The Dark Love

The Dark Love
121. Keresahan


__ADS_3

"Tapi tunggu sebentar. Kenapa nama yang berada di dalam kartu ini bukan nama yang sama dengan nama yang berada di KTP dan kartu anggota itu?" ucapan dari Digo itu membuat tatapan mata Henry, ia tajamkan. Dan benar saja nama yang tertera dalam kartu tersebut sangat berbeda dengan dua kartu lainnya.


"Lah iya. Apa jangan-jangan sebelum dia menyusup di mansion ini dia sempat menyusup di kantor Uncle Bian lagi untuk mengikuti atau mencari tahu alamat mansion kita ini. Karena kamu tak sendiri kan kalau mansion ini hanya di ketahui oleh beberapa orang saja dan orang itu merupakan orang terdekatmu. Makanya mereka semua bingung untuk membebaskan Yoga karena tidak tau harus mencari alamat mansion ini dimana, akhirnya mereka mencari tahu dan kebetulan yang mereka dapatkan mengenai kedekatanmu dengan Uncle Bian itu. Dan mungkin sebelum mereka menyusup ke mansion ini, mereka menyusup ke kantor Uncle Bian terlebih dahulu. Dan disitulah mereka berinisiatif untuk mencuri identitas salah satu karyawan di kantor Uncle Bian agar Uncle Bian tidak mencurigai keberadaannya," tutur Henry.


"Jika memang seperti itu berarti dikantor Uncle Bian terjadi permasalahan sekarang? Karena saya yakin orang yang merampas kartu ini pasti melakukan sesuatu yang sangat bahaya kepada pemilik kartu yang asli," ujar Digo.


"Aku juga berpikir seperti itu. Dan untuk memastikan kondisi disana lebih baik kamu telepon Uncle Bian deh. Siapa tau beliau sekarang tengah membutuhkan bantuan kita," tutur Henry yang diangguki oleh Digo sebelum dirinya bergerak cepat mengambil ponselnya lalu setelahnya ia mulai menghubungi nomor milik ayah Yura itu.


Satu kali panggil tak dijawab oleh laki-laki paruh baya tersebut hingga saat Digo ingin mencoba menghubunginya lagi, telepon balasan dari Bian masuk kedalam ponsel Digo yang langsung diangkat oleh Digo.


"Halo Uncle," sapa Digo.


📞 : "Halo Al, ada apa kamu menghubungi Uncle?" tanya Bian dari sebrang.


"Al hanya mau bertanya sesuatu," ucap Digo.

__ADS_1


📞 : "Tanya sesuatu? Tentang apa? Tanya saja nak, silahkan. Jika Uncle bisa menjawabnya, Uncle akan jawab."


"Apa di kantor cabang Uncle yang ada di Paris ini tengah terjadi sesuatu?" tanya Digo.


📞 : "Terjadi sesuatu? Hmmmm sepertinya semuanya baik-baik saja. Kalaupun terjadi sesuatu pasti tangan kanan Uncle yang ada di kantor akan langsung mengabari Uncle karena Uncle sekarang ada di apartemen bersama Aunty Franda. Tapi nyatanya sedari tadi Uncle tidak mendapatkan informasi apapun dari tangan kanan Uncle disana," ucap Bian.


"Uncle yakin tidak ada sesuatu yang terjadi di kantor Uncle?" tanya Digo untuk memastikan.


📞 : "Uncle yakin Al. Dan kamu kenapa bisa bertanya seperti itu tadi? Apa kamu tau sesuatu yang menyangkut perusahaan Uncle?" tanya Bian penasaran.


📞 : "Astaga. Siapa nama yang tertera di kartu identitas karyawan Uncle itu biar Uncle langsung konfirmasi dan tanya langsung dengan tangan kanan Uncle untuk mengeceknya."


"Nama yang ada di kartu identitas karyawan Uncle adalah Daren Syahputra."


📞 : "Daren Syahputra. Baiklah Uncle akan tanya dulu ke tangan kanan Uncle yang ada di kantor. Apakah orang yang bernama Daren masuk kerja hari ini atau tidak. Jika tidak masuk, patut di curigai. Jadi telepon ini Uncle matikan dulu. Nanti Uncle telepon lagi jika Uncle sudah tau keberadaan Daren," ujar Bian.

__ADS_1


"Baik Uncle. Dan semoga saja karyawan Uncle yang bernama Daren itu tidak kenapa-napa. Salam untuk aunty Franda," kata Digo.


📞 : "Nanti akan Uncle sampaikan salam kamu itu ke Aunty Franda. Kalau begitu Uncle tutup dulu," ucap Bian dan tanpa menunggu jawaban dari Digo, ia sudah lebih dulu memutus sambungan telepon tersebut yang membuat Digo kini menghela nafas panjang dan menutup wajahnya kala ponselnya sudah ia taruh diatas meja kerjanya itu. Pikirannya benar-benar rumit akhir-akhir ini yang membuat dirinya benar-benar sangat lelah.


Henry yang tau jika sang sahabat tengah pusing memikirkan kasus ini pun ia mengusap dengan sesekali ia menepuk dan memijat bahu Digo.


"Semua permasalahan yang tengah kita hadapi saat ini pasti akan mendapatkan titik terangnya," ujar Henry.


"Saya tau pasti permasalahan ini akan mendapatkan titik terang. Tapi sampai kapan? Permasalah kali ini bukan hanya menyangkut nyawa saya yang menjadi incaran orang lain Henry tapi nyawa Sheilla juga. Saya takut jika saya lengah menjaga dia, dia akan terluka dan jika hal itu terjadi saya tidak akan pernah memaafkan diri saya sendiri Henry. Saya tidak ingin dia terluka tapi saya juga tidak ingin melepaskan dia," kata Digo penuh keresahan. Didalam satu sisi ia ingin Sheilla tetap aman dan menjalankan kehidupannya seperti orang-orang pada umumnya tanpa takut ada seseorang yang mengincar nyawanya dan salah satu caranya yaitu Digo harus melepaskan Sheilla. Tapi di satu sisi lainnya, ia tak ingin melepaskan Sheilla dan tak ingin membuat kekasihnya itu terluka.


"Sheilla disini bukan hanya kamu saja yang melindungi dia tapi ada aku, anak buahku, anak buahmu dan juga semua orang yang berada di mansion ini yang akan melindungi dia dengan taruhan nyawa kita sendiri. Jadi kamu jangan terlalu mencemaskan hal itu. Sheilla akan tetap baik-baik saja jika dia berada di sekitar kita semua yang ada di mansion ini. Dan untuk kebaikannya, aku sarankan kamu untuk menyuruh dia agar tetap di manison ini jangan biarkan dia keluar dulu sampai situasi dan kondisi di luar sana memang benar-benar aman untuk dia. Setidaknya sampai kita tau dimana Yoga berada," tutur Henry memberikan usulan.


Digo tampak terdiam, menimbang-nimbang perkataan dari Henry tadi sebelum dirinya menganggukkan kepalanya setuju. Walaupun ia tak yakin jika sang kekasih akan betah di dalam mansion nantinya.


"Benar apa katamu tadi. Sheilla harus berada di dalam mansion ini sampai situasi dan kondisinya sudah sangat memungkinkan untuk di keluar mansion. Dan itu adalah cara satu-satunya yang membuat dirinya akan aman," ujar Digo final tanpa berpikir dirinya nanti akan merayu dan membujuk Sheilla dengan cara apa. Digo akan memikirkannya nanti. Tapi dia berharap tanpa dirinya harus membujuk ataupun merayu kekasihnya itu, Sheilla sudah paham situasinya.

__ADS_1


__ADS_2