
Henry kini telah mendapatkan apa yang diinginkan oleh Digo itu dan dengan segera ia mengirimkan sebuah foto lambang dari pistol tersebut ke Digo.
Dimana saat lambang itu terkirim, Digo yang masih menebak-nebak itu kini meraih ponselnya yang berdering tadi. Dan dengan cepat ia membuka pesan yang baru saja masuk di ponselnya itu yang merupakan pesan yang dikirimkan oleh Henry tadi.
Tatapan matanya melebar kala ia sudah melihat lambang itu. Dimana gambar lambang di dalam foto yang baru saja ia dapatkan itu sama persis dengan gambar tatto milik Bian yang ia lihat tadi.
"Ya Tuhan. Tidak mungkin kan kalau Uncle Bian adalah dalang dari semua yang Yoga lakukan selama ini?" gumam Digo yang masih enggan percaya dengan satu bukti yang ia dapatkan itu.
"Ya, tidak mungkin Uncle Bian melakukannya. Apalagi niat beliau ingin membunuhku. Tidak, dia sayang padaku kan? Jadi tidak mungkin dia melakukannya," sambung Digo.
"Dan hanya dengan satu bukti saja juga belum cukup untuk membuktikan jika memang Uncel Bian adalah dalang dibalik rumitnya permasalahan ini. Tapi tunggu dulu, apa di pistol itu selain lambang bunga aster, apakah ada kata-kata lain seperti beautiful aster? Atau Los Asteriscaz seperti yang aku lihat di kartu pengenal penyusup itu?" tanya Digo pada dirinya sendiri.
"Aku harus memeriksanya agar semua permasalahan ini cepat selesai. Perkara nanti memang Uncle Bian ternyata dalangnya, itu urusan nanti yang terpenting aku harus mengumpulkan banyak bukti terlebih dahulu," ucap Digo. Dan dengan gerakan gesit, ia kembali menghubungi Henry.
Henry yang berada di negara lain pun ia tampak berdecak sebal kala Digo lagi-lagi menghubunginya. Namun ia tak berani untuk mengabaikannya begitu saja. Ia tetap harus mengangkatnya walaupun dengan rasa malas sekalipun.
📞 : "Kenapa lagi?" tanya Henry.
"Suruh Monik untuk memeriksa pistol yang kita temukan dengan lambang bunga aster itu, apakah di bagian pistol tersebut ada tulisan Beautiful Aster atau Los Asteriscaz! Lakukan sekarang!" perintah Digo tak terbantahkan dan tanpa mendengar persetujuan Henry terlebih dahulu, Digo dengan seenak jidatnya, memutus sambungan telepon dari keduanya itu yang membuat Henry refleks mengumpat.
"Sialan. Kenapa tidak sekalian kasih perintahnya sih? Astaga. Kalau begini kasihan Monik yang harus bolak-balik ke dalam kamarku dengan cara mengendap-endap seperti maling. Apalagi disana ada keluarga dia. Apa dia tidak mikir kalau Monik sampai ketahuan sama salah satu keluarganya, dia pasti akan terkena hukuman. Huh, tapi aku juga tidak bisa menolak perintah dari dia karena aku hanya orang yang bekerja untuknya dimana aku sebenarnya tidak memiliki hak menolak perintahnya itu. Begitu juga dengan Monik," gumam Henry dengan helaan nafasnya sebelum ia kembali menghubungi Monik dengan harapan semoga saja perempuan itu belum keluar dari kamarnya.
__ADS_1
📞 : "Halo tuan," ucap Monik dari sebrang saat sambungan telepon tersebut terhubung.
"Ya halo. Monik, kamu sekarang dimana? Apakah masih didalam kamar saya?" tanya Henry.
📞 : "Saya baru saja keluar tuan, tapi sekarang masih berada didepan pintu kamar tuan. Memangnya ada apa?"
"Apakah situasi disekitarmu sekarang masih aman?" tanya Henry yang membuat Monik di sebrang menolehkan kepalanya kearah samping kanan dan kirinya itu.
📞 : "Semuanya terlihat masih aman tuan," jawab Monik.
Henry yang mendengar hal itu pun ia kini menghela nafas lega. Sebelum dirinya kembali berkata.
"Kalau begitu kamu masuk lagi kedalam kamar saya. Lihat dengan teliti apakah di pistol yang sama yang tadi kamu foto lambangnya itu ada tulisan Beautiful Aster atau Los Asteriscaz," ucap Henry memberikan perintah kepada Monik yang kini tengah menganggukkan kepalanya.
Dan dengan cepat ia menutupi pintu kamar tersebut kembali. Lalu setelahnya ia bergegas menuju ke salah satu pintu rahasia di kamar tersebut. Dimana di balik pintu itu adalah ruang rahasia yang dijadikan tempat menyimpan pistol dari beberapa lawan Digo itu.
Saat Monik sudah masuk kedalam ruangan itu, ia langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Henry tadi.
📞 : "Apakah kamu sudah menemukan salah satu kata itu?" tanya Henry di sebrang sana yang sudah tak sabaran.
"Saya masih belum menemukan tuan. Harap tunggu sebentar," balas Monik dengan mata yang fokus melihat setiap inci pistol tersebut dengan dibantu satu tangannya yang memegang pistol itu dan membolak-balik pistol tersebut. Hingga saat ia melihat pada bagian trigger guard, ia menemukan sebuah tulisan yang begitu sangat kecil hingga membuat Monik sedikit kesusahan untuk membacanya.
__ADS_1
"Saya sudah menemukannya tuan," ucap Monik yang membuat Henry yang sedari tadi memijit pangkal hidungnya itu menganggukkan kepalanya.
📞 : "Katakan, kata apa yang ada di pistol itu,", ujar Henry.
Monik menyipitkan matanya sebelum dirinya membaca kata demi kata yang ada di pistol tersebut.
"Tulisan di pistol ini adalah Los Asteriscaz," jawab Monik setelah memastikan berkali-kali kata yang ia lihat itu tidak salah.
📞 : "Baik kalau begitu kamu boleh kembali ke aktivitasmu sebelumnya. Dan saya ucapkan terimakasih dan maaf sudah merepotkanmu," ujar Henry yang merasa tidak enak hati karena sudah sangat merepotkan Monik itu.
"Ahhhh tidak perlu meminta maaf tuan. Apa yang sudah tuan perintahkan ini juga merupakan tugas saya sebagai pekerja di manison ini," ucap Monik.
📞 : "Baiklah. Sekali lagi saya benar-benar berterimakasih kepadamu. Dan tolong jaga kesehatanmu disana. Saya tutup dulu teleponnya," ujar Henry.
"Baik tuan." Balasan dari Monik itu mengakhiri sambungan telepon dari keduanya. Dimana Monik langsung bergegas menaruh pistol yang berada di tangannya itu kembali ke tempatnya semula sebelum dirinya kini mulai melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam ruang rahasia itu juga dari dalam kamar Henry.
Sedangkan Henry yang sudah mendapatkan informasi dari Monik itu dengan cepat ia langsung memberitahu akan informasi itu kepada Digo lewat pesan saja karena dia terlalu malas untuk menelepon sahabatnya itu.
Dimana pesan darinya itu langsung di baca oleh Digo kala sudah masuk kedalam ponsel laki-laki tersebut.
"Jadi di pistol itu tidak ada kata Beautiful Aster tapi justru Los Asteriscaz? Huh kalau begitu aku bisa mengartikan jika pikiran negatifku itu tentang Uncle Bian tadi adalah salah besar. Astaga, maafkan Al, Uncel Bian," gumam Digo dengan menghela nafas lega.
__ADS_1
"Tapi walaupun begitu, aku harus tetap mengawasi Uncle Bian dan aku juga masih penasaran dengan isi didalam ruang kerja Uncle Bian yang sangat mencurigakan itu. Sampai-sampai aku tidak diizinkan untuk menginjakkan kakiku didalam ruangan itu. Aku harus segera mengetahui isi didalam ruang kerja Uncle Bian secepatnya," sambung Digo. Ia harus benar-benar segera mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di otaknya itu mengenai ruang kerja Bian tersebut.