The Dark Love

The Dark Love
13. Merasa Pernah Dekat


__ADS_3

Digo yang tadinya menutup matanya kini mata tajam itu kembali terbuka saat ia mendengar dengkuran halus dari Sheilla yang menandakan jika perempuan itu telah tidur.


Digo perlahan menarik tubuh Sheilla agar dirinya bisa melihat wajah perempuan tersebut. Dan setelah ia berhasil mengubah posisi berbaring Sheilla menjadi telentang, Digo menatap lekat wajah Sheilla yang tampak damai namun ada semburat ketakutan di wajah dirinya yang tengah menyelam ke alam mimpi itu dan hal tersebut membuat Digo kini menggerakkan tangannya untuk mengusap pipi perempuan tersebut dengan tangan kirinya yang tak terluka.


"Kita pertama kali bertemu beberapa hari yang lalu Sheilla. Tapi entah kenapa perasaanku seakan-akan berbicara jika kita sudah mengenal sejak lama. Dan perlu kamu tau Sheilla saat kita pertama kali bertatap mata, mata kamu mengingatkanku dengan seseorang yang tak mungkin bisa aku lihat lagi di dunia ini. Dan karena itu, aku merasa tersiksa saat melihat tatapan kebencian dari mata kamu ini. Entah ada apa dengan diriku tapi yang pasti aku merasakan jika kita pernah bertemu sebelumnya yang sayangnya aku sendiri juga tidak tau kapan dan dimana kita bertemu waktu itu," gumam Digo yang semakin ia mengingat apakah dirinya pernah bertemu dengan Sheilla atau tidak sebelumnya, justru kepalanya semakin pusing di buatnya. Seperti saat ini, tiba-tiba kepalanya seperti dihantam ribuan beton secara bersamaan. Dan hal tersebut membuat Digo menghela nafas lelah, sebelum ia kembali memeluk tubuh Sheilla untuk menyusul perempuan itu kedalam alam mimpi.


Tapi baru saja dirinya menutup mata, suara Sheilla membangunkannya kembali.


"Tolong. Jangan, saya mohon. Jangan sakiti mereka. Mereka tidak memiliki salah apapun dengan anda. Saya yang salah, saya yang tidak becus menjalankan perintah anda. Hukum saya sepuasnya asalkan mereka jangan merasakan siksaan dari anda." gumaman Sheilla terdengar begitu memilukan di hati Digo yang kini tengah menatap wajah perempuan itu yang ternyata masih menutup matanya. Mungkin Sheilla tengah mengigau, pikir Digo.


Namun ia tak bisa tenang bergitu saja, ada rasa khawatir yang tiba-tiba muncul dihatinya hingga tangannya yang tadi masih memeluk pinggang Sheilla perlahan ia gerakan menuju ke arah pipi perempuan tersebut.


"Sheilla," panggil Digo dengan mengelus pipi Sheilla dengan lembut, mencoba membangunkan Sheilla. Tapi bukannya bangun wajah Sheilla semakin lama semakin terlihat pias bahkan keningnya saat ini sudah dibasahi oleh keringat dingin. Dan hal tersebut membuat Digo panik seketika. Bahkan dirinya semakin panik saat Sheilla terus memohon kepada seseorang yang berada di dalam mimpinya.


"Saya mohon. Siksa saya jangan mereka." Digo yang mendengar hal tersebut semakin frustasi dibuatnya. Ia bingung harus membangunkan Sheilla dengan cara apa lagi karena segala cara sudah ia coba bahkan ia juga sudah mencoba untuk memercikkan air ke wajah perempuan tersebut namun hasilnya masih saja nihil.


"Jangan. Saya mohon. Jangan!" teriakan itu semakin nyaring memasuki telinga Digo.


"Sheilla. Jangan begini saya mohon. Bangunlah, Sheilla. Jangan takut lagi ada saya disini, di sisi kamu. Saya akan melindungi kamu. Dan saya pastikan tidak akan ada orang yang menyakiti kamu dan keluarga kamu lagi. Jadi saya mohon kembali lah tenang. Halau mimpi buruk kamu itu dan ganti mimpi indah," bisik Digo tepat di telinga Sheilla tak lupa ia memberikan usapan lembut di kening perempuan tersebut, ia tak peduli jika darah di tangannya mengenai wajah putih Sheilla.

__ADS_1


Digo terus mengelus kening serta pipi mulus Sheilla hingga perempuan itu terlihat tenang kembali.


Dan setelah dipastikan Sheilla tenang, Digo menarik tangannya lalu bergerak untuk mengambil tisu yang berada di atas nakas untuk membersihkan darah yang menempel di kening serta pipi Sheilla dengan penuh ke hati-hati tak lupa setelah ia selesai membersihkan darah di wajah perempuan itu, ia juga membersihkan darah di tangannya sendiri, hanya sekedar membersihkan dengan tisu saja bukan dengan peralatan P3K.


Lalu setelah bersih ia kembali membaringkan tubuhnya disamping Sheilla. Namun sebelum dirinya menutup matanya, ia menyempatkan diri untuk mengecup kening perempuan tersebut.


"Selamat malam Sheilla. Jangan mimpi buruk lagi karena saya sekarang ada disini," ucapnya dengan menggerakkan tangannya memeluk tubuh Sheilla, lalu perlahan matanya itu kembali ia tutup hingga benar-benar ia menyelam ke dunia mimpi.


...****************...


