The Dark Love

The Dark Love
199. Keputusan Henry


__ADS_3

Seorang dokter telah keluar dari dalam ruang UGD. Keluarnya dokter itu membuat ketiga orang yang menunggu di kursi tunggu langsung melangkah mendekati dirinya yang tampak tersenyum kearah mereka bertiga. Dan sebelum ada yang bertanya, dokter itu lebih dulu berucap, "Tuan-tuan dan nyonya tenang saja. Kondisi pasien baik-baik saja. Tidak ada hal serius di tubuhnya. Pasien mengalami pingsan karena obat bius yang sempat di suntikan di tubuhnya. Kondisi janinnya pun juga sehat. Dan kemungkinan pasien akan sadarkan diri sekitar satu jam lagi."


Penjelasan dari dokter itu membuat ketiga orang yang berada di hadapannya terlihat menghela nafas lega.


"Satu lagi yang akan saya sampaikan ke tuan-tuan dan nyonya sekalian jika pasien akan kita pindahkan ke ruang inap. Tuan-tuan dan nyonya bisa memilih untuk memindahkan pasien ke ruang inap VIP atau ruang inap biasa karena dimanapun pasien di rawat kita tetap akan memberikan pelayanan yang setara tanpa di beda-beda antara pasien yang satu dan pasien yang lainnya," sambung dokter tersebut.


"Ruang VIP." Digo dan Sheilla yang tadinya ingin menimpali ucapan dari dokter tadi, bibir mereka kembali terkatup saat suara Henry lebih dulu terdengar.


"Ruang VIP? Baiklah kalau begitu nanti akan saya sampaikan ke salah satu suster yang akan membantu pemindahan pasien. Kalau begitu saya permisi untuk kembali kedalam lagi," pamit dokter tersebut yang diangguki oleh ke-tiga orang tersebut.


Dan setelah dokter itu masuk kembali ke ruang UGD tak berselang lama, brankar yang berisi Monik diatasnya didorong keluar dari dalam ruangan tersebut. Dimana keluarnya brankar tersebut membuat Sheilla langsung mengikuti arah pergi suster yang membawa brankar tadi. Dan saat Henry berniat ingin mengikuti para suster itu, cekalan di bahunya menghentikan rencananya itu. Ia menolehkan kepalanya, dimana disana ia bisa melihat Digo dengan tatapan menajam, seolah-olah laki-laki itu ingin membunuh dirinya saat itu juga.


"Jelaskan semuanya sekarang juga," ucap Digo penuh tuntutan. Henry yang paham arah dari ucapan Digo tadi, ia menghela nafas sebelum ia menganggukkan kepalanya lalu melangkahkan kakinya menuju ke taman di rumah sakit tersebut diikuti Digo di belakangnya.


Sesampainya dia di taman rumah sakit dan mereka berdua sudah duduk di kursi yang sama, Henry tampak menghela nafasnya sebelum dirinya mulai menceritakan kejadian yang telah menimpa dirinya dan Monik beberapa bulan yang lalu.

__ADS_1


Setiap cerita yang terlontar dari bibir Henry mendapatkan respon bermacam-macam dari Digo namun laki-laki itu masih menahan untuk tidak melupakan emosinya saat ini juga karena dirinya belum tau cerita sepenuhnya dari Henry. Hingga tiba saat Henry mengucapkan dalang dari kejadian tak terduga itu, satu hantaman lolos dari kontrol Digo. Tangannya yang tadinya terkepal erat diatas pahanya sekarang tangannya itu sudah berpindah tempat di samping tubuhnya dengan posisi yang memukul kursi besi yang tengah dirinya dan Henry duduki.


Henry yang sempat terkejut dengan pukulan yang dilakukan oleh Digo, ia kini menghela nafas untuk menetralkan keterkejutannya itu sebelum dirinya melanjutkan ceritanya tersebut, mulai dari pembalasan yang dia berikan kepada Vina hingga akhirnya cerita itu telah selesai ia katakan tanpa ia tutup-tutupi atau ia tambah. Semua cerita yang keluar dari bibirnya itu adalah kenyataannya.


"Aku juga tidak tau jika Monik sedang mengandung saat ini makanya aku tadi juga sempat shock saat Sheilla bilang menemukan testpack di dalam kamar mandi Monik. Karena perlu kamu tau Al, setelah kejadian itu Monik yang awalnya biasa-biasa saja jika bertemu denganku, justru dia selalu saja menghindar jika aku berusaha untuk mendekat dengan dia. Dan setelah kejadian itu aku juga selalu saja sibuk jadi tidak bisa mengawasi dia dan tidak sadar kalau dia ternyata tengah mengandung saat ini," ucap Henry.


