The Dark Love

The Dark Love
16. Kekhawatiran Itu Ada


__ADS_3

Sheilla kini mengerjabkan matanya saat hidungnya mencium aroma khas minyak yang bik Nah acungkan tepat di depan hidungnya. Dan hal pertama yang ia lihat saat matanya terbuka adalah banyaknya maid dan anak buah Digo yang mengerumuni dirinya. Namun untuk saat ini ia tak akan memperdulikan mereka dan memilih untuk menatap ke wanita paruh baya yang satu-satunya orang yang ia kenal.


"Bik," ucap Sheilla dengan suara yang lirih.


"Syukurlah nona sudah sadar," ucap bik Nah dengan helaan nafas lega.


"Saya kena---" belum sempat Sheilla menyelesaikan ucapannya, bik Nah lebih dulu memotongnya.


"Stttt, Nona jangan banyak bicara dulu karena Non harus makan yang banyak biar gak sakit lagi. Kata dokter yang memeriksa Nona tadi, Nona memiliki riwayat penyakit maag tapi kenapa Nona dengan santainya mengabaikan soal makan. Perlu anda tau ya Non, maag itu bisa menjadi lambung akut yang nantinya akan memicu kematian. Jadi jangan pernah mengabaikan tentang penyakit Non itu. Mulai hari ini Non harus makan teratur dan saya yang akan memastikannya sendiri," ujar bik Nah sembari menyendokkan nasi beserta lauk pauknya dan mengarahkannya tepat di bibir Sheilla.


Sheilla yang melihat hal tersebut pun ia tampak terdiam dengan perasaan yang tak bisa ia deskripsikan.


"Buka mulutnya non," ucap bik Nah membuyarkan lamunannya.


"Saya bisa sendiri bik," ujar Sheilla sembari mencoba merebut sendok dan piring yang berada di tangan bik Nah. Namun dengan cepat kilat bik Nah menjauhkan tangannya.


"Tidak apa-apa Nona. Biar saya yang menyuapi Nona," pinta bik Nah dengan mata yang memancarkan permohonan.


Sheilla yang melihat tatapan mata itu pun ia kini menghela nafas panjang sebelum dirinya menganggukkan kepalanya. Bik Nah yang melihat persetujuan dari Sheilla tampak tersenyum lalu mulai menyuapkan makanan kedalam mulut Sheilla.


Tapi baru saja Sheilla menelan makanan yang sudah ia kunyah halus, rasa mual di perutnya terasa begitu menyakitkan. Dan sebelum hal yang tidak-tidak terjadi dihadapan mereka semua, Sheilla dengan cepat bangkit dari duduknya kemudian berlari sembari membungkam mulutnya agar tak mengeluarkan makanan yang ia telan tadi di lantai rumah tersebut.


Sheilla terus berlari menuju ke lantai dua rumah tersebut untuk mencari kamar mandi, padahal dilantai satu ada begitu banyak kamar mandi. Namun Sheilla yang merupakan orang baru disana hanya mengetahui satu kamar mandi yang berada di kamar pribadi Digo.


Sedangkan semua orang yang ia tinggalkan di ruang keluarga tadi terdiam dengan pikiran masing-masing. Bahkan ada yang berpikir jika Sheilla tengah mengandung padahal dokter sudah memberitahu jika Sheilla hanya sakit maag, emang dasar otak manusia yang selalu berpikir negatif dan mencoba berburuk sangka meski kenyataan sudah di depan mata pun mereka tak akan percaya.

__ADS_1


Sheilla yang sudah berada di lantai dua itu pun berusaha untuk masuk kedalam kamar pribadi Digo namun kamar itu sama sekali tak bisa ia buka.


"Ya Tuhan, aku harus bagaimana? aku sudah tidak bisa menahannya lagi," jerit Sheilla didalam hatinya.


Ia terus berusaha hingga lama kelamaan, ia sudah tak tahan lagi dan...


Hoekkkk


Sheilla tanpa sengaja memuntahkan makanan yang ia makan tadi di tempatnya berdiri saat ini. Tapi tunggu, sepertinya ada yang aneh. Muntahannya itu bukannya mengotori lantai, melainkan mengotori baju seseorang yang tengah berdiri disampingnya.


Sheilla yang awalnya menunduk perlahan kepalanya ia tengadahkan hingga tatapan matanya bertemu dengan tatapan tajam milik seorang laki-laki yang tak lain adalah Digo sendiri.


"Kamu," geram Digo yang sudah bersiap untuk mencekik leher Sheilla. Namun belum sempat tangannya itu mendarat di leher perempuan itu lagi-lagi carian dari dalam perut Sheilla mengenai lengannya.


