
Sedari pulang kantor sampai di jam 10 malam, Sheilla terdiam dengan pikirannya yang bercabang itu.
"Jika memang benar dia memenangkan sebuah olimpiade dengan hadiah jalan-jalan ke negara ini. Kenapa dia tidak mengunggahnya ke media sosial? Karena biasanya dia akan membanggakan prestasinya itu di semua media sosialnya. Tapi kenapa yang hadiahnya super mewah ini dia hanya diam saja? Apa jangan-jangan yang dikatakan oleh Henry tadi tidak benar sama sekali alias laki-laki itu bohong atau malah anak buahnya yang memberikan informasi salah? Oh astaga, kepalaku pusing sekali memikirkan hal ini. Atau aku coba DM salah satu teman sekolahannya saja ya untuk memastikan jika memang dia akan pergi ke negara ini. Hmm sepetinya aku memang harus menanyakan hal ini ke temannya," ucap Sheilla dengan tangannya yang bergerak mencari akun media sosial milik teman Adiknya.
Dan setelah ia menemukan salah satu akun media sosial milik teman Adiknya yang kebetulan juga sangat akrab dengannya pun, jari jemari Sheilla bergerak dengan lincah mengetik setiap kata untuk ia kirimkan ke media sosial milik teman Adiknya itu.
"Hay Ti, kamu masih mengingatku kan? Aku Sheilla, Kakak dari Sonia. Aku boleh bertanya sesuatu kepadamu?" Send...
Sheilla menunggu pesan DM-nya itu dengan harap-harap cemas karena saat dirinya mengirim pesan itu ternyata akun media sosial milik Tia, teman adiknya bernama Sonia, tengah tidak aktif.
5 menit, 10 menit hingga akhirnya...
Ting!!
Dering ponsel milik Sheilla berbunyi yang membuat Sheilla langsung meraih ponselnya itu lalu membuka pesan yang ternyata adalah pesan balasan dari Tia.
...@IaTia_78...
"Hay juga kak. Tentu saja aku masih ingat dong. Oh ya Kakak mau tanya tentang apa? Kalau bisa akan aku jawab tapi kalau tidak bisa, ya buat PR untukku hehehehe."
Sheilla tersenyum kala membaca pesan dari Tia itu sebelum dirinya kini membalas pesan tersebut.
"Jadi begini. Kakak sekarang itu tengah bekerja di luar negeri lebih tepatnya di Paris. Nah Kakak dengar-dengar Sonia mau berlibur di negara ini satu bulan lagi. Apa itu benar Tia? Pasalnya Kakak dari 1 Minggu yang lalu menghubungi dia, dia sama sekali tidak membalas ataupun mengangkat telepon dari Kakak. Jadi Kakak mengubungimu untuk bertanya soal ini. Tidak apa-apa kan?" Send...
__ADS_1
Tak menunggu waktu lama setelah Sheilla mengirimkan pesan tadi, Tia sudah membalasnya.
...@IaTia_78...
"Tidak apa-apa kok kak, tenang saja. Dan untuk masalah Sonia mau ke Paris, itu memang benar. Beberapa hari yang lalu aku sempat mendengar berita itu dari Viki."
Sheilla kini bisa menghela nafas lega saat berita yang diberikan oleh Henry tadi memang benar jika adiknya akan berlibur ke Paris yang berarti ia bisa mendapat kesempatan untuk menemui Adiknya itu. Tapi tunggu dulu, ia masih penasaran apakah masalah olimpiade itu benar? Dan daripada Sheilla dibuat berpikir sendiri, lebih baik dirinya segara bertanya kepada Tia.
"Syukurlah kalau memang dia mau berlibur kesini. Tapi apakah kepergian dia ke negara ini merupakan hasil dari sebuah olimpiade?" *S**end*...
Ting!!!!
...@IaTia_78...
"Olimpiade? Beberapa bulan ini tidak ada olimpiade Kak. Terakhir kali sekolahanku ikut olimpiade di akhir tahun lalu. Jadi kepergian Sonia tidak ada kaitannya dengan olimpiade entah itu tentang merayakan sebuah kemenangan ataupun untuk bertanding."
