The Dark Love

The Dark Love
163. Ruang Rahasia


__ADS_3

Saat Digo sudah pergi dari ruang tamu itu, Franda langsung berganti tempat duduk menjadi disebelah Sheilla yang kini tengah menundukkan kepalanya.


Dan perempuan itu baru menegakkan kepalanya itu kembali saat ia merasa ada elusan di kepalanya itu.


"Kenapa hmmm? Apa ada hal yang mengganggu pikiranmu?" tanya Franda masih dengan mengelus kepala Sheilla dengan sayang. Dimana pertanyannya itu dibalas gelengan kepala oleh Sheilla tak ketinggalan senyuman manisnya pun ia perlihatkan.


"Tidak ada sesuatu yang mengganggu pikiran Sheilla kok Bun."


"Benarkah?" tanya Franda untuk memastikan.


"Benar Bun. Sheilla hanya mengantuk saja karena tadi malam Sheilla tidak bisa tidur gara-gara masih jet lag," alasan Sheilla yang membuat Franda tampak terkejut.


"Astaga ternyata kamu masih jet lag ya. Ya sudah kalau begitu kamu tidur saja. Mau tidur dimana hmmm? Dikamarnya bunda, kamar tamu atau mau di kamarmu?" Sheilla yang mendengar kata Kamarmu yang keluar dari bibir Franda pun ia kini mengerutkan keningnya.


"Kamarku?" beo Sheilla yang membuat Franda langsung mengatupkan bibirnya.


"Maksud bunda kamar masa depan almarhum Yura. Dan rencanaya akan dipakai Yura kala dia sudah besar. Tapi berhubung takdir berkata lain, jadi kamar itu sekarang milik kamu, Bunda sama Papa sudah berembuk akan kamar tersebut yang akan menjadi kamarmu dimana akan kamu gunakan untuk bermalam disini jika kamu mau menginap. Jadi tidak salah kan kalau bunda tadi bilang kalau kamar itu adalah kamarmu?" Sheilla menganggukkan kepalanya.


"Gak ada yang salah kok Bun." Balas Sheilla.

__ADS_1


"Kalau gak ada yang salah. Kita ke kamar itu sekarang saja ya biar kamu juga cepat istirahat," ucap Franda dengan berdiri dari duduknya sembari menggenggam tangan Sheilla yang otomatis saat dia berdiri, Sheilla juga harus ikut berdiri.


Dan setelahnya mereka berdua berjalan menaiki tangga rumah tersebut sampai akhirnya kaki kedua orang tersebut menginjak lantai dua rumah itu.


Dimana saat keduanya berjalan menuju ke kamar Yura yang sekarang menjadi kamar Sheilla, Digo berniat untuk menjalankan aksinya. Tapi baru saja ia ingin membuka pintu kamar tamu untuk menuju ke ruang kerja Bian, ia mengurungkan niatnya kala ia mendengar suara dari Sheilla dan Franda yang membuat dirinya mengintip sedikit keadaan di luar kamar tamu tersebut. Lebih tepatnya, ia melihat kedua orang itu akan masuk ke dalam ruangan yang mana.


Digo mengerutkan keningnya kala ia melihat mereka berdua berdiri didepan pintu kamar yang sangat ia tau kamar itu milik Yura.


"Kenapa Aunty Franda mengajak Sheilla untuk ke kamar Yura?" tanya Digo pada dirinya sendiri.


"Apa Aunty sekarang tengah menceritakan tentang Yura kepada Sheilla? Atau Sheilla yang bertanya-tanya tentang Yura pasalnya aku belum menceritakan secara detail tentang Yura kepadanya. Mau memperlihatkan foto Yura saja aku belum sempat. Dan mungkin karena itu Sheilla yang sudah sangat penasaran dengan Yura, ia tanya langsung sama Aunty Franda kali ya? Haishhhhh sudahlah, aku sebaiknya tidak memikirkan hal itu lagi. Lagian tidak masalah juga Sheilla tau tentang Yura, orang Aunty sama Uncle saja sudah menganggap Sheilla sebagai anaknya sendiri. Dan mereka juga tidak keberatan menceritakan tentang Yura ke Sheilla," gumam Digo dengan gedikkan bahunya.


Ia memilih tidak terlalu memikirkan tentang Sheilla dan Franda karena ia memilih untuk fokus ketujuan awalnya tadi.


