
"Dear," panggil Sheilla saat mobil Digo sudah membelah jalanan.
"Hmm?" dehem Digo untuk menimpali ucapan dari Sheilla tadi.
"Hemmm sepertinya saya berubah pikiran." Digo yang sedang menyetir pun ia kini mengalihkan pandangannya kearah Sheilla sesaat.
"Maksud kamu?" tanyanya dengan menatap kembali kearah jalanan.
"Sepertinya kita tidak usah jalan-jalan siang ini. Kita keluar cari makan saja habis itu kita langsung balik lagi ke kantor kamu. Dan lebih baik jalan-jalannya kita undur saat kamu libur saja. Dan sepertinya jalan-jalan di malam hari lebih menarik dari pada di siang-siang seperti ini. Gimana kamu setujukan?" ucap Sheilla. Sebenarnya ia tak masalah jika jalan-jalan di siang hari. Tapi berhubung Digo tadi meninggalkan banyak sekali perkejaan, Sheilla menjadi merasa tak enak hati jika mengikuti ide dari Digo tadi. Mungkin rasa bosannya akan hilang setelah selesai mereka jalan-jalan. Tapi setelah itu Digo pasti akan di sibukkan dengan pekerjaannya. Jika seperti itu, Sheilla merasa tak adil saja. Masa iya dia bahagia di bawah derita kekasihnya sendiri yang masih memiliki tanggungjawab yang bergitu besar. Jadi jika Digo menderita karena pekerjaannya, maka Sheilla juga harus menderita karena rasa bosannya itu.
Digo kembali mengalihkan pandangannya kearah Sheilla sesaat sebelum tangan kanannya kini bergerak untuk mengelus rambut Sheilla.
"Baiklah, apapun mau mu sebisa mungkin akan saya turuti," ujar Digo dengan senyum di bibirnya dan hal tersebut membuat Sheilla juga tersenyum.
"Terimakasih," ucap Sheilla yang membuat Digo menganggukkan kepalanya.
"Jadi kita hari ini akan makan saja?" tanya ulang Digo memastikan, siapa tau Sheilla berubah pikiran lagi.
"Iya kita hari ini keluar buat makan saja. Tapi nanti setelah makan mampir ke supermarket dulu ya," pinta Sheilla.
"Mau apa ke supermarket?" tanya Digo penasaran.
"Hmmmm sebenarnya mau beli kebutuhan pribadi sih tapi pakai uang kamu dulu ya. Saya pinjam. Nanti kalau saya sudah memiliki uang, akan saya kembalikan uang yang akan saya gunakan hari ini," ucap Sheilla.
Digo mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Ambilkan dompet saya di saku jas saya, Honey," perintah Digo yang langsung di turuti oleh Sheilla.
Dan setelah Sheilla mendapatkan dompet tebal itu, ia langsung menyerahkannya kepada Digo.
Digo segera menepikan mobilnya sebelum dirinya menerima dompetnya tadi dari tangan Sheilla.
"Pakai kartu ini. Belanja semau kamu. Jangan anggap uang yang keluar dari kartu ini sebagai hutang. Karena mulai saat saya memilih kamu menjadi kekasih saya berarti kamu menjadi tanggungjawab saya sepenuhnya. Dan kartu itu sekarang milik kamu. Gunakan untuk membeli apapun yang kamu inginkan," ucap Digo dengan menyerahkan satu kartu berwarna hitam legam itu ketangan Sheilla.
Sheilla yang tau jika kartu yang ada di tangannya saat ini bukanlah kartu sembarangan pun ia menatap Digo dan kartu itu secara bergantian.
"Kamu tidak salah mengambil kartu?" tanya Sheilla yang masih tak percaya dengan kartu yang baru saja Digo berikan kepadanya itu.
Digo menatap kartu yang berada ditangan Sheilla itu kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Saya tidak mau kartu ini," ucap Sheilla dengan menarik tangan Digo lalu menyerahkan kartu tersebut ke tangan laki-laki itu kembali.
"Lho kenapa?" Sheilla tetap menggelengkan kepalanya.
"Itu black card, Dear." Digo mengerutkan keningnya.
"Ya terus?" beo Digo.
