
Di sore harinya, Sheilla pergi mengunjungi kamar Monik untuk melihat keadaan dari perempuan tersebut dengan membawa nampan berisi makan malam Monik.
Setibanya Sheilla didepan pintu kamar Monik, tangannya terulur untuk mengetuk pintu kamar tersebut.
Tok tok tok!!!
"Monik, ini aku. Apa aku boleh masuk?!" teriak Sheilla.
Detik berubah menjadi menit namun tak ada balasan sama sekali dari Monik.
"Monik!" panggil Sheilla. Namun lagi-lagi tak ada balasan dari dalam kamar tersebut yang membuat Sheilla menjadi khawatir.
Persetan dengan kesopan-santunan, Sheilla bergegas masuk kedalam kamar tersebut. Biarkan saja jika Monik nanti marah dengannya karena sudah lancang masuk kedalam kamar tanpa di persilahkan terlebih dahulu oleh sang pemilik kamar.
Tatapan mata Sheilla langsung tertuju kearah ranjang saat dirinya sudah masuk kedalam kamar itu, dimana disana ia bisa melihat Monik tengah duduk termenung dengan tatapan kosong lurus menatap keluar dari jendela kamar tersebut. Entah apa yang membuat perempuan itu saat ini termenung, Sheilla juga tidak tau.
Sheilla menghela nafas kala menemukan Monik baik-baik saja didalam kamarnya. Dan kini ia berjalan mendekati perempuan tersebut.
Ia mendudukkan tubuhnya di samping tubuh Monik setelah nampan berisi makanan tadi ia taruh diatas nakas.
Tangan Sheilla bergerak untuk mengelus telapak tangan Monik yang terasa dingin itu.
"Monik," panggil Sheilla dengan sangat lembut.
Namun untuk kesekian kalinya panggilannya itu tak mendapat respon apapun dari perempuan itu.
"Monik heyyy. Jangan melamun seperti ini, tidak baik."
Sheilla sedikit menggoncangkan tubuh Monik hingga akhirnya perempuan itu tersadar dari lamunannya.
Monik tampak terkejut saat mendapati Sheilla didalam kamarnya itu.
"Nyonya," beo Monik yang membuat Sheilla menghela nafas panjang.
"Kamu kenapa ngalamun seperti tadi sampai-sampai kamu tidak dengar aku selalu memanggil nama kamu dan tidak sadar kehadiranku? Ada masalah? Kalau ada coba sini cerita sama aku. Siapa tau aku punya solusi untuk masalahmu itu," tawar Sheilla karena terlihat jelas raut wajah Monik tampak tertekan dengan kelopak mata yang membengkak, seperti habis menangis.
__ADS_1
Monik tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
"Saya baik-baik saja kok nyonya. Tidak ada masalah sama sekali yang tengah saya hadapi. Jadi nyonya tenang saja tidak perlu mengkhawatirkan saya," balas Monik.
"Kamu yakin?" Monik kembali menganggukkan kepalanya.
Sheilla yang melihat balasan dari Monik itu, ia hanya bisa mengambil nafas dan membuangnya dengan kasar. Jika Monik tidak mau memberitahunya tentang masalah yang tengah perempuan itu hadapi maka, Sheilla juga tidak akan memaksa Monik. Mungkin masalah yang tengah Monik hadapi saat ini tidak terlalu berat sehingga tidak membutuhkan bantuan orang lain untuk sekedar mendengarkan dan menjadi tempat keluh kesahnya atau bisa juga masalah Monik ini bersifat privasi, dimana orang luar seperti Sheilla ini tidak diperbolehkan tau, masalah itu, pikir Sheilla. Karena jujur saja, Sheilla tak percaya jika Monik saat ini baik-baik saja seperti yang perempuan itu katakan tadi.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi jika kamu mau curhat masalah apapun jangan segan-segan untuk mencariku dan tumpahkan segala keluh kesahmu itu kepadaku. Akan aku dengar semuanya dengan senang hati."
Monik tersenyum dengan anggukan kepalanya.
"Terimakasih atas tawarannya nyonya," ucap Monik yang diangguki oleh Sheilla.
"Oh ya gimana keadaanmu? Apa rasa mual kamu masih ada?" tanya Sheilla.
"Tidak, Nyonya. Rasa mual saya sudah tidak saya rasakan lagi, muntah juga sudah tidak," ujar Monik.
"Syukurlah kalau memang begitu. Yang penting jika rasa mualmu itu kembali kamu rasakan segera minum obat. Jangan sampai tubuhmu di buat lemah seperti tadi pagi. Dan sekarang kamu makan dulu ya. Kata bik Nah, tadi siang kamu pergi ke dapur hanya mengambil beberapa roti saja. Jadi walaupun ini masih pukul 4 sore kamu harus makan nasi yang banyak," ujar Sheilla dengan mengambil piring diatas nakas.
"Tidak perlu Nyonya. Biar saya makan sendiri," ucap Monik.