"SHEILLA!" teriak Digo menggelegar memenuhi rumah tersebut. Bahkan beberapa maid serta anak buahnya yang mengikuti langkahnya hingga ke lantai itu, kini menutup telinga mereka dengan kepala yang menunduk.


"Tuan. Please jangan teriak-teriak dulu. Bisa tidak tuan membuka pintu kamar ini, saya benar-benar sudah tidak kuat tuan. Hoekkkk," ucap Sheilla dengan lirih diakhir dengan suara yang membuat Digo langsung menjauhkan tubuhnya. Namun ada rasa khawatir yang terpancar jelas di mata laki-laki itu hingga akhirnya tangannya kini bergerak untuk menekan sebuah tombol yang membuat pintu di depannya terbuka dengan sendirinya.


Sheilla yang melihat pintu itu sudah terbuka, ia dengan tergesa-gesa berlari masuk kedalam kamar tersebut dan segera menuju ke kamar mandi yang diikuti oleh Digo di belakangnya.


...****************...


Sheilla mengeluarkan semua makanan yang ia telan tadi dengan dibantu Digo yang memijit tengkuknya.


"Kenapa bisa?" tanya Digo disela pijitannya dan setalah dirasa, rasa mual Sheilla sudah lumayan mendingan.

__ADS_1


Sheilla menggelengkan kepalanya untuk menjawab ucapan dari Digo tadi. Karena jujur saja tubuhnya saat ini semakin lemah.


"Duduk dulu." Digo menuntun Sheilla untuk duduk di WC duduk di kamar mandi tersebut.


"Kenapa bisa sampai telat makan hmm?" tanya Digo lagi dengan menyelipkan anak rambut Sheilla yang keluar dari ikatan rambut perempuan tersebut. Jangan lupakan posisinya saat ini tengah berjongkok di depan Sheilla. Sungguh siapapun yang melihat adegan ini pasti akan menyangka jika keduanya memiliki sebuah hubungan spesial.


Sheilla yang ditanya seperti itu hanya diam saja. Mana mungkin juga dirinya mengatakan jika dirinya lupa makan karena terus fokus untuk mencari ide agar bisa keluar dari jeratan Digo secepatnya.


"Apa makanan disini kurang enak? Jika iya, saya akan mengganti semua koki yang ada disini," ujar Digo yang langsung di sambut dengan gelengan kepala oleh Sheilla.


"Jangan. Jangan ganti mereka. Masakan mereka enak kok hanya saja dua hari ini nafsu makan saya hilang," ucap Sheilla dengan menundukkan kepalanya.


"Kenapa? Apa kamu memikirkan tentang keluarga kamu? Apa karena memikirkan sebuah ide agar kamu bisa keluar dari rumah ini?" Sheilla yang mendengar pertanyaan dari Digo itu kini menggigit bibir bawahnya.


"Jika kamu memikirkan keluarga kamu. Kamu tidak perlu khawatir lagi karena saya sudah mengamankan mereka dari jerat Yoga. Saya tidak akan melukai keluarga kamu asalkan kamu nurut dengan segala perintah saya. Tapi jika kamu masih memberontak dan ingin keluar dari rumah ini, saya tidak akan segan-segan menghancurkan dua orang kesayanganmu itu," ujar Digo yang otomatis membuat Sheilla menatap dirinya.


"Ka---kamu menemukan keluargaku?" tanya Sheilla dengan tergagap. Dan pertanyaan itu diangguki oleh Digo.


"Kok bisa padahal Yoga selalu berada di sekitar mereka? Yoga terus mengawasi nenek dan adikku," ujar Sheilla.


"Apa kamu meremehkan saya, Sheilla? Bukannya kamu tau siapa saya?" Sheilla menggaruk pelipisnya. Kenapa dia bisa-bisa meremehkan Digo begitu saja sedangkan dirinya tau siapa Digo itu. Laki-laki yang tak pernah bisa di taklukan oleh lawannya. Maka tak heran jika Digo dengan gampangnya mengambil alih keluarga Sheilla dari tanya Yoga.


"Sudah lah jangan di pikirkan lagi. Kamu lagi sakit, tidak baik untuk memikirkan hal seperti itu. Kamu juga tidak perlu khawatir karena keluarga kamu sekarang tengah baik-baik saja," ujar Digo sembari beranjak dari posisinya tadi kemudian menuju ke bathtub disana.


"Segera bersihkan diri kamu itu," ucap Digo setelah dirinya memutar kran air hangat ke bathub tadi. Lalu setelahnya ia memilih untuk segara keluar dari dalam kamar mandi tak lupa ia menutup pintu kamar mandi tersebut agar Sheilla segara membersihkan tubuhnya yang tadi juga terkena muntahannya sendiri. Sedangkan dengan Digo, ia memilih untuk membersihkan tubuhnya di kamar sebelah, kamar yang sempat Sheilla tempati sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2