
Seperti yang telah di sepakati oleh Digo dan Sheilla tadi serta di izinkan oleh Nenek, sepasang suami istri baru itu, diam-diam mereka lebih dulu meninggalkan ruang dimana acara resepsi mereka di gelar. Memang benar, acara itu sudah selesai saat ini tapi kedua orangtua Sheilla maupun Digo masih disibukkan dengan bercakap-cakap bersama keluarga besar mereka atau bahkan dengan klien dari Daddy Aiden maupun Bian.
Dengan terus melihat situasi dan kondisi di sekitar mereka, keduanya berjalan keluar dari gedung hotel tersebut dimana saat mereka sudah keluar, keduanya langsung disambut oleh salah satu anak buah Digo yang sudah membawa barang-barang mereka berdua yang berada di rumah nenek.
Mereka berdua berlari kecil dengan tangan yang saling bergandengan menuju ke mobil itu hingga akhirnya Digo maupun Sheilla kini bisa menghela nafas lega kala tak ada satupun dari keluarga mereka berdua kecuali nenek dan Kiya tau kepergian mereka.
"Langsung ke bandara sekarang juga," perintah Digo kepada anak buahnya yang berada di belakang kemudi.
"Siap laksanakan," jawab anak buahnya tadi sebelum mobil itu ia jalankan.
Dan bertepatan dengan mobil tersebut berjalan, Sheilla menyempatkan dirinya untuk mengirim pesan ke sang nenek.
Dimana saat pesan tersebut diterima oleh nenek, wanita tua itu masih didalam ruang acara tentunya bersama dengan Kiya.
Nenek Sheilla yang mendengar ponsel barunya itu bergetar, ia langsung mengambil ponsel tersebut dari tas kecil yang ia bawa. Dan karena ia tak mengerti tentang isi pesan tersebut karena dirinya hanya bisa membaca tulisan Sheilla dan Shinta saja alhasil ia mengulurkan ponselnya kearah Kiya yang membuat Kiya kini mengerutkan keningnya.
"Ada apa nek?" tanya Kiya.
"Ini di ponsel nenek ada pesan dari Sheilla tapi Nenek tidak bisa membaca isi pesan itu. Jadi tolong kamu bacakan untuk nenek ya," pinta nenek Sheilla yang membuat Kiya kini tersenyum lalu tangannya bergerak mengambil ponselnya itu.
__ADS_1
"Tentu saja. Kiya akan membacakan pesan dari Kak Sheilla untuk nenek," ujar Kiya sebelum jari-jarinya itu bergerak lincah diatas layar ponsel itu. Kemudian setelah ia membuka pesan dari Sheilla, ia mulai membacakan isi pesan tersebut.
"Nek, Sheilla sudah berangkat ke bandara sekarang. Nenek jaga diri nenek baik-baik ya di sini. Sheilla janji Sheilla akan terus meluangkan waktu Sheilla untuk menelepon nenek. Sheilla sayang sama nenek. Dan jika nenek berubah pikiran ingin ikut Sheilla ke Paris, bilang ke Sheilla. Sheilla akan menjemput nenek saat itu juga. Sehat-sehat terus ya nek, Sheilla sayang Nenek. Love you."
Nenek tersenyum kala mendengar isi pesan yang dikirimkan oleh Sheilla tersebut.
"Nenek mau balas pesannya?" tanya Kiya yang diangguki oleh wanita tua tersebut.
"Tolong kamu ketikkan ya Kiya. Balas pesan Sheilla begini, kamu juga sehat-sehat disana. Nenek kemungkinan tidak akan berubah pikiran karena nenek tidak bisa naik pesawat. Hati-hati dimanapun kamu berada. Jadilah istri yang baik untuk Digo, patuhilah apa yang diperintahkan suamimu karena surgamu sekarang berada di suamimu. Jangan pernah melawan dan meninggikan suaramu kepada Digo. Nenek juga sayang kamu dan Digo. Nenek tunggu kepulangan kalian dengan membawakan cicit untuk nenek. Love you too."
