The Dark Love

The Dark Love
203. Tindakan Tidak Sesuai Dengan Ucapan


__ADS_3

Di karenakan kondisi Monik telah membaik, sore harinya Monik di perbolehkan pulang oleh dokter yang tentunya kepulangannya itu dibantu oleh Sheilla yang sedari tadi menemani dirinya.


"Kita tunggu Digo sama Henry dulu sebentar. Mereka lagi dalam perjalanan kesini," ucap Sheilla kala mereka berdua telah sampai di lobby rumah sakit. Dimana ucapannya itu diangguki oleh Monik.


Kedua perempuan itu mendudukkan tubuhnya ke kursi tunggu hingga tak berselang lama setelahnya, dua laki-laki yang mereka tunggu akhirnya datang menemui mereka.


"Udah dari tadi nunggunya?" tanya Digo kepada sang istri yang tengah mengecup punggung tangannya.


"Gak, baru sekitar 10 menit saja." Digo menganggukkan kepalanya diakhiri dengan ia mengecup puncak kepala Sheilla.


Henry yang melihat skinship yang telah dilakukan oleh sepasang suami-istri itu, ia mendengus sedangkan Monik, perempuan itu langsung menundukkan kepalanya.


"Mesra-mesraannya di tunda dulu bisa kan? Kita harus pulang sekarang juga karena disini masih ada orang yang harus istirahat dengan cukup," timpal Henry yang membuat sepasang suami istri itu menolehkan kepala mereka kearah Henry.


"Apa kamu iri, Henry?" tanya Digo dengan salah satu alis yang terangkat. Dimana ucapannya itu membuat Henry memutar bola matanya malas.


"Kenapa harus iri sih Henry? Udah ada Monik juga tuh. Tinggal kamu melakukan apa yang ingin kamu lakukan seperti kita tadi contohnya," timpal Sheilla yang diangguki setuju oleh Digo.

__ADS_1


"Aku tidak iri. Hanya saja aku tidak ingin melakukan adegan romantis seperti kalian tadi di hadapan semua orang karena cukup aku saja dan Monik yang tau keromantisan kita berdua. Iya kan Monik?" Monik yang di tanya secara mendadak oleh Henry pun dengan gelagapan ia menengadahkan kepalanya hingga tatapannya bertemu dengan mata Henry yang tengah menggerling genit, kode agar Monik mengiyakan ucapannya tadi.


Tapi sepertinya Monik tidak paham dengan kode itu sehingga dia menjawab, "Maaf, tuan tadi bilang apa ya?"


Henry melongo mendengar ucapan dari Monik, jadi perempuan itu sedari tadi tidak memperhatikan dirinya juga dua orang lainnya yang tengah berbicara? Kalau tau begitu, ia tak akan meminta persetujuan dari Monik tadi.


Sedangkan Digo dan Sheilla, mereka terkekeh melihat sepasang kekasih emmmm sepasang calon pasutri itu yang tak kompak.


"Sudah-sudah. Mau kalian beradegan romantis dimana kek, terserah kalian saja. Dan lebih baik kita sekarang pulang saja," ucap Digo. Sudah cukup ia dan sang istri mengerjai Henry.


"Ayo sayang." Digo melingkarkan salah satu tangannya di pinggang Sheilla dan membawa istrinya itu melangkah meninggalkan lobby rumah sakit tersebut juga Henry dan Monik yang menatap kepergian mereka berdua. Sebelum Monik kini berdiri dari duduknya.


Monik tampak terkejut kala ia melihat ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya, sama persis dengan posisi Digo dan Sheilla tadi. Dan masih dengan wajah terkejutnya, Monik menolehkan kepalanya kearah seseorang si pemilik tangan tersebut.


"Tuan---"


"Apa penjelasanku tadi pagi tidak cukup jelas untuk kamu pahami Monik?" tanya Henry memutus ucapan dari Monik tadi.

__ADS_1


"Pe---penjelasan?"


"Ya, penjelasan tentang kamu yang sebentar lagi akan menjadi istriku. Dan dari penjelasan itu harusnya kamu tau jika sudah tidak sepantasnya kamu memanggilku dengan sebutan tuan lagi," ucap Henry.


