
Saat Digo tengah masuk kedalam ruang kerja Bian tadi, Sheilla yang juga sudah masuk kedalam kamar barunya alias kamar Yura itu, ia mengedarkan pandangannya, melihat ke seluruh ruangan tersebut dimana dominan berwarna ungu dan putih. Dimana di tembok belakang ranjang tersebut, terlihat ada gambar bunga aster berwarna ungu yang menghiasi tembok putih polos tersebut.
"Bun," panggil Sheilla yang membuat Franda yang sedari tadi berdiri disampingnya kini menolehkan kepalanya kearahnya.
"Ya kenapa nak?" tanyanya.
"Apa Yura juga menyukai bunga aster?" tanya Sheilla dengan menolehkan kepala kearah Franda yang tengah tersenyum kepadanya sebelum ia menganggukkan kepalanya itu.
"Iya nak, dia sangat suka sekali dengan bunga aster. Kata Yura, bunga aster itu membuat dia menjadi tenang dan bahagia," jawab Franda dengan mengalihkan pandangannya, menelisik seluruh ruangan tersebut.
"Apa yang dikatakan oleh Yura itu benar juga, Bun karena Sheilla juga merasa tenang dan bahagia jika melihat bunga aster." Ucapan dari Sheilla tadi membuat Franda tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya kearah Sheilla kembali. Sebelum ia kembali angkat suara.
"Apa kamu juga menyukai bunga aster seperti Yura?" tanya Franda.
"Ya, Sheilla sangat menyukainya sejak Sheilla kecil dulu. Bahkan saking sukanya Sheilla dengan bunga aster, didepan dan belakang rumah kedua orangtua Sheilla dulu di tanami bunga aster," cerita Sheilla.
"Wahhhhh segitu sukanya ya kamu dengan bunga aster. Malahan apa yang kamu lakukan saat kecil itu sama persisi yang dilakukan Yura dulu. Bahkan sejak dia berumur 5 tahun dia selalu minta Papa buat bawain bunga aster setiap kali Papa pulang dari kerja atau bahkan saat Papa dulu melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Dia bukan meminta oleh-oleh mainan seperti anak-anak pada biasanya. Tapi dia justru minta bunga aster. Dan jika dia sudah mendapatkan bunga kesukaannya itu, oleh-oleh berupa makanan atau mainan tidak di gubris olehnya sama sekali," ucap Franda dengan mengenang masa lalu dirinya bersama anaknya itu sembari berjalan dan berakhir duduk di atas ranjang di kamar tersebut.
Dimana hal itu diikuti oleh Sheilla yang kini telah duduk disamping Franda.
"Dia benar-benar anak yang berbeda Sheilla, dia sangat unik," sambung Franda yang diangguki setuju oleh Sheilla.
"Oh ya, kamu kesini tadi kan berniat untuk tidur kan ya. Ya sudah kalau gitu silahkan tidur anaknya Bunda," ucap Franda dengan berdiri dari duduknya, mempersilahkan Sheilla agar bergegas tidur.
Sheilla yang mendengar ucapan dari Franda itu ia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu, Bunda keluar dulu ya. Kamu tidur yang nyenyak dan jika kamu belum bangun saat jam makan siang, Bunda bangunin kamu," ucap Franda dengan mengelus kepala Sheilla yang masih duduk di pinggir ranjang tersebut.
Sebelum akhirnya dirinya melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar itu. Namun baru saja ia ingin membuka pintu kamar itu, suara Sheilla terdengar kembali yang membuat Franda mengurungkan niatnya.
"Bunda, tunggu sebentar," ucap Sheilla.
Franda kini memutar tubuhnya kembali menghadap Sheilla.
"Ya nak, kenapa?" tanya Franda.
"Sheilla mau tanya sesuatu ke Bunda, boleh?" tanya Sheilla.
"Tentu saja. Katakan kamu mau tanya apa nak?" ucap Franda sembari berjalan mendekati Sheilla kembali dan duduk lagi di tempatnya tadi.
__ADS_1
"Sheilla mau tanya apakah Bunda dan Papa hanya punya Yura saja? Maksud Sheilla, apa Yura hanya anak satu-satunya Bunda sama Papa?" tanya Sheilla benar-benar penasaran.
"Ya, Yura adalah anak satu-satunya Bunda dan Papa bahkan setelah dia pergi, kita berdua tidak ada niatan untuk mendapatkan ganti Yura di tengah-tengah rumah tangga kita berdua. Karena menurut kita berdua, walaupun Yura tak berada di tengah-tengah kita lagi secara nyata, tapi dihati kita dia tetap ada, tidak pergi kemana-mana," ujar Franda yang membuat Sheilla tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hmmmm begitu ya. Sheilla kira bunda dan Papa punya anak lagi selain Yura."
