
Setelah melakukan hubungan suami-istri, keduanya tak keluar dari kamar sama sekali. Makan pun salah satu maid yang mengantarnya ke kamar mereka. Hingga kini hari sudah berganti, dimana kondisi Sheilla yang kemarin di makan habis oleh Digo telah kembali seperti semula walaupun masih merasakan sedikit pegal.
Dan kini keduanya dengan berjalan beriringan menuju ke ruang makan.
Dimana kedatangan keduanya langsung mendapat hormat dari semua maid disana. Hingga keduanya duduk dimeja kursi makan mereka, barulah para maid itu kembali ke pekerjaan masing-masing.
"Kamu cari siapa sih, sayang? Dari tadi aku lihat kamu celingukan kesana kemari. Cariin siapa hmmm?" tanya Digo saat dirinya melihat sang istri seperti kebingungan di mansion tersebut.
Sheilla yang tadinya menatap ke sekeliling ruang makan itu, ia menatap kearah Digo.
"Ini lho Dear, aku lagi cari Monik dari kemarin aku gak lihat dia. Padahal aku kangen banget sama dia. Dan apa boleh Monik jadi asisten pribadiku?" pinta Sheilla yang membuat Digo memincingkan alisnya.
"Asisten pribadi?" Sheilla menganggukkan kepalanya.
"Boleh ya, please karena selain bik Nah yang baik banget sama aku saat dulu aku pertama kali bergabung dengan mereka di mansion ini, ada Monik juga yang tidak kalah baiknya denganku. Kamu sendiri juga tau kan kalau dia sempat belain aku saat aku dulu bertengkar dengan Vina. Dia perempuan kuat tau sayang yang bisa melindungi aku jika ada serangan seseorang yang membahayakan nyawaku saat aku keluar nanti," kata Sheilla mencoba untuk meyakinkan Digo agar suaminya itu mengizinkan dirinya mengangkat Monik menjadi asisten pribadinya.
Digo tampak terdiam sesaat. Apa yang dikatakan oleh Sheilla tadi ada benarnya juga karena selain dirinya dan Henry, orang yang paling pandai bela diri dan mematikan di mansion tersebut, masih ada Monik yang tak kalah dengan dua laki-laki itu. Toh Digo juga tidak bisa terus berada di samping Sheilla, mengawasi perempuan itu 24 jam karena ada banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan yang membuat waktunya dengan Sheilla pasti berkurang. Dan dengan adanya Monik, mungkin akan membantu Digo untuk menjaga istrinya itu dari niatan jahat orang lain disekitarnya dan dari musuh-musuhnya.
"Baiklah, kalau itu maumu. Nanti kamu bilang sendiri dengan Monik. Aku rasa dia sekarang lagi didapur. Panggil saja dia untuk kesini," ujar Digo yang membuat Sheilla merekahkan senyumannya.
"Terimakasih, Dear," ucap Sheilla yang diangguki oleh Digo. Sebelum perempuan itu kini beranjak dari posisi duduknya dan menuju kearah dapur.
Dimana kepergian darinya itu membuat Digo menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan bertepatan dengan perginya Sheilla, Henry baru datang bergabung di meja makan tersebut.
"Lho istri kamu mana?" tanya Henry yang tentunya tau akan kabar bahagia itu jauh-jauh hari dari pengumuman yang di kabarkan oleh Digo dan Sheilla kemarin.
__ADS_1
"Dia lagi ke dapur, cari Monik," ucap Digo yang dijawab Henry dengan kata oh saja.
Dan setelahnya kedua laki-laki itu membicarakan proyek yang beberapa hari ini Henry pantau perkembangannya sampai baru bisa kembali ke mansion itu kemarin sore.
Sedangkan disisi lain, masih dengan senyumannya Sheilla masuk ke dapur. Namun lagi-lagi orang yang ia cari tak ada di ruangan tersebut.
"Lho bik Nah, Monik mana?" tanya Sheilla penasaran.
Bik Nah yang tengah sibuk dengan beberapa piring didepannya itu ia menolehkan kepalanya kearah sumber suara.
"Dia tadi bilang ke bibik kalau mau ke kamar mandi tapi entahlah itu anak sampai sekarang belum juga kembali," jawab bik Nah.
