The Dark Love

The Dark Love
146. Rumah Baru


__ADS_3

Dimana saat keduanya telah keluar, Sheilla langsung memeluk erat tubuh Digo, melupakan kesedihan yang menderanya setelah mendengar berita tentang neneknya itu.


"Shinta benar-benar jahat. Shinta biadab. Hiks. Kenapa dia tega menyiksa nenek. Sumpah demi apapun entah dia adik kandungku atau bukan, aku tidak akan pernah memaafkan kesalahan dia. Aku tidak akan pernah membiarkan dia untuk menemui nenek lagi. Aku akan menjauhkan dia dari nenek apapun yang terjadi nantinya. Karena aku tidak mau melihat nenek merasakan sakit sepeti ini lagi," ucap Sheilla.


"Dear," panggil Sheilla dengan menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah Digo.


"Kenapa hmmm? Kamu mau memberikan hukuman ke Shinta? Kamu tenang saja sayang karena aku akan membantumu untuk memberikan hukuman ke dia seperti yang kamus inginkan. Jadi kamu mau hukuman seperti apa yang ingin kamu berikan ke dia?" tanya Digo sembari mengusap air mata Sheilla itu.


"Apapun yang akan kamu lakukan aku mensetujuinya. Asal jangan sampai membuat dia terluka," ujar Sheilla. Semarah-marahnya dia dengan adiknya itu, ia masih memiliki rasa iba dan tidak tega melihat adiknya harus terluka mengingat Digo merupakan orang yang sangat kejam.


"Baiklah. Untuk hukuman yang akan kita berikan ke Shinta, kita diskusikan nanti lagi saja. Dan lebih baik kita sekarang pergi menghampiri nenek. Aku yakin nenek sekarang tengah menunggu kita. Dan hentikan tangisanmu ini karena nenek pasti tidak akan suka melihatmu menangis seperti ini," ucap Digo yang dibalas anggukan kepala oleh Sheilla dengan tangan yang kini bergerak untuk menghapus air matanya itu.


Dan apa yang dilakukan oleh Sheilla itu membuat Digo tersenyum sebelum ia memberikan kecupan di puncak kepala kekasihnya.


"Aku sudah tidak menangis lagi. Jadi ayo kita sekarang menemui nenek. Aku tidak mau nenek menunggu kita terlalu lama," tutur Sheilla yang diangguki oleh Digo. Lalu kemudian mereka berdua berjalan menuju ke ruangan tempat nenek di periksa tadi.


Dimana sesampainya mereka disana, ternyata sang nenek sudah duduk di depan ruangan tersebut dengan salah satu suster yang menjaganya.


"Lho nenek. Nenek kenapa keluar?" tanya Sheilla khawatir.


"Nenek tidak betah didalam ruangan itu yang sangat bau obat-obatan. Dan kalian berdua darimana?" tanya nenek Sheilla.


"Kita berdua dari bertemu dokter yang menangani nenek tadi," jawab Sheilla sembari berjongkok didepan sang nenek. Dimana hal itu membuat suster yang duduk disebelah nenek tadi langsung berdiri dan memilih untuk berpamitan kepada Digo untuk undur diri.


"Begitu ya." Sheilla menganggukkan kepalanya.


"Terus apa kata dokter tadi?" tanya wanita tua itu penasaran. Ia sudah mewanti-wanti dokter yang menanganinya tadi untuk tidak mengatakan kondisi dirinya yang sebenarnya.


"Kata dokter, nenek baik-baik saja. Tapi walaupun begitu, nenek harus istirahat yang cukup mulai sekarang. Jadi karena nenek baik-baik saja saat ini juga nenek di perbolehkan untuk pulang," ujar Sheilla dengan mengecup sekilas punggung tangan neneknya itu sebelum dirinya kembali berdiri, diikuti oleh sang nenek yang juga ikut berdiri.


Dan saat mereka bertiga mulai melangkahkan kakinya, Digo sempat berbisik tepat di samping telinga Sheilla.


"Sayang. Aku ke tempat administrasi dulu. Kamu bisa kan bawa nenek ke mobil?"

__ADS_1


Sheilla yang mendengar bisikan dari kekasihnya itupun ia menolehkan kepalanya kearah Digo lalu ia menganggukkan kepalanya.


Dimana anggukan kepala Sheilla tadi membuat Digo tersenyum. Lalu setelahnya barulah Digo berpisah dari dua perempuan tersebut.


...****************...


Mobil yang di tumpangi ketiga orang tadi melaju bukan kearah rumah nenek Sheilla melainkan ke arah lain yang membuat Sheilla maupun nenek kini mengerutkan keningnya.


