kearah keempat orang tersebut yang membuat mereka semua terkhusus keempat orang tadi tampak terkejut. Hingga dengan cepat Mama Ciara dan Franda membantu menegakkan kembali tubuh wanita tua tersebut.


"Iya nek, nenek itu keluarga kita semua jadi tidak perlu nenek membungkukkan tubuh nenek seperti tadi. Kita tidak pantas mendapatkan rasa hormat dari nenek, karena yang seharusnya memberikan hormat itu kita semua yang usianya jauh lebih muda dari nenek. Jadi saya mohon dengan sangat, jangan lakukan itu lagi ke kita semua," timpal Mama Ciara.


"Tapi---" belum sempat nenek menyelesaikan ucapannya, Franda dengan terpaksa harus memutusnya.


"Tidak ada tapi-tapian nek. Karena apa yang Ciara tadi ucapkan adalah sebuah kebenaran. Dan sekarang nenek duduk lagi saja ya." Franda membantu wanita tua itu untuk duduk kembali di tempatnya semula. Namun kali ini, Sheilla yang tadi duduk disebelahnya, perempuan itu sudah berpindah tempat menjadi disamping Digo dengan alasan agar Franda dan Mama Ciara saja yang menempati tempat duduk disamping sang nenek.


Dan benar saja, saat nenek Sheilla telah duduk di sofa, kedua wanita tadi juga ikut duduk disamping nenek dengan senyuman di bibir keduanya. Sedangkan Bian dan Papa Devano menempati sofa yang masih kosong disana.

__ADS_1


"Nek, nenek apa kabar?" tanya Franda dengan mengelus punggung nenek Sheilla. Dimana hal tersebut membuat wanita tua itu kembali menangis.


"Maafkan saya, Nyonya. Saya tidak bermaksud untuk memisahkan nyonya dengan Sheilla." Bukannya menjawab pertanyaan yang Franda lontarkan, nenek Sheilla itu justru meminta maaf kepada Franda.


"Sudah lupakan saja nek. Semua itu sudah menjadi masa lalu dan Sheilla juga sudah menceritakan semuanya tentang kehidupannya selama ini dan saya rasa hilangnya komunikasi antara kita bukan salah nenek atau siapapun. Jadi lupakan saja karena yang terpenting sekarang saya sudah melihat Sheilla dalam keadaan baik-baik saja. Dan saya ucapan banyak-banyak terimakasih karena nenek sudah mau merawat Sheilla selama ini," ujar Franda dengan menggenggam kedua tangan nenek Sheilla yang berada di atas paha wanita tua itu.


"Itu sudah menjadi kewajiban saya untuk merawat Sheilla, Nyonya." Franda tampak menghela nafasnya kala ia mendengar nenek Sheilla memanggil dirinya dengan sebutannya Nyonya.


"Stop, jangan panggil saya dengan sebutan nyonya lagi nek. Panggil saya Franda saja. Jangan pakai embel-embel nyonya. Karena nenek dari dulu sudah saya anggap sebagai kelurga sendiri. Jadi hentikan, jangan panggil saya dengan sebutan nyonya lagi karena saya benar-benar tidak menyukainya. Dan kalau sampai nenek kembali mengulanginya lagi saya akan marah dengan nenek." Franda tampak mengerucutkan bibirnya yang berhasil membuat wanita tua itu tersenyum kepadanya.


"Baiklah saya tidak akan memanggil kamu dengan sebutan Nyonya lagi, Franda." Franda yang mendengar ucapan itu ia tersenyum sebelum ia tersadar jika dirinya belum mengenalkan kedua orangtua Digo kepada nenek Sheilla itu.


"Oh ya nek, kenalin kedua orang ini adalah orangtua Al," ucap Franda yang membuat wanita tua itu justru mengerutkan keningnya.


"Al? Siapa itu Al?" tanya nenek Sheilla yang membuat Franda langsung menepuk keningnya sendiri.


"Maksud Franda, dua orang ini adalah orangtua dari Digo nenek. Nenek cukup panggil mereka dengan nama Ciara dan Devano. Dan kedatangan kita kesini mau membasah tentang pernikahan Digo dan Sheilla 1 Minggu lagi dengan nenek," ucap Franda.


"Nenek juga ikut membahas pernikahan Sheilla dan Digo?" tanya nenek Sheilla.

__ADS_1


"Iya dong karena nenek adalah keluarga kita jadi harus ikut andil dalam proses pernikahan Sheilla dan Digo. Dan untuk mempersingkat waktu, lebih baik kita mulai berembuk sekarang juga," jawab Franda. Dimana ucapannya itu diangguki oleh semua orang kecuali nenek Sheilla yang masih tak menyangka jika dirinya diikut sertakan dalam pembahasan pernikahan antara kedua cucunya itu.


__ADS_2