
Sheilla yang tak kunjung mendengarkan jawaban dari sang nenek itu pun ia diam-diam mengepalkan tangannya, ia benar-benar takut jika ucapan Shinta waktu itu memang benar adanya.
"Nek," panggil Sheilla dengan suara yang sangat lembut. Bahkan tangannya kini juga bergerak untuk mengusap tangan sang nenek. Hingga usapan yang dia berikan itu membuat neneknya mengerjabkan matanya.
"Ya nak, kenapa?" tanya wanita tua tersebut.
"Nenek tidak mendengar ucapan Sheilla tadi?" Sang nenek menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah Sheilla akan mengulangi perkataan Sheilla tadi jika Sheilla ingin melihat foto Sheilla saat masih bayi. Fotonya ada disini juga kan nek?" tanya ulang Sheilla.
"Anu itu nak---"
"Ada kan? Kalau ada Sheilla akan mencarinya sendiri disini," ucap Sheilla dengan mengambil album foto yang tadi berada di pangkuan neneknya itu. Dan saat sang nenek ingin meraih album tersebut, Sheilla bergegas membawa album tersebut pergi.
"Sheilla kembalikan album itu nak. Foto kamu tidak ada disitu tapi ada di album lain," ucap sang nenek yang membawa Sheilla menghentikan langkahnya itu.
"Di album lain yang mana? Sheilla akan mengambilnya. Pasti album itu ada di kamar nenek kan. Baiklah Sheilla akan kesana sekarang juga dan saat Sheilla mendapatkan album foto yang didalamnya ada foto bayi Sheilla, Sheilla akan membawanya ke nenek dan nenek ceritakan masa kecil Sheilla ya," ujar Sheilla yang langsung berlari menuju ke kamar neneknya tanpa menunggu persetujuan dari neneknya itu terlebih dahulu.
Dimana aksi Sheilla itu membuat sang nenek dengan cepat berdiri dari duduknya dengan berucap.
"Sheilla. Di kamar nenek tidak ada album itu. Jadi hentikan, jangan masuk ke kamar nenek!" teriaknya namun seolah Sheilla menulikan pendengarannya itu.
Gadis tersebut terus berjalan dengan air mata yang entah sejak kapan sudah membasahi pipinya itu. Dan sesampainya dia di dalam kamar neneknya, bukan bermaksud untuk kurang ajar dan menghilangkan sopan santunnya, Sheilla terpaksa harus mengunci pintu kamar tersebut dari dalam.
__ADS_1
"Maafkan Sheilla, nek, Sheilla harus bersikap kurang sopan kepada nenek. Tapi izinkan Sheilla melakukannya karena Sheilla ingin membuktikan ucapan Shinta itu benar atau salah," gumam Sheilla. Lalu setelahnya, barulah ia berjalan menuju ke arah lemari baju neneknya itu, mencari apapun yang sekiranya mencurigakan untuknya.
Sedangkan disisi lain tepatnya di depan pintu kamar itu, nenek Sheilla terus mengetuk pintu kamarnya dengan perasaan yang campur aduk.
"Sheilla, buka pintunya nak. Foto saat Sheilla bayi tidak ada disitu," ucap nenek Sheilla dengan menggedor pintu tersebut. Dimana gedoran yang ia lakukan itu membuat para pekerja di rumah tersebut langsung berlari menuju ke sumber suara yang mereka dengar.
"Nek, ada apa?" Tanya bik Suri mewakili beberapa orang yang tengah berdiri dibelakang nenek Sheilla tersebut yang juga tengah penasaran dengan apa yang sedang terjadi itu.
"Sheilla ada di kamar nenek, nak. Dia mengunci dirinya di dalam kamar ini," ucap nenek Sheilla dengan air matanya. Ia benar-benar takut jika Sheilla menemukan sesuatu yang selama ini ia rahasiakan itu.
"Hah, nyonya Sheilla mengurung diri didalam kamar? Tuan Digo apa sudah mengetahuinya?" tanya bik Suri.
Nenek yang baru menyadari mungkin dengan meminta bantuan Digo, mereka bisa membujuk Sheilla untuk keluar dari kamar tersebut.
Dan setelahnya, salah satu anak buah Digo itu berjalan menuju ke kamar Digo yang jaraknya lumayan jauh dari kamar nenek Sheilla tadi.