"Sebentar, ini kita sudah melewati gang rumah nenek," ucap Sheilla yang membuat Digo yang duduk di kursi depan samping kemudi menolehkan kepala kearah dua perempuan di kursi penumpang itu.


"Mulai hari ini nenek tidak akan tinggal di rumah itu lagi," ujar Digo sembari mengalihkan pandangannya ke arah depan kembali.


"Maksud kamu?" tanya Sheilla bingung. Bukan hanya Sheilla saja yang bingung melainkan nenek pun juga ikut bingung.


"Nenek akan pindah ke rumah baru. Dan kita akan sampai di rumah itu sebentar lagi," ucap Digo.


Dan benar saja beberapa saat setelah ia mengucapkan hal tersebut, mobil yang di kendarai oleh anak buah Digo pun berhenti disalah satu rumah dengan satu lantai namun terlihat sangat asri dan sangat luas dilihat dari pelataran juga lahan di depan rumah itu.


"Nah ini rumah yang akan di tinggali nenek dari mulai sekarang. Nenek tenang saja untuk semua barang-barang berharga yang berada di rumah lama nenek, sudah di pindahkan kesini semua tadi oleh beberapa orang kenalan Digo," ucap Digo saat mereka telah keluar dari dalam mobil tersebut.


Dan di rumah nenek yang sekarang, Digo memilih lokasi yang tidak jauh dari rumah keluarganya yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 10 menit saja sudah akan sampai di rumah baru nenek Sheilla itu.


"Dan sekarang kita masuk dulu buat lihat-lihat," ajak Digo dengan menggandeng tangan nenek Sheilla dan membawa wanita tua yang masih speechless itu masuk kedalam. Tak hanya sang nenek saja yang masih tak menyangka dengan apa yang di lakukan oleh Digo, Sheilla pun juga merasa hal yang sama dengan yang dirasakan oleh neneknya itu.


Dan saat ketiga orang tadi sudah sampai didepan pintu, pintu itu dari dalam di buka oleh seorang wanita paruh baya dengan senyumannya.


"Selamat datang tuan, nyonya dan nenek," ucap wanita paruh baya tersebut yang diangguki oleh Digo. Sebelum laki-laki itu berucap.


"Nek, ini bik Suri. Beliau yang akan mengurus rumah ini dan akan menjadi teman nenek di rumah ini nanti. Tapi nenek tenang saja masih ada 5 orang lagi yang akan menemani nenek disini. Nanti akan ada satu sopir yang akan mengantar nenek kemana saja, satu tukang kebun, dua satpam dan satu lagi art yang akan membantu bik Suri mengurus rumah ini. Jadi kalau Sheilla nanti bekerja dengan Digo, nenek tidak akan sendirian lagi disini. Dan nenek tidak perlu khawatir akan diganggu dengan Shinta juga laki-laki yang membawa dia kabur itu. Karena Digo akan menjamin keselamatan nenek dan kedamaian nenek disini. Nanti Digo juga akan menyuruh beberapa kenalan Digo untuk menjaga di rumah ini agar mereka berdua tidak bisa masuk kedalam rumah ini dan melukai nenek lagi," ucap Digo yang membuat mata nenek Sheilla berkaca-kaca.


"Hiks calon cucu menantu. Kenapa kamu baik sekali nak. Nenek tidak pernah bertemu denganmu tapi seakan-akan nenek pernah menolong dan menyelematkan nyawamu sampai kamu mau melakukan ini semua. Entah kebaikan apa yang telah nenek perbuat selama ini sampai nenek bisa di pertemukan denganmu. Terimakasih nak, terimakasih. Dan maafkan nenek yang tidak bisa membalas semua jasamu ini," ucap nenek Sheilla dengan air mata yang menetes. Dimana saat itu juga Digo langsung memeluk tubuh wanita tua itu.


"Digo tidak membutuhkan balasan dari nenek karena Digo benar-benar ikhlas melakukan semua ini. Nenek adalah nenek Sheilla, calon istri Digo yang mana nenek mulai sekarang adalah nenek Digo juga. Nenek sudah menjadi tanggungjawab Digo. Jadi Digo harap nenek menerima semua pemberian Digo ini tanpa ada satupun yang nenek tolak. Karena jika nenek menolaknya maka Digo akan membawanya Sheilla kabur dari nenek," ujar Digo yang memberikan ancaman lagi sembari melepaskan pelukannya dari wanita tua itu.