"Ya sudah ini, makan yang banyak ya. Dan---" Belum sempat Sheilla menyelesaikan ucapannya, teriakan menggelegar di depan pintu kamar Monik membuat dirinya menghentikan ucapannya itu.
"Sayang!"
Tanpa menebak-nebak sama sekali siapa orang yang sudah berteriak itu, Sheilla hanya bisa menghela nafas sebelum dirinya beranjak dari duduknya tadi.
"Monik, aku tinggal dulu ya. Kamu tidak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa kok nyonya," balas Monik yang tadi sempat terkejut dengan teriakan Digo.
"Ya sudah kalau begitu aku keluar dulu. Makanannya habisin oke karena sedari pagi perut kamu itu belum kamu isi dengan nasi," ujar Sheilla yang hanya diangguki oleh Monik.
"Sayang!" teriak Digo kembali yang membuat Sheilla tampak memejamkan matanya sesaat lalu menjawab teriakan dari sang suami itu, "Iya tunggu sebentar!"
__ADS_1
"Aku pergi dulu," ucap Sheilla yang ia tujukan kearah Monik. Dan setelah dirinya melihat anggukkan Monik, ia bergegas keluar dari kamar perempuan itu.
"Kamu kenapa sih teriak-teriak dari tadi?" tanya Sheilla kala dirinya telah keluar dari dalam kamar Monik.
"Gawat sayang gawat."
Sheilla memincingkan alisnya.
"Gawat kenapa?" tanya Sheilla.
"Gawat Mama telepon." Sheilla mendengus kala mendengar jika kepanikan Digo itu hanya gara-gara dirinya mendapat telepon dari sang Ibunda.
"Ya diangkat lah. Gitu saja kok panik," balas Sheilla dengan berjalan menjauh dari depan pintu kamar Monik karena ia tak ingin mengganggu sang pemilik kamar.
"Tapi kalau beliau nanti marah karena kita sudah meninggalkan negara Indonesia tanpa sepengetahuan beliau gimana?"
"Didengar." Digo mengerucutkan bibirnya kala mendengar saran dari sang istri itu.
"Kok didengar sih."
"Lha terus mau diapain? Kalau di marahi ya kita dengar saja. Toh mereka juga memarahi kita lewat telepon bukan secara langsung yang mungkin akan membuat telinga kita berdua nanti sakit. Jadi angkat saja, kalau mereka mau marah dengan kita ya tidak masalah. Biarkan mereka marah di sebarang sana, toh kita bisa tidak mendengarkan mereka dengan menaruh ponselmu itu menjauh dari kita berdua. Selagi sambungan telepon masih terhubung mereka yang ada di sana tidak akan tau jika kita tidak mendengarkan omelan dari Mama Ciara ataupun Bunda karena aku yakin, Bunda sekarang tengah berada di samping Mama Ciara untuk ikut memarahi kita berdua," ujar Sheilla yang masih berjalan menuju ke kamar ruang keluarga.
Digo tampak berpikir sesaat, mencerna semua ucapan dari Sheilla tadi sebelum sebuah senyuman terbit di bibirnya.
"Benar juga apa katamu. Istri aku memanggil pintar sekali," ucap Digo dengan memberikan usapan lembut di kepala Sheilla kala keduanya sudah duduk di satu sofa yang sama. Dimana usapan yang diberikan oleh Digo tadi membuat Sheilla tersenyum.
"Ya sudah tunggu apa lagi. Angkat gih." Digo menganggukkan kepalanya kemudian ia mulai mengangkat telepon dari sang ibunda tercinta.
Sedangkan disisi lain, tepatnya didalam kamar Monik, perempuan itu sedari tadi hanya memandangi makanan di pangkuannya saat ini. Ingin sekali ia makan, namun ia yakin saat makanan itu masuk kedalam mulutnya ia pasti akan muntah lagi dan lagi seperti tadi pagi. Tapi kalau dia tidak makan, ia akan menyiksa dirinya sendiri dan...
Ahhhh sudahlah, memikirkan tentang bayi yang ada di dalam kandungannya saat ini membuat Monik kembali bersedih dan terus menyesal bahkan menyalahkan dirinya sendiri yang sudah berbuat tak senonoh itu.
Monik menggelengkan kepalanya untuk menghalau pikirannya yang terus memikirkan apa yang akan ia lakukan dengan bayi didalam kandungannya saat ini. Karena terus terang saja semakin ia memikirkan hal tersebut, semakin dirinya pusing tujuh keliling.
"Aku coba makan saja. Siapa tau perutku sudah bisa menerima makanan ini," gumam Monik yang sudah tidak bisa menahan rasa laparnya itu.
__ADS_1
Monik kini menyendokkan makanan tadi kedalam mulutnya. Dimana harapannya itu langsung pupus kala perutnya kembali merasakan mual yang luar biasa. Dan tanpa menunggu lagi, Monik bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mengeluarkan kembali makanan yang baru beberapa menit tadi masuk ke dalam perutnya.