
Monik terus mendampingi Henry dengan menggenggam tangan laki-laki itu sampai ia tertidur dengan beralaskan karpet tebal yang melapisi lantai kamar tersebut dan kepalanya yang berbantal kasur empuk.
Dan karena dirinya tengah tertidur, ia tak melihat pergerakan dari mata Henry yang kini perlahan terbuka. Laki-laki itu meringis kala merasakan denyut di kepalanya yang terasa begitu sangat sakit hingga tangannya yang masih bebas, tak di genggaman oleh Monik bergerak memegang kepalanya itu
Saat ia memegang kepalanya itulah ia baru sadar jika terdapat perban disana yang berarti ada luka juga di kepalanya itu. Dimana hal tersebut membuat Henry berdecak.
"Ck, pantas saja terasa sangat sakit," gumamnya. Dan saat dirinya ingin menegakkan tubuhnya agar bisa duduk, niatannya itu ia urungkan kala dirinya baru sadar jika ada seseorang yang tengah tertidur dengan menggenggam tangannya.
Henry membelalakkan matanya saat tau orang itu adalah Monik yang tengah tertidur dalam posisi yang Henry yakini posisi itu tidak nyaman di tubuh Monik. Apalagi mengingat jika perempuan itu tengah mengandung yang membuat Henry ingin sekali marah kepada calon istrinya tersebut. Tapi sepertinya kemarahannya itu harus ia pendam dalam-dalam dan tak mungkin ia lakukan karena ia tak ingin melihat ada air mata yang jatuh dari pelupuk mata Monik yang justru nanti akan membuatnya menyesal sendiri. Dan karena hal tersebut, tangan Henry bergerak untuk mengelus kepala Monik, berniat untuk membangunkan calon istrinya itu sekaligus untuk menyuruh Monik pindah tempat agar dia bisa tidur lebih nyaman.
"Monik, bangun," ucap Henry di sela usapan kepalanya itu. Namun apa yang dilakukan oleh Henry kali ini hanya membuat Monik menggeliatkan tubuhnya sesaat sebelum dirinya kembali tertidur lagi.
"Sayang. Bangun dulu sebentar," ujar Henry lagi. Tapi lagi-lagi hal itu tak mampu membuat Monik terbangun dari mimpinya.
Henry yang melihat usahanya itu gagal pun ia menghela nafas. Mau tak mau, bisa tak bisa ia harus mengangkat tubuh Monik untuk ia pindahkan diatas ranjang.
__ADS_1
Henry perlahan menarik tangannya dari genggaman sang calon istri. Dan setelah tangannya itu berhasil terlepas dari genggaman itu, dengan menahan rasa sakit di kepalanya, Henry turun dari ranjang. Kemudian mendekati Monik, mengangkat tubuh perempuan itu, lalu meletakkannya kembali keatas ranjang dengan sangat pelan agar Monik tidak terbangun kali ini.
Dimana setelah dirinya berhasil memindahkan tubuh calon istrinya tersebut, bertepatan dengan itu pintu kamarnya di terbuka dan menampilkan dua orang dibalik pintu tersebut.
Dua orang itu tampak terkejut saat melihat Henry sudah bangun dari pingsannya dan dari pengaruh obat biusnya tadi. Bahkan laki-laki itu sudah berdiri dari posisi rebahannya tadi. Tak hanya itu mereka berdua juga terkejut kala orang yang terbaring diatas ranjang itu malah Monik. Walaupun begitu kedua tersebut tetap bertanya-tanya didalam otak mereka masing-masing namun dengan pertanyaan yang sama yaitu, Apa yang sebenarnya terjadi dengan Monik dan Henry?
Sedangkan Henry yang melihat ada dua orang yang bertamu di kamarnya pun, ia bergegas mendekati dua orang itu.
"Masuk saja," ucap Henry kepada dua orang tadi tak lupa ia membuka pintu kamarnya dengan sangat lebar agar memudahkan dua orang tersebut masuk kedalam kamarnya.
