
Setelah Digo dan Sheilla melihat rekaman video asusila yang dilakukan oleh Vina itu dan setelah mendapat pesan dari Henry yang memberitahukan jika Vina telah ia temukan, mereka memutuskan untuk kembali ke mansion.
"Vina!" teriak Digo menggema di dalam mansion itu kala dirinya baru menginjakkan kakinya ke dalam rumah mewah miliknya.
"Vina!" ulang Digo kala orang yang ia panggil itu tak kunjung menghampirinya.
Sedangkan Sheilla, telinganya yang sudah mulai pengang karena teriakan Digo tadi, ia kini angkat suara.
"Dear, lebih baik kamu jangan teriak-teriak oke. Karena sampai pinta suaramu itu putus, perempuan itu aku yakin tidak akan muncul di hadapanmu. Dan biar aku saja yang menghampiri dia ke kamarnya, membawa dia ke hadapanmu," ucap Sheilla sembari mengusap lengan kekar milik kekasihnya tersebut agar amarah laki-laki tersebut tak semakin tersulut.
"Dan lebih baik kamu sekarang duduk sini." Sheilla menarik pelan tangan Digo dan membawa laki-laki itu ke sofa ruang tamu.
Dan saat dirinya sudah berhasil membuat Digo duduk di sofa tersebut, sebuah kecupan mendarat di bibirnya.
"Terimakasih karena sudah menenangkanku," ujar Digo, si pencuri kecupan dari Sheilla tadi.
Dan hal tersebut membuat Sheilla tersenyum kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu aku nyamperin Vina di kamar dia. Dan kamu tetap disini saja jangan kemana-mana," ujar Sheilla sebelum dirinya kini melangkahkan kakinya menuju ke lantai dua mansion tersebut meninggalkan Digo yang menurut akan perintahnya tadi.
Tangan Sheilla kini bergerak untuk mengetuk pintu kamar Vina kala dirinya telah menghadap kearah pintu kamar milik perempuan tersebut.
Tok tok tok!
"Vina, buka pintunya!" teriak Sheilla. Tapi hening tak ada jawaban dari si pemilik kamar tersebut yang membuat Sheilla kembali mengetuk pintu itu.
__ADS_1
"Vina! buka pintunya!" teriaknya lagi disela ia mengetuk pintu tersebut. Namun lagi-lagi teriakannya itu sama sekali tak dijawab oleh Vina.
"Kemana sih tuh orang? Masa iya dia tidak ada dikamarnya? Kalau memang sedang tidak ada di kamar, kenapa saat Digo berteriak memanggil dia, dia tidak langsung menghampiri Digo. Padahal biasanya dimana Digo berada di manison ini pasti ada dia juga. Dan aku yakin jika memang dia tadi dengar Digo memanggilnya, dia akan kegirangan dan tidak butuh Digo mengulangi untuk memanggilnya lagi untuk kedua kalinya, dia sudah menghadap Digo. Tapi tadi, dia sama sekali tidak memunculkan batang hidungnya," gumam Sheilla.
"Sangat aneh sekali. Apa jangan-jangan dia sekarang tengah mengurung diri di dalam kamar ini karena takut kena marah oleh Digo atas apa yang telah dia lakukan? Hmmmm bisa jadi. Tapi walaupun begitu aku tetap harus membawa dia kehadapan Digo, bagaimanapun caranya," sambung Sheilla dengan mencari cara bagaimana ia bisa masuk kedalam kamar tersebut.
Hingga tepukan di bahunya membuat Sheilla tampak terkejut sebelum dirinya kini menolehkan kepalanya kearah belakang.
"Astaga Monik. Ngagetin saja," ucap Sheilla dengan menghela nafas lega kala yang menepuk bahunya tadi ternyata adalah Monik.
Monik yang tadi sempat melihat wajah terkejut Sheilla, ia kini nyengir dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Maaf-maaf aku tidak berniat untuk mengejutkanmu. Dan apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya Monik.
"Sepetinya kamu tadi sempat mendengar teriakan Digo yang memanggil Vina. Nah daripada dia teriak-teriak terus, aku memilih untuk memanggil Vina kesini langsung. Tapi sedari tadi aku memanggil dan mengetuk pintu kamar ini berulang kali, dia sama sekali tidak membalas teriakanku dan juga tak kunjung membuka pintu kamar ini," jelas Sheilla.