__ADS_1


Nenek Sheilla yang lagi-lagi mendapat ancaman pun ia berdecak.


"Dikit-dikit main ancam ya calon suami kamu ini Sheilla. Bikin nenek jadi takut sendiri jadinya," tutur nenek yang ia tujukan kepada cucunya itu yang kini tengah tersenyum kepadanya.


"Digo tidak akan mengancam jika nenek menuruti apa yang telah dia katakan," ujar Sheilla dengan mengelus lengan neneknya itu.


"Nahhh apa yang dikatakan oleh Sheilla itu benar nek. Ahhhh Digo mau tanya sama nenek."


"Tanya apa? Jika nenek bisa menjawabnya, nenek akan jawab tapi kalau tidak, nanti nenek akan lempar jawabannya ke Sheilla," ucap wanita tua itu yang membuat Digo terkekeh sedangkan Sheilla menggelengkan kepalanya.


"Tenang nek pertanyaan Digo ini sangat gampang sekali untuk nenek jawab. Karena Digo hanya ingin bertanya, apa nenek suka dengan rumah ini?" tanya Digo yang membuat wanita tua itu menganggukkan kepalanya sebelum ia mengedarkan pandangannya dengan senyum bahagia yang terukir jelas di bibirnya itu.


"Tentu saja. Rumah ini sangat besar dan luas juga banyak tanaman di depan dan sepertinya di belakang rumah ini juga banyak tanamannya yang membuat rumah ini sangat asri. Nenek sangat-sangat menyukainya Digo. Terimakasih," ucap nenek dengan menatap kearah calon cucu menantunya itu.


Dan ucapan dari nenek tersebut dibalas anggukan serta senyuman oleh Digo.


"Syukurlah kalau nenek menyukai rumah ini. Ya sudah kalau gitu, benek istirahat dulu ya. Jangan banyak gerak biar luka di tubuh nenek tidak terbuka kembali," tutur Digo.


"Baiklah. Sekali lagi terimakasih nak, semoga Allah yang membalas semua yang kamu lakukan ini."


"Aamiin," jawab Digo.


"Kalau begitu izinkan saya saja yang mengantar nenek ke kamarnya tuan dan nyonya," timpal bik Suri yang otomatis membuat Digo dan Sheilla menolehkan kepalanya kearah wanita tua di tengah-tengah keduanya.


"Tak apa, biar nenek di antar sama nak Suri saja. Kalian pasti juga tengah capek sekarang karena baru sampai di negara ini tadi pagi dan langsung mengantar nenek ke rumah sakit tanpa berisitirahat terlebih dahulu. Jadi kalian berdua istirahatlah selagi nenek juga tengah beristirahat. Tapi kalian istirahat di rumah ini saja karena nenek masih sangat ingin mengobrol banyak sama kalian berdua," pinta nenek Sheilla yang diangguki oleh keduanya.


"Nenek tenang saja. Selama kita ada di negara ini, kita memutuskan untuk tinggal di rumah baru nenek," ujar Digo.


"Benarkah?" Digo dan Sheilla menganggukkan kepalanya yang semakin membuat nenek Sheilla kegirangan.


"Kalau begitu nenek tidak akan khawatir kalian akan meninggalkan nenek sebelum nenek puas bertemu dengan kalian. Dan nenek sekarang pergi istirahat dulu. Ayo nak Suri," ajak wanita tua tersebut yang membuat bik Suri langsung bergerak cepat memegang lengannya untuk membantu nenek Sheilla menuju ke kamarnya, meninggalkan Sheilla dan Digo yang menatapnya dengan senyum di bibir mereka.


Sebelum Sheilla kini mengalihkan pandangannya kearah sang kekasih. Dan tanpa aba-aba ia langsung memeluk tubuh Digo dengan sangat erat yang membuat Digo tadi tampak terkejut sesaat sebelum ia tersenyum lalu membalas pelukan dari kekasihnya itu.

__ADS_1


"Terimakasih. Terimakasih banyak, Dear," ucap Sheilla.


"Sama-sama sayang. Aku sangat bahagia karena telah berhasil membuat nenek tersenyum lebar seperti tadi. Dan mulai sekarang bukan hanya kamu saja yang menjadi tanggungjawabku tapi nenek juga. Kalian dua perempuan yang akan selalu aku pastikan keselamatan dan kenyamanan kalian selain kelurgaku sendiri tentunya," ujar Digo dengan menyematkan ciuman di kening Sheilla cukup lama hingga membuat Sheilla terbuai dengan ciuman dari Digo itu sampai membuat Sheilla kini menutup matanya.


__ADS_2