
Disisi lain, sudah satu jam lebih Digo dan yang lainnnya membantu mencari keberadaan asisten seorang perempuan yang sekarang bersama mereka.
"Harapan kita hanya ada di tempat itu saja. Jika tidak ada mungkin asisten nona sudah di bawa pihak polisi ke rumah sakit, mungkin untuk di otopsi," ucap Henry sembari menoleh kearah perempuan tadi yang berjalan di belakangnya tepat di samping Digo. Perempuan itu tampak menganggukkan kepalanya dengan lesu untuk menjawab ucapan dari Henry tadi.
Mereka terus melangkahkan kakinya menuju kearah perkumpulan orang-orang itu. Dan setelah mereka sampai Digo memerintahkan anak buahnya untuk membuka kain penutup jenazah yang berada di ujung beberapa orang yang terluka itu.
Dan saat penutup jenazah itu dibuka, jerit perempuan itu masuk kedalam indra pendengaran mereka semua yang ada disana.
"Petra!" teriak perempuan tersebut sembari berlari menuju kearah perempuan yang sudah terbujur kaku itu.
Ia memeluk jenazah yang kepalanya sudah penuh darah akibat tembakan itu.
"Petra bangun! Kita sudah janji bukan kalau aku sudah menyelesaikan pemotretan itu, kita akan jalan-jalan disini. Kita akan menikmati kebersamaan kita. Tapi kenapa hiks, kenapa kamu malah seperti ini. Ayo petra buka matamu!" jeritan demi jeritan perempuan itu berikan kepada jenazah tersebut. Tak urung ia juga menggoyang-goyangkan tubuh itu, mencoba membangunkan perempuan yang merupakan temannya sekaligus asisten pribadinya itu.
Sedangkan Digo, Henry dan beberapa anak buahnya tetap berdiri tegap dengan menatap kearah perempuan tersebut. Sebelum Digo kembali angkat suara.
"Cari barang-barang mereka sampai ketemu. Dan bantu pihak kepolisian mencari keberadaan kompolotan yang sudah berhasil mencuri beberapa barang pengunjung di bandara ini!" perintah Digo kepada kelima anak buahnya itu yang diangguki oleh mereka. Dan karena tak ingin mengulur waktu kembali, kelima laki-laki itu segera pergi bergabung bersama beberapa polisi yang sedang menindak lanjuti kejadian tadi. Dan sekarang tinggal lah Digo dan Henry yang menemani perempuan tersebut yang masih meraung-raung menangisi jenazah tersebut.
"Jika malam ini kita tidak menemukan barang-barang dia termasuk paspor. Apa yang akan kita lakukan kepada nona itu? Tidak mungkin kita mengirim dia kembali ke tempat asalnya jika paspor saja dia tidak punya. Jika kita mau mengurus paspor dia yang hilang pasti akan ribet dan memakan waktu lama secara dia saja juga tidak memegang KTP dia sekarang," ujar Henry yang membuat Digo terdiam sesaat untuk memikirkan nasib perempuan itu selanjutnya.
Digo menghela nafas sebelum ia akhirnya angkat suara.
__ADS_1
"Untuk sementara waktu kita bawa dia ke rumah. Jika semua barang-barang sudah ketemu kita akan membantu kepulangan dia," ujar Digo.
"Kamu yakin?" Digo menolehkan kepalanya kearah Henry sebelum ia menganggukkan kepalanya.
"Hmmm. Jika bukan ke rumah kemana lagi? Kamu mau meminjamkan kartu identitas kamu itu untuk memesan sebuah kamar hotel untuk dia? Kalau saya, tidak," ujar Digo yang langsung membuat Henry membelalakkan matanya sebelum ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku pun juga tidak akan meminjamkan kartu identitasku untuk memesankan kamar hotel untuk dia. Aku tidak mau nama baikku akan tercoreng dengan hal tersebut," ucap Henry.
"Jika kamu tidak mau, kenapa masih tanya tentang saya yakin atau tidak membawa perempuan ini ke rumah. Jika dia berani macam-macam sama kita nanti, tinggal bunuh saja apa susahnya." Henry tampak menggaruk tengkuknya dengan cengiran di bibirnya. Benar juga apa yang dikatakan bosnya itu. Tapi ia hanya heran saja setiap bosnya itu bertemu perempuan bernasib sial seperti perempuan yang mereka tolong ini ataupun bertemu dengan musuh perempuan selalu saja di bawa ke rumah miliknya. Jika terus-menerus seperti itu lama-lama rumah bosnya itu menjadi rumah bordil karena banyaknya penghuni wanita didalamnya ya walaupun mereka tidak memperjualkan tubuhnya berbeda dengan perempuan di rumah bordil pada umumnya. Tapi tetap saja membuat Henry tak habis pikir saja.