"Nih kuncinya." Monik menyerahkan kunci cadangan kamar Vina itu ketangan Sheilla yang membuat kepala Sheilla kini mengangguk sebelum dirinya kini membuka pintu kamar tersebut hingga akhirnya bisa ia buka. Dan saat pintu kamar itu terbuka lebar, Sheilla maupun Monik tak melihat keberadaan Vina disana.
"Kok tidak ada? Kemana dia?" tanya Monik.
"Entahlah, mungkin dia ada di---" ucapan Sheilla menggantung kala pintu kamar mandi di dalam kamar itu terbuka dan memunculkan Vina yang sudah menggenakan sebuah dress, berjalan loyo menuju ke ranjangnya. Namun saat dirinya ingin merebahkan tubuhnya diatas ranjang, dirinya dikejutkan dengan dua orang yang tengah melihat dirinya di ambang pintu.
"Astaga apa yang sedang kalian lakukan disitu?" ucap Vina dengan menegakkan kembali tubuhnya.
Sheilla dan Monik yang baru menyadari posisi mereka berdua seperti seseorang yang tengah mengintip itu pun, keduanya juga langsung menegakkan tubuhnya.
__ADS_1
"Kalian mau ngintip aku. Astaga, ingat ya aku dan kalian ini satu jenis. Kita sama, bentuk milikku dan milik kalian sama, tidak ada bedanya sama sekali," ucap Vina.
"Maaf-maaf nih ya, punya kita berdua masih rapat, sedangkan punya kamu kan sudah ehemmm melebar," balas Sheilla yang membuat Monik hanya diam saja tak mengiyakan ucapan dari Sheilla tadi. Karena terus terang saja ia juga tersindir dengan ucapan Sheilla itu.
"Ahhhh tapi saya disini tidak akan membahas hal itu, karena itu semua tidak penting jika dibandingkan dengan Digo yang tengah menunggu kamu di ruang tamu," kata Sheilla yang menyampaikan tujuan dirinya ke kamar Vina itu.
Vina yang mendengar perkataan dari Sheilla itu, terlihat jelas jika dirinya saat ini tengah terkejut dengan bibir yang melongo tak percaya.
"Digo? Memanggilku? Kamu yakin?" tanya Vina dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu meragukan aku yang merupakan kekasih dari Digo?" Vina tampak mencebikkan bibirnya kala mendengar kata kekasih keluar dari bibir Sheilla.
"Tentu saja, aku tidak percaya denganmu," ujar Vina tak percaya dengan ucapan Sheilla tadi. Ia takut jika ia terkena jebakan yang tengah Sheilla rencanaksn saat ini.
"Ohhhh jadi kamu tidak percaya. Baiklah, aku juga tidak memaksa kamu untuk mempercayaiku. Tapi aku tidak menjamin kamu akan selamat kalau Digo sendiri nanti yang kesini," ucap Sheilla.
"Dan karena aku sudah menyampaikan pesan dari kekasihku. Aku pergi dulu. Dan terserah kamu mau percaya denganku atau tidak, aku juga tidak peduli," sambung Sheilla sebelum dirinya kini memutar tubuhnya untuk pergi dari kamar Vina itu.
"Nona, apa yang di katakan oleh Sheilla tadi benar, jika tuan Digo saat ini tengah mencari kamu. Beliau tadi memanggil nama kamu sampai 2 kali tapi mungkin kamu tidak mendengarnya," ucap Monik kala Sheilla sudah menjauh dari kamar tersebut.
"Benarkan begitu?" Monik menganggukkan kepalanya.
"Tapi untuk apa dia memanggilku? Tidak seperti biasanya," ucap Vina mulai was-was.
"Saya juga tidak tau Nona. Mungkin tuan Digo sudah mulai tertarik dengan kamu kali. Jadinya saat beliau pulang kerja dan tidak melihat kamu, beliau jadi berteriak memanggil nama kamu seperti tadi," ujar Monik.
__ADS_1
"Hmmmm sepertinya apa yang kamu katakan tadi ada benarnya juga. Dia memanggilku karena aku tidak menyambut kepulangan dia. Baiklah kalau begitu aku akan segara menemui dia," ucap Vina dengan senyum lebarnya sebelum dirinya beranjak dari samping ranjang, keluar dari kamarnya dan menuju ke lantai satu mansion tersebut dimana disana tempat Digo berada.