
"Henry!" teriak Digo saat dirinya telah sampai dilantai utama mansion tersebut yang membuat Henry yang baru menyeruput mie instan tersedak.
"Uhuk uhuk uhuk. Air uhuk," ucap Henry kelabakan.
Bik Nah yang tadinya ingin menghampiri Digo, ia urungkan saat tuan keduanya tengah merasakan kesakitan. Dan dengan cepat ia mengambilkan segelas air putih untuk Henry.
"Ini tuan. Minumlah," ujar bik Nah sembari menyodorkan segelas air putih tadi yang langsung di terima oleh Henry dan laki-laki itu kemudian meneguk air putih tersebut hingga tandas.
"Uhhhh lega," gumam Henry saat merasakan tenggorokannya yang sudah tidak sakit lagi.
"Henry!" teriakan itu membuat Henry langsung berdiri dan segera berjalan menuju sumber suara tadi diikuti bik Nah.
"Ya bos," ucap Henry.
Digo yang mendengar suara Henry, ia menghentikan langkahnya kakinya lalu ia menolehkan kepalanya kearah Henry sekarang berada.
"Panggil Shofie atau Diana sekarang juga!" perintah Digo.
"Ehhhh untuk apa?" tanya Henry.
"Ck, kamu tidak perlu tau, cepat panggil salah satu dari mereka berdua sekarang juga!" ujar Digo yang membuat Henry mencebikkan bibirnya.
"Baiklah akan aku panggilkan mereka," ucap Henry dan dengan cepat ia merogoh ponselnya lalu segera mencari nomor dokter pribadi Digo.
Sedangkan bik Nah yang tadi ikut bersama dengan Henry, matanya terbuka sempurna saat menyadari jika tangan Digo kini tengah terluka.
"Ya Allah, tuan. Tangan tuan kenapa?" tanya bik Nah dengan cemas.
__ADS_1
Digo melirik tangannya yang masih mengeluarkan darah segar itu hingga membuat dirinya kini menghela nafas berat saat suara Sheilla yang mengatakan sebuah kebohongan kepadanya itu terngiang-ngiang di telinganya.
"Astaga banyak kaca yang menancap di tangan tuan. Kita---" belum sempat bik Nah menyelesaikan ucapannya, suara seseorang yang baru keluar dari lift terdengar nyaring.
"Kaca? Menancap ditangan siapa?" Seluruh orang yang ada di sana mengalihkan pandangannya kearah pemilik suara tadi tak terkecuali dengan Henry yang mencebikkan bibirnya saat tau siapa pemilik suara tadi sebelum dirinya melanjutkan kegiatan menelfonnya yang sampai sekarang belum juga diangkat oleh dua dokter pribadi Digo itu.
Sedangkan Digo, ia menatap tajam bahkan ia sekarang sudah mengepalkan tangannya. Dan itu semua luput dari penglihatan bik Nah yang tau betul jika tuannya bersikap seperti saat ini berarti dia tengah marah dengan orang yang tengah ia tatap.
"Ada masalah apa tuan dengan nona ini?" batin bik Nah bertanya-tanya.
Sedangkan Vina, ia kini terkejut bukan main saat melihat darah di tangan Digo dan dengan berlari kecil ia mendekati Digo.
"Astaga Digo, tangan kamu kenapa?" tanya Vina.
"Kenapa bisa seperti ini sih? Coba sini aku lihat seberapa parah luka kamu ini. Karena aku dulu pernah ikut kelas kedokteran waktu kuliah dulu walaupun hanya 3 bulan saja. Tapi setidaknya aku bisa mengobati luka kamu ini," ujar Vina. Tangannya kini bergerak berniat untuk menyentuh tangan Digo. Namun belum ada seujung kuku ia menyentuh kulit laki-laki itu, tangan Digo lebih dulu ia jauhkan dari jangkauan Vina.
"Saya tidak peduli dengan itu. Mau tangan saya infeksi ataupun tidak itu bukan urusan anda, Nona. Dan saya peringatkan kepada Anda, tolong jaga sikap anda karena disini hanya saya lah yang berkuasa bukan orang lain terutama anda. Jadi sebagai tamu yang tak pernah saya harapkan, anda harus menjaga batasan anda Nona. Karena disini bukan mansion milik anda melainkan milik saya. Tidak akan ada orang yang sama berkuasanya dengan saya kecuali keluarga saya. Saya harap anda paham dengan maksud saya tadi. Jadi saya tidak perlu repot-repot untuk melakukan hal yang jauh dari pikiran Anda," tutur Digo dengan suara dingin dan tatapan tajamnya seakan-akan ia ingin membunuh Vina saat itu juga.