"Ehhhh begitu ya? Tapi kalau saya tidak memanggil anda dengan sebutan tuan, terus saya harus memanggil dengan sebutan apa? Tidak mungkin hanya menggunakan nama saja karena emmmm itu tidak sopan walaupun nanti saya dan anda sudah sah menjadi suami-istri," ujar Monik dengan suara lirih saat ia mengucapakan kata sah menjadi suami istri.


Henry yang masih bisa mendengar perkataan dari Monik tadi, ia tampak tersenyum. Tangannya yang berada di pinggang Monik, ia semakin eratkan hingga membuat tubuh Monik benar-benar mepet di tubuh Henry. Dimana hal itu benar-benar membuat jantung Monik seakan ingin lepas dari tempatnya apalagi ia melihat wajah Henry semakin mendekati wajah dirinya.


Henry yang melihat wajah memerah dari Monik, ia menyunggingkan senyum tipisnya sebelum dirinya mulai membisikkan sesuatu tepat di samping telinga Monik.


"Tidak, aku juga tidak akan mengizinkan kamu untuk memanggilku dengan nama saja. Tapi panggil aku dengan sebutan sayang, baby or honey. Dan aku juga tidak akan mengizinkan kamu untuk menggunakan bahasa formal ketika kita saling berbicara. Gunakan kata aku-kamu mulai sekarang. Sampai sini kamu paham kan, sayang? Aku rasa kamu paham," bisik Henry diakhiri ia mencuri sebuah kecupan di pipi Monik. Kemudian ia menjauhkan wajahnya dari samping wajah Monik yang semakin terlihat memerah itu.


"Dan ingat aku tidak menerima bantahan atau penolakan dari kamu. Jadi lebih baik kamu nurut saja dengan apa yang sudah aku katakan tadi dan sekarang waktunya kita pulang. Kasihan anak aku yang harus berlama-lama berdiri seperti ini. Maaf ya sayang, Papa sudah membuatmu lelah di dalam sini karena Mama kamu harus mendapat penjelasan yang lebih rinci lagi agar dia benar-benar paham apa yang Papa mau," ucap Henry yang ia tujukan ke calon anaknya itu sembari mengelus perut Monik yang masih rata sebelum ia menghentikan elusannya tadi dengan tatapan yang kembali menatap kearah Monik berada.


"Ayo sayang. Kita pulang," ujar Henry dan dengan posisi yang masih memeluk posesif pinggang Monik, ia mulai melangkahkan kakinya yang otomatis hal itu membuat Monik juga turut berjalan.


Tapi tanpa Monik dan Henry sadari, sedari tadi interaksi dari dua orang itu tak luput dari dua pasang mata yang diam-diam tengah melihat mereka dari kejauhan.

__ADS_1


"Katanya tadi dia tidak mau mengumbar keromantisan di depan publik dan memilih mereka berdua saja yang tau dengan sikap romantis mereka masing-masing. Tapi apa yang dia tadi lakukan benar-benar tidak sesuai dengan apa yang dia katakan tadi," cibir seorang perempuan yang membuat laki-laki di belakangnya terkekeh mendengarnya.


"Sudah biarkan saja sayang. Mungkin Henry mengatakan seperti itu tadi karena dia masih malu dengan kita, secara kan mereka sebelum-sebelumnya tidak pernah saling dekat satu sama lain dan tiba-tiba harus di persatuankan dalam ikatan pernikahan yang mengharuskan mereka untuk mencoba saling mencintai satu sama lain. Jadi kita maklumi saja, mereka lagi pemanasan untuk menumbuhkan rasa cinta di hati mereka. Dan lebih baik kita segara pergi dari sini," ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Digo. Ya, mereka adalah Digo dan Sheilla, setelah menjauh dari pasangan baru itu mereka tidak langsung pergi ke mobil Digo melainkan mereka bersembunyi untuk melihat apa yang akan pasangan baru itu lakukan, apakah masih dalam mode canggung atau tidak? Dan jawabannya ternyata tidak sama sekali malah mereka terlihat romantis di mata Digo maupun Sheilla. Dan hal tersebut membuat sepasang suami istri itu lega karena kedua orang itu mau berdamai dengan keadaan.


__ADS_2