The Dark Love

The Dark Love
48. Ternyata Dia Seorang Maid


__ADS_3

Sheilla mengerucutkan bibirnya kala ia mengingat seberapa brutalnya Digo tadi menciumnya. Ya, ciuman yang ia pikir hanya kecupan biasa yang seperti laki-laki itu lakukan tadi malam, ternyata kali ini bukan sebuah kecupan saja melainkan sebuah ciuman yang sesungguhnya. Dan karena ulah dari Digo tadi membuat bibir Sheilla sedikit bengkak.


Sedangkan Digo, laki-laki itu justru tersenyum penuh kemenangan dengan tatapan mata terus tertuju kearah Sheilla yang tengah memilih beberapa baju untuk dirinya. Dan tatapan matanya kini beralih kearah bibir Sheilla yang terlihat begitu seksi untuknya.


"Jangan manyun seperti itu, Sheilla jika kamu tidak mau saya cium lagi," ujar Digo yang merasa gemas sendiri dengan kerucutan di bibir Sheilla.


Sheilla yang tak menampilkan senyum sedikitpun, ia mengalihkan pandangannya kearah Digo yang menampilkan senyum menyebalkan dimatanya. Ia menghela nafas kemudian dia kembali memilih pakaian itu dengan kasar. Sepertinya ia meluapkan kekesalannya kepada baju-baju yang tak bersalah itu.


Hingga beberapa saat setelahnya, Sheilla telah selesai dengan acara memilihnya dan ia segara membawa 10 paper bag ke dalam walk in closed yang ada didalam kamar tersebut dan segera menata baju-baju baru kedalam lemari baju disana.


Namun pergerakan tangannya terhenti saat ada sebuah tangan melingkar indah di pinggangnya. Dan tanpa menolehkan kepalanya sedikit pun ia sudah tau siapa pemilik dari tangan tersebut, mengingat bau parfum khas yang di miliki si pemilik tangan tersebut yang sangat familiar di hidungnya.


"Kamu marah dengan saya, Sheilla?" tanya orang tersebut yang tak lain adalah Digo.


Sheilla menghela nafas kemudian tangannya bergerak, mencoba untuk melepaskan tangan Digo dari perutnya.


"Tuan, jangan seperti ini," ucap Sheilla yang masih berusaha untuk melepaskan pelukan Digo tadi. Namun sayang, saat dirinya terus mencoba melepaskannya justru Digo semakin mengeratkan pelukan itu.


"Kenapa? Kamu tidak suka saya peluk?" Tanya Digo sembari menyelusupkan wajahnya di leher Sheilla yang membuat Sheilla memejamkan matanya kala nafas Digo menerpa leher jenjangnya.


"Tuan hentikan. Saya akan menyelesaikan pekerjaan saya dan akan mengantar baju-baju yang ada di luar itu untuk nona yang ada di kamar sebelah," ucap Sheilla yang sudah tak tahan dengan apa yang tengah Digo lakukan saat ini.

__ADS_1


"Biarkan bik Nah yang mengantar pakaian-pakaian itu untuknya. Kamu tetap disini saja dengan saya," ujar Digo dengan menggerakkan hidung mancungnya ke leher Sheilla yang membuat perempuan itu memekik tertahan.


"Sialan, Digo benar-benar laki-laki sialan. Apa dia pikir aku ini bukan perempuan normal yang jika diperlakukan seperti ini tidak terpancing?! Digo sialan!" umpat Sheilla didalam hati.


Sheilla yang sudah tak tahan dengan aksi Digo itu, dengan cepat ia menghentakkan kedua tangan Digo yang berada di perutnya saat laki-laki itu tengah lengah karena disibukkan dengan mencium leher jenjang Sheilla. Dan setelah pelukan itu terlepas Sheilla menjauhkan tubuhnya dari Digo.


Digo yang melihat hal tersebut pun ia berdecak sebal. Dan saking sebalnya ia memilih untuk pergi dari ruangan tersebut.


Sheilla yang melihat Digo sudah keluar dari ruangan walk in closed tadi pun ia menghela nafas lega. Dan setelahnya ia segera melanjutkan pekerjaannya tadi. Tak lupa ia juga menyempatkan diri untuk berganti pakaian dengan pakaian maid biasa karena setelah ia mengantar baju untuk perempuan yang tinggal di kamar sebelah, ia akan kembali bekerja.


Sheilla mengedarkan pandangannya keseluruhan sudut di kamar tersebut saat dirinya baru keluar dari ruang walk in closed tadi.


"Lho tuan kemana?" gumam Sheilla saat tak menemukan Digo di dalam kamar tersebut.


