
"Tidak. Aku tidak mau pergi dari mansion ini karena orang yang ada di video itu bukan aku, Digo. Aku tidak pernah melakukan hal menjijikan itu. Kamu tolong percaya sama aku," ucap Vina yang masih menyangkal.
"Kenapa kamu sangat yakin jika Video yang aku perlihatkan ke kamu itu editan?" timpal Sheilla.
"Karena aku memiliki sebuah tato di punggungku dan laki-laki yang bermalam bersamaku tadi malam juga memiliki sebuah tato di kedua lengannya. Dan di video yang kamu tunjukkan tadi, tidak ada tato-tato itu yang berarti itu editan. Itu tidak benar," ujar Vina yang membuat Sheilla dan Digo tersenyum miring.
"Begitu kah?" Tanpa ragu Vina menganggukkan kepalanya.
"Jika begitu, selamat kamu sudah mengakui jika tadi malam kamu memang melakukan hal menjijikan itu. Dan ucapanmu itu benar sekali jika video yang aku perlihatkan ke kamu tadi bukan video milik kamu tapi milik orang lain. Dan bagaimana dengan video ini. Orang yang ada di video ini kamu kan?" ucap Sheilla dengan menyodorkan ponselnya kembali ke hadapan Vina dimana ia sudah memutar video asli Vina. Ya, video yang di perlihatkan Sheilla pertama kali tadi, video itu bukan milik Vina tapi milik orang lain yang Sheilla dan Digo ambil random dari sebuah web. Dan video yang ia putar ini adalah video asli dari seorang anonim yang mengirimkannya ke ponsel Sheilla maupun Digo. Dan video asli yang keduanya miliki sama dengan video yang tengah beredar di dunia maya.
Vina yang baru menyadari jika dirinya keceplosan pun ia merutuki kebodohannya itu didalam hatinya. Sebelum teriakan Digo kini terdengar dan membuat dirinya langsung tersadar kembali.
"Wil, Sam... Kemari!" teriak Digo menggema.
Dan tak berselang lama, dua orang bodyguard yang dipanggil oleh tuan mereka pun mendekati Digo.
"Ya tuan?" tanya keduanya saat sudah menghadap ke Digo.
"Seret wanita benalu ini keluar dari mansion ini!" perintah Digo dengan menunjuk kearah Vina.
Vina yang mendengar perintah dari Digo pun ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak. Digo, apa yang kamu katakan itu? Aku tidak mau pergi dari sini. Aku tidak mau," ucap Vina saat dua bodyguard itu mulai memegangi lengannya itu.
__ADS_1
"Lepas. Jangan menyentuhku!" teriak Vina.
"Mohon kerjasamanya Nona," ucap bodyguard tersebut yang mulai menyeret Vina keluar dari mansion tersebut.
"Tidak, aku tidak mau. Lepas! Digo, aku mohon tarik kembali perkataanmu itu. Jangan usir aku dari sini. Aku bisa menjelaskan semuanya kepadamu. Arkhhhh lepas sialan!" umpat Vina dengan memberontak. Namun sayang bukannya saat dirinya memberontak, cekalan dari dua laki-laki berbadan besar itu lepas dari lengannya justru cekalan tersebut malah semakin erat hingga membuat lengan Vina terasa begitu sakit.
Sedangkan Digo dan yang lainnya yang mendengar ucapannya tadi, mereka hanya melihat kepergiannya itu tanpa berniat menolongnya.
Hingga saat dirinya sampai di depan gerbang, gerbang tersebut terbuka dan memperlihatkan sebuah mobil yang akan masuk kedalam area mansion tersebut.
Dan saat mobil itu sudah berhenti serta orang yang ada di dalam mobil itu keluar, ia langsung berjalan mendekati Digo.
"Apa yang sedang terjadi?" tanya orang tersebut penasaran kala dirinya telah bergabung dengan Digo sembari mata yang tertuju ke arah Vina yang kini telah menghilang di balik gerbang besi itu. Walaupun teriakan dan gedoran yang Vina lakukan masih terdengar di telinga mereka semua.
