
"Mereka? Siapa yang kamu maksud dengan mereka, Al?" tanya Henry penasaran.
"Kamu akan tau nanti," jawab Digo dan tak berselang lama setelahnya terdengar bunyi notifikasi dari ponsel milik Digo. Dimana hal tersebut langsung membuat sang pemilik ponsel memeriksa notifikasi tersebut.
Senyum miring kini terbit di bibir Digo kala dirinya telah membaca isi pesan yang baru saja ia terima. Pesan dari seseorang yang akan membantunya membereskan masalah ini, lebih tepatnya mereka hanya akan membantu Digo untuk mengamankan para tamu undangan nantinya jika memang ada pertumpahan darah.
"Mereka sudah sampai. Dan kalian berdua lebih baik segera turun kebawah. Tamu undangan sudah mulai berdatangan," ujar Digo. Ya, sejak 5 menit yang lalu ada beberapa tamu undangan sudah mulai memasuki mansion tersebut.
Henry dan Monik menatap ke bawah untuk memastikan ucapan dari Digo tadi benar atau justru salah. Dan saat mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri jika sudah ada beberapa tamu yang menunggu mereka berdua untuk mengucapakan selamat, keduanya tampak menghela nafas sesaat sebelum mereka menganggukkan kepalanya, mensetujui perintah yang tadi Digo berikan kepada mereka.
"Kita ke bawah dulu. Kalian berdua tetap hati-hati karena mungkin target utama si penghianat itu adalah kalian berdua," ujar Henry.
"Ya, aku tau itu. Kalian juga berhati-hati lah. Henry jaga Monik, aku yakin dia tidak bisa bergerak bebas karena gaun yang tengah ia pakai saat ini membatasi pergerakannya," ucap Digo yang diangguki oleh Henry. Tanpa diminta pun Henry akan melindungi istri dan juga calon anaknya walaupun nyawanya sendiri yang menjadi taruhannya.
__ADS_1
Dan setelahnya dua pasangan itu berpisah. Henry dan Monik segera menuju ke singgasananya yang sudah tersedia di lantai pertama mansion tersebut. Sedangkan Sheilla dan Digo, mereka berdua masih mengamati gerak-gerik Bomi yang masih saja belum ada pergerakan mencurigakan yang membuat mereka harus was-was.
Sampai 30 menit telah berlalu tapi Bomi belum juga menunjukkan taringnya.
"Kenapa dia tidak melakukan aksinya?" tanya Sheilla benar-benar heran dengan rencana yang telah disusun oleh Bomi.
"Kita kebawah sekarang. Siapa tau saat dia melihat kita sudah berbaur dengan para tamu, dia akan melanjutkan aksinya lagi," ucap Digo. Ia kini meraih tangan Sheilla, menggenggam tangan istrinya itu sangat erat sebelum ia kini melangkahkan kakinya, menuruni anak tangga di mansion tersebut.
Sesampainya mereka di lantai satu, mereka berdua berlagak seperti tidak sedang terjadi apapun bahkan keduanya langsung menyambut para tamu disana dengan senyuman ramah yang terpancar di wajah Sheilla tentunya karena Digo hanya tersenyum sekilas saja sebelum wajahnya kembali datar. Tapi semua tamu yang memang kebanyakan adalah kolega di kantor Digo, mereka tak mempermasalahkan hal itu, toh itulah wajah asli Digo saat di luar, jarang tersenyum bahkan berbicara saja seperlunya.
"Puas-puaskan kalian untuk tertawa bahagia karena sebentar lagi tawa itu akan hilang dan tergantikan dengan suara erangan kesakitan sebelum kalian mati," gumam Bomi yang tentunya tak bisa didengar oleh siapapun.
Ia benar-benar sudah tidak sabar keempat orang itu mati ditangannya yang tentunya akan menjadi kebanggaan tersendiri untuknya jika hal itu terjadi.
__ADS_1
Waktu terus berlalu sampai kondisi mansion saat ini sangat ramai dengan para tamu undangan yang sepertinya sudah datang semuanya. Bahkan para anak buah Digo dan Henry sudah sibuk dengan melayani para tamu undangan tersebut. Begitu juga dengan Bomi yang sekarang tengah mengantar minuman kepada tamu undangan yang berada tak jauh dengan posisi Digo juga Sheilla saat ini. Terlihat senyum miring dibibirnya sebelum laki-laki itu berjalan menjauh dari kerumunan orang-orang itu dengan membawa empat gelas minuman yang masih bertengger di atas nampan yang ia bawa saat ini.
Bomi tampak menatap kearah sekelilingnya, memastikan jika tidak ada yang melihat apa yang akan ia lakukan nanti. Dimana setelah dirinya memastikan semuanya aman, barulah Bomi melakukan aksinya.
Tangannya kini bergerak mengambil botol kecil yang sedari tadi ia sembunyikan di balik saku kemeja yang tertutup jas itu. Matanya kembali melirik kearah sekitarnya yang terlihat masih aman. Sebelum akhirnya tangannya itu kini bergerak untuk membuka penutup botol tersebut lalu ia menuangkan isi di dalam botol itu yang merupakan sebuah racun. Racun yang sama seperti yang dulu ia berikan kepada Vina saat dirinya dulu bekerjasama dengan perempuan murahan itu. Namun sayangnya saat itu Vina justru gagal, ia malah salah memberikan obat perangsang di minuman Monik maupun Henry bukan racun yang Bomi berikan kepadanya. Bahkan yang memberikan sebuah ide untuk Vina agar mencampurkan obat yang laki-laki itu pikir adalah racun ke dalam jus justru Bomi, bukan murni ide dari Vina sendiri. Tapi rencana itu gagal karena kesalahan Vina yang terlalu bodoh.
Mengingat hal itu membuat Bomi berdecak kesal. Kalau sampai ia bertemu dengan Vina kembali, ingatkan dia untuk memberikan pelajaran kepada perempuan itu.
Bomi dengan cepat menyingkirkan pikirannya yang berkelana ke masa lalu itu. Ia memilih untuk kembali fokus dengan tujuannya saat ini yang sangat ia yakini jika tujuannya itu akan tercapai. Dimana setelah ia menuangkan cairan racun tersebut, ia kembali menyimpan botol itu yang nantinya akan ia bakar untuk memusnahkan barang bukti jika sampai dirinya ketahuan.
Dan setelah mamastikan semuanya aman, lagi dan lagi senyuman mengerikan Bomi perlihatkan sembari ia bergumam, "Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini Digo, Sheilla, Henry dan Monik. Sampai bertemu di neraka."
Setelah berkata demikian, Bomi bergegas keluar dari dalam persembunyian itu dengan sebisa mungkin menyembunyikan ekspresi wajah bahagianya itu. Padahal tanpa dia ketahui, apa yang telah ia lakukan tadi tak lepas dari sepasang mata seseorang yang diam-diam melihat aksinya. Bukan, orang itu bukan Sheilla, Digo, Monik ataupun Henry karena keempat orang itu telah kecolongan dan berakhir mereka kehilangan jejak Bomi. Melainkan orang itu salah satu anak buah Digo yang tadi menangis bombai merasakan sakit hati melihat wanita pujaannya bersanding dengan laki-laki lain selain dirinya.
__ADS_1
Laki-laki itu tampak tersenyum melihat aksi dari Bomi itu sebelum ia beranjak, mengikuti langkah Bomi yang sudah kembali bergabung dengan para anak buah Digo dan Henry yang beralih tugas menjadi pelayan itu.