The Dark Love

The Dark Love
256. Jesi, not Sarah


__ADS_3

Raider mengerjabkan matanya kala ia mendengar suara tangisan seseorang yang menyapa indra pendengarannya di pagi hari ini. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan tersebut sebelum ia menemukan seorang wanita yang menelungkupkan wajahnya di lipatan kedua tangannya.


Seulas senyum terpatri indah di wajah Raider kala ia mengingat kejadian kemarin yang sangat-sangat tak ingin ia hilangkan dari ingatannya.


Tanpa melunturkan senyumannya, Raider turun dari atas ranjang tak lupa ia menyambar celana boxer miliknya untuk menutupi pusakanya. Lalu setelahnya barulah ia berjalan mendekati perempuan yang masih ia anggap jika perempuan itu adalah Sarah.


Kala dirinya sudah berada di depan perempuan tersebut, Raider menjongkokkan tubuhnya kemudian ia berkata, "Menangis tidak ada gunanya, semua sudah terjadi. Menyesal pun juga tidak akan bisa memutar waktu lagi. Jadi pasrah saja dengan apa yang sudah terjadi. Toh saya juga akan bertanggungjawab untuk menikahi kamu asalkan kamu bercerai dengan Bomi."


"Kamu sangat cantik Sarah. Sangat disayang kan jika kamu berpasangan dengan Bomi yang tidak ada apa-apa dibandingkan dengan saya. Jadi menikahlah dengan saya dan tinggalkan Bomi," sambung Raider dengan tangan yang bergerak mengelus rambut perempuan dihadapannya itu yang masih enggan memperlihatkan wajahnya. Bahkan ucapannya tadi tak kunjung mendapat balasan dari perempuan tersebut sehingga membuat Raider gemas sendiri. Dan karena kegemasannya itu, Raider membantu perempuan di hadapannya itu untuk menatap dirinya.


Dimana saat kepala itu sudah menegak, betapa terkejutnya Raider saat mendapati bukan wajah Sarah lah yang berada di hadapannya melainkan Jesi, sang sekretaris.


Raider dengan cepat berdiri dari posisi berjongkoknya tadi, ia bahkan memundurkan tubuhnya. Dan dengan kepalan di tangannya ia berkata, "Kenapa kamu ada disini? Dimana Sarah?!"

__ADS_1


Suara bariton itu menggema memenuhi ruangan tersebut kala sang pemilik suara menaikan nada bicaranya.


Jesi jelas tersentak mendengar nada bentakan dari Raider tadi. Ia kita dengan dirinya berpura-pura menangis seperti ini Raider akan tetap bersikap manis seperti sebelumnya saat laki-laki itu belum mengetahui jika perempuan itu adalah dirinya bukan si Sarah. Namun nyatanya, respon yang diberikan oleh Raider saat ini benar-benar sangat menakutkan bagi Jesi sampai-sampai ia menelan salivanya sendiri dengan sudah payah.


"Katakan dimana Sarah, sialan!" bentak Raider kembali.


"Di---dia." Belum sempat Jesi menyelesaikan ucapannya, erangan Raider membungkam bibirnya kembali.


"Arkhhhh sialan! Jadi semalam atau bahkan sedari kemarin kamu yang bersama dengan saya disini bukan perempuan itu?!" ucap Raider dengan menuju kearah Jesi.


"Sialan!" umpat Raider untuk kesekian kalinya dengan mengusap wajahnya frustasi. Hal yang semalam ia angan-angan bahkan sampai terbawa kedalam mimpi, harus pupus begitu saja saat menyadari jika orang yang ia dapatin bukanlah orang yang sama seperti yang ia inginkan.


Raider kini berjalan, menuju keatas nakas disamping ranjang untuk mengambil dompet miliknya lalu setelah ia mendapatkan dompet tersebut, ia kembali berjalan mendekati Jesi tapi sebelumnya ia menyempatkan dirinya untuk mengambil pakaian milik Jesi dengan jijik. Kemudian ia melempar pakaian itu tepat di wajah Jesi.

__ADS_1


"Pakai pakaian kamu itu, wanita murahan. Dan ambil ini." Raider melempar beberapa lembar uang ke arah Jesi yang berhasil mengenai wajah perempuan yang terus diam tak berkutik itu.


"Anggap saja uang itu adalah bayaran untuk kinerja kamu kemarin," ujar Raider tak berperasaan. Tentunya hal itu memancing amarah Jesi. Namun kala ia ingin angkat suara, tindakan Raider kembali membungkam bibirnya. Laki-laki itu dengan tega menyeret dirinya keluar dari ruang pribadi laki-laki tersebut, melemparnya seperti barang bekas yang sudah tidak berguna.


"Pakai pakaian kamu! Dan segara keluar dari sini. Anggap saja kejadian kemarin tidak pernah terjadi. Dan saya tidak mau mendengar apapun dari kamu, jika kamu mau tetap bekerja disini maka tutup mulut kamu itu!" tekan Raider sebelum ia menutup pintu ruangan pribadinya itu dengan sangat keras. Ia benar-benar tak peduli dengan kondisi Jesi sekarang yang tengah menatap penuh amarah pintu di hadapannya dengan kepalanya di tangannya.


"Sialan! Bedebah!" teriak Jesi. Ia tidak menyangka jika dirinya akan mendapatkan perlakuan buruk dari Raider. Ia sangka jika Raider akan menikahi dia seperti yang ia inginkan namun ternyata laki-laki itu malah menganggapnya seperti wanita murahan. Sial sial sial. Tapi tunggu, bukankah kemarin mereka bermain tanpa pengaman? Jadi masih ada kesempatan bukan Jesi menyandang sebagai nyonya Raider jika ia bisa mengandung benih laki-laki itu. Ya, hal itu bisa ia manfaatkan untuk meraih yang ia inginkan. Karena ia sangat yakin Raider akan bertanggungjawab jika memang benar ia nanti mengandung anak dari laki-laki itu.


Kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi itu membuat Jesi yang tadinya tersulut emosi, kini emosi itu mereda dan digantikan dengan senyum penuh harap. Dan tanpa melunturkan senyuman itu, Jesi memakai pakaiannya kembali.


Sedangkan Raider, laki-laki itu melampiaskan amarahnya dengan memukul dinding di kamar tersebut. Ia merasa di bodohi dan di bohongi oleh perempuan yang ia cintai pada pandangan pertama itu.


"Sarah sialan!" Satu tinjauan kembali mendarat di dinding kokoh tersebut. Dan saat ia ingin melayangkan pukulan untuk kesekian kalinya, niatannya itu terhenti kala ia melihat layar ponselnya berkedip menandakan ada sebuah pesan masuk disana.

__ADS_1


Dengan perasaan yang masih tak karuan, Raider berjalan mendekati ponselnya, meraih dengan kasar lalu membuka pesan tersebut yang semakin membuat kepalanya hampir pecah.


"Damn it!!!"


__ADS_2