
Digo yang sudah mengantongi restu serta izin dari nenek Sheilla pun dengan langkah riang gembiranya itu ia membuka pintu kamarnya dan mencari keberadaan kekasihnya yang ternyata sudah tak ada di atas ranjang seperti sebelum ia meninggalkannya tadi.
"Lho kemana dia?" tanya Digo pada dirinya sendiri dengan rasa khawatir yang muncul itu.
"Sayang, kamu dimana?" teriak Digo dengan cukup keras hingga membuat Sheilla yang masih berada didalam kamar mandi itu langsung mematikan shower yang ia pakai itu untuk memastikan jika telinganya tadi tak salah dengar.
"Sayang!" teriak Digo kembali yang Sheilla bisa percaya jika telinganya itu tak salah dengar jika memang suara yang memanggilnya itu adalah suara kekasihnya.
"Ya, Dear. Aku ada di kamar mandi. Tunggu sebentar ya, aku akan segera menyelesaikan acara mandiku ini!" balas Sheilla dengan teriakkan pula.
Digo yang mendengar teriakkan dari kekasihnya itu ia kini menghela nafas lega.
"Oh kamu ada di kamar mandi kirain kamu menghilang kemana tadi. Ya sudah kalau gitu selesaikan acara mandimu itu aku tunggu," balas Digo kembali yang dijawab Iya oleh Sheilla.
Sudah 15 menit berlalu akhirnya Sheilla keluar juga dari dalam kamar mandi tersebut dengan baju piyamanya.
"Ada apa kamu mencariku tadi?" tanya Sheilla sembari melangkahkan kakinya menuju kearah Digo yang tengah duduk dengan bersandar di kepala ranjang tersebut dengan ponsel ditangannya. Dan saat mengetahui jika kekasihnya sudah duduk disampingnya, barulah ponselnya itu ia jauhkan dari hadapannya.
"Kamu tau, aku sudah berhasil mendapatkan restu dan izin dari nenek," ucap Digo bahagia dan ekspresi bahagianya itu terlihat seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru.
Sheilla yang melihatnya pun ia sampai mencubit pelan pipi kekasihnya tersebut. Sebelum dirinya berkata.
"Syukurlah kalau nenek sudah memberikan kita restu," ujar Sheilla.
"Jadi kalau begitu, apa kita besok sudah mulai mengumpulkan berkas-berkas pernikahan kita?" Sheilla tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Yessss kalau begitu berarti kita sebentar lagi akan menjadi sepasang suami-istri. Ahhhhh aku sangat senang sekali dan aku sudah tidak sabar menunggu hari itu terjadi," ucap Digo.
"Aku juga sudah tidak sabar menunggu hari H kita menikah," balas Sheilla yang justru membuat Digo kini memeluk tubuhnya.
__ADS_1
"Sebentar lagi kita akan menikah sayang," ucap Digo yang terus mengatakan hal tersebut.
"Iya Dear, aku tau itu. Dan semoga saja sebelum hari H kita menikah aku sudah tau tentang kebenaran di foto yang aku dapatkan tadi," ucap Sheilla disembung dengan suara hatinya itu.
Dan beberapa saat setelahnya, Sheilla kembali angkat suara.
"Oh ya Dear. Bagaimana dengan Shinta? Apa anak buahmu sudah menemukannya?" tanya Sheilla yang membuat Digo melepaskan pelukannya itu.
Dan dengan helaan nafasnya ia menjawab pertanyaan dari kekasihnya tadi.
"Belum. Tapi salah satu anak buahku sudah tau terakhir kali dia terlihat," ucap Digo.
"Memangnya dimana?" tanya Sheilla penasaran.
"Di Bali," jawab Digo yang membuat Sheilla tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Dan semua anak buahku sekarang sudah disana semua dan semoga saja mereka segara menangkap Shinta," sambungnya.
Dimana pertanyaannya tadi langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Digo.
"Belum sayang dan aku sekarang sangat lapar." Benar bukan tebakan Sheilla jika kekasihnya itu sudah lapar sebelum waktunya.