"Ehhh di dalam kamar mandi juga tidak ada? Terus kemana dia? Ahhhh mungkin dia lagi di ruang kerjanya," gumam Sheilla lalu setelahnya ia menggedikkan bahunya tak ingin memikirkan lagi dimana laki-laki yang akhir-akhir ini terlihat sangat mesum itu.


Dan daripadanya dia terus memikirkan kemana Digo berada, dia memilih untuk bergerak mengambil paper bag sisa yang akan ia bawa ke kamar sebelah. Namun ia dibuat bingung saat mendapati jumlah paper bag itu yang tak sesuai dengan jumlah yang ia hitung sebelumnya.


"Lho kenapa cuma ada 25. Harusnya kan jumlah paper bag disini tadi ada 40 karena aku tadi cuma ambil 10 paper bag. Jadi kemana 15 paper bag yang lain?" tanya Sheilla kepada dirinya sendiri sembari ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar tersebut hingga matanya berhenti di sofa di kamar tersebut.


"Itu dia," ucapnya. Lalu setelahnya ia berjalan mendekati 15 paper bag tadi.

__ADS_1


Tapi saat dirinya ingin mengambil barang tersebut, ada secarik note yang tertempel disalah satu paper bag disana.


Sheilla yang penasaran akan note tersebut, ia mengambilnya dan segera membaca tulisan di note tersebut.


"Jangan diambil dan jangan berikan ke siapapun barang-barang ini terutama ke perempuan itu. Jika kamu melanggar berati kamu siap menyerahkan tubuh kamu seutuhnya kepada saya!"


Sheilla bergidik ngeri setelah membaca note tersebut. Dan karena ia tak mau jika tubuhnya dipertaruhkan hanya karena 15 paper bag tadi. Ia memilih untuk menempelkan kembali note tadi dan dengan cepat ia berlari menuju ke 25 paper bag yang lain yang masih tergeletak di lantai. Dan dengan cepat ia segera keluar dari kamar tersebut yang pintunya sengaja tidak tertutup sempurna oleh Digo agar Sheilla bisa keluar dari sana. Dan setelah Sheilla keluar dengan membawa ke 25 paper bag tadi, ia menutup rapat pintu tersebut hingga menimbulkan suara terkunci otomatis. Kemudian ia bergegas berjalan mendekati kamar perempuan yang kemarin malam dibawa oleh Digo.


Sheilla menaruh beberapa paper bag ke lantai sebelum dirinya mengetuk pintu kamar tersebut.


Tok tok tok!


"Permisi nona. Saya mau mengantarkan baju untuk Nona!" teriak Sheilla sembari terus mengetuk pintu kamar tersebut kala ia tak mendengar jawaban dari dalam.


Sedangkan perempuan yang ada di dalam kamar itu kini ia berdecak sebal karena acara tidurnya harus terganggu dengan suara ketukan pintu yang terus menerus terdengar.


"Ck, siapa sih. Ganggu banget," gerutunya. Namun tak urung Vina kini berjalan mendekati pintu tersebut lalu membukanya.


Betapa terkejutnya dia saat melihat ada seorang perempuan yang ia lihat tadi pagi keluar dari kamar Digo dengan laki-laki itu, kini perempuan itu telah berdiri dihadapannya dengan senyum manis yang tercetak di bibir Sheilla. Tapi keterkejutan Vina tak berhenti disitu, ia kembali terkejut saat melihat pakaian maid terpasang rapi di tubuh Sheilla. Tapi tak hayal dibalik keterkejutannya itu, ia diam-diam tersenyum melihat tampilan Sheilla dari atas sampai bawah.


"Ohhhh ternyata dia seorang maid di rumah ini," batin Vina yang sepertinya ia sudah tak penasaran lagi tentang hubungan Digo dan Sheilla.

__ADS_1


Toh saat dirinya tadi melihat Sheilla keluar dari kamar laki-laki itu, perempuan yang ada di hadapannya saat ini membawa nampan yang ia berikan kepada Digo tadi. Dan kemungkinan Sheilla datang ke kamar itu untuk diminta tolong oleh Digo untuk membereskan alat makanan didalam kamarnya. Dan untuk perkataan dari salah satu maid yang ia temui tadi tentang Sheilla yang ikut pergi bersama Digo, mungkin Sheilla memang di suruh untuk menjadi asisten dadakan laki-laki itu agar apa yang ia inginkan tak perlu repot-repot dirinya sendiri kerjakan, pikir Vina dengan hati yang sekarang sudah mulai tenang kembali saat dirinya melihat jika perempuan yang bersamaan dengan Digo ternyata adalah salah satu maid di mansion ini.


__ADS_2