The Dark Love

The Dark Love
87. Aksi Monik


__ADS_3

Setelah permintaan maaf yang kelewat sweet tadi, Digo memutuskan membawa Sheilla pulang. Toh 1 jam lagi waktunya pulang kantor. Dan sesampainya di mansionnya ternyata disana sudah ada Henry yang tengah duduk manis di ruang tamu dengan ponsel di tangannya. Tapi saat Digo dan Sheilla masuk, ia langsung mengalihkan pandangannya kearah dua sejoli tadi sebelum sebuah senyuman terukir di bibirnya saat dirinya melihat senyum diam-diam dari Digo.


Digo dan Sheilla kini mendekati Henry dengan tangan yang saling tergenggam satu sama lain agar semua orang di mansion tersebut terutama para anak buahnya tau jika Sheilla sekarang sudah menjadi milik Digo seorang.


"Gimana dengan pertemuan tadi?" tanya Digo sembari duduk di sofa, berhadapan langsung dengan Henry. Jangan lupa tangannya yang tadi ia gunakan untuk menggenggam tangan Sheilla, kini berpindah menjadi memeluk pinggang Sheilla posesif dan hal tersebut membuat Henry yang melihat semua kejadian itu ia menghela nafas. Ia sangat senang saat sepasang sejoli itu berbaikan, tapi tidak harus mengumbar kemesraan di hadapan Henry juga kali! Henry kan jadi iri.


"Semuanya berjalan lancar. Proyek yang mereka tawarkan untuk bekerja sama dengan perusahaan kita cukup bagus. Persentase keuntungan yang mereka berikan pun sangat tinggi. Dan jika proyek itu gagal tidak akan membuat perusahaan kita rugi," jelas Henry yang membuat Digo menganggukkan kepalanya.


"Baik. Saya serahkan proyek itu kepadamu. Tangani dan awasi perusahaan itu. Pastikan juga jika proyek itu berjalan dengan lancar. Jika ada kecurangan yang perusahaan itu lakukan, langsung putus hubungan kerjasama antara perusahaan kita dan perusahaan mereka. Buat mereka gulung tikar saat itu juga," ucap Digo yang membuat Sheilla langsung menolehkan kepalanya kearahnya.


"Apa itu tidak keterlaluan? Sepertinya hanya memutus hubungan kerjasama saja sudah sangat merugikan bagi mereka dan sekaligus sudah memberikan pihak mereka pelajaran yang setimpal," timpal Sheilla.


"Semuanya tidak ada yang namanya keterlaluan, Honey. Jika mereka berani bermain licik maka itulah konsekuensi yang akan mereka dapatkan," ucap Digo sembari mengelus pipi Sheilla yang lagi-lagi membuat Henry menghela nafas panjang lalu ia mengalihkan pandangannya kearah lain.


Dan tanpa mereka ketahui, di samping tangga ada seseorang yang tengah mengintip kegiatan mereka dan orang tersebut adalah Vina. Perempuan itu mengepalkan tangannya saat melihat keromantisan yang Digo dan Sheilla sajikan di ruang tamu tersebut.


"Sialan," umpatnya dengan suara lirih dengan tangannya memukul-mukul besi pembatas tangga tersebut dengan pelan.


"Perasaan hari ini cuacanya dingin deh. Tapi kenapa ada satu orang yang seperti cacing kepanasan sih?" Suara yang muncul di belakang tubuh Vina membuat dirinya kini menolehkan kepalanya kearah belakang dimana disana terdapat seorang maid yang sangat-sangat Vina benci selain Sheilla.


"Panas ya Nona? Kasihan. Mau saya ambilkan satu baskom es batu?" tawar maid tersebut yang tak lain adalah Monik dengan senyum miringnya.


Dan hal tersebut membuat Vina geram setengah mati hingga tanpa Monik sadari jika tangan Vina kini bergerak hingga berakhir mendarat di pipi kirinya.


Plakkkk!

__ADS_1


Monik terkejut atas aksi Vina itu. Ia kini memegang pipinya dan dengan sorot mata yang berubah menjadi tajam, ia menatap Vina yang sekarang justru tengah tersenyum dengan kedua tangan menyilang di depan dadanya.


"Ututututu, pipinya panas ya? Kasihan. Mau saya ambilkan es batu untuk mengompresnya?" ucap Vina membalik ucapan Monik tadi.


Monik melepas tangannya yang ia gunakan untuk memegang pipinya tadi. Dan dengan emosi yang sudah terpancing, Monik menggerakkan tangannya hingga...


Plakkkk!


Tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Vina sebagai balasan atas apa yang dilakukan oleh perempuan itu tadi kepada Monik. Dan hal tersebut benar-benar membuat Monik tersenyum senang.


"Ups, maaf, tangan saya memang sangat suka menampar perempuan yang memiliki bibit-bibit pelakor seperti anda ini," ucap Monik yang membuat Vina semakin geram saja.


"Kamu!" kata Vina sembari menunjuk tepat di wajah Monik.