Keduanya yang disuruh masuk pun mereka menganggukkan kepalanya sebelum melangkahkan kaki mereka masuk kedalam kamar itu.
Dimana saat tubuh laki-laki itu baru saja duduk, ia sudah di sambut dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir Sheilla.
"Bagaimana keadaanmu?" Henry tampak tersenyum sebelum ia menjawab, "Seperti yang kamu lihat sekarang She. Aku baik-baik saja walaupun terasa nyeri di kening tapi it's oke lah ya daripada harus boleh balik ke kamar mandi."
__ADS_1
Yap, Henry setelah bangun tadi ia tak merasakan mulas sama sekali.
"Syukurlah kalau memang kamu baik-baik saja. Tapi aku mau tanya kenapa Monik yang sekarang malah terbaring diatas ranjang seperti itu? Apa dia baik-baik saja?" tanya Sheilla kembali dengan menatap kearah Monik.
"Kamu tidak melakukan sesuatu kepada calon istrimu kan, Ry?" sambung Digo yang juga melayangkan sebuah pertanyaan kepada sahabat sekaligus tangan kanannya itu.
Henry tampak memutar bola matanya malas.
"Aku sama sepertimu, Al yang tidak bisa melukai seorang perempuan apalagi aku tau orang itu adalah calon istriku dan calon ibu dari anakku. Dia terbaring diatas ranjang seperti itu memang karena aku. Tapi aku hanya memindahkan dia yang tadi tidur dengan posisi duduk di bawah ranjang keatas ranjang situ. Bukan karena aku melakukan KDRT kepada Monik tapi dia hanya tidur saja. Jadi hilangkan pikiran negatif kalian kepadaku," jawab Henry. Enak saja ia dituduh melakukan kekerasan kepada calon istrinya sendiri. Walaupun ia tak kalah kejam seperti Digo tapi dia juga memiliki sifat sebelas dua belas dengan sahabatnya itu yang tak tega jika dia sampai melukai seorang perempuan apalagi calon istrinya sendiri. Kalaupun ia ingin melakukan kekerasan kepada Monik, ia pasti melakukannya saat pertama kali Monik berubah menjadi seseorang yang manja dan sangat menyebalkan itu yang membuat Henry kadang lelah dan ingin sekali marah. Tapi apa buktinya? Henry tidak melakukan keinginannya tersebut, ia memilih untuk memendamnya dan meredakan emosinya itu agar ia tak kelewat batas. Jadi dari sini jangan menganggap Henry akan ringan tangan kepada calon istrinya karena itu semua tidak akan pernah terjadi, camkan itu!
"Syukur lah kalau kamu tidak melakukan hal yang menyakiti Monik," ujar Digo yang membuat Henry mendengus kasar.
"Hmmm. Jadi apa tujuan kalian berdua kesini tadi? Mana buka pintu kamar orang lain tanpa permisi terlebih dahulu lagi? Untung saja aku tadi tidak lagi melakukan sesuatu bersama Monik," ucap Henry.
Digo dan Sheilla yang mendengar dan paham akan perkataan Henry tadi pun mereka berdua dengan kompak memutar bola mata mereka dengan malas.
__ADS_1
"Dari sini aku tidak yakin kalau kalian hanya melakukan hal itu satu kali waktu itu saja. Pasti dalam waktu satu minggu kalian berada di dalam kamar yang sama kalian melakukan hal yang dulu pernah kalian lakukan kan?" tanya Sheilla penasaran. Dimana pertanyannya itu membuat Henry langsung terkesiap namun beberapa saat setelahnya ia hanya bisa memberikan cengirannya sembari berkata, "Hanya sekali saja dan itu kemauan Monik bukan kemauanku. Dimana aku menurutinya karena kalau tidak takutnya anakku yang ada di dalam perut dia ngeces nanti. Karena kita melakukannya atas keinginan anak kita juga alias Monik tengah ngidam."
Digo dan Sheilla tampak melongo dibuatnya. Mana ada orang ngidam melakukan hal itu? Ck, itu mah hanya alasan Henry saja, batin dua orang tersebut yang sudah tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya tersebut.