
"She, kamu apa-apaan sih. Kenapa harus setuju dengan apa yang dikatakan tadi? Walaupun kita ini hanya seorang maid, kita tidak bisa menuruti ucapan orang lain begitu saja. Dan ucapan itu menyangkut tentang tuan Digo yang pastinya jika tuan Digo tau jika privasinya nanti kamu korek, tuan Digo pasti marah besar," ujar Monik sembari mendekati Sheilla yang tengah terdiam.
"Iya benar itu, She. Kamu tau tuan Digo itu paling tidak suka kalau privasi mengenai dirinya terutama mengenai keluarganya di korek oleh orang awam seperti kita ini," timpal salah satu maid yang lainnya. Yang membuat Sheilla justru cemas.
Ia menerima syarat yang di ajukan oleh Vina tadi karena ia tak mau jika perempuan itu mengadu kepada Digo ataupun Henry tentang mereka yang melawan Vina tadi dan berakhir semua maid akan terkena hukuman.
Tepukan di bahu Sheilla membuat perempuan itu tersadar dari lamunannya.
"She, sebelum semuanya terlambat dan sebelum kamu menyesali semuanya, lebih baik kamu batalkan syarat yang diminta perempuan gila itu," ucap Monik yang diangguki oleh semua maid yang ada di sana.
Sheilla tampak mengedarkan pandangannya sebelum ia menundukkan kepalanya lalu ia menggeleng.
"Sepertinya aku tidak bisa untuk membatalkan syarat itu. Aku tidak ingin jika Nona Vina mengadu dengan tuan Digo atau tuan Henry yang berakhir kita semua termasuk kalian yang tadi tidak ikut campur akan ikut terhukum. Aku tidak mau jika semua itu terjadi. Jadi biarkan aku menyelesaikan masalah ini karena memang dari awal akulah yang bersalah maka jika aku diberi hukuman nanti dengan tuan Digo atau tuan Henry, kalian tidak ikut terlibat. Tapi aku yakin syarat-syarat yang diajukan oleh nona Vina akan aku selesaikan tanpa ketahuan oleh tuan Digo," ucap Sheilla dengan senyum tertekannya.
"Ketahuan saya?" Tubuh semua maid yang ada di dalam dapur dengan seketika menegang setelah mendengar suara bariton seseorang yang masuk kedalam indra pendengaran mereka.
"Ketahuan apa yang kamu maksud, Sheilla?" Tanya Digo yang ikut bergabung dengan semua maid disana yang tengah menundukkan kepalanya termasuk Sheilla. Tak ada seorang pun yang berani menatap wajah Digo.
Digo yang melihat keterdiaman dari semua orang yang ada di sana, ia semakin di buat curiga saja.
"Tidak ada yang mau kasih tau saya?" Diam, semuanya masih enggan untuk angkat suara.
"Baiklah. Jika kalian tidak ingin memberitahu saya tentang apa yang baru saja kalian bicarakan. Maka saya akan cari tahu sendiri. Dan kalian siap-siap untuk menerima hukuman dari saya, terutama kamu, Sheilla," ucap Digo dengan menatap tajam kearah Sheilla. Namun beberapa saat Digo mengerutkan keningnya saat melihat baju maid yang tengah dipakai oleh Sheilla tampak basah. Hingga matanya terbuka lebar saat pandangannya tak sengaja menatap tangan Sheilla yang biasanya putih bersih kini tampak memerah.
"Sheilla," panggil Digo.
"Iy---iya tuan," jawab Sheilla dengan gugup.
__ADS_1
"Ikut saya!" perintah Digo tanpa bantahan. Lalu setelah mengucapkan hal tersebut ia segera beranjak dari tempatnya berdiri.
Sedangkan Sheilla, ia menggigit bibir bawahnya.
"She," panggil Monik prihatin.
Sheilla melemparkan senyumannya.
"Sudah tidak apa-apa. Kalian jangan khawatir. Sudah dulu ya, aku ngikutin tuan Digo dulu," ucap Sheilla sembari mengelus lengan Monik sebelum dirinya ikut pergi dari dapur itu.
Dengan jalan yang menunduk Sheilla terus mengikuti langkah Digo yang berada jauh di depannya.