"Aku kesini hanya ingin memberikan ini. Orang kepercayaanmu yang ada di Indonesia menitipkan itu ke aku karena dia tidak bisa kesini sendiri karena istrinya tidak mau di tinggal," ujar Wisma, sahabat SMA Digo dulu selain Henry.
"Apa ini isinya tentang identitas seseorang?" tanya Digo tanpa mengambil sebuah map itu.
"Ya mana aku tau. Buka sendiri saja." Digo berdecak sebelum dirinya kini menolehkan kepalanya kearah Henry yang berdiri tak jauh darinya.
Henry yang paham pun ia segera mendekati keduanya lalu menerima Map itu dari tangan Wisma kemudian ia melihat isi didalam map itu.
"Identitas Vina," ucap Henry yang membuat Digo menganggukkan kepalanya. Tepat sekali identitas Vina itu jadi dan sampai di negara itu disaat perempuan itu di usir dari mansion milik Digo. Jadi bersyukurlah kamu Vina karena Digo pasti akan memulangkanmu bukan menelantarkanmu sekarang.
__ADS_1
"Serahkan identitas itu ke dia. Bawa dia ke bandara dan pulangkan dia sekarang juga. Suruh satu atau dua bodyguard untuk menyamar dan mengawasi dia selama perjalanan karena saya tidak mau dia berbuat hal macam-macam dan berujung saya yang akan di salahkan. Dan saya juga tidak mau jika saya biarkan dia di negara ini terus, dia akan melakukan hal yang macam-macam kepada saya atau justru kepada calon istri saya. Saya tidak mau hal itu terjadi. Jadi cepat kirim dia kembali ke negaranya," perintah Digo.
"Baik, saya segara mengurusnya." Setelah mengucapkan perkataan itu Digo bergegas menuju ke dua orang anak buahnya yang kebetulan tengah berpatroli siang.
Dan saat Henry tengah memerintahkan kedua anak buahnya untuk melakukan apa yang di perintahkan Digo tadi, Wisma justru sedari tadi menatap kearah Digo dengan kerutan keningnya.
"Apa?" tanya Digo yang merasa risih atas tatapan sahabatnya itu.
"Apa aku tadi tidak salah dengar jika kamu tadi mengucapakan calon istri?"
"Tidak," jawab Digo dengan singkat.
"Kamu memiliki calon istri? Siapa? Apa orang yang akan kamu jadikan istri adalah sahabat kecilmu itu, siapa ya namanya, hmmmmm ahhh aku tau, Yura. Ya, dia pasti orangnya kan secara kamu saja dulu sering nyeritain dia," cerocos Wisma yang tak tau jika Yura itu sudah meninggal. Dan ia juga tidak tau saja jika dirinya kini tengah mendapat tatapan tajam dari sahabatnya, siapa lagi jika bukan Digo.
Sedangkan Henry yang baru kembali setelah menyelesaikan tugasnya itu, dirinya di buat membeku di tempat kala dirinya mendengar nama Yura masuk kedalam indra pendengarannya.
Apalagi saat ia melihat wajah garang Digo dan wajah kebingungan dari Sheilla membuat Henry semakin tak berkutik dan tak ingin ikut campur dalam masalah yang diciptakan oleh Wisma itu.
"Cari mati kamu, Wisma. Dan aku yakin sebentar lagi perang dunia ke tiga di mulai," batin Henry yang sudah was-was jika ada peperangan yang akan terjadi diantara Digo, Sheilla dan Wisma nanti.
Wisma, si pelaku pun ia justru bingung kala tak ada yang bersuara di sekitarnya untuk menimpali ucapannya itu.
"Ini kenapa malah diam semua. Bukan meng-iya-kan, menolak atau menjawab ucapanku tadi. Benar kan jika calon kamu itu Yura?" tanya ulang Wisma yang semakin membuat aura disekitarnya semakin mencekam.
__ADS_1