
Disisi lain saat semua penghuni mansion di kerahkan untuk mencari keberadaan Monik, perempuan yang menjadi sumber kepanikan di mansion itu sekarang tengah menunggu gilirannya untuk masuk ke salah satu ruangan yang akan membuat dirinya mungkin lepas dalam satu masalah setelah dirinya nanti keluar dari ruangan itu. Ruangan yang akan dijadikan tempat dirinya menggugurkan janin yang tak berdosa itu.
Ia pikir tempat pengguguran kandungan itu tak seramai ini tapi taunya banyak orang yang akan melakukan perbuatan keji sama seperti dirinya yang alhasil membuat Monik harus sabar menunggu gilirannya yang masih 3 orang lagi. Walaupun begitu ia tetap saja gelisah, bukan gelisah karena ia akan menggugurkan kandungannya melainkan ia gelisah jika kepergiannya itu telah di ketahui oleh orang di mansion Digo.
"Aku harap sampai aku kembali, orang-orang di mansion tidak menyadari kepergianku," gumam Monik. Namun harapan dia hanya tinggal angan-angan saja pasalnya jauh sebelum dia memiliki harapan itu, semua orang sudah pergi untuk mencari keberadaan dirinya.
Disela menunggu giliran tanpa pernah Monik duga, otaknya itu mengajak dirinya untuk kembali ke masa dimana dirinya melakukan hal yang tak pernah ia inginkan dengan sosok laki-laki yang merupakan tuannya sendiri dan merupakan laki-laki yang selalu ia kagumi. Ia tau betul aksi dari dirinya dan Henry itu bukan merupakan sama-sama mau karena hanya sebuah jebakan saja. Jika saja sama-sama mau mungkin Monik lebih memilih untuk mempertahankan bayi yang ada di dalam kandungannya itu daripada menggugurkannya seperti saat ini.
Dan karena bayangan itu, tangannya tanpa sadar bergerak untuk mengelus lembut perutnya yang masih rata. Setitik air bening menetes kala dirinya menundukkan kepalanya, menatap tepat di perutnya itu.
"Maafkan aku, aku harus menyingkirkanmu karena tidak ada yang menginginkanmu untuk tetap tumbuh didalam sini sebelum keluar dan melihat indahnya dunia yang kejam ini. Maafkan aku," gumam Monik yang semakin membuat cairan didalam air matanya itu menetes sangat deras.
Sampai tiba saatnya...
"Mrs.Brixzia Galaxy Monica!" teriakan seorang perempuan yang muncul dari ruangan tersebut menyadarkan Monik dari pikirannya yang berkelana itu.
Monik menghapus cepat air matanya sebelum ia berdiri dari tempat duduknya.
"Mrs yang memiliki nama itu?" tanya perempuan itu dengan menatap Monik yang masih berdiri di tempatnya belum menghampiri perempuan tersebut.
__ADS_1
"Ya benar, saya yang memiliki nama itu." Perempuan itu tampak menganggukkan kepalanya.
"Baik kalau begitu, silahkan masuk, sekarang sudah giliran anda," ucap perempuan itu yang diangguki oleh Monik.
Monik tampak menghela nafas untuk menetralkan detak jantungnya itu sebelum dirinya mulai melangkahkan kakinya mendekati perempuan tadi.
"Silahkan." Perempuan itu mempersilahkan Monik untuk masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan itu. Dimana lagi-lagi Monik menganggukkan kepala dan barulah ia benar-benar masuk kedalam ruangan tersebut.
Masuknya Monik kedalam ruangan itu ia di sambut dengan senyuman oleh seorang wanita yang mungkin akan membantu dia melenyapkan janinnya itu.
"Mrs.Brixzia Galaxy Monica?" ucap wanita tersebut yang dijawab senyuman serta anggukkan dari Monik.
"Silahkan duduk terlebih dahulu karena saya perlu bertanya terlebih dahulu dengan anda." Tanpa menunggu perintah dari wanita itu untuk kedua kalinya, Monik mendudukkan tubuhnya di kursi yang berhadapan langsung dengan wanita itu.
"Sebelum kita melakukan proses pengguguran ini saya ingin bertanya. Apa Mrs sudah memikirkannya matang-matang? Dan tidak akan ada penyesalan setelah melakukannya?"