"Kamu masih tanya ya terus? Astaga demi apapun, saya tidak paham dengan apa yang ada di otak kamu saat ini, Dear. Kartu ini kartu yang sangat langka. Tidak semua orang punya. Ini juga kartu yang nilainya tak terbatas. Dan kamu malah menyerahkannya kepada saya? Dengar baik-baik, Dear. Saya ini hanya kekasihmu. Tidak pantas jika harus menerima kartu itu dari kamu," ujar Sheilla.
"Kata siapa tidak pantas. Kamu sudah sangat pantas menerima ini, Honey. Jadi jangan menolak lagi. Masukkan kartu ini ke dompet kamu sekarang juga," ucap Digo yang membuat Sheilla langsung mendekap tas kecilnya itu agar Digo tak seenaknya menaruh kartu langka itu kedalam tasnya.
__ADS_1
"Tidak. Saya tetap tidak mau kartu itu. Kalau kamu memang berniat mau memberi saya salah satu kartu kamu, beri kartu yang biasa saja. Jangan yang itu," ujar Sheilla.
Digo menghela nafas.
"Saya heran dengan kamu. Biasanya perempuan manapun jika di kasih kartu ini mereka akan dengan senang hati menerimanya. Tapi kenapa kamu berbeda. Bukannya senang malah kayak orang yang lihat setan saat melihat dan memegang kartu ini. Dan malah memilih kartu biasa," ucap Digo sembari memasukkan kembali kartu black card-nya tadi kedalam dompetnya lalu setelahnya ia mengeluarkan satu kartu dengan limit 1 M kemudian menyerahkan ke tangan Sheilla.
"Ambil kartu itu dan jangan protes lagi. Jika kamu masih saja protes, akan saya unboxing kamu disini saat ini juga," ucap Digo dengan memberikan ancaman kepada Sheilla. Karena ia tau jika ia tak memberikan ancaman kepada sang kekasih, Sheilla pasti akan tetap menolaknya dan meminta untuk memberikan kartu yang nilai limitnya semakin kecil lagi.
"Ck, tidak seru ih mainnya ancaman," ucap Sheilla dengan kerucutan di bibirnya. Ia merasa kalah telak jika Digo mengucapakan ancamannya itu. Karena Sheilla tau jika Digo sudah mengancam berarti ia harus tetap diam jika tak mau apa yang sudah di ucapkan oleh laki-laki itu menjadi kenyataan.
"Saya tidak perduli, Honey. Jadi jangan ngomel lagi. Segera masukkan kartu itu kedalam dompet kamu karena sebentar lagi kita akan sampai di restoran," ucap Digo. Ya, sesaat setalah Digo menyerahkan kartu dengan limit 1 M tadi, ia langsung menjalankan mobilnya kembali.
Dan ucapan dari Digo itu membuat Sheilla berdecak sebal tapi tak urung tangannya bergerak untuk memasukkan kartu tersebut kedalam tasnya.
Sepeti yang di ucapan Digo tadi, hanya butuh waktu 5 menit mereka berdua kini telah sampai di salah satu restoran di negara tersebut.
"Kamu mau duduk dimana? Di luar atau di dalam?" tanya Digo yang membuat mata Sheilla kembali menatap kearahnya.
"Sepertinya makan di luar dengan melihat orang-orang yang sedang jalan-jalan enak kali ya," ucap Sheilla yang sedari tadi menatap kearah sekelilingnya yang di penuhi dengan orang yang tengah berlalu lalang karena kebetulan restoran yang tengah mereka kunjungi saat ini berdekatan dengan salah satu tempat wisata bagi turis ataupun bagi warga asli negara tersebut. Dimana tempat wisata itu bernama Place De La Concorde yang merupakan sebuah alun-alun terbesar di Paris, Prancis. Destinasi yang memiliki air mancur dan obelisk setinggi 23 meter. Dan tempat itu juga merupakan tempat dimana Louis XVI dan Marie Antoinette dieksekusi saat revolusi Prancis di tahun 1793.
Digo yang mendengar jawaban dari Sheilla tadi ia kini menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Kamu tunggu disini. Saya masuk dulu kedalam untuk memesan makanan sebentar," pamit Digo yang diangguki oleh Sheilla. Dan dengan mengelus rambut Sheilla sesaat Digo kini masuk kedalam restoran tersebut meninggalkan Sheilla yang tengah tersenyum karena akhirnya ia bisa melihat suasana negara yang sudah selama 1 bulan lebih ia tinggali ini.
__ADS_1