
Vina menatap jari telunjuknya yang sudah diperban itu. Ya, karena ulah dari Monik tadi menyebabkan jari telunjuknya itu patah.
"Sialan. Bukan hanya Sheilla yang ingin aku tendang dari mansion ini melainkan Maid gila itu juga. Mereka berdua harus segera pergi dari sini," ucap Vina sebal. Ia sedari tadi terus menggerutu, mengumpati Monik yang sudah lancang melukai dirinya hingga gerutuan itu terhenti saat ia melihat ponsel yang berada di sampingnya bergetar dimana di layar ponsel itu memperlihatkan sebuah nama yang beberapa jam tadi ia hubungi. Dan tak menunggu lama lagi, Vina langsung meraih ponselnya dan segera membuka serta membaca pesan dari temannya itu.
📨 : Farel
"Barang yang kamu pesan sudah aku kirim. Kemungkin besok barang itu sudah sampai di tempatmu. Setelah barang itu kamu terima, aku sudah angkat tangan alias tidak ikut campur lagi dengan apa yang akan kamu lakukan disana. Dan ingat jangan pernah bawa-bawa namaku jika nanti kamu ketahuan. Ingat itu!"
Isi pesan itu membuat Vina memutar bola matanya malas. Lalu tangan kirinya kini bergerak untuk membalas pesan tersebut. Sesekali Vina berdecak sebal kala ia kesusahan untuk mengetik setiap kata dengan jari-jari ditangan kirinya itu.
📨To : Farel
"Tenang saja. Aku tidak akan bawa-bawa nama kamu. Toh aku yakin rencanaku ini berhasil."
...Send...
Vina menaruh ponselnya setelah dirinya berhasil mengirimkan sebuah pesan balasan untuk Farel, teman yang ia suruh untuk membelikan sesuatu yang akan ia gunakan untuk menarik Digo kedalam pelukannya. Tak hanya itu, ia juga membeli sesuatu untuk membuat Sheilla dan Monik keluar dari mansion itu.
"Sebentar lagi semua orang yang ada di mansion ini tak terkecuali Digo akan berada di bawah kendaliku," gumam Vina dengan senyum miringnya.
__ADS_1
...****************...
Benar apa kata Farel kemarin jika di pagi harinya saat Digo, Henry dan Sheilla pergi ke kantor, ada sebuah nomor dari kantor pos yang menelepon Vina memberitahu jika orang yang mengantar paket tersebut sudah berada di depan mansion Digo.
Vina yang mendapat kabar itu ia dengan hati-hati keluar dari lift saat dirinya telah sampai di lantai utama mansion itu. Dan saat itu suasananya kebetulan sangat sepi karena di jam-jam seperti ini para maid atau bahkan para bodyguard yang menjaga mansion itu tengah sarapan pagi. Dan benar saja saat Vina sempat mengintip situasi di ruang makan khusus untuk para pekerja, mereka semua telah berkumpul di ruangan tersebut. Vina yang melihat hal tersebut pun ia tak ingin membuang kesempatan bagus itu. Hingga dengan berlari kecil agar tak menimbulkan suara, Vina keluar dari mansion tersebut. Tapi sayangnya saat dirinya baru keluar dari mansion itu ada dua bodyguard yang ternyata tengah patroli pagi mengelilingi mansion tersebut dan hal itu membuat Vina langsung bersembunyi di balik pilar besar di teras mansion itu.
"Sialan, kenapa aku bisa lupa kalau setiap pagi pasti ada yang berpatroli? Arkhhhh, tidak, aku tidak boleh menyerah begitu saja dan aku tidak boleh ketahuan sama mereka. Tapi aku harus berbuat apa agar mereka tidak curiga ataupun mencegahku untuk keluar dari mansion ini?" gumam Vina. Ia memutar otaknya, mencari ide yang tak membuat para bodyguard yang tengah berpatroli itu mencurigai dirinya yang akan keluar untuk mengambil paket dari Farel.
"Ah aku tau," ucapnya saat otaknya itu menemukan satu ide yang menurutnya sangat pas ia lakukan untuk membantu dirinya selamat dari para bodyguard itu.