"Dan untuk jenazah itu gimana?" tanya Henry kembali.
"Jenazah itu biar di urus oleh pihak kepolisian. Jika memang pihak berwajib sudah memperbolehkan jenazah ini kita bawa, kita akan makamkan dia di sini. Karena kita tidak mungkin juga mengirim jenazah ini ke negara dia," ujar Digo yang diangguki oleh Henry.
"Apa anda tidak lelah menangis seperti ini nona?" Perempuan itu menoleh kearah Digo dengan wajah yang cukup memprihatinkan.
Digo menghela nafas kemudian tangannya bergerak untuk mengambil sebuah sapu tangan dari dalam jaket hitam yang ia kenakan saat ini lalu menyodorkan sapu tangan itu kearah perempuan tersebut.
"Hapus air mata anda, nona. Jika anda terus menangis seperti ini tidak akan pernah bisa merubah nasib asisten anda ini untuk hidup kembali. Dan mungkin dia yang sudah berada di atas sana turut bersedih karena melihat Nona terus menangis seperti ini. Lebih baik nona ikhlaskan dan doakan asisten anda ini. Biar dia tenang di alam sana," ujar Digo mencoba menenangkan perempuan disampingnya itu.
Perempuan itu tampak ragu-ragu menerima sapu tangan tersebut. Hingga karena Digo orangnya tak sabaran, tangannya bergerak menghapus air mata perempuan tersebut yang membuat perempuan itu mematung di tempat. Ia menatap lekat wajah Digo dari jarak yang cukup dekat. Hingga ia mengalihkan pandangannya saat ia merasakan tak ada usapan dari Digo kembali.
__ADS_1
"Sudah jangan menangis lagi. Dan anda tidak perlu khawatir tentang jenazah asisten anda ini. Saya akan membantu proses pemakamannya disini." Perempuan itu menolehkan kepalanya kearah Digo. Dan sebelum perempuan itu membuka bibirnya, Digo sudah lebih dulu berucap.
"Jika nona bertanya kenapa kita tidak mengirimkan dia ke negara anda? Kita akan memakan waktu yang lumayan lama karena kalian kehilangan seluruh berkas-berkas identitas anda. Jadi daripada jenazah ini dibiarkan membusuk di sini, jalan satu-satunya cara adalah mensetujui perintah saya tadi. Untuk penjelasan kepada keluarga asisten anda, saya akan bantu menjelaskan nanti jika semua barang-barang anda telah ketemu," ujar Digo yang diangguki oleh perempuan tersebut.
"Terimakasih atas kemurahan hati tuan yang mau membantu memakamkan jenazah asisten sekaligus teman saya ini," ucap perempuan tersebut yang hanya diangguki oleh Digo.
"Jika anda sudah setuju dengan hal itu. Lebih baik kita langsung pulang," ujar Digo yang membuat perempuan tersebut menolehkan kepalanya kembali kearah Digo.
"Pulang?" beo perempuan tersebut.
"Ya. Anda akan pulang bersama kita. Anda akan tinggal di rumah saya sampai semua barang penting anda sudah ketemu. Anda tenang saja, saya tidak akan melukai anda. Jadi anda tidak perlu khawatir akan keselamatan anda di negara ini terutama di rumah saya," jelas Digo. Perempuan itu tampak ragu untuk menerima tawaran dari Digo tersebut. Namun jika ia tak menerima tawaran itu, ia akan meneduh dimana? Tidak mungkin jika ia akan terus berada di bandara yang kondisinya masih belum aman itu. Jika ia ingin memesan hotel, ia tidak memiliki identitas dan tidak memiliki uang sepeserpun yang akan berakhir ia nanti di usir oleh pihak hotel dan mungkin setelahnya ia akan menjadi gelandangan di negara ini.
"Terima saja Nona. Kita tidak bisa lebih lama lagi menunggu keputusan anda karena kita harus segara pulang," tutur Henry.
Perempuan itu menatap Henry dan Digo secara bergantian kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Baiklah saya akan ikut dengan kalian. Sekali lagi terimakasih atas semua yang kalian lakukan kepada saya dan maaf karena saya banyak merepotkan kalian," ujar perempuan tersebut tak enak hati.
Digo dan Henry hanya menganggukkan kepalanya. Sebelum akhirnya keduanya kini berdiri dari posisi berjongkoknya tadi.
"Mari nona kita pergi sekarang dari sini," ucap Henry yang membuat perempuan itu menghela nafas berat. Namun tak urung ia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Petra. Saya pulang dulu. Kamu tenang disana ya. Pemakaman kamu akan segera dilakukan," ucap perempuan tersebut sembari mengelus tangan dingin asistennya itu sebelum dirinya dengan berat hati berdiri dari duduknya. Lalu ia mengikuti langkah kaki Digo dan Henry menjauh dari tempat jenazah asistennya tadi.