
Wajah Sheilla terlihat tertekuk dengan bibir mengerucutkan beberapa senti kedepan setelah perdebatan panjang dengan Digo tadi, lebih tepatnya dirinya yang dominan berbicara karena Digo hanya membiarkan saja dirinya mengomel tanpa henti. Ia benar-benar marah dengan hukuman yang menurutnya sangat tak masuk akal itu. Dan dari tadi ia masih menggerutu didalam hati saat protesannya tadi hanya di hiraukan begitu saja oleh Digo. Bahkan laki-laki itu telah mengunci pintu kamar tersebut yang membuat Sheilla sekarang sudah tak bisa berkutik lagi.
"Sudah jam setengah satu dini hari. Apa kamu masih mau berdiri disana sampai pagi?" Tanya Digo yang menatap kearah Sheilla dengan tubuh rebahan di atas ranjang.
"Bukan urusan kamu," jawab Sheilla dengan ketus.
Digo hanya menggedikkan bahunya acuh lalu setelahnya ia mencari posisi ternyaman untuk dirinya tidur. Kemudian setelahnya tanpa memperdulikan Sheilla, ia menjentikkan jari tangannya hingga dengan sekali jentikkan saja lampu di dalam kamar tersebut langsung padam semua dan hal tersebut membuat Sheilla terkejut bukan main.
"Di---Digo," panggil Sheilla dengan tangan yang sudah bergetar.
Digo yang memang belum menutup matanya hanya diam saja tak berniat untuk menjawab panggilan Sheilla yang kini tengah merangkak menuju kearah ranjang di kamar tersebut.
"Digo, bisakah kamu menghidupkan lampunya. Saya tidak bisa bernafas dengan benar kalau tidak ada pencahayaan," ujar Sheilla yang masih merangkak dengan sesekali meraba benda didepannya. Hingga akhirnya tangannya memegang ujung ranjang di kamar tersebut dan dengan cepat ia naik keatas ranjang disana.
Digo yang merasakan gerakan diatas ranjang tersebut diam-diam ia tersenyum.
"Digo. Saya mohon hidupkan kembali lampunya. Saya gak bisa nafas Digo. Tolong," rengek Sheilla. Ia tidak bohong dengan ucapannya tadi, karena dirinya sekarang benar-benar mengalami sesak nafas yang disebabkan karena fobia akan kegelapan yang membuatnya merasa panik dan jantungnya akan memacu dengan cepat dan berakhir nafasnya seakan tercekat.
Tapi rengekan dari Sheilla tadi hanya di abaikan oleh Digo bergitu saja. Bahkan laki-laki itu masih enggan untuk menjawab ucapan dari Sheilla.
"Digo apa kamu sudah tidur?" Tanya Sheilla. Lagi, tak ada jawaban dari Digo. Dan hal tersebut membuat Sheilla semakin gusar saja.
"Ya Tuhan aku harus bagaimana. Aku takut, hiks. Rasanya sesak sekali," gumam Sheilla dengan memukul-mukul dadanya yang semakin lama semakin sulit untuk mendapat oksigen.
__ADS_1
Digo yang mendengar pukulan yang lumayan keras apalagi mendengar suara tangisan Sheilla itu pun ia dengan cepat menjentikkan kembali jari tangannya. Dan dengan seketika lampu di kamar tersebut kembali menyala dan bertepatan dengan itu, Sheilla berhabur ke pelukan Digo yang masih terbaring di atas ranjang tersebut yang otomatis tubuh Sheilla juga terbaring di samping Digo dengan tangan melilit erat pinggang Digo jangan lupakan jika kepalanya kini sudah bersembunyi di dada bidang laki-laki itu.
Digo yang mendapat serangan mendadak dari Sheilla, awalnya ia tampak terkejut namun sesaat setelahnya keterkejutan itu berganti dengan pertanyaan didalam otaknya saat ia merasakan jika tubuh Sheilla bergetar hebat dengan nafas ngos-ngosan seperti orang yang habis lari maraton.
Digo yang tidak tega pun ia mengusap punggung Sheilla untuk menenangkan perempuan itu.
"Saya ngaku salah Digo. Saya salah karena sudah membantah kamu. Saya minta maaf. Tapi saya mohon jangan matikan lampunya kembali karena itu bisa membuat saya mati," ujar Sheilla dengan suara yang teramat lirih.
"Saya tidak akan mematikan lampunya lagi. Jadi kamu tenang saja ya," ucap Digo dengan nada suara yang terdengar sangat lembut dan mampu memenangkan Sheilla kembali.
"Jika kamu sudah tenang. Tidurlah. Saya janji tidak akan mematikan lampunya. Tapi jika lampunya mati sendiri, ingat saja ada saya disamping kamu," tutur Digo setelah dirasa tubuh Sheilla tak bergetar seperti sebelumnya bahkan nafas perempuan itu sudah kembali teratur.