Lamunan Sheilla tersadar saat pintu kamarnya terbuka. Dimana dibalik pintu itu terdapat Digo yang baru kembali dari ruang kerjanya sekaligus bertemu dengan Henry untuk membahas tentang keluarga Sheilla dan hal-hal penting lainnya.
Sheilla yang melihat Digo pun dengan cepat ia keluar room chatnya dengan Tia tadi dan beralih ke sebuah aplikasi permainan.
"Kok belum tidur, Honey?" tanya Digo sembari berjalan mendekati Sheilla.
"Aku tidak bisa tidur kalau tidak ada kamu disisihku, Dear," ucap Sheilla sembari mematikan layar ponselnya itu dan setelahnya ia menatap kearah Digo yang sekarang tengah tersenyum kepadanya.
__ADS_1
"Sudah pintar menggombal ya sekarang," ucap Digo sembari memberikan sentilan di kening Sheilla. Namun setelahnya ia mengecup kening bekas sentilannya tadi.
"Diminum susunya," ucap Digo sembari menyerahkan satu gelas susu yang ia buat khusus untuk Sheilla tadi.
Sheilla yang melihat hal tersebut pun ia mengerutkan keningnya.
"Ini buatku?" Digo menganggukkan kepalanya.
"Kamu yakin bukan buat kamu sendiri?" Digo berdecak sebal.
"Tidak Honey. Susu ini khusus untuk kamu. Jadi segera minum," ucap Digo sembari meraih tangan Sheilla untuk mengambil gelas susu tersebut dari tangannya.
"Baiklah susu ini akan aku minum. Tapi kamu tidak akan menyesal nanti kan?" Digo memutar bola matanya malas.
"Tidak akan Honey. Jadi stop jangan bertanya terus," ucap Digo kesal. Dan hal tersebut membuat Sheilla justru terkekeh melihat wajah kesal dari kekasihnya itu.
"Baiklah-baiklah. Susu ini akan aku minum tapi kamu janji ya, jangan nangis setelah susu ini nanti habis," ucap Sheilla. Lalu setelahnya ia meminum susu dari Digo tadi hingga...
"Aku tidak akan menangis karena setelah kamu meminum susu itu, aku juga akan minum langsung dari dadamu," ucap Digo yang berhasil membuat Sheilla langsung menyemburkan susu yang berada didalam mulutnya tadi dan tak sengaja mengenai baju Digo karena kebetulan laki-laki itu tengah berdiri sampingnya.
Sedangkan Digo yang mendapat semburan maut dari Sheilla pun ia hanya bisa melongo mendapati bajunya yang sudah basah kuyup karena semburan tersebut.
"Honey, kamu tengah cosplay jadi naga kah? Jadi kamu sekarang tengah mencoba kekuatan menyemburmu itu?" ucap Digo kelewat ngaco. Dan hal tersebut langsung mendapat pelototan mata dari Sheilla.
__ADS_1
Tapi sebelum Digo mendapatkan omelan dari bibir cerewet sang kekasih pun ia kembali berucap.
"Tapi tenang saja Honey, aku tidak marah kok. Tapi lain kali kalau mau menyemburkan sesuatu lihat-lihat situasi dan kondisinya ya. Dan jangan menyembur di sembarang tempat. Love you Honey. Kalau kamu mau tidur duluan saja, aku masih mau ganti baju dulu," ucap Digo dengan suara yang sangatlah lembut. Bahkan setelah mengucapkan hal tersebut Digo sempat mengecup keningnya sebelum laki-laki itu bergerak menuju kearah kamar mandi dengan tangannya yang sibuk membuka baju piyama laki-laki tersebut yang berhasil ia buka sebelum dirinya sampai di kamar mandi. Dan hal tersebut terekam jelas dimata Sheilla yang membuat perempuan itu kini tersipu melihat badan atletis milik kekasihnya itu. Tapi senyumannya perlahan luntur kala ia melihat sebuah bekas luka di tubuh Digo.