Monik menatap jari telunjuk Vina itu. Lalu setelahnya, ia menggenggam erat jari telunjuk tersebut kemudian ia sedikit memberikan tekanan di jari itu.


"AWS! Tolong jangan sakiti saya!" teriak Vina begitu nyaring hingga terdengar ke seluruh mansion tersebut.


Dan hal tersebut bukannya membuat Monik takut, ia justru semakin mengeratkan genggamannya di jari telunjuk Vina itu.


Sedangkan disisi lain, semua maid dan anak buah Digo berbondong-bondong menuju ke sumber suara.


Digo, Sheilla dan Henry pun mereka saling pandang sebelum mereka bertiga ikut bergabung dengan para maid dan para anak buah Digo tadi. Semua orang yang melihat kedatangan ketiga orang tadi pun langsung memberikan jalan kepada mereka hingga akhirnya ketiga orang itu kini telah sampai di depan.


"Ada apa ini?!" ucap Henry membuat Vina langsung menatap kearahnya sedangkan Monik, ia masih menatap tajam kearah Vina.

__ADS_1


"Hiks tolong, ini sangat sakit sekali. Aku tidak tau dia kenapa. Dia tadi tiba-tiba menyerangku seperti ini," adu Vina dengan air mata buayanya yang justru membuat Digo tak percaya sama sekali.


"Monik," panggil Digo yang kini membuat Monik menatapnya tanpa melepaskan tangannya itu.


"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi!" perintah Digo.


"Dia mengintip dan menguping pembicaraan tuan," jawab Monik.


"Bohong. Hiks apa yang dia katakan bohong. Jangan percaya dengan ucapan dia itu. Aku tidak mengintip ataupun menguping pembicaraan kamu, Digo. Aku tadi hanya kebetulan lewat dan tiba-tiba aku diserang dia. Dia gila Digo, dia gila," ucap Vina. Namun sayangnya hanya dianggap angin lalu oleh Digo. Laki-laki itu justru masih menatap lekat kearah Monik tanpa melirik sedikitpun kearah Vina.


"Apa karena itu kamu menyerangnya?" tanya Digo lagi yang diangguki oleh Monik.


"Tapi tidak hanya itu juga. Dia sempat menampar saya setelah saya memergoki dia tadi," ujar Monik.


"Terus? Kamu tampar balik?" timpal Henry penasaran.


"Ya. Saya tampar balik dia dan mungkin karena dia tidak terima saya tampar balik, dia menunjuk wajah saya dengan jari busuknya ini. Saya paling tidak suka ada orang yang menujuk wajah saja dengan jari telunjuk mereka dan jika orang itu melakukannya saya tidak akan segan-segan melukai jari telunjuknya seperti yang saya lakukan kepada dia saat ini," jawab Monik sangat detail dan hal tersebut justru membuat Henry dengan reflek mengacungkan kedua jari jempolnya kearah Monik dengan senyum bangganya.


"Good job, Monik. Lanjutkan karena saya suka permainanmu ini," ujar Henry yang membuat orang-orang disana termasuk Vina melongo tak percaya, kecuali Digo dan Monik sendiri.


"Apakah Henry masih waras, Dear?" tanya Sheilla dengan suara lirihnya.


"Tenang saja Honey, dia masih sangat waras. Hanya saja dia dan Monik memang satu frekuensi, mereka sama-sama menyukai kekerasan. Jadi ya begitulah tingkah mereka berdua," jawab Digo yang hanya bisa diangguki oleh Sheilla. Sebenarnya ia tak perlu heran jika banyak orang di mansion ini sangat menyukai kekerasan karena semua penghuni mansion itu kecuali bik Nah adalah mantan pembunuh bayaran dari yang tingkat rendah hingga yang paling sadis sekalipun. Dan salah satu pemegang mantan pembunuh yang paling sadis yang tinggal di mansion itu adalah Monik. Perempuan yang dulu diperintahkan oleh salah satu mafia terbesar di Paris untuk membunuh Digo karena merasa tersaingi tapi ternyata Digo bisa mengalahkan kawanan mafia itu dan berhasil menaklukkan di pembunuhan paling sadis tersebut yang sekarang berada di bawah kendalinya.


Digo kini mengalihkan pandangannya kearah Henry, ia menepuk pundak tangan kanannya itu dan setelah Henry menatapnya juga, ia baru angkat suara.

__ADS_1


"Lakukan yang seharusnya kamu lakukan. Jika terjadi sesuatu dengan perempuan itu segara panggil Diana atau Shofie. Saya ke atas dulu," ucap Digo lalu ia menepuk dua kali pundak Henry sebelum dirinya meninggalkan kerumunan orang-orang yang tengah melihat aksi Monik tersebut tentunya bersama sang kekasih yang hanya pasrah saja di tuntun menjauh dari kerumunan tadi. Walaupun sebenarnya Sheilla masih ingin tau kelanjutan aksi Monik itu.


__ADS_2