Dengan tatapan mata yang aktif melihat ke sekelilingnya, Digo berusaha untuk membuka pintu ruang kerja Bian. Hingga tak berselang lama ia berhasil membuka pintu ruangan tersebut.


Dimana saat pintu itu terbuka, ia langsung masuk kedalam ruang kerja Bian itu tak lupa ia mengunci pintu ruangan tersebut dari dalam.


Digo mengedarkan pandangannya keseluruhan penjuru ruang kerja Bian tersebut. Dimana ia tak menemukan hal yang mencurigai disini.

__ADS_1


"Ruangan ini sangat tapi, tidak ada hal yang mencurigakan juga. Jadi kenapa Uncle Bian tidak memperbolehkan aku masuk kedalam sini kemarin? Atau jangan-jangan memang ada suatu hal yang sekarang sesuatu itu ia sembunyikan. Aku harus mencarinya," gumam Digo. Lalu setelahnya ia bergerak cepat untuk mencari sesuatu yang menurut dia mencurigakan karena entah kenapa ia yakin Bian memang tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


Diseluruh ruangan itu ia telusuri hingga saat dirinya mulai menelusuri di rak buku didalam ruang kerja tersebut, Digo menemukan ada sebuah tombol yang sangat mencurigakan untuknya.


"Tombol apaan ini?" gumam Digo dan karena rasa penasarannya, ia menekan tombol tersebut. Dimana saat tombol itu ia tekan, tepat di belakangnya, lantai ruangan tersebut bergeser yang membuat Digo sempat terkejut.


"Astaga ngagetin aja, kurang satu langkah lagi jika aku mundur tadi, pasti aku akan langsung terjun bebas kedalam. Tapi tunggu dulu, apa ini ruang rahasia?" gumam Digo sembari tangannya kini bergerak mengambil ponselnya untuk ia jadikan senter penerang dirinya masuk kedalam ruang bawah tanah tersebut.


Dengan perlahan Digo turun hingga saat dirinya sudah menginjakkan kakinya di lantai ruangan bawah tanah tersebut, tujuan utamanya adalah mencari saklar untuk menghidupkan lampu di ruangan tersebut. Dan saat ia menemukan saklar lampu tersebut, ia langsung menghidupkan lampu di ruangan tersebut.


Dimana saat lampu menyala semua, Digo berdecak kagum saat melihat banyaknya senjata di ruangan tersebut.


"Walaupun aku memiliki markas senjata sendiri tapi tidak sebesar ini dan ini senjatanya banyak banget," ucap Digo dengan melihat-lihat senjata tersebut sekaligus ia melihat apakah ada senjata yang ia curigai. Tapi ternyata didalam senjata itu terukir kata yang sama dengan yang ia temukan di senjata yang di pegang oleh anak buah Bian kemarin. Semua senjata disana terukir kata Beautiful Aster.


Dimana saat itu juga Digo bisa memastikan jika kata itu merupakan simbol identitas anak buah Bian.


Tapi walaupun begitu Digo yang masih curiga itu ia terus melakukan penelusurannya.


Dimana saat dirinya terus menelusuri setiap senjata itu, tiba-tiba ia sampai didepan pintu lagi di ruangan bawah tanah tersebut.

__ADS_1


"Astaga sebegitu misteriuskah Uncel Bian sampai didalam satu ruangan yang harusnya ruang untuk bekerja saja, justru memiliki dua ruangan lain yang tersembunyi. Kalau begini caranya sepertinya aku membutuhkan waktu dua hari untuk menelusuri dan mencari bukti akan kecurigaanku dan anak buahku kepada Uncle Bian itu," kata Digo namun tak urung tangannya kini terulur untuk membuka pintu yang berada di hadapannya itu.


Dan saat pintu itu terbuka, lampu yang ada di dalam ruangan tersebut otomatis menyala. Dimana saat itu juga Digo masuk kedalam dan baru saja ia melangkahkan kakinya satu langkah ke dalam, tubuhnya langsung mematung di tempatnya saat ia melihat sebuah tulisan yang cukup besar menghiasi salah satu sisi dinding di ruangan tersebut dimana saat Digo membaca tulisan tersebut tangannya langsung terkepal erat dengan mata yang menajam tak lupa rahangnya mengeras, menandakan jika ia sekarang tengah menahan emosinya.


__ADS_2