The Dark Love

The Dark Love
144. Merasa Bersalah


__ADS_3

Digo yang juga melihat luka itu pun ia tak kalah terkejutnya seperti Sheilla tadi. Jika benar luka itu disebabkan karena ulah Shinta maka ia sudah kecolongan untuk menjaga nenek kekasihnya itu untuk terus dalam keadaan baik-baik saja. Dan niatnya yang tadi sempat ia urungkan untuk memberikan pelajaran kepada Shinta yang kemarin sempat membuat Sheilla menangis, niatnya itu dengan bulat akan dia lakukan juga. Dia benar-benar akan memberikan pelajaran kepada adik kekasihnya tersebut karena ulah dia sudah benar-benar tidak bisa ia biarkan begitu saja.


"Nenek jawab pertanyaan dari Sheilla tadi, nek! Ini semua ulah Shinta kan? Ayo nek jawab, hiks." Sheilla benar-benar terpukul melihat kondisi neneknya itu.


Dan ucapan dari Sheilla tadi membuat sang nenek menghela nafas sebelum dirinya menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan dari Sheilla tadi.


"Ya Tuhan. Nenek, hiks maafin Sheilla nek, maafin Sheilla." Sheilla merubah posisi duduknya yang tadi berada disamping sang nenek kini berpindah menjadi duduk di bawah dimana ia langsung mencium kaki neneknya itu. Ia benar-benar merasa bersalah karena telah meninggalkan neneknya dengan sang adik hingga terjadi kekerasan yang dilakukan oleh Shinta kepada nenek itu. Jika saja ia tau semuanya akan seperti ini, ia tak akan pernah meninggalkan neneknya itu. Dan dia sekarang tidak tau harus meminta maaf dengan cara seperti apa lagi agar menebus kesalahannya itu.


Dan aksi dari Sheilla tadi membuat sang nenek tampak terkejut begitu juga dengan Digo.


"Sheilla, apa yang kamu lakukan, nak. Berdiri sekarang," ucap wanita tua tersebut dengan berusaha untuk membangkitkan tubuh Sheilla yang tengah mencium kakinya itu.


"Nek, maafin Sheilla nek. Maafin Sheilla," ucap Sheilla masih dalam posisi yang sama.


Dan hal tersebut justru membuat neneknya itu kini meneteskan air matanya dengan sangat deras.


"Tidak nak, tidak. Kamu tidak bersalah jadi tidak sepantasnya kamu meminta maaf dengan nenek apalagi dengan cara seperti ini. Berdiri sekarang Sheilla atau nenek tidak akan mau bertemu denganmu lagi jika kamu masih seperti ini," ancam wanita tua tersebut yang berhasil membuat Sheilla kini menegakkan tubuhnya kembali.

__ADS_1


"Nek, maafin Sheilla." Sheilla terus mengucapakan kata maaf itu berulang-ulang hingga membuat wanita tua tersebut kini memeluk tubuh cucunya itu dengan sangat erat.


"Nenek memaafkanmu, Sheilla. Jadi nenek mohon hentikan ucapanmu itu yang terus meminta maaf kepada nenek karena nenek sekarang sudah memaafkanmu," ujar wanita tua tersebut pada akhirnya karena jika dia tidak memberikan maaf, pasti Sheilla akan terus mengucapakan kata yang sama dengan sebelumnya.


"Ini semua bukan salah kamu, Sheilla tapi salah Shinta," sambung wanita tua itu dengan mengelus kepala Sheilla dengan sayang.


"Jadi tenangkan diri kamu ya. Jangan seperti ini. Nenek juga sudah tidak kenapa-napa lagi kok. Luka nenek juga sudah mengering semua," ujar wanita tua tersebut yang membuat Sheilla menggelengkan kepalanya.


"Luka nenek ini belum mengering. Jadi lebih baik kita sekarang ke rumah sakit. Dear, bisakah kamu menolongku untuk membawa nenek ke rumah sakit?" tanya Sheilla dengan menolehkan kepalanya kearah Digo yang sedari tadi hanya diam saja.


"Tentu saja sayang," ujar Digo sembari berdiri dari duduknya.


