
"Maksud kamu, kamu mencurigai Uncle Bian?" tanya Henry yang diangguki anak buah Digo itu.
"Sebenarnya bukan cuma saya saja yang mencurigai tuan Bian, tapi kita semua yang ada disini curiga kepada beliau. Kita pikir logika saja ya tuan, kenapa kaburnya Yoga bertepatan dengan tuan Bian yang berkunjung di mansion. Jika hanya kebetulan saja kenapa perginya Yoga sesaat setelah tuan Bian keluar dari mansion? Dan kedatangan tuan Bian kemarin itu sangat-sangat mencurigakan, dia datang sendiri tanpa istrinya yang selalu tidak pernah absen bertemu dengan tuan Digo jika mereka tengah berkunjung ke negara Paris, Prancis. Dan tidak seperti biasanya jika beliau berkunjung, dia pasti akan menginap di mansion tapi hari itu hanya beberapa menit saja bahkan tidak sampai satu jam. Terlihat buru-buru sekali. Saya paham jika beliau orang sibuk tapi entah kenapa saya dan yang lain justru mencurigai kedatangannya waktu itu," tutur anak buah Digo yang di timpali dengan anggukan kepala oleh Henry.
"Baiklah, nanti akan saya coba diskusikan tentang kecurigaan kalian ke tuan Digo. Dan lebih baik kalian sekarang kembali bekerja saja dan walaupun kalian mencurigai Uncle Bian, tapi kalian harus tetap mengawasi pengusaha itu," perintah Henry.
"Siap! Laksanakan!" Jawab 10 orang itu dengan serempak sebelum mereka berpencar, melakukan tugasnya masing-masing.
Dan setelah kepergian 10 anak buah Digo itu, Henry memilih untuk kembali masuk kedalam kamarnya di dalam rumah minimalis yang dengan sengaja ia sewa karena lokasinya tak jauh dari rumah pengusaha Belanda tersebut yang otomatis membuat mereka akan lebih mudah mengawasi target mereka. Dan saat dirinya telah masuk kedalam kamarnya, ia dengan segara mengambil ponselnya untuk menghubungi Digo untuk memberi tahu Digo tentang kecurigaan anak buahnya itu.
Digo yang berada di dalam perjalanan menuju ke rumah Sheilla, ia langsung meraih ponselnya yang berdering di dalam saku jaketnya.
Dimana dering ponsel tersebut membuat Sheilla yang duduk disampingnya menolehkan kepalanya kearah sang suami.
"Siapa?" tanya Sheilla penasaran.
"Henry," jawab Digo sembari tangannya kini bergerak untuk menggeser ikon telepon berwarna hijau untuk mengangkat telepon dari sahabat sekaligus tangan kanannya itu.
"Halo, bagaimana? Apa kalian menemukan hal yang mencurigakan disana?" tanya Digo saat sambungan telepon tersebut terhubung. Dan ucapannya itu membuat Henry yang ada di sebrang sana menghela nafas panjang.
📞 : "Tidak. Kita tidak menemukan aktivitas mencurigakan dari pengusaha itu. Semuanya terlihat baik-baik saja. Tapi Al, aku punya sesuatu yang perlu aku sampaikan ke kamu."
__ADS_1
Ucapan dari Henry tersebut membuat Digo mengerutkan keningnya.
"Sesuatu? Apa itu?"
📞 : "Jadi anak buahmu semuanya sekarang tengah mencurigai seseorang yang sangat dekat denganmu dan orang itu adalah Uncle Bian."
Digo yang mendengar hal tersebut pun ia justru terkekeh kecil yang membuat Sheilla penasaran hal apa yang membuat kekasihnya itu sampai tertawa.
