The Dark Love

The Dark Love
63. Jangan Berniat Menghilang


__ADS_3

Paginya, Digo terbangun terlebih dahulu daripada Sheilla. Ia tersenyum kala bangun tidur ia masih bisa melihat wajah damai Sheilla. Dan dengan cepat ia mengecup kening Sheilla sebelum dirinya mulai beranjak dari ranjang menuju ke kamar mandi untuk siap-siap pergi ke kantor.


Dan hanya butuh waktu beberapa menit saja, Digo telah selesai melakukan ritual mandinya dan kini ia keluar hanya menggunakan handuk kimono seperti biasa dengan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Dan saat dirinya menolehkan kepala kearah ranjang, ia bisa melihat tubuh Sheilla yang tengah menggeliat sebelum perempuan itu membuka mata lentiknya itu dengan susah payah.


Digo yang melihat hal tersebut dengan cepat ia mendekati Sheilla yang kini tengah mendudukkan tubuhnya dengan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


Mata yang tadinya masih enggan untuk terbuka, kini mata lentik itu berhasil terbuka lebar saat ia merasakan ada benda kenyal yang menempel di bibirnya.


"Good morning," sapa Digo tepat berada di depan wajah Sheilla.


Sheilla mengerjab-ngerjabkan matanya.


"Tuan tadi mencium bibir saya?" tanya Sheilla yang sepertinya kesadarannya belum kembali sepenuhnya.


Digo terkekeh sembari mengelus rambut Sheilla, sebelum dirinya melangkahkan kakinya menuju ke walk in closed tanpa menjawab pertanyaan Sheilla itu.


"Tuan, tuan belum menjawab pertanyaan saya!" teriak Sheilla yang membuat Digo menghentikan langkahnya.


"Iya Sheilla, saya tadi mencium kamu sebagai sapaan di pagi hari," ujar Digo lalu setelahnya laki-laki itu hilang dari balik pintu ruang walk in closed meninggalkan Sheilla yang tengah melongo.


"Lah aku kira tadi mimpi," gumam Sheilla. Lalu setelah kesadarannya benar-benar kembali sepenuhnya ia menepuk keningnya sendiri.


"Bodoh, Sheilla bodoh. Ishhh malu kenapa tadi pakai tanya seperti itu sihhh. Ahhhh Mama, Sheilla mau menghilang saja dari sini," ucap Sheilla yang kelewat malu sendiri dengan apa yang dia lakukan tadi. Bahkan saking malunya dia, kedua tangannya kini ia gunakan untuk menutup wajahnya yang sepertinya sudah memerah itu.


"Saya tidak akan membiarkan kamu hilang ataupun pergi dari sini, Sheilla." Ucapan dari Digo membuat Sheilla menjauhkan tangannya tadi dan menolehkan kepalanya kearah Digo yang sudah berdiri disampingnya dengan pakaian formalnya. Entah sejak kapan laki-laki itu berdiri disitu, Sheilla benar-benar tak sadar akan keberadaannya.


"Tu---tuan sejak kapan disini?" tanya Sheilla gugup.


"Sejak kamu bilang kalau mau menghilang dari sini. Apa kamu punya niatan untuk pergi dari sini Sheilla?" tanya Digo dengan wajah seriusnya yang membuat Sheilla seakan kelu untuk menjawab pertanyaan Digo tadi.

__ADS_1


"Tapi sayangnya saya tidak akan pernah membiarkan kamu keluar dari rumah ini sejengkal saja. Jadi jangan berharap kamu bisa pergi lagi dari sini dan cukup waktu itu saja kamu mencoba untuk kabur. Kamu mengerti Sheilla?" Sheilla menganggukkan kepalanya.


Dan hal tersebut membuat senyum Digo kembali terukir bahkan raut wajah laki-laki itu sudah kembali seperti yang Sheilla lihat sebelumnya dan hal itu membuat Sheilla menghela nafas lega. Ia tak bisa melihat Digo murka seperti kemarin.


"Pakaiin," ucap Digo sembari menyerahkan dasinya kearah Sheilla.


Sheilla yang tak bisa menolak pun ia segera menerima dasi tersebut dari tangan Digo lalu setelahnya ia segara berdiri diatas ranjang agar ia tak berjinjit saat memakaikan dasi itu kepada Digo.


Saat Sheilla tengah disibukkan dengan dasinya, laki-laki itu justru terus fokus melihat wajah cantik Sheilla dengan kedua tangan yang berada di pinggang Sheilla.


"Sudah selesai," ucap Sheilla sembari membenarkan sedikit tatanan dasi yang ia buat tadi.


Digo melirik sekilas kearah dasinya kemudian ia menganggukkan kepalanya.


"Sudah kan tuan? Tidak ada yang saya kerjakan lagi? Kalau sudah hmmmm tangan tuan bisa menjauh dari pinggang saya?" tanya Sheilla takut-takut. Dan pertanyaan tadi langsung mendapat gelengan kepala dari Digo sebelum laki-laki itu memeluk erat tubuh Sheilla, menyenderkan kepalanya di dada empuk Sheilla. Dan hal tersebut membuat Sheilla terkejut. Walaupun sudah sangat sering Digo memeluk dirinya secara tiba-tiba seperti saat ini, tapi Sheilla tidak bohong jika dirinya terus terkejut apalagi jika Digo tengah melakukan hal tersebut jantungnya terus lari maraton.