"Tidak sayang. Yura adalah anak satu-satunya Bunda dan Papa." Lagi-lagi Sheilla menganggukkan kepalanya.
"Apa masih ada yang ingin kamu tanyakan ke Bunda, sayang?" tanya Franda.
"Memangnya boleh Sheilla tanya lagi?"
"Tentu saja sayang. Tapi kalau Bunda bisa menjawab Bunda akan jawab tapi kalau tidak bisa, tidak apa-apa ya," ucap Franda.
"Ahhhh tidak apa-apa kalau Bunda tidak bisa menjawab pertanyaan Sheilla. Sheilla juga tidak memaksa Bunda untuk menjawab kok."
"Kalau begitu katakan kamu mau tanya apa lagi hmmm?" Sheilla kini tampak menggigit bibir bawahnya. Dan dengan mengepalkan tangannya untuk mengalihkan kegugupan yang tiba-tiba saja mendera tubuhnya itu, ia memejamkan matanya dengan helaan nafasnya sebelum ia mulai bertanya.
"Begini. Yura lahirnya sama seperti lahirku kan Bun?" Franda tampak menganggukkan kepalanya.
"Dan selain kita berdua yang lahir di tanggal, bulan dan tahun yang sama. Apakah didalam keluarga besar Bunda dan Papa juga ada yang lahir di waktu itu juga. Mungkin keponakan Bunda atau Papa gitu?" tanya Sheilla. Sepertinya ada misi tersembunyi dalam pertanyaan Sheilla itu.
Hingga keyakinannya tersebut membuat ia kini menggelengkan kepalanya sembari berucap.
"Bunda rasa dihari itu di keluarga Bunda dan Papa hanya Yura saja yang lahir," jawab Franda.
"Selain Yura, tidak ada yang lain Bun?" Franda menggelengkan kepalanya dan hal tersebut membuat Sheilla mengangguk-anggukkan kepalanya.
"*Jika memang hanya Yura saja. Terus foto yang aku temukan itu berarti apa? Foto anak kecil yang di gendong oleh Papa Bian itu sama dengan foto masa kecilku. Aku juga menemukan foto dimana orang yang aku yakini adalah diriku sendiri itu tengah merayakan ulangtahun dengan diapit oleh Bunda Franda dan Papa Bian. Semua foto yang aku dapatkan itu berarti apa tuhan? Kenapa aku tidak mengingat akan kenangan di foto tersebut jika memang aku pernah melaluinya. Atau apa mungkin foto yang aku temukan itu adalah foto Yura yang kebetulan mirip dengan wajahku? Tapi untuk apa nenek menyimpan foto-foto Yura itu. Atau jangan-jangan aku ini adalah kembaran Yura lagi yang terpisah dengan Bunda dan Papa," batin Sheilla dengan otaknya yang harus menebak-nebak itu. Namun sesaat setelahnya ia menggelengkan kepala.
"Tidak. Tidak mungkin aku kembaran Yura karena dengan jelas Bunda tadi bicara kalau dia hanya punya anak Yura saja. Masa iya jika Yura punya kembaran, Bunda tidak mengakuinya dan jika memang Bunda tidak tau jika Yura memiliki kembaran itu lebih tidak mungkin lagi karena yang jelas Bunda saat hamil dulu sempat melakukan USG dimana Bunda bisa melihat dengan jelas jumlah baby yang ada di perutnya itu. Dan saat melahirkan tidak mungkin Dokter yang menangani Bunda sempat menyembunyikan kembaran Yura itu karena aku yakin dokter yang menangani Bunda untuk melahirkan itu adalah dokter profesional yang tak mungkin mau melakukan hal seperti itu. Tapi jika begitu, apa maksud dari foto yang aku temukan itu, jika aku bukan kembaran Yura? Tolong bantu Sheilla Tuhan, Sheilla mohon!" jerit Sheilla dalam hati*.
Pikirannya yang terus berperang itu semakin lama membuat Sheilla merasakan sakit kepala yang luar biasa seperti yang ia rasakan dulu saat melihat darah yang mengalir di tangan Digo dan saat melihat luka Digo waktu itu. Dimana rasa sakit itu sudah lama ia tak rasakan namun saat ia memikirkan hal tersebut rasa sakit itu kembali lagi.
Dan hal tersebut membuat Sheilla menggelengkan kepalanya, berusaha mengalihkan rasa sakitnya itu.
