
Sesuai dengan perintah Digo sebelumnya, kini semua anak buahnya telah berkumpul di salah satu rumah yang telah mereka sewa dan jauh dari rumah Yoga pastinya. Dan yang terdengar didalam rumah itu saat ini hanyalah omelan Henry yang di tujukan kepada anak buahnya.
"Jadi selama kalian disini, kalian tidak ada yang menyadari akan hal tersebut?" Tanya Henry kepada anak buahnya yang kini tengah menundukkan kepalanya.
"Kenapa otak kalian sekarang sangat bodoh sekali? Apa perlu saya latih kembali otak kalian itu biar lebih cermat lagi dalam mengintai lawan?" Diam, semua orang disana masih diam tak menyanggah ucapan Henry. Bahkan mereka menegakkan kepala mereka pun mereka tak lakukan karena di depan sana ada seseorang yang menatap tajam dan siap membantai siapa saja di hadapannya. Dan orang itu siapa lagi kalau bukan Digo.
"Sepertinya memang benar saya harus mengasah otak kalian lagi mulai dari sekarang!" murka Henry dan saat dirinya akan melangkah mendekati salah satu anak buahnya, tarikan di lengannya menghentikan langkahnya. Dan dengan cepat ia menolehkan kepalanya.
"Apa kamu akan terus membuang waktu saya, Henry? Kembali ke tempatmu semula!" Suara bariton Digo membuat Henry dengan seketika mengatupkan bibirnya lalu setelahnya ia memilih mundur dan kembali ke tempat semula. Kalau sudah begini ia tak akan pernah berani membantah Digo kalau dia masih sayang dengan nyawanya.
Digo yang melihat Henry sudah kembali, ia mengedarkan pandangannya kearah para anak buahnya yang masih saja menundukkan kepalanya.
"Saya tidak menyuruh kalian untuk menundukkan kepala!" teriak Digo menggema memenuhi rumah tersebut yang langsung membuat semua anak buahnya menegakkan kepalanya dan dengan takut-takut menatap Digo yang berdiri gagah didepan sana.
Dan setelah memastikan semua orang menatap dirinya, Digo kembali angkat suara.
__ADS_1
"Kali ini lawan kita bukan orang biasa yang bisa kita taklukan segampang menjentikkan jari tangan kita. Banyak orang besar yang berada di belakang dia. Dan kemungkinan mereka sudah tau jika kita telah memata-matai komplotan mereka. Dan hal ini juga kenapa saya mengumpulkan kalian semua disini karena kalau kalian masih disana kalian tidak akan pernah mendapat informasi atau pergerakan dari Yoga dan anak buahnya. Karena kita tidak tau rencana yang sudah mereka buat seperti apa," ujar Digo dengan helaan nafas panjang sebelum ia meneruskan ucapannya.
"Saya tidak menyalahkan hasil kerja kalian tapi saya menyalahkan diri saya sendiri yang sejak awal tidak memantau dan bergerak untuk menyerang Yoga dan berakhir masalah ini sangat lama kita taklukan. Dan berhubungan saya sekarang sudah berada di sini, maka kita harus lebih cerdik lagi untuk mengalahkan lawan." Seluruh anak buah Digo saling pandang satu sama lain, penasaran dengan rencana yang akan Digo lakukan kali ini.
"Henry," panggil Digo yang membuat Henry langsung mendekati dirinya.
"Ya tuan."
"Pilih dua anak buah kamu yang bisa kamu andalan. Kalau bisa pilih yang matanya cermat untuk mengintai lawan!" perintah Digo yang diangguki oleh Henry lalu setelahnya laki-laki itu bergerak mencari dua anak buahnya yang sangat ia yakini bisa ia andalkan. Dan setelah menemukan orang tersebut ia menyeret keduanya maju kedepan, berhadapan langsung dengan Digo.
"Kalian berdua saya tugaskan kembali mengintai rumah itu. Tapi kalian akan mengintai mereka lewat rumah yang berada tepat di samping kanan rumah yang mereka tempati karena di lokasi itu kalian bisa lebih leluasa untuk mengawasi mereka. Di rumah itu kalian juga bisa melihat pergerakan mereka dari jendela. Dan tanpa kalian keluar dari rumah kalian juga bisa melihat pelataran rumah yang dijadikan markas mereka dari balik tirai yang berada di pojok depan rumah yang akan kalian tempati karena saya sudah melubangi tembok di tempat itu dan saya sudah menyediakan teropong untuk melancarkan aksi kalian. Jadi kalian sekarang pergilah. Mulai tugas kalian dan semoga kali ini masalah ini bisa menemukan titik terang," ujar Digo menjelaskan akan tugas kedua orang yang telah di pilih oleh Henry tadi.