"Udah lama ke kamar mandinya?" tanya Sheilla.
"Lumayan lama, dari saat bibik buat menu makanan yang terakhir sekitar 20 menitan."
"Sepertinya iya. Karena Bibik lihat dia pergi kearah sana."
"Baik kalau begitu terimakasih infonya bik. Semangat bekerja jangan lupa sarapan," ucap Sheilla dengan senyumannya.
"Siap nyonya," balas bik Nah yang sudah mengganti panggilannya yang tentunya atas perintah dari Digo.
Sheilla yang sebenarnya sangat risih dengan panggilan barunya itu ia hanya bisa pasrah saja menerimanya daripada dirinya kena omel dan berakhir di diami oleh Digo seperti kemarin, bisa panjang urusannya nanti.
Sheilla berjalan menuju ke arah kamar mandi di samping ruang makan para karyawan. Dimana saat dirinya sudah berada di depan pintu kamar mandi itu, dirinya dibuat terdiam sebelum dirinya dibuta panik kala mendengar suara orang yang sedang muntah. Hingga tangan Sheilla dengan cepat mengetuk pintu kamar mandi tersebut.
__ADS_1
Tok tok tok!!
"Yang didalam Monik atau bukan?" tanya Sheilla tanpa menghentikan ketukannya itu.
Dimana hal tersebut membuat seseorang yang berada didalam kamar mandi dan dengan tubuh yang sudah lemas, orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Monik mencoba berdiri dari posisi berjongkoknya dengan merambat ke tembok sebelum berakhir membuka pintu kamar mandi tersebut.
Sheilla yang melihat wajah pucat Monik, dirinya semakin dibuat khawatir saja dengan perempuan yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya itu.
"Monik kamu kenapa? Wajah kamu pucat banget," ujar Sheilla dengan membantu menyangga tubuh Monik agar tak ambruk ke lantai.
"Saya tidak apa-apa, nyonya. Hanya sedikit pusing dan mual saja. Mungkin sakit magh saya lagi kambuh," ucap Monik.
"Astaga. Kenapa bisa kambuh sih? Sudah berapa hari kamu sakit hmmm?"
"Baru hari ini saya merasakan pusing juga tapi kalau rasa mual sudah sekitar 3 hari belakangan ini."
"Ya ampun. Sudah pergi ke dokter?" Monik menjawab dengan gelengan kepala sembari berucap, "Saya tidak suka bau obat-obatan nyonya. Dan saya rasa dengan saya minum obat magh pasti akan sembuh nanti."
"Ck, kamu ini selalu saja begitu kalau sakit tidak mau disuruh ke rumah sakit. Tapi obat kamu masih ada kan?" Monik lagi-lagi menjawab dengan gelengan kepala.
"Saya belum sempat beli. Dan stok obat saya sudah habis sekitar 2 bulan yang lalu." Sheilla menghela nafas panjang.
"Ya sudah kalau begitu lebih baik kita makan dulu dan untuk obat magh kamu biar aku suruh salah satu anak buah Digo nanti untuk pergi ke apotek membelikan obat untukmu," ujar Sheilla dengan memapah tubuh Monik menuju ke ruang makan utama.
"Terimakasih atas bantuannya, Nyonya. Tapi sebaiknya saya makan di ruangan ini saja jangan di ruang makan utama," ucap Monik.
__ADS_1
"Tidak. Kamu harus makan satu meja denganku agar aku bisa mengawasi kamu. Karena aku tidak akan yakin jika makananmu nanti akan habis jika tidak aku awasi. Jadi menurutlah denganku," tutur Sheilla tak ingin di bantah lagi. Dimana hal tersebut membuat Monik hanya bisa pasrah saja. Walaupun niat dia berada di ruang makan para karyawan itu agar jika dirinya merasa mual lagi, ia tidak perlu capek-capek berlari kearah kamar mandi. Karena ia sangat yakin, perutnya itu nanti akan mengeluarkan isi yang telah ia makan. Sekaligus ia tak ingin membuat Digo atau yang lainnya yang ikut makan dengannya merasa jijik karena ia terus-menerus mual. Namun mau ia memberikan alasan apapun, pasti Sheilla tidak akan mendengar alasannya itu. Jadi semuanya akan percuma jika dia menentang keputusan dari Sheilla.