Sheilla yang mendengar penuturan dari Digo pun ia menganggukkan kepalanya lalu setelahnya ia menjauhkan tubuhnya dari tubuh Digo dan bukannya ia langsung tidur, Sheilla justru mendudukkan tubuhnya dan berniat untuk beranjak dari ranjang tersebut.
Sheilla yang sudah berdiri ia menolehkan kepalanya kearah Digo.
"Saya akan tidur di sofa itu saja, tuan," ucap Sheilla dengan senyumannya bahkan panggilan sudah ia ganti kembali.
"Oh jadi kamu mau pergi begitu saja setelah kamu peluk saya tadi? Baiklah kalau begitu pergi saja sana tidur di sofa tapi jangan salahkan saya jika lampu di kamar ini nanti padam lagi. Karena saya tidak akan menolongmu untuk yang kedua kalinya," ujar Digo dengan acuh. Kemudian ia menarik selimut hingga sampai dadanya dan tangannya bergerak ingin menjentikkan kembali jarinya.
Sheilla yang melihat hal tersebut ia membelalakkan matanya dan dengan cepat ia kembali merebahkan tubuhnya disamping Digo.
"Baiklah-baiklah. Saya akan tidur di kasur ini tapi---" ucapan Sheilla sengaja ia gantung. Lalu dengan cepat ia mengambil satu guling yang kebetulan berada di belakang tubuhnya dan dengan cepat ia menaruh guling tadi di tengah-tengah antara dirinya dan juga Digo.
__ADS_1
"Guling ini akan menjadi batas kita tidur. Kamu jangan sampai melewati guling ini. Jika lewat, awas saja, saya tak akan segan-segan lagi untuk membunuh kamu," ujar Sheilla dengan tatapan tajamnya yang justru membuat Digo memincingkan alisnya.
"Baiklah akan saya tunggu kamu membunuh saya. Tapi jika sebaliknya bagaimana? Jika kamu yang justru melewati batas ini, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Digo.
Sheilla tampak berpikir sejenak. Benar saja jika dirinya yang nanti melewati batas itu bagaimana? Haishhhhh Sheilla tak pernah memikirkan sampai disitu.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan?" tanya ulang Digo.
"Ya---ya aku akan membunuh diri saya sendiri jika saya melewati batas ini." Digo menggelengkan kepalanya, tak setuju dengan ucapan Sheilla tadi.
"Hukuman itu tidak seru Sheilla. Bagaimana jika, saat kamu melewati batas ini kamu memberikan tubuh kamu itu buat saja dan jika saya yang melewatinya, tubuh saya akan saya serahkan ke kamu. Bagaimana?" Sheilla melototkan matanya. Ia bukan anak kecil lagi yang tak mengerti akan arti dari ucapan Digo tadi, karena dirinya benar-benar paham akan arah ucapan Digo tersebut. Hingga kini ia mengambil guling tadi lalu memukulkan guling itu kearah Digo dengan membabi buta.
"Itu mah bukan hukuman tapi modus. Enak di kamu sengsara di saya. Dasar Digo sialan! MESUM!" geram Sheilla tanpa menghentikan aksinya.
Digo yang mendapat pukulan bertubi-tubi itu mendengus kasar dan hanya sekali gerakan tangan, Digo bisa menangkap guling tersebut dan menariknya hingga guling tersebut lepas dari tangan Sheilla.
"Sudah cukup main-mainnya Sheilla. Tidur sekarang! Abaikan ucapan saya tadi. Karena saya pastikan kamu akan tetap perawan sampai kamu menikah nanti," ucap Digo dengan tegas dan penuh penekanan.
Sheilla tak akan percaya begitu saja dengan ucapan laki-laki di sampingnya itu.
"Saya tidak akan pernah percaya dengan ucapan kamu itu. Jadi berikan gulingnya dan taruh cepat di posisi tadi. Untuk hukumannya saya terima karena saya yakin saya tidak akan melewati batas itu," ujar Sheilla yang membuat Digo memutar bola matanya malas.
"Terserah kamu," ucap Digo sembari melempar guling tadi tepat di wajah Sheilla dan tanpa memperdulikan Sheilla yang akan mengoceh kembali, Digo dengan cepat membalikan badannya membelakangi Sheilla kemudian menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya.
__ADS_1
Sedangkan Sheilla dengan kasar ia meletakkan guling tadi di tempat semula dengan gerutuan yang terus keluar dari bibirnya. Lalu seperti yang di lakukan oleh Digo, Sheilla juga merubah posisi rebahannya. Hingga sekarang dua manusia berjenis kelamin berbeda itu tertidur dengan posisi yang saling memunggungi satu sama lain.