Dipagi harinya, Sheilla lebih dulu bangun dari tidur cantiknya. Matanya yang lentik mengerjab-ngerjab untuk memfokuskan penglihatannya hingga saat penglihatannya sudah kembali normal, Sheilla dibuat terkejut saat dirinya baru menyadari jika ia masih berada di dalam kamar musuhnya sendiri. Namun keterkejutannya tak sampai disitu saja, ia dibuat terkejut kembali saat menyadari posisi tubuhnya yang sekarang berada di atas tubuh seseorang yang ia yakini itu adalah tubuh Digo. Dan benar saja saat dirinya menengadahkan kepalanya, wajah teduh dari Digo bisa ia lihat jelas dari posisinya saat ini.


Dan karena pergerakannya itu mampu membuat tidur seorang Digo terusik.


"Sudah bangun, heh." Suara serak dari Digo membuat Sheilla menghentikan pukulannya di kepalanya sendiri dan perlahan tapi pasti ia menatap mata Digo yang kini juga tengah menatapnya.


"Selamat pagi, Sheilla," ucap Digo yang membuat tubuh Sheilla membeku di tempat apalagi saat dirinya merasakan elusan lembut di pipinya yang semakin membuat detak jantungnya tak karuan. Aneh sekali rasanya, tapi yakinlah Sheilla sangat menyukai perasaannya saat ini.


"Tubuh saya empuk kah sampai kamu tidak mau turun?" pertanyaan dari Digo itu membuat Sheilla langsung melebarkan matanya sebelum dirinya dengan cepat turun dari atas tubuh Digo. Bahkan saking gugupnya, Sheilla sampai terjatuh hingga pantatnya mencium lantai dingin di kamar tersebut.

__ADS_1


"Awssss," rintih Sheilla kesakitan.


Digo yang melihat semua kejadian itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu tanpa banyak bicara ia turun dari atas ranjangnya. Kemudian dengan cepat ia membopong tubuh Sheilla untuk ia dudukan ke atas ranjang kembali.


Sheilla yang mendapat perlakuan berbeda dari Digo itu pun ia hanya bisa membeku di tempat. Sebelum ia merasakan sentilan di dahinya dan pelakunya siapa lagi kalau bukan laki-laki yang semalam ingin ia bunuh. Mengingat akan aksinya tadi malam, Sheilla kembali tersadar namun sayangnya saat ia sadar dari keterbengongannya tadi, Digo sudah hilang dari hadapannya.


"Kemana perginya dia?" gumam Sheilla sembari mengendarkan matanya ke seluruh penjuru ruangan tersebut. Hingga telinga menangkap suara gemericik air dari dalam kamar mandi dan hal tersebut membuat dirinya kini menghela nafas.


"Ternyata dia lagi mandi. Kalau dia emang lagi mandi, berarti aku bisa memanfaatkan buat pergi dari sini. Ya, aku harus segera keluar dari sini secepatnya sebelum semua orang yang ada di rumah ini tau jika aku semalaman tidur disini. Kalau bisa aku juga harus kabur dari sini secepatnya sebelum dia beraksi untuk mencari keberadaan Yoga," gumam Sheilla. Dan setelah mengucapkan hal tersebut, ia langsung berlari kecil menuju ke pintu balkon kamar tersebut. Ia berniat untuk loncat dari lantai dua dan segara kabur dari rumah tersebut. Tak peduli jika tulangnya nanti ada yang patah karena aksinya tersebut karena yang ada di pikirannya saat ini segara kabur dari rumah itu dan segera menyelamatkan dua orang kesayangannya yang beberapa hari ini tak ia dengar suaranya bahkan kabar mereka.


Tapi baru saja dirinya ingin membuka pintu balkon tersebut, pintu itu ternyata terkunci dan hal tersebut membuat dirinya berdecak sebal. Namun senyum tipis kembali terlihat di wajahnya saat ia baru ingat jika tadi malam Digo membuka pintu tersebut menggunakan salah satu tombol yang berada di samping ranjangnya.


Sheilla segara berlari lagi menuju kearah ranjang lalu mencari-cari tombol itu dan setelah berhasil ia temukan, Sheilla memencet tombol tersebut yang sayangnya justru membuat dirinya tersengat oleh aliran listrik dengan tegangan kecil namun mampu membuat jari telunjuknya kesemutan.


"Awssss, kenapa malah kesetrum sih. Apa tombol ini rusak?" tanya Sheilla pada dirinya sendiri sembari tangan kirinya ia gunakan untuk menggenggam jari telunjuknya yang tadi kesemutan dengan tatapan mata yang terus menatap kearah tombol tersebut.


"Tombol itu tidak rusak. Tapi tombol itu memang di desain seperti itu. Dia akan menyengatkan listrik dengan tegangan kecil saat orang lain ingin menyentuh tombol itu," ujar Digo yang berhasil membuat Sheilla langsung menjauhkan dirinya dari depan tombol tadi saat mendengar suara laki-laki tersebut dengan tatapan yang beralih kearah Digo yang kini tengah berjalan kearahnya.


Dan karena pergerakan dari Digo tadi membuat Sheilla reflek memundurkan langkah kakinya. Hingga tak terasa, punggungnya sudah menyentuh tembok pada kamar tersebut. Dan saat dirinya ingin beranjak dari posisinya saat ini, pergerakan Sheilla kalah cepat dengan pergerakan Digo yang kini sudah berhasil mengurung dirinya menggunakan kedua lengannya.

__ADS_1


Digo yang sudah berhasil mengurung tubuh Sheilla, ia menampilkan senyum miringnya dengan wajah yang perlahan ia dekatkan ke wajah Sheilla yang sudah mulai gelisah.


__ADS_2