Dengan pergerakan tangan yang lincah, Kiya mengetik semua kata yang diucapkan oleh nenek tadi sampai pesan tersebut sudah ia kirimkan ke Sheilla. Dimana saat pesan itu diterima oleh Sheilla, membuat perempuan itu tersenyum sekaligus terharu namun sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tak membuat Digo khawatir dengannya.
"Tunggu sebentar. Apa kalian melihat Sheilla dan Al? Soalnya aku tidak melihat mereka berdua setelah resepsi pernikahan tadi selesai," tanya Mama Ciara kepada tiga orang lainnya yang berada di sekitarnya.
"Ehhh iya. Kemana mereka berdua?" timpal Franda.
"Kalian ini seperti tidak tau saja bagaimana pasangan yang baru menikah. Tentunya mereka sekarang berada di dalam kamar mereka lah dan mungkin mereka tengah melakukan adegan 21+," ucap Papa Devano yang berhasil membuat Mama Ciara dan Franda membelalakkan matanya. Lalu beberapa saat setelahnya keduanya berteriak.
"Tidak. Kita harus menghentikannya!" Mama Ciara dan Franda kini berlari dengan mengangkat tinggi-tinggi rok yang tengah keduanya pakai saat ini menuju ke kamar Digo maupun Sheilla.
__ADS_1
Dimana kepergian dan teriakkan dari dua wanita paruh baya tersebut membuat Papa Devano dan Bian melongo sebelum Bian kini bersuara.
"Ada apa dengan mereka berdua?" tanya Bian karena perlu di ketahui jika kedua laki-laki itu tak tau dengan hukuman yang tengah para istri itu berikan kepada anak-anak mereka.
"Entahlah. Aku pun juga tidak tau. Tapi lebih baik kita segera menyusul mereka. Kasihan kan kalau sampai mereka berdua mengganggu waktu berdua Al dan Sheilla."
"Ya, aku setuju dengan kamu. Ayo kita kesana sekarang juga." Papa Devano dan Bian bergegas menyusul istri mereka berdua yang sekarang telah sampai di kamar yang tadinya akan di gunakan oleh Digo dan Sheilla.
Dan tanpa basa-basi lagi, dua wanita paruh baya tersebut langsung membuka pintu kamar hotel tersebut dengan menggunakan kunci cadangan. Dimana saat pintu itu berhasil mereka buka, kamar itu tampak kosong tak terlihat ada Digo maupun Sheilla di dalam kamar tersebut.
"Apa yang kalian berdua lakukan? Kenapa kalian sangat lancang masuk kedalam kamar Al dan Sheilla?" ucap Bian yang sudah ikut masuk kedalam kamar tersebut.
Namun sesaat setelahnya ia dibuat terbengong kala ia melihat kamar itu kosong.
"Lho kok kosong? Kemana mereka berdua?" tanya Bian.
"Kamu tanya kita, mereka dimana? Kalau kita berdua tau, kita tidak akan kesini tadi dan langsung menghampiri mereka berdua di tempatnya saat ini berada," jawab Franda dengan galaknya.
Dimana setelah mengucapkan hal tersebut ia bergegas keluar dari kamar itu dengan menggandeng tangan Mama Ciara. Ia berniat untuk mencari sepasang pasutri baru itu dilantai bawah karena filingnya mengatakan jika Digo dan Sheilla mungkin tengah mencari makanan selain makanan yang disajikan di resepsi mereka berdua. Tapi dia juga memiliki satu filing lagi jika keduanya telah kabur karena tak mau menjalankan hukuman yang telah ia dan Mama Ciara berikan kepada mereka berdua. Kemana mereka pergi pun Franda juga tidak tau, namun ia berharap jika filingnya yang pertama yang benar dan filingnya yang kedua salah.
__ADS_1