Sedangkan Franda yang sedari tadi memperhatikan Sheilla pun ia menjadi khawatir saat melihat ekspresi wajah Sheilla yang berubah.
"Sheilla apa yang sedang terjadi?" tanya Franda panik. Dimana hal tersebut membuat Sheilla yang tadinya menundukkan kepalanya kini kepalanya itu ia tegakkan kembali dengan gelengan kepalanya.
__ADS_1
"Sheilla tidak kenapa-napa kok Bunda," jawab Sheilla dengan senyuman di bibirnya itu untuk mendukung kebohongannya itu.
"Kamu yakin nak?" tanya Franda.
"Iya Bunda. Sheilla sangat yakin. Bunda tidak perlu khawatir," ucap Sheilla yang membuat Franda hanya bisa menghela nafas panjang.
"Syukurlah kalau kamu memang tidak kenapa-napa," ujar Franda yang di balas dengan senyuman di bibirnya Sheilla.
Dan beberapa saat setelahnya dua perempuan itu sempat saling diam satu sama lain untuk sesaat sebelum Sheilla kembali angkat suara.
"Bunda." Franda mengalihkan pandangannya kearah Sheilla disampingnya.
"Sheilla boleh minta sesuatu dengan Bunda?" pinta Sheilla dengan takut.
"Mau minta apa sayang. Sebisa mungkin permintaan Sheilla akan Bunda turuti," ujar Franda dengan meraih tangan Sheilla lalu menggenggam tangan perempuan tersebut.
"Sheilla mau lihat foto Yura, boleh? Soalnya Sheilla penasaran dengan wajah Yura. Sepertinya dia sangat menggemaskan seperti yang di ceritakan oleh Digo waktu itu. Jadi apa Sheilla di perbolehkan untuk melihat foto Yura?" tanya Sheilla yang membuat Franda tampak terkejut namun sesaat setelahnya keterkejutannya itu berubah menjadi sebuah senyuman namun di balik senyumannya itu terdapat ketakutan yang teramat sangat.
"Kamu yakin mau melihat foto Yura?" tanya Franda untuk memastikan. Dimana pertanyaannya itu diangguki mantap oleh Sheilla.
"Baiklah kalau begitu Bunda akan memperlihatkan foto Yura ke kamu. Tunggu sebentar ya Bunda ambilkan album foto Yura dulu," ucap Franda yang lagi-lagi diangguki oleh Sheilla.
Franda yang melihat anggukkan kepala dari Sheilla itu, ia bergegas menuju ke sebuah lemari kaca yang berada di kamar tersebut untuk mengambil album foto Yura lalu setelah ia mengambilnya, ia bergegas mendekati Sheilla dan duduk di tempatnya tadi.
"Ini. Didalam album ini isinya foto Yura semua," ucap Franda dengan menyerahkan album foto yang cukup tebal itu ke pangkuan Sheilla.
"Kalau begitu Sheilla mulai lihat-lihat ya Bun."
"Silahkan sayang," ucap Franda. Dimana ucapannya itu membuat Sheilla kini mulai membuka album foto tersebut dengan tangan yang bergetar. Dimana saat ia melihat foto pertama didalam album itu ia sempat terkejut namun setelahnya ia berusaha untuk menetralkan keterkejutannya tadi.
Lalu setelahnya Sheilla terus membalikan setiap lembar album foto tersebut dengan keringat dingin yang sudah keluar. Bahkan rasa pusing di kepalanya itu semakin menjadi. Hingga saat tiba di bagian ia membalikkan lembar album foto dan menemukan foto dua anak kecil berjenis kelamin berbeda itu tiba-tiba saja seklibat bayangan hadir di memorinya. Dan semakin banyaknya foto yang ia lihat itu semakin banyak bayangan-bayangan asing silih berganti masuk ke memorinya dengan kedua telinganya itu berdengung hebat, tubuhnya semakin bergetar hingga membuat album foto yang ia bawa tadi jatuh.
Sheilla kini memegang kedua telinganya itu dengan terus menggelengkan kepalanya. Bahkan ia sudah tak memperdulikan Franda yang sudah sangat panik itu. Bahkan suara Franda saja ia tak mendengarnya, karena telinganya itu sudah mendengar suara lain yang merupakan suara dari bayangan di memorinya itu.
Sheilla terus menutup matanya dengan tangan yang masih menutup kedua telinganya itu, air matanya pun juga sekarang sudah membasahi pipinya itu hingga...
"Al!"
Sheilla meneriaki nama yang berada di otaknya itu saat ini sebelum akhirnya ia pingsan tak sadarkan diri.
__ADS_1