"Iy---iya tuan."


"Jangan pernah berniat meninggalkan saya," ucap Digo dengan suara lirihnya namun masih bisa didengar oleh Sheilla.


"Jika sampai kamu berniat meninggalkan saya. Saya akan mencari kamu dimanapun dan saat saya menemukan kamu, saat itu juga kamu akan saya kurung di penjara bawah tanah dengan rantai yang akan saya ikatkan ke kaki kamu. Ini bukan hanya sekedar ancaman saja tapi ini akan terjadi jika kamu melakukan hal yang saya sebutkan tadi. Kamu paham, Sheilla?" ucap Digo yang membuat Sheilla bergidik ngeri jika ia harus mendapatkan hukuman yang diucapkan Digo itu.


"Ba---baik tuan. Saya tidak akan meninggalkan tuan," ujar Sheilla pasrah.


"Good girl," ucap Digo sembari menepuk puncak kepala Sheilla saat pelukannya ia lepaskan.


"Kamu cuci muka sana. Saya tunggu," ujar Digo sembari mengangkat tubuh Sheilla untuk turun dari ranjangnya.


"Ehhh jika saya hanya cuci muka saja. Saya akan bau badan saat kerja nanti tuan. Jadi beri saya waktu 15 menit untuk saya mandi," ucap Sheilla.

__ADS_1


"Kamu bisa mandi nanti setelah kamu mengantar saya pergi bekerja," kata Digo.


"Tapi jika saya mandi nanti, bagaimana saya bisa mengambil pakaian saya yang ada di dalam kamar ini tuan? Sedangkan kamar ini hanya bisa diakses oleh tuan dan tuan Henry saja." Digo tampak berdecak sebal sembari tangannya bergerak untuk menyentil bibir Sheilla yang membuat Sheilla langsung menutup bibirnya dengan telapak tangannya. Jangan lupa dengan gerutuan yang perempuan itu layangkan ke Digo walaupun gerutuan itu hanya didalam hatinya saja.


"Kamu ini cerewet sekali Sheilla. Astaga. Kamar ini selain memakai sidik jari, bisa diakses dengan kunci manual. Dan nanti akan saya berikan kamu kunci itu setelah kamu cuci muka," ujar Digo.


Sheilla tampak membeo sebelum dirinya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah kalau begitu saya cuci muka dulu cuma sebentar jadi saya jangan di kunci didalam sini oke," ucap Sheilla lalu setelahnya ia bergegas masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Digo yang tengah menggelengkan kepalanya.


Dan tak harus menunggu waktu lama, Sheilla telah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh dari sebelumnya.


"Saya sudah selesai tuan," ucap Sheilla dengan senyumannya.


Digo mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya kearah Sheilla lalu setelahnya ia menganggukkan kepalanya.


"Bawa tas saya," perintah Digo sembari melirik tas kerjanya yang tergeletak di sofa disampingnya. Sheilla mengangguk patuh kemudian ia mengambil tas tersebut.


"Dan ini kunci kamar ini. Jaga baik-baik jangan sampai hilang. Jika sampai hilang program baby akan segara terlaksana," ujar Digo yang membuat Sheilla mencebikkan bibirnya namun tak urung ia menganggukkan kepalanya sembari tangannya menerima kunci kamar pribadi milik Digo tersebut.


Lalu setelahnya mereka berdua beriringan keluar dari kamar itu.


Dan tanpa mereka ketahui jika ada seseorang yang mengawasi mereka berdua dibalik pintu kamar sebelah. Dan orang tersebut tak lain dan tak bukan adalah Vina yang sekarang tengah mengepalkan tangannya begitu erat.


"Sialan sialan sialan! Kenapa Sheilla yang mendapatkan perhatian dari Digo? Padahal disini aku yang dia sakiti kemarin. Dan harusnya akulah yang ia perlakuan lembut seperti itu bukan Sheilla, si wanita penyebab dia terluka. Sialan! Benar-benar sialan. Awas saja kamu, Sheilla. Cepat atau lambat aku akan menyingkirkanmu dari samping Digo," gumam Vina yang tengah merasakan kobaran api cemburu saat matanya tak sengaja melihat Digo mengelus kepala Sheilla dengan senyuman laki-laki itu yang selama ia bertemu dengannya tak pernah ia lihat. Dan hatinya semakin panas saat melihat tangan Digo meraih pinggang Sheilla. Dan sialnya itu benar-benar sangat romantis hingga mereka berdua terlihat seperti sepasang suami istri, sangat cocok dimata siapapun kecuali dimata Vina. Karena menurut perempuan itu yang cocok bersanding dengan Digo adalah dirinya bukan Sheilla ataupun perempuan lain diluar sana.


...****************...


Wow baru jam setengah 11 siang likenya sudah tembus 57. Kalian the best pokonya. Yokkk ahhh eps ini tembusin like-nya sampai 55 like sebelum jam 6 sore. Jangan lupa VOTE, HADIAH dan KOMEN ya. See you next eps bye 👋

__ADS_1


__ADS_2