"Masuk!" perintah Digo dengan suara dinginnya saat mereka telah sampai di depan kamar pribadi Digo yang juga menjadi kamar sementara Sheilla.
Sheilla mengangguk kemudian ia masuk kedalam kamar tersebut diikuti Digo di belakangnya.
"Duduk di sofa itu." Lagi-lagi Sheilla hanya menuruti ucapan dari Digo tadi.
"Ganti pakaian kamu," perintah Digo dengan menyodorkan pakaian tadi di hadapan Sheilla.
Sheilla menengadahkan kepalanya melihat wajah Digo yang sangat-sangat datar sebelum tatapan matanya beralih ke arah tangan Digo.
"Saya tidak bisa ganti pakaian sekarang tuan karena sekarang masih jam kerja," ujar Sheilla yang justru mendapat tatapan tajam dari Digo.
"Kamu lupa siapa saya di rumah ini Sheilla?" Dengan cepat Sheilla menggelengkan kepalanya.
"Jika memang kamu tidak lupa siapa saya. Segera turuti perintah saya, Sheilla! Atau kamu mau saya bantu buat ganti baju?"
__ADS_1
"Ahhhh tidak perlu repot-repot tuan. Saya bisa sendiri. Terimakasih," ujar Sheilla sembari merebut pakaian yang di bawa oleh Digo tadi kemudian ia berlari menuju kearah kamar mandi.
Sedangkan Digo yang melihat hal tersebut ia menatap nanar tubuh Sheilla yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi itu.
Tak berselang lama, Sheilla kini telah keluar dari dalam kamar mandi itu dengan wajah merah padam antar malu dan juga marah. Iya, dia tengah malu sekaligus marah karena ternyata Digo tidak hanya mengambilkan dirinya baju ganti saja melihat laki-laki itu juga mengambilkan pakaian dalam untuknya.
Sedangkan Digo yang melihat wajah merah padam milik Sheilla, ia hanya menampilkan raut wajah biasa saja. Dan justru ia kini menggeser tempat duduknya saat Sheilla telah berdiri di sampingnya.
"Duduk!" perintah Digo sembari menepuk sofa disampingnya. Dan tanpa bantahan sedikitpun, Sheilla mendudukkan tubuhnya di samping Digo namun ia benar-benar menjaga jarak kepada laki-laki itu.
"Deketan sini," ucap Digo yang tak digubris sedikitpun oleh Sheilla. Dan hal tersebut membuat Digo berdecak sebal. Dan saking sebalnya, Digo yang memilih untuk mendekatkan dirinya ke tubuh Sheilla.
Sheilla yang dipepet oleh Digo pun ia dengan cepat berdiri dari duduknya. Dan saat dirinya berniat untuk menjauh, Digo lebih dulu menarik lengannya hingga membuat tubuh Sheilla oleng dan berakhir ia terjatuh tepat di pangkuan Digo.
"Astaga," kaget Sheilla. Dan lagi-lagi saat dirinya berniat untuk berdiri dari pangkuan Digo, laki-laki itu lebih dulu memeluknya dengan sangat erat.
"Tuan---"
"Stttt diamlah Sheilla jika kamu tidak mau bertanggungjawab saat adik saya yang ada di bawah sana bangun nanti," bisik Digo tepat di telinga Sheilla.
Sheilla yang paham arti lain dari kata adik yang dimaksud oleh Digo pun ia kini terdiam. Tak lagi memberontak seperti sebelumnya.
Digo yang sudah tak merasakan jika tubuh Sheilla memberontak seperti sebelumnya pun ia tersenyum miring sebelum dirinya kembali membisikkan sesuatu di telinga Sheilla.
"Bagaimana? Apakah pakaian dalam yang baru saya beli untuk kamu pas di kedua aset berhargamu itu?" Sheilla memelototkan matanya dan dengan cepat ia menolehkan kepalanya kearah wajah Digo yang hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya.
"Hmmm tapi jika saya lihat-lihat semuanya pas. Tidak kebesaran atau kekecilan," ucap Digo sembari menatap kearah kedua buah dada Sheilla yang otomatis membuat Sheilla mencubit lengan Digo