"Ya sudah kalau begitu kita ke dapur sekarang juga. Jika bik Suri belum memasak untuk makan malam biar aku yang memasak nanti. Jika kamu menolak maka kamu akan kelaparan sampai waktunya makan malam nanti," ujar Sheilla yang sangat tau persis jika kekasihnya itu pasti akan melarangnya untuk memasak dan sebelum hal itu terjadi, Sheilla lebih dulu memberikan ancaman kepada Digo. Dan ancamannya itu membuat laki-laki tampan tersebut hanya bisa menghela nafas sembari menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu tunggu apa lagi. Kita ke dapur sekarang juga," ajak Sheilla dengan menarik pelan tubuh Digo agar berdiri dari posisi duduknya itu. Lalu saat Digo sudah berdiri, barulah mereka berjalan secara beriringan menuju ke dapur di rumah tersebut.
Dimana sesampainya mereka berdua di meja makan, Sheilla dan Digo tidak mendapati apapun disana yang membuat Sheilla justru sangat senang karena bisa memasak lagi setelah sekian lama sedangkan Digo, laki-laki itu justru berdecak dan saat dirinya ingin berucap, Sheilla langsung menjulurkan tangannya tepat di depan wajah Digo.
"Stop, dilarang protes. Jadi kamu diam saja, duduk di kursi ini dan biarkan aku memasak untukmu," ujar Sheilla. Lalu setelahnya dengan cepat ia menguncir rambut dan barulah ia memakai celemek dan siap bertempur dengan peralatan didapur tersebut yang sangat ia rindukan itu.
__ADS_1
Sedangkan Digo yang mendapat titahan dari sang kekasih pun ia mengerucutkan bibirnya dengan tahapan mata yang terus tertuju kearah Sheilla yang sangat gesit memotong sayuran itu.
Hingga bik Suri yang baru datang sangat terkejut saat nyonya di rumah tersebut justru tengah berkutat dengan perabotan itu.
"Ya ampun nyonya," ucap bik Suri dengan berjalan mendekati Sheilla. Dimana ucapan bik Suri tersebut mengalihkan pandangan Digo maupun Sheilla.
"Ehhh ada bik Suri, kenapa bik?" tanya Sheilla sembari melanjutkan aktivitasnya tadi.
"Nyonya stop nyonya." Sheilla yang mendengar ucapan dari bik Suri tadi ia kini menghentikan kegiatan memotongnya tersebut.
Dimana saat dirinya berhenti, bik Suri memanfaatkan situasi untuk merebut pisau dari tangan Sheilla. Dan aksi dari bik Suri itu tadi langsung mendapat dukungan dari Digo.
"Lho ehhhh bik kenapa pisaunya diambil?" tanya Sheilla dan saat dirinya ingin meraih pisau itu kembali, bik Suri langsung menjauhkan pisau itu darinya.
"Bik kembalikan pisaunya. Saya mau masak ini lho," ucap Sheilla.
"Tidak nyonya. Saya tidak bisa memberikan pisau ini ke nyonya. Dan urusan memasak biar saya saja. Dan saya mohon nyonya duduk saja dengan tuan Digo," ujar bik Suri.
"Tapi saya mau masak bik," kekeuh Sheilla.
"Nyonya tolong jangan nyonya. Jika Nyonya sampai melakukan hal itu, semua pekerja disini akan mendapat hukuman dari tuan. Jadi bibik minta kerjasamanya ya nyonya, please," mohon bik Suri dengan tahapan penuh permohonan itu.
Dimana hal tersebut membuat Sheilla menghela nafasnya sembari melirik kearah Digo yang tengah tersenyum penuh kemenangan kepada dirinya itu. Sebelum ia mengalihkan kembali tatapan matanya kearah bik Suri kembali.
"Baiklah kalau begitu tolong bibik teruskan ya. Saya akan duduk saja," ujar Sheilla dengan melepas celemeknya dan menyerahkannya ke bik Suri. Dimana keputusan dari Sheilla itu membuat Bik Suri menghela nafas lega. Sedangkan Digo semakin melebarkan senyumnya.
Dan dengan tatapan tajamnya, Sheilla melangkahkan kakinya menuju ke arah Digo.
"Puas kamu," ucap Sheilla kala dirinya telah sampai disamping kekasihnya tersebut.
__ADS_1
"Tentu saja," balas Digo yang membuat Sheilla berdecak sebal.