The Dark Love

The Dark Love
142. Sheilla Home


__ADS_3

Digo dan Sheilla kini telah sampai di rumah sederhana yang ditinggali oleh nenek Sheilla itu.


"Apakah bentar ini rumahmu, sayang?" tanya Digo yang benar-benar tak menyangka jika rumah yang benar-benar sangat sederhana itu dulunya menjadi tempat tinggal kekasihnya itu.


"Ini bukan rumahku, Dear. Tapi ini rumah nenekku, aku hanya menumpang di rumah ini. Dan lebih baik kita sekarang masuk saja. Aku sudah tidak sabar melihat nenek," ucap Sheilla dengan melangkahkan kakinya terlebih dahulu dari Digo yang masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah tersebut.


"Kalau tau rumahnya seperti ini. Aku dulu dengan cepat memerintahkan anak buahku untuk membeli rumah yang jauh lebih layak untuk nenek Sheilla tempati," gumam Digo yang menyesal karena dia baru tau akan kondisi rumah nenek kekasihnya itu. Dan setelah bergumam, ia melangkahkan kakinya mengikuti Sheilla yang kini tengah mencoba untuk mengetuk rumah tersebut.


Tok tok tok!


Untuk yang kesekian kalinya Sheilla mengetuk pintu tersebut hingga akhirnya pintu itu terbuka dan memperlihatkan wanita tua sekitar umur 70 tahun lebih.


"Nenek," ucap Sheilla yang membuat wanita tua itu tampak terkejut melihat kehadiran cucunya itu.


"Sheilla. Ini benar kamu, nak? Nenek tidak salah lihat kan?" ucap wanita tua tersebut dengan memegang tubuh Sheilla, memutarnya hingga ia menangkup kedua pipi Sheilla yang kini tengah menangis haru.


"Iya nek. Ini Sheilla. Nenek sedang tidak salah lihat. Sheilla pulang nek. Sheilla pulang hiks," ucap Sheilla sembari memeluk tubuh wanita tua itu.


"Ya Allah, Sheilla. Akhirnya kamu pulang juga, nak. Hiks nenek khawatir sama kamu. Akhirnya cucu nenek kembali. Hiks terimakasih ya Allah karena sudah melindungi cucu hamba selama ini."


"Maafin Sheilla yang sudah membuat nenek khawatir. Sheilla benar-benar tidak bermaksud menghilang begitu saja dari nenek. Sheilla sudah berusaha untuk menghubungi nenek lewat Shinta tapi usaha Sheilla tidak membuahkan hasil karena Shinta hanya mengabaikan pesan serta panggilan dari Sheilla. Sheilla benar-benar menyesal sudah membuat nenek khawatir. Maafin Sheilla, nek. Maafin Sheilla," ucap Sheilla yang merasa begitu bersalah kepada neneknya itu.


"Tidak nak, tidak. Kamu tidak bersalah. Jangan meminta maaf seperti ini kepada nenek nak." Wanita tua itu kini melepaskan pelukannya tadi dan dengan menatap wajah Sheilla dengan sangat lekat, tangannya bergerak menghapus air mata Sheilla.

__ADS_1


"Kamu tidak bersalah, Sheilla. Jadi nenek mohon jangan meminta maaf seperti tadi lagi ya. Nenek tidak suka mendengarnya. Dan kamu tau nak, nenek sangat senang dan bersyukur kamu datang menemui nenek. Nenek sangat-sangat merindukanmu," ujar wanita tua tersebut.


"Sheilla juga sangat merindukan nenek." Sheilla kembali memeluk tubuh ringkih wanita tua tersebut sesaat sebelum pelukannya itu kembali ia lepaskan.


"Selama Sheilla pergi, nenek baik-baik saja kan?" Sheilla menatap wanita tua itu dari atas kepala sampai ujung kaki. Terlihat jelas jika tubuh sang nenek jauh lebih kurus dari sebelum dia meninggalkan neneknya itu.


"Nek---"


"Nenek baik-baik saja, Sheilla. Kamu jangan khawatir ya. Berat tubuh nenek memang sedikit berkurang karena nenek sedang tidak nafsu makan setelah kepergianmu itu ditambah 2 Minggu yang lalu Shinta juga ikut meninggalkan nenek jadinya ya karena nenek keasikan memikirkan kalian berdua sampai nenek lupa makan," ucap wanita tua tersebut yang membuat Sheilla melengkungkan bibirnya kebawah.