Vina kini kembali masuk kedalam mansion, masih dengan mata yang selalu mengawasi sekitarnya, ia berjalan menuju kearah dapur. Ia menghela nafas lega saat ia tak menemukan satu orang pun di dapur tersebut.
"Bau banget, astaga," keluh Vina dengan tangan yang kini sudah membawa kantong plastik sampah tersebut.
"Huh, tahan-tahan. Harus ada perjuangan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Semangat Vina," gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
Vina keluar dari dapur tersebut dan suasana di luar masih aman tak ada kendala sedikitpun. Ia berdehem, menetralkan degup jantungnya sebelum dirinya membuka pintu utama mansion tersebut.
"Tenang Vina tenang. Yakinlah semuanya akan berhasil," ucapnya saat dirinya sudah keluar dari dalam mansion itu. Lalu setelahnya ia menatap ke kanan kiri, aman, sudah tidak ada lagi bodyguard yang ia lihat tadi. Dan hal tersebut membuat Vina langsung berlari menuju ke gerbang. Dan saat tangannya bergerak untuk membuka gerbang tersebut, tiba-tiba...
__ADS_1
"Heyyy kamu! Berhenti di situ!" teriak seseorang di belakang Vina yang membuat tubuh Vina tampak membeku di tempat. Hingga tepukan di bahunya membuat Vina tersadar lalu setelahnya ia memutar tubuhnya menghadap kearah dua bodyguard di depannya itu.
"Mau kemana kamu?!" tanya bodyguard tersebut dengan tegas.
"Ehemmm, ini aku mau buang sampah keluar," jawab Vina yang sebisa mungkin menyembunyikan kegugupannya. Jangan lupakan tangannya yang sedari tadi membawa kantong plastik sampah tadi ia angkat agar dua bodyguard itu melihat kantong itu.
Dua bodyguard tersebut menatap kantong plastik tersebut sebelum keduanya saling pandang satu sama lain.
"Kenapa harus kamu yang membuangnya? Kenapa tidak salah satu maid di mansion ini? Kenapa harus kamu yang membuangnya, kamu kan tamu di mansion ini?" tanya salah satu bodyguard itu penuh selidik.
"Para maid di mansion ini kan tengah sarapan. Tidak mungkin bukan mereka akan membuang sampai di tengah-tengah sarapan mereka. Toh aku sendiri yang mau melakukannya melihat jika sampah ini sangat bau yang bisa menggangu napsu makan mereka nanti. Kasihan kan makan-makan harus menghirup bau yang tak sedap dari sampah ini. Jadi karena aku tidak mau membuat mereka kehilangan napsu makannya, maka aku berinisiatif untuk membantu sedikit pekerjaan para maid di sini. Apa yang aku lakukan ini tidak salah kan?" ucap Vina dengan menampilkan wajah sok polosnya.
"Memang benar apa yang kamu lakukan ini tidak salah karena apa yang kamu lakukan ini juga bentuk sadar diri karena kamu hanya numpang di mansion ini. Jadi tidak masalah jika kamu membantu pekerjaan para maid kalau bisa setiap hari kamu membantu pekerjaan mereka bukan hanya membuang sampah saja melainkan membersihkan mansion ini," ucap salah satu bodyguard tersebut yang membuat Vina hampir saja mengeluarkan umpatannya. Namun untungnya ia masih bisa menahannya.
"Nah maka dari itu karena aku sadar diri jika aku hanya menumpang di mansion ini, mulai dari hari ini aku akan membantu pekerjaan para maid disini. Mulai dari membuang sampah dan setelah ini aku juga akan membantu para maid untuk membersihkan mansion. Jadi daripada kalian membuang waktuku lagi, lebih baik kalian membantuku untuk membuka gerbang ini," ujar Vina yang membuat kedua bodyguard tadi saling pandang satu sama lain sebelum keduanya saling mengangguk. Lalu setelahnya mereka berdua bergerak untuk membukakan pintu gerbang tersebut.
"Kita akan menunggumu disini," ucap salah satu bodyguard yang berbadan tinggi itu yang diangguki oleh Vina. Lalu setelahnya Vina keluar dari area mansion Digo tersebut dengan senyum yang mengembang.
"Dasar bodyguard bodoh. Gampang sekali di bohongi," batin Vina dengan senyum penuh kelicikan.
__ADS_1