"Kamu jangan bercanda. Mana ada Uncle Bian terlibat dalam aksi kaburnya Yoga itu. Dan saya yakin dia tidak mengenal Yoga. Walaupun memang Uncle Bian terlibat, alasan dia melakukannya untuk apa? Ya kali dia juga mau mengincar nyawa saya dengan cara lewat orang lain seperti ini. Kalau pun dia mau melenyapkan saya, dia pasti bergerak sendiri secara saya saja sangat percaya dengan beliau. Dan saya juga Uncle Bian sudah kenal lama, kenapa beliau tidak melenyapkan saya saat saya masih kecil saja karena itu akan lebih mudah untuknya melenyapkan saya," ujar Digo yang sangat masuk akal.
Dan hal tersebut membuat Henry justru dilema sekarang. Disisi lain, ia juga ikut mencurigai Bian tapi disisi lain, ia mensetujui ucapan dari Digo tadi. Jika memang dia mengincar Digo, kenapa dia tidak membunuh sahabatnya itu saat masih kecil saja?
📞 : "Kamu jangan marah, itu hanya tebakanku saja yang belum tentu benar adanya." Henry yang sepertinya tau Digo akan marah karena dirinya menyangkut-pautkan Yura dalam masalah tersebut pun ia lebih dulu mengantisipasi kemarahan dari sahabat itu.
📞 : "Tapi ya itu jika aku boleh menyarankan, lebih baik kamu kerahkan anak buahmu yang lain atau anak buahku yang ada disana untuk mengawasi Uncle Bian. Dan biar kita juga bisa membuktikan jika Uncle Bian terlibat atau tidak ke semua anak buahmu yang mencurigainya," sambung Henry. Dimana sesaat setelahnya terdengar helaan nafas dari Digo.
"Baiklah, saya akan mengikuti saran dari kamu itu. Saya akan segara mengerahkan anak buah saya yang ada di Indonesia untuk mengawasi pergerakan Uncle Bian," ucap Digo pada akhirnya.
📞 : "Baiklah. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya," ujar Henry.
"Ya," jawab Digo sesaat sebelum sambungan telepon itu terputus.
__ADS_1
Sheilla yang penasaran pun ia kini angkat suara.
"Ada apa? Kenapa topik pembicaraan kalian menyangkut-pautkan ke Uncle Bian?" tanya Sheilla yang membuat Digo kini menolehkan kepalanya kearah kekasihnya.
"Semua anak buahku mencurigai Uncle Bian ikut andil dalam kaburnya Yoga," jawab Digo yang membuat Sheilla tampak terkejut.
"Kenapa Uncle Bian yang mereka curigai?"
"Aku juga tidak tau alasan pastinya kenapa karena Henry tidak memberitahuku."
"Terus kamu setuju untuk mengawasi Uncle Bian?" Digo menganggukkan kepalanya.
"Itu salah satu cara untuk membuktikan kecurigaan semua anak buahku itu dan semoga kecurigaan mereka salah," ucap Digo dengan penuh harapan. Jangan sampai Bian ikut terlibat dalam masalah itu karena jika sampai Bian ikut terlibat, Digo pasti akan sangat-sangat kecewa dengan laki-laki itu yang sudah ia anggap sebagai ayah keduanya.
Sedangkan Sheilla yang melihat wajah murung dari Digo pun ia mengelus lengan kekasihnya itu.
"Kamu tenang saja ya, aku yakin kecurigaan anak buahmu itu salah besar. Uncle Bian tidak akan pernah melukai kamu seperti yang ada didalam pikiran anak buahmu itu," tutur Sheilla mencoba untuk menenangkan Digo.
Digo yang tadi sempat menundukkan kepalanya ia terlihat menegakkan kepalanya kembali dengan senyum manis yang ia berikan kepada kekasihnya itu tak lupa ia juga menganggukkan kepalanya. Sebelum dirinya menarik pinggang Sheilla untuk ia peluk. Ia butuh ketenangan, dimana ketengannya itu ia bisa dapatkan dari pelukan Sheilla.
Dan pelukan dari Digo itu dibalas oleh Sheilla dengan menepuk-nepuk kecil punggung kekasihnya tersebut.
__ADS_1