"Nek, kenapa nenek masih duduk disini. Ayo kita periksa luka di tubuh nenek," ajak Sheilla.


"Benar nek, luka nenek itu harus segara di obati jika tidak nanti akan infeksi," ucap Digo yang berusaha untuk membujuk nenek Sheilla itu.


Tapi ucapan dari dua orang tersebut direspon dengan gelengan kepala oleh wanita tua tersebut.

__ADS_1


"Tidak usah repot-repot kalian membawa nenek ke rumah sakit karena terus terang saja luka nenek ini sudah baik-baik saja. Kalau pun memang belum mengering sepenuhnya, besok juga akan mengering dengan sendirinya," tutur wanita tua tersebut, menolak secara halus ajakan dari Sheilla dan Digo itu.


"Tidak ada yang di repotkan disini, nek. Jadi ayo sekarang kita kerumah sakit. Kalau nenek khawatir tentang biayanya, ada saya yang akan menanggungnya. Dan jika nenek masih saja menolak untuk kita bawa kerumah sakit, jangan salahkan Digo yang membawa Sheilla pergi menjauh dari nenek dan tidak akan Digo izinkan nenek untuk bertemu dengan Sheilla lagi," ujar Digo yang terpaksa memberikan ancaman kepada wanita tua tersebut.


Dan ucapannya itu membuat nenek Sheilla tampak memelototkan matanya.


"Heyyy calon cucu menantu. Jangan seperti itu sama nenek. Jangan ikut-ikutan seperti laki-laki tua yang membawa Shinta. Cukup dia saja yang jahat ke nenek. Kamu jangan ya cucu menantu karena Sheilla ini benar-benar harta yang paling berharga yang nenek punya saat ini. Nenek tidak punya siapa-siapa selain dia. Jadi awas saja kalau kamu berani pisahin nenek dengan Sheilla. Nenek cubit kamu," ujar wanita tua itu yang justru membuat Sheilla kini tersenyum melihatnya.


"Kalau nenek tidak mau pisah dengan Sheilla, makanya nurut sama Digo karena Digo tidak suka jika keinginan Digo ini di tolak oleh nenek," ucap Digo.


"Nek, Sheilla sarankan untuk kita ke rumah sakit sekarang juga, menuruti apa yang dia mau karena dia orangnya tidak pernah bermain-main dengan ucapannya itu. Tapi kalau nenek mau kita berpisah ya sudah, nenek tidak ke rumah sakit dengan kita pun juga tidak apa-apa," bisik Sheilla yang membuat sang nenek kini menghela nafas panjang.


"Baiklah-baiklah. Nenek nurut sama kalian berdua. Tapi untuk kamu nak Digo, awas saja jika kamu masih saja berniat menjauhkan Sheilla dari nenek."


"Berhubung nenek sudah mau mendengar apa yang kita berdua inginkan, maka nenek tenang saja. Digo tidak akan menjauhkan nenek dari Sheilla tapi mungkin kalau berbeda rumah tak apa ya?" ujar Digo dengan berjalan mendekati dua perempuan tersebut.


"Maksud kamu?" tanya nenek tak paham dengan menatap wajah Digo yang sekarang tengah berdiri disampingnya.

__ADS_1


"Kan Digo dan Sheilla nanti akan menikah, memulai rumah tangga kita sendiri yang otomatis Sheilla tidak akan tinggal di rumah nenek lagi tapi di rumah Digo. Tapi nenek tenang saja, Digo akan usahakan rumah kita berdua dan rumah nenek hanya bersebelahan saja. Jadi nenek tidak perlu khawatir merindukan Sheilla dan cucu menantumu ini nanti." Setelah mengucapkan hal tersebut, Digo langsung membopong tubuh rapuh tersebut yang sempat ia lihat jika kakinya sebenarnya juga tengah terluka tadi.


Dan aksi dari Digo itu membuat wanita tua tersebut memekik tertahan. Sedangkan Sheilla, ia kini menghela nafas lega karena Digo berhasil membujuk neneknya itu ke rumah sakit.


__ADS_2