"Saya sudah memikirkannya secara matang dan saya tidak akan pernah menyesal," jawab Monik diakhiri dengan ia mengigit lidahnya sendiri.
"Baiklah kalau begitu, mari kita lakukan prosesnya saat ini juga. Silahkan Mrs ganti baju dulu dengan pakaian yang telah kita sediakan dan jika sudah selesai silahkan anda berbaring di atas brankar itu."
__ADS_1
"Baik." Monik bergegas menuju ke tempat ganti baju. Dan tak berselang lama ia telah keluar dengan pakaian berwarna hijau seperti yang sering digunakan pasien rumah sakit yang akan di operasi.
Tapi Monik tidak peduli dengan pakai yang tengah ia kenakan saat ini. Dan seperti yang di perintahkan oleh wanita tadi, Monik segera berbaring di atas brankar dengan mantap langit-langit ruangan tersebut.
"Anda sudah siap Mrs?" tanya wanita tadi yang membuat Monik mengalihkan pandangannya. Dimana ia bisa melihat jika wanita itu tengah bersiap sekarang dengan beberapa peralatan yang tampaknya telah di sterilkan itu. Bahkan wanita itu sudah lengkap dengan atribut yang menempel di tubuhnya. Dan jika Monik terlihat seperti seorang pasien yang akan di operasi maka wanita itu terlihat seperti seorang dokter yang akan mengoperasi Monik. Ya walaupun Monik tau jika wanita itu memang seorang dokter dari salah satu rumah sakit yang dengan sengaja membuka praktek ini secafa ilegal.
Monik tampak menghela nafas sebelum dirinya menjawab pertanyaan dari wanita tadi.
"Tentu saja siap." Wanita itu tampak tersenyum lalu mendekati Monik dengan tangannya yang sibuk menyiapkan obat bius untuk Monik.
"Anda tenang saja Mrs, saya pastikan jika rahim anda akan baik-baik saja setelah kita melakukan pengguguran ini. Anda tidak perlu takut jika rahim anda akan rusak jika melakukan hal ini. Jadi anda tidak perlu khawatir jika suatu saat nanti anda tidak akan bisa mempunyai anak lagi," ucap wanita tersebut dengan mata menyipit menandakan jika dirinya tengah tersenyum kearah Monik.
"Saya serahkan semuanya kepada Anda," balas Monik.
"Baiklah. Kalau begitu kita akan mulai sekarang." Wanita itu mulai menjentikkan jarinya dijarum suntik tersebut memastikan jika jarum tersebut bekerja dengan baik. Dan setelah ia rasa semuanya aman-aman saja, ia mulai memasukkan jarum suntik itu ke tangan Monik, lalu menyuntikkan cairan obat bius itu kedalam tubuh Monik. Dan setelah selesai ia melakukannya, ia mencabut kembali jarum tersebut sembari berkata, "Kita akan menunggu obat biusnya bereaksi."
Monik menganggukkan kepalanya. Ia paham betul obat bius biasanya akan bereaksi sekitar 1 menit saja. Namun saat perlahan kesadaran Monik mulai turun, telinga sensitifnya itu menangkap keributan yang sepertinya terjadi di luar ruangan tersebut. Dan tampaknya apa yang ia dengarkan itu nyata karena wanita yang sedari tadi berdiri disampingnya itu kini menolehkan kepalanya kearah pintu dengan kerutan di keningnya.
Saat wanita itu ingin beranjak dari samping Monik untuk memeriksa kondisi di luar ruangan itu, tiba-tiba saja...
__ADS_1
Brakkk!!!
Pintu ruangan tersebut dibuka dengan sangat kasar. Dimana hal tersebut membuat Monik menolehkan kepalanya dengan sisa-sisa kesadaran yang ia punya juga dengan penglihatan yang sudah meremang. Didalam penglihatannya yang sudah kabur itu ia sempat melihat beberapa orang masuk kedalam ruangan itu dan ada satu orang yang mendekat kearahnya dengan langkah lebar dan tegasnya. Dimana sebelum Monik tau siapa orang-orang itu, ia sudah tak sadarkan diri karena efek obat bius tersebut sudah bekerja di tubuhnya.