"Tapi tangan kamu tidak bisa dibiarkan begitu saja Digo. Aku tidak bohong mengenai infeksi itu. Dan apa maksud dari ucapanmu itu? Siapa orang yang sok berkuasa di mansion ini?" tanya Vina.
Digo tak menjawab ucapan dari Vina tadi karena menurutnya apa yang telah ia ucapan tadi benar-benar sudah sangat jelas tanpa harus ia perjelas lagi.
Sedangkan Vina yang melihat keterdiaman dari Digo, ia ingin kembali bersuara namun suara Henry lebih dulu memenuhi ruangan tersebut.
"Dokter Diana akan segera kesini bos," ucap Henry.
Digo melirik sekilas kearah Henry kemudian ia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Jika nanti dia sudah sampai suruh dia kedalam kamar saya," ujar Digo.
"Siap bos," ucap Henry.
Setelah mendengar persetujuan dari Henry, Digo bergegas menuju lift di lantai tersebut diikuti oleh bik Nah yang harus meminta penjelasan atas apa yang tengah tuannya alami itu.
"Digo, tunggu. Luka kamu belum diobati!" teriak Vina sembari mencoba untuk menjangkau pintu lift tersebut. Namun sayang, belum juga ia ikut masuk bersama bik Nah dan Digo, pintu itu lebih dulu menutup yang membuat dirinya berdecak sebal.
Dan saat dirinya menunggu pintu lift terbuka kembali, sebuah celetukan masuk kedalam indra pendengarannya.
"Sepertinya anda salah mencari musuh nona. Dan selamat karena anda sudah menghilangkan rasa respect dari tuan Digo untuk anda," ucap seseorang yang tak jauh dari tempat Vina berdiri saat ini. Dan hal tersebut membuat Vina langsung menolehkan kepalanya kearah orang tersebut. Dan saat dirinya sudah tau si pemilik suara tadi, kedua tangannya terkepal erat.
"Dan satu lagi, saya rasa nona mempunyai niat untuk mendekati tuan Digo, bukan? Kalau begitu saya mau memberikan ucapan selamat atas kegagalan anda yang ingin menjerat hati tuan saya. Kasihan sekali bukan, belum juga apa-apa sudah ditolak bahkan mungkin sekarang sudah di benci oleh laki-laki yang dia cintai," sambung orang tersebut yang tak lain adalah Monik.
"Jangan sok tau kamu. Dia bukan benci ataupun menolak cinta saya. Dia melakukan hal seperti tadi karena dia tengah gugup dengan luka di tangannya itu. Dan saat luka dia sudah ditangani dan sembuh, dia juga akan bersikap lembut seperti saat pertama kali kita bertemu," ujar Vina yang dibalas dengan kekehan oleh Monik. Ternyata tebakannya tadi benar adanya jika perempuan menyebalkan itu berniat untuk mendekati tuannya.
"Benarkah begitu nona?" Dengan mantap Vina menganggukkan kepalanya.
"Ya, dan saat-saat seperti ini aku akan merawat dia dan memberikan perhatian yang lebih kepadanya. Hingga saat dia nanti sudah sembuh, dia akan ingat jika yang selalu ada untuknya adalah aku. Dan aku pastikan saat itu juga dia akan jatuh cinta kepadamu. Jadi siap-siaplah saat aku nanti menjadi nyonya dirumah ini, kamu orang pertama yang akan aku pecat dan akan aku tendang kamu keluar dari mansion ini," ujar Vina tanpa keraguan sedikitpun.
"Hahaha please, wake up Nona. Sekarang baru sore menjelang malam jadi jangan tidur terlebih dahulu sampai harus bermimpi seperti ini," balas Monik tak mau kalah.
"Kamu!" Monik memincingkan sebelah alisnya.
"Tunggu saja ucapanku tadi akan menjadi kenyataan," sambung Vina.
"Cihhh, Maaf nona waktu saya tidak terlalu senggang untuk menunggu kehaluan dari orang gila seperti anda ini menjadi kenyataan. Ehhhh tapi tunggu, hmmm sepertinya seru juga menunggu hal itu terjadi karena jika nona gagal membuktikan semua ucapan nona itu, saya akan menjadi orang pertama yang akan menertawakan nona. Jadi untuk kali ini akan saya tunggu kegagalan nona," ujar Monik. Dan setelah mengucapkan hal tersebut, Monik melangkahkan kakinya menjauh dari Vina yang sudah menggeram kesal dengan ucapan dari Monik tadi.
__ADS_1
"Perlu kamu tau perempuan sialan, seorang Alvina Ayudia tidak pernah gagal mendapatkan apa yang dia mau. Jadi nantikan saja saat aku menjadi nyonya di rumah ini aku akan balas semua perbuatanmu," gumam Vina sembari mengepalkan kedua tangannya sebelum dirinya kini masuk kedalam lift yang baru saja terbuka itu.