Saat mereka di luar sana lagi heboh, Sheilla terus saja mencari bukti itu. Tapi sudah satu lemari yang ia periksa tapi dia tidak menemukannya.
"Dimana nenek menyimpan fotoku?" gumam Sheilla dengan mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan kamar tersebut hingga matanya tak sengaja melihat kearah atas lemari tersebut. Dimana di atas sana terlihat ada sebuah box berwarna hitam.
"Box apa itu?" tanya Sheilla pada dirinya sendiri. Dan karena rasa penasarannya akan isi didalam box tersebut, dengan bergerak gesit, Sheilla berjalan mengambil kursi rias di kamar tersebut yang akan ia gunakan untuk pijakan dirinya agar ia bisa mengambil box tersebut.
Dan dengan hati-hati Sheilla menaiki kursi tadi lalu setelah ia berhasil berdiri tegak di atas kursi tersebut, barulah tangannya kini terulur untuk mengambil box tersebut yang tampak sangat berat sekali.
__ADS_1
"Astaga. Box ini kenapa berat sekali," gumam Sheilla namun ia masih berusaha untuk menurunkan box tersebut secara perlahan. Hingga usahanya itu akhirnya berhasil setelah ia turun dari atas kursi itu dan juga sudah berhasil menaruh box tadi diatas ranjang sang nenek.
Sheilla menelisik box tersebut yang terlihat sedikit usang itu. Sebelum dirinya membuka tutup box tersebut dimana Sheilla langsung bisa melihat banyaknya benda-benda disana. Salah satunya adalah album foto, kotak kecil berwarna ungu, baju anak-anak dan beberapa bando yang ia yakini milik dirinya atau kalau tidak ya milik Shinta. Tapi bando dan baju anak-anak itu ia kesampingkan terlebih dahulu dan dirinya memilih untuk langsung mengambil kotak kecil yang menarik perhatiannya saat penutup box tadi baru ia buka.
Dan dengan segara ia membuka kotak kecil berwarna ungu tersebut.
Ia mengerutkan keningnya saat ia melihat isi didalam kotak tersebut yang ternyata adalah sebuah kalung yang sangat tak asing baginya.
Ia mengambil lalu mengecek kalung tersebut.
"Al & Yura. Benar kan tebakkanku tadi jika kalung ini mirip dengan kalung milik Digo yang sempat di perlihatkan ke aku waktu itu. Ya Tuhan tapi kenapa kalung ini ada disini?" Tanya Sheilla menjadi bingung sendiri jadinya.
"Dan kata Digo waktu itu didalam liontin ini ada sebuah foto dirinya dan Yura. Dan aku sampai saat ini belum melihat foto Yura. Aku juga penasaran ingin melihat foto Sahabat masa kecil Digo itu. Tapi sepertinya untuk saat ini aku pending lagi untuk melihat wajah Yura. Karena urusanku untuk mencari foto masa kecilku harus aku dapatkan terlebih dahulu," gumam Sheilla. Kemudian setelahnya ia bukannya menaruh kalung itu kembali ke tempatnya semula, Sheilla justru mengantongi kalung itu di saku celananya. Sedangkan kotak tadi ia biarkan berada di box tersebut.
Dan setelahnya, barulah ia mengambil album foto yang berada disana.
Dengan menghela nafas panjang ia perlahan membuka halaman perhalaman di album foto tersebut yang berisi foto seorang balita yang sangat-sangat cantik.
"Apakah ini foto masa kecilku?" tanya Sheilla pada dirinya sendiri. Dengan tangannya yang terus membalik album foto itu dan benar saja semakin belakang ia membuka album foto tersebut, meyakinkan dirinya jika album itu memang khusus untuk foto-foto dirinya.
"Semua di album fotoku ini kenapa aku hanya foto sendirian. Kenapa ayah dan ibu tidak pernah berfoto bersamaku. Ahhh atau mungkin foto kita bertiga ada di bagian belakang kali ya. Aku akan melihatnya," ucap Sheilla dengan membuka langsung pada halaman terakhir dari album foto tersebut.
Namun bukannya ia melihat foto dirinya dengan kedua orangtuanya yang ia kenal, melainkan dengan dua orang asing tapi sekarang sangat ia kenal itu. Dan hal tersebut membuat Sheilla mematung di tempatnya.
__ADS_1