
"Sayang," ucap Digo dengan berlari mengejar Sheilla yang sudah keluar dari area mansion tersebut dengan mengusap air matanya yang menetes begitu deras.
"Sayang, kamu salah paham," kata Digo dengan mencekal lengan Sheilla hingga membuat Sheilla kini menghentikan langkahnya.
"Salah paham? Salah paham darimana Digo?! Dia sudah jelas-jelas calon istri kamu. Terbukti dengan dia yang memanggil kamu dengan nama Al bukan Digo dan juga cincin yang dia pakai tadi adalah cincin yang sama persis dengan milik kamu yang berada di dalam laci nakas. Jadi tolong jangan membohongiku lagi. Apa yang aku lihat hari ini sudah cukup membuktikan jika aku memang seharusnya pergi dan hubungan kita ini seharusnya tidak terjalin sebelumnya. Maaf karena sudah mengganggu hubunganmu dengan perempuan tadi dan selamat tinggal," ucap Sheilla dengan menghentakkan tangannya hingga membuat cekalan Digo terlepas.
Tapi saat dirinya ingin pergi dari hadapan Digo, laki-laki itu justru menarik tubuh Sheilla sampai membentur dada bidangnya itu sebelum akhirnya dengan terpaksa Digo menggendong Sheilla seperti karung beras yang membuat Sheilla terkejut bukan main.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu," ujar Digo disela-sela ia berjalan memasuki area mansion lagi.
Sedangkan Sheilla, ia menggelengkan kepalanya sebelum dirinya memberontak dalam gendongan Digo itu.
"Tidak. Jangan bawa aku masuk lagi. Aku harus pergi seperti yang aku katakan kepada perempuan itu. Aku tidak ingin membuat masalah dalam keluargamu. Jadi lepaskan aku, turunkan aku sekarang juga!" teriak Sheilla dengan memukul-mukul punggung Digo sekeras yang ia bisa. Namun sayangnya pukulannya itu tak membuat Digo menghentikan langkahnya, laki-laki itu terus membawa dirinya kembali masuk kedalam mansion tersebut.
Dimana saat Digo masuk dengan membawa tubuh Sheilla seperti karung beras, langkahnya ia hentikan saat matanya melihat seseorang pembuatan onar tadi berubah menjadi adiknya yang kini tengah memberikan cengiran kepadanya. Dan hal itu benar-benar membuat Digo menggeram kesal.
"Kiya!" teriak Digo murka yang membuat Sheilla yang berada di gendongannya itu menghentikan pukulan serta protesannya kepada sang kekasih itu.
"Sialan kamu!" erang Digo yang membuat Kiya kini melepas sepatu high heelsnya, siap-siap untuk kabur menghindari amukan dari Digo itu.
"Maaf bang. Maaf Kakak ipar. Kiya hanya memberikan bumbu dalam hubungan kalian berdua hehehe," ucap Kiya.
"Bumbu, your eyes. Sialan! Sini kamu!" Digo menurunkan tubuh Sheilla sebelum dirinya mendekati adik nakalnya itu yang sudah berlari terbirit-birit menuju ke kamarnya. Digo tak tinggal diam, ia ikut berlari mengejar Kiya.
__ADS_1
Sedangkan Sheilla yang melihat hal tersebut pun ia melongo di tempatnya berdiri saat ini.
Dan dirinya baru tersadar dari keterbengongannya itu kala ia merasakan jika bahunya ada yang menepuk.
"Kamu salah paham dengan tuan Digo, Sheilla. Perempuan yang tadi mengaku calon istri tuan Digo, dia sebenarnya adalah adik tuan Digo." Sheilla menolehkan kepalanya kearah bik Nah yang memberitahukan fakta itu kepadanya.
"Jadi---" Bik Nah menganggukkan kepalanya.
"Ya, dia hanya mengerjai kamu saja. Jangan heran dan mulai biasakan diri kamu dengan sifat Nona Kiya. Dia orangnya memang sangat-sangat jahil tapi dia juga sangat berbahaya seperti tuan Digo jika ada yang mengusik dia. Dia hebat dalam bermain senjata dibalik sifat jahilnya itu. Bahkan kehebatannya itu sudah dia dapatkan saat dirinya umur 7 tahun. Jadi maafkan kita semua yang ada di sini karena telat memberitahu kebenaran ini kepadamu tadi karena terus terang saja kita tidak ada yang berani ikut masuk kedalam drama yang nona Kiya buat. Maafkan kita Sheilla," ucap bik Nah yang benar-benar menyesal itu.
Sheilla yang baru mengetahui fakta itu pun ia kini memijit pangkal hidungnya. Sia-sia sudah dirinya menangisi nasib hubungannya dengan Digo itu. Tapi tunggu dulu, nasib hubungannya dengan Digo kan juga belum di ketahui oleh keluarga Digo yang belum tentu memberikan restu akan hubungan keduanya, bukan? Yang berarti hubungan mereka masih diambang berhasil atau tidak.
Sedangkan di lantai tiga mansion tersebut, Digo kini tengah berdiri tegak dengan berkacak pinggang dihadapan Kiya yang tengah cemberut dengan salah satu kaki yang ia angkat dan satu kaki lainnya sebagai tumpuan tubuhnya serta posisi kedua tangannya kini tengah memegang telinganya.
"Katakan apa alasan kamu melakukan drama seperti tadi hmmm?" ucap Digo yang justru membuat Kiya melengos, tidak mau menatapnya lagi ataupun membuka bibirnya.
"Kiya jawab!" perintah Digo.
"Ck, Kiya melakukan hal itu karena Kiya mau menambah bumbu dalam hubungan Abang lah. Biar gak monoton terus yang pastinya akan membuat Kakak ipar bosan nanti," jawab Kiya pada akhirnya.
Digo yang mendengar jawaban dari adik nakalnya itu ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Astaga. Ya Tuhan, salah apa aku sampai mempunyai adik seperti dia," gumam Digo yang masih bisa didengar oleh Kiya yang kini memberikan pelototan kepada Digo yang dibalas pelototan juga oleh laki-laki itu.
__ADS_1
"Apa? mau apa kamu hah? Jangan melotot seperti itu ke Abang kamu sendiri."
"Abang juga jangan melotot seperti itu ke adik Abang sendiri," balas Kiya yang benar-benar menguji kesabaran Digo.
"Huh, Abang tidak mau membuang waktu Abang disini untuk mengurusi kamu. Abang ingatkan ke kamu, Kiya. Jangan pernah mengulangi perbuatanmu tadi. Dan kamu tau---" belum juga Digo menyelesaikan ucapannya, Kiya dengan seenak jidatnya sendiri ia menimpali ucapan Digo tadi.
"Tidak, Kiya tidak tau. Emangnya ada gosip apa sih bang, kasih tau dong. Kayaknya seru nih," ujar Kiya yang membuat Digo memejamkan matanya sesaat sebelum mata itu kembali terbuka dan dengan gemas-gemas ingin nampol Kiya, ia menyentil kening Kiya cukup keras hingga membuat gadis tersebut meringis kesakitan.
"Sakit Abang!" ucap Kiya sembari mengelus keningnya.
"Bodoamat. Abang gak perduli. Suruh siapa memutus ucapan Abang tadi. Gak sopan Kiya," tutur Digo dengan tegas yang membuat Kiya kini menundukkan kepalanya.
"Maaf," ucap Kiya.
"Maaf maaf, terus saja meminta maaf tapi habis itu kamu ulangi lagi. Begitu saja terus sampai bumi berubah nama."
"Wahhhhh bagus dong kalau bisa ganti nama mah. Bosen juga Kiya manggil nih planet satu ini dengan nama bumi." Digo menepuk keningnya, ia benar-benar angkat tangan jika harus menasehati Kiya yang ada saja topik lain yang akan dia bahas.
"Astagfirullah, sabar. Sudahlah, Abang hanya mau memberitahu kamu. Jangan sampai kamu mengulangi perbuatanmu itu lagi karena jika sampai kamu mengulanginya dan berakhir Sheilla pergi dari rumah ini, kamu yang akan Abang habisi. Karena diluar sana banyak orang yang tengah mengincar Sheilla untuk melemahkan Abang. Kamu harus tau itu. Dan jangan lakukan perbuatan jahilmu itu ke orang lain yang akan membuat hubungan mereka kandas karena ulahmu. Dan jika sampai Abang tau kamu mengulanginya lagi, siap-siap kamu akan Abang lempar ke kandang harimau," ujar Digo yang membawa Kiya bergidik ngeri.
Sedangkan Digo, setelah dirinya mengucapakan perkataannya tadi, ia langsung keluar dari kamar adiknya itu, memilih untuk menemui Sheilla dan menjelaskan semuanya daripada lama-lama didalam satu ruangan yang sama dengan Kiya yang akan membuat tensi darahnya naik nanti.
Dan kepergian dari Digo tadi ditatap lekat oleh Kiya dengan gerutuan di bibirnya.
__ADS_1
"Punya Abang jahat banget mau masukin adiknya sendiri ke kandang harimau. Untung sayang huh kalau tidak, Abang yang akan aku masukkan terlebih dahulu ke kandang buaya," gumam Kiya sebelum dirinya memutuskan untuk ikut keluar dari dalam kamarnya. Mencari keberadaan Sheilla untuk meminta maaf kepada calon kakak iparnya itu. Jahil-jahil begini dia masih punya adap meminta maaf kepada korban dari kejahilannya itu.