Dan saat Sheilla ingin berucap untuk meminta maaf kembali, sang nenek lebih dulu bersuara.


"Sudah-sudah jangan meminta maaf terus. Dan lebih baik sekarang kita masuk kedalam yuk," ajak wanita tua tersebut dan saat dirinya menggandeng tangan Sheilla yang ingin dia bawa masuk kedalam rumah, Sheilla menghentikan niatan sang nenek tadi.


"Tunggu dulu Nek. Ada seseorang yang mau Sheilla kenalkan ke nenek," ucap Sheilla yang membuat wanita tua itu menatap kembali kearah Sheilla.


"Orangnya ada di belakang nenek sekarang," ujar Sheilla yang membuat neneknya itu kini memutar tubuhnya, menghadap kearah Digo yang kini tengah tersenyum kepadanya.


"Ehhhh ya ampun nenek sampai tidak tau jika ada laki-laki tampan disini," ucap wanita tua itu.


"Ahhhh tidak apa-apa nek. Saya mengerti. Salam kenal Nek, nama saya Digo. Saya calon suami Sheilla," ujar Digo sembari menyalami tangan wanita tua itu.


Dan ucapan dari Digo itu membuat wanita tua itu tampak terkejut.

__ADS_1


"Sebentar. Nenek tadi tidak salah dengar kan? Kamu tadi siapanya Sheilla?"


"Saya calon suami Sheilla, nek," ulang Digo yang membuat nenek Sheilla itu kini menolehkan kepalanya kearah sang cucu.


"Ini beneran calon suami kamu, Sheilla?" Sheilla yang sebentarnya masih ragu-ragu, takut jika ucapan dari Digo itu hanya bualan saja pun ia kini menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung ingin menjawab apa.


"Sheilla?" panggil sang nenek yang membuat Sheilla kini menghela nafasnya sebelum dirinya pada akhirnya menganggukkan kepalanya.


"Benar nek, dia calon suami Sheilla."


"Ya Allah. Jadi kamu pergi untuk mencari calon suami, nak? Ya ampun mana calon suami kamu ini sangat tampan lagi," puji nenek Sheilla.


"Bukan nek. Sebenarnya Sheilla pergi waktu itu untuk bekerja ehhhh tidak taunya saat Sheilla tengah bekerja ketemu sama dia," jelas Sheilla. Benar bukan jika dia bertemu dengan Digo saat dia tengah melakukan pekejaannya dibawa pantauan Yoga waktu itu. Dan tumbuhnya perasaan mereka berdua juga tidak pernah keduanya sangka-sangka. Hanya mengalir seperti air saja.


"Ehhhh jadi begitu. Kirain kamu pergi hanya untuk mencari suami saja. Ya sudah kalau gitu kita lanjutkan obrolan kita ini didalam saja yuk. Ayo nak Digo masuk. Maaf ya rumahnya kecil," ucap nenek Sheilla sembari membukakan pintu rumahnya lebar-lebar agar Sheilla dan Digo bisa masuk kedalam rumahnya.


"Duduk dulu ya. Nenek buatkan kalian teh hangat dulu," ucap nenek Sheilla itu.


"Ahhhh tidak usah repot-repot nek," tolak Digo secara halus.


"Tidak apa-apa nak. Nenek tidak merasa di repotkan olehmu. Jadi tunggu sebentar ya." Tanpa menunggu Digo menolak kembali niatannya tadi, nenek Sheilla lebih dulu menuju kearah dapur di rumah sederhana tersebut.


"Percuma kamu ngelarang nenek untuk tidak melakukan apa yang sudah menjadi keinginan beliau, Dear. Karena nenek itu sebelas dua belas keras kepalanya sepertimu. Dan kamu tidak apa-apa kan kalau disini dulu sebentar. Aku mau bantu nenek di dapur dulu soalnya," tutur Sheilla yang tak bisa membiarkan neneknya repot di dalam dapur sendirian.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa disini sendirian sayang karena memang lebih baik kamu membantu nenekmu didapur. Aku takut beliau nanti kenapa-napa," ujar Digo.


"Ya sudah kalau gitu aku tinggal dulu," ucap Sheilla yang diangguki oleh Digo sebelum perempuan itu kini beranjak dari tempat duduknya tadi dan menuju kearah dapur, menyusul neneknya.


__ADS_2