Dan ya, sebelum dirinya tadi benar-benar pergi dari samping markas Yoga, ia sempat menyuruh beberapa anak buahnya yang tadi ikut menjemput dirinya di bandara untuk menyewa rumah tepat disebelah markas Yoga, walaupun ada sedikit pertengkaran tadi dengan sang pemilik rumah yang asli karena mereka meminta izin agar tembok di rumah itu sedikit mereka rusak. Tapi itu semua sangat gampang mereka selesai dengan cara memberikan uang yang cukup fantastis dan akhirnya si pemilik rumah langsung mengizinkan anak buah Digo untuk melakukan apapun yang mereka mau di rumah tersebut.
"Baik Bos. Laksanakan," ucap kedua orang tersebut dengan kompak. Dan sebelum mereka mulai melangkahkan kakinya, mereka membungkukkan badannya, memberi hormat kepada Digo yang dibalas anggukan oleh laki-laki itu.
__ADS_1
"Tiga orang ikuti mereka. Pastikan mereka aman sampai di tempat!" perintah Digo saat kedua orang tadi sudah keluar dari rumah yang sementara waktu akan dijadikan markas oleh mereka.
Dan tanpa di pilih seperti sebelumnya, tiga orang laki-laki yang bertubuh kekar maju dan menundukkan tubuhnya sebelum mengikuti kedua orang tadi menuju ke lokasi yang disebutkan oleh Digo tadi.
Setelah ketiga orang tadi telah keluar dari rumah tersebut, penglihatannya Digo kembali beralih kearah puluhan anak buahnya.
"Dan untuk kalian semua. Henry nanti akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok." Henry yang namanya disebut pun ia mengerutkan keningnya apalagi mendengar ia disuruh membagi anak buahnya menjadi beberapa kelompok. Memang Digo pikir ini sedang berada disekolah pakai acara membagi kelompok segala, batin Henry.
Tapi saat dirinya ingin bertanya, tangan Digo sudah lebih dulu terangkat. Menandakan jika dirinya tidak di izinkan untuk bertanya ataupun mengeluarkan suara sedikitpun. Dan hal tersebut membuat Henry mencebikkan bibirnya.
"Kamu diam dulu Henry. Saya belum selesai berbicara," ujar Digo dengan memberikan lirikan tajam untuk tangan kanannya itu.
"Setelah kalian nanti dibagi dalam beberapa kelompok. Saya akan memberikan kalian tugas untuk mencari sebuah lubang besar yang tak jauh dari perumahan ini atau jalan lain yang sekiranya sangat mencurigakan. Karena tidak mungkin mereka hanya berdiam diri di rumah itu selama ini. Jadi kemungkinan mereka keluar dari rumah tersebut dengan menggali lubang agar saat mereka keluar kalian tidak mengetahuinya," ujar Digo yang diangguki oleh anak buahnya ataupun Henry sekalipun. Karena menurut mereka apa yang dikatakan oleh Digo tadi ada benarnya juga. Tidak mungkin mereka akan diam saja di rumah tersebut, mereka juga butuh makan dan lain sebagainya. Dan salah satu cara agar mereka keluar tanpa di ketahui oleh anak buah Digo adalah dengan membuat lubang untuk jalur keluar mereka.
"Henry bagi sekarang dan kerahkan anak buahmu ini untuk melakukan aksinya besok pagi. Dan untuk sekarang biarkan mereka istirahat terlebih dahulu setelah pembagian kelompok nanti. Mengerti?!" Henry menganggukkan kepalanya dan tanpa banyak tanya lagi, ia mulai mengambil alih tempat Digo sebelumnya dan segera memulai apa yang di perintahkan oleh Digo tadi.
__ADS_1
Sedangkan Digo, ia memilih untuk menuju kesalah satu kamar di dalam rumah tersebut untuk menenangkan pikirannya yang hampir meletus gara-gara memikirkan permasalahan yang tak kunjung bisa ia selesai itu.