
Satu minggu telah berlalu dimana tepat hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh dua keluarga besar yang akan mengadakan acara pernikahan dari kedua anak mereka yaitu Digo dan Sheilla.
Acara akad nikah memang di laksanakan di rumah mempelai wanita alias rumah Bian dan Franda.
Sheilla selaku mempelai wanita, ia sudah sangat cantik dan anggun, duduk di depan meja rias dengan tangan yang saling bertautan satu sama lain untuk menyalurkan rasa gugup di hatinya itu.
Tak ada seorangpun yang menemani dirinya di dalam kamar miliknya itu, kedua orangtuanya masih di sibukkan dengan menyambut tamu yang akan menjadi saksi pernikahan dirinya dan Digo, tak hanya mereka berdua yang menyambut kehadiran tamu itu melainkan ada nenek juga. Jadinya hanya dia sendiri yang berada di dalam kamarnya menunggu keluarga mempelai laki-laki juga calon suaminya itu datang.
Tak berbeda dengan Sheilla yang tengah gugup, Digo yang masih berada di rumah keluarga orangtuanya itu pun tak kalah gugupnya dengan Sheilla. Bahkan kalimat kabul yang sedari tadi ia ingat buyar semua didalam otaknya dan hal tersebut membuat dirinya cukup frustasi.
"Saya terima nik---" Digo yang ingin kembali menghafal setiap kalimat kabul harus terputus kala ia mendengar suara teriakan dari satu ibunda tercinta.
"Abang, kamu udah selesai belum sih ganti tuxedonya? Lama banget!" teriak Mama Ciara yang sedari tadi menunggu sang putra di depan pintu kamar anak laki-laki itu.
Dimana teriakan dari Mama Ciara itu membuat Digo berdecak sebal.
"Bentar lagi, Ma!" balas Digo dengan teriakan pula. Padahal dirinya sudah siap dengan pakaian pengantinnya. Namun ia masih belum siap untuk pergi sekarang juga.
__ADS_1
"Ya ampun bang. Kamu hanya pakai tuxedo doang lho. Masak lama banget kayak orang yang lagi pakai kebaya. Ingat bang, acara ijab kabul akan di laksanakan pukul 10 tepat dan sekarang sudah jam 10 kurang 15 menit. Jadi ayo kita berangkat sekarang," ucap Mama Ciara.
Digo yang mendengar ucapan dari sang Mama pun ia kini menatap kearah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Dan betapa terkejutnya dia saat tau jika apa yang dikatakan oleh Mama Ciara itu benar adanya. Dirinya hanya punya waktu 15 menit untuk menghafal setiap kalimat kabul itu yang sangat sulit sekali masuk kedalam otaknya.
"Abang!" teriakan dari Mama Ciara itu membuat Digo menghela nafas dan dengan langkah loyo, ia mendekati pintu kamarnya.
"Ma," panggil Digo kala dirinya sudah membuka pintu kamar tersebut. Dimana hal itu membuat Mama Ciara memincingkan salah satu alisnya saat ia melihat wajah lesu sang putra.
"Kamu mau nikah bukannya senang malah lesu begini tuh wajah," ucap Mama Ciara heran.
"Gimana gak lesu Ma, Al aja gak hafal kata-kata yang akan Al katakan nanti saat waktu ijab kabul. Nanti kalau Al salah berkata, Al gagal dong nikah sama Sheilla. Ck, gimana dong Ma ini, Al benar-benar gak bisa menghafal sekarang," kata Al penuh dengan ketakutan.
"Ck, Ma. Al lagi serius lho ini. Kenapa Mama malah ketawa mana pakai mukul Al segala lagi," ujar Digo.
"Hahahaha lagian kamu lucu sih Al. Masak kamu gak hafal kalimat kabul sih padahal gampang banget lho. Dan kalau kamu salah mengucapakan kalimat nantinya, penghulu akan mengulang lagi sampai 3 kali jika ketiga kalinya salah ya berarti pernikahanmu harus di undur. Tapi kamu tenang saja, bapak penghulu itu baik jadi kalau kamu memang tidak bisa menghafal kalimat kabul, kamu bisa menconteknya dari kertas yang kamu pegang itu. Kamu boleh melafalkan kata kabul dengan membaca dan pernikahanmu akan tetap di anggap sah. Jadi kamu tenang saja. Mama jamin pernikahan kamu tidak akan gagal," ucap Mama Ciara.
"Benarkah?" Dengan mantap Mama Ciara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari anak laki-lakinya tersebut.
__ADS_1
"Jadi kamu tidak perlu risau lagi. Dan lebih baik kita sekarang segara berangkat ke rumah calon mertuamu karena Mama rasa penghulu sudah datang kesana saat ini." Tanpa menunggu persetujuan dari Digo terlebih dahulu, Mama Ciara sudah meraih lengan Digo untuk ia gandeng sebelum ia melangkahkan kakinya pergi dari depan pintu kamar Digo.
Dimana hal tersebut membuat Digo hanya bisa pasrah saja dan mengikuti langkah sang Mama.
Keluarga besar Digo dan para kerabat dari kedua orangtua Digo kini berjalan beriringan menuju ke rumah Sheilla yang letaknya kebetulan hanya disamping rumah kedua orangtua Digo.
Dan sesampainya para rombongan mempelai laki-laki, mereka langsung disambut hangat oleh keluarga Sheilla sebelum Digo di giring menuju ke sebuah meja. Dimana di meja tersebut terdapat dua orang asing yang Digo yakini adalah penghulu dari acara ijab kabul itu dan juga Bian yang turut duduk di kursi ijab kabul tersebut yang semakin membuat jantung Digo berdetak tak karuan. Rasa takut akan acara pernikahannya itu gagal masih menguasai dirinya walaupun sang Mama tadi sudah meyakinkan dirinya. Namun namanya rasa takut, pasti akan selalu ada hingga ketakutan itu sudah bisa terlewatkan.
Dan saat Digo telah duduk berhadapan dengan Bian, seorang penghulu memulai acara akad nikah tersebut.
"Baiklah karena mempelai pria telah sampai disini, saya akan memulai acara ijab kabul pagi ini," ujar penghulu tersebut yang diangguki oleh Bian. Sedangkan Digo, laki-laki itu mati-matian tengah mengontrol detak jantungnya agar ia tak pingsan di tengah acara itu nantinya.
Penghulu tersebut memulai acara ijab kabul tersebut dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan lain sebagainya hingga tibalah dipuncak acara tersebut yang merupakan ijab kabul.
"Silahkan mempelai pria berjabat tangan dengan wali mempelai wanita," perintah penghulu tersebut. Dimana hal itu membuat Bian langsung mengulurkan tangannya kehadapan Digo.
Sedangkan Digo, ia menatap kearah tangan Bian sebelum tangannya yang tengah bergetar hebat dan terasa sangat dingin itu bergerak untuk menjabat tangan Bian. Dimana saat dirinya baru saja meletakkan tangannya di sebelah tangan Bian, calon mertuanya itu dengan cepat langsung menyambar tangan Digo untuk ia genggam erat, sangat erat hingga membuat Digo meringis kesakitan.
__ADS_1
Dan saat dirinya menatap kearah wajah Bian, laki-laki itu tengah menyiratkan sebuah kalimat untuk memberitahu agar Digo tetap tenang dan jangan gugup.
Namun yang namanya Digo, mau dia disemangati oleh satu kelurahan pun ia tetap saja gugup. Bahkan didalam hatinya ia berkata, "Sumpah demi apapun, proses ijab kabul lebih menakutkan daripada menghadapi para musuh diluar sana."