Digo yang awalnya sangat emosi, ia sekarang sudah bisa lebih tenang dari sebelumnya setelah dirinya mendengar jika Henry sudah membalas perbuatan Vina itu tapi tentu saja Digo tidak akan tinggal diam setelah ini, ia akan menyuruh anak buahnya yang ada di negara yang sama dengan Vina untuk mencari keberadaan Vina dan menghancurkan hidup Vina. Jika perlu ia akan membuat Vina tak tahan dengan hidupnya sendiri dan memilih untuk mengakhiri hidupnya itu. Kejam memang dan terkesan terlalu ikut campur, tapi itu lah Digo. Dia akan berbuat lebih dari orang yang telah di sakit apalagi orang itu adalah orang di sekitarnya dan orang yang sudah ia anggap keluarga sendiri. Maka orang yang sudah menyakiti orang-orang itu akan berurusan langsung dengannya dan akan tau seberapa kejamnya laki-laki itu.


Digo kini menepuk dua kali pundak Henry sebelum berkata, "Setelah ini apa yang ingin kamu lakukan untuk mempertanggungjawabkan semua yang telah kamu lakukan. Saya tau jika semua ini jauh dari kehendakmu tapi satu hal yang perlu kamu ingat jika Monik hamil anak kamu."


"Aku akan menikahi Monik secepatnya," ujar Henry tanpa keraguan sedikitpun di dalam dirinya. Walaupun dirinya belum mencintai Monik tapi bukankah ada istilah yang mengatakan witing tresno jalaran soko kulino. Maka dari itu Henry akan berusaha untuk jatuh cinta dengan Monik setelah mereka menjalin hubungan rumah tangga nantinya. Dan ia yakin cepat atau lambat rasa itu akan tumbuh dengan sendirinya.


"Saya apresiasi keputusanmu. Tapi jika kalian sudah menikah jangan berniat untuk pindah dari mansion karena jika kamu pindah dan membawa Monik, kamu sama saja membawa nyawa Monik dan anak kamu sendiri dalam bahaya," ujar Digo yang kembali mengingatkan jika Henry masih memiliki musuh yang sama banyaknya dengan musuh yang Digo miliki.


"Siapa juga yang ingin keluar dari mansion. Uangku belum cukup untuk membeli rumah di negara ini," ucap Henry.

__ADS_1


"Kamu bekerja bertahun-tahun dengan saya, kamu kemanakan uang itu?" Digo bertanya dengan mengernyitkan dahinya karena gaji yang ia berikan ke Henry tak main-main jumlahnya. Ya walaupun dalam satu tahun belum cukup digunakan untuk membeli satu unit rumah di negara ini karena harganya yang sangat fantastis tapi setidaknya jika di negara Indonesia bisa untuk membeli 1 unit rumah, satu mobil dan dua unit motor.


"Ditabung. Mulai sekarang aku mulai mikir buat biaya persalinan Monik yang tentunya tidak kecil nominalnya," jawab Henry yang sudah persis seperti suami siaga saja.


Tapi tak khayal hal itu membuat Digo yang jarang sekali tersenyum kecuali dengan Sheilla, ia sekarang memperlihatkan senyumannya itu. Ia benar-benar bangga dengan sahabatnya tersebut.


"Cukup dewasa," ucap Digo yang lagi-lagi memberikan tepukan di pundak Henry sebelum dirinya berdiri dari duduknya. Dimana ucapan itu membuat Henry mencebikkan bibirnya. Cukup dewasa kata Digo, padahal ia sudah sangat-sangat bersikap dewasa selama ini namun masih saja kurang di mata sahabatnya itu.


"Sekarang lebih baik kita ke kamar inap Monik. Katakan niatan kamu itu tadi setelah dia sadar. Bicarakan baik-baik dengan dia dan jangan bersikap kasar. Ingat dia tidak sendiri tapi ada anak kamu bersama dengan dia," ujar Digo.


"Ck, iya-iya aku juga tau tanpa kamu ingatkan jika janin itu milikku secara berulang-ulang," balas Henry kesal.


"Takut kamu lupa."


"Tidak akan," ujar Henry sembari berdiri dari posisi duduknya.

__ADS_1


"Baiklah-baiklah saya percaya denganmu," ujar Digo yang membuat Henry memutar bola matanya malas. Ia yakin, walaupun Digo berucap seperti itu nanti laki-laki itu pasti akan mengingatkan Henry kembali tentang janin itu. Kita lihat saja nanti. Dan setelah hal tersebut kedua laki-laki itu bergegas menuju ke ruang inap Monik dengan berjalan beriringan, tanpa memperdulikan beberapa tahapan penuh puja dari beberapa tamu rumah sakit ataupun suster maupun dokter yang sempat berpapasan dengan mereka. Sorry sorry nih ya kalau mereka boleh sombong mereka akan mengucapakan dengan lantang di hadapan para kaum hawa yang melihat mereka penuh puja jika mereka sudah memiliki pawang semua yang tentunya tidak akan bisa mereka duakan. Tapi karena berhubung mereka berdua rendah hati dan tak sombong mereka tidak akan melakukan hal itu dan memilih untuk fokus ke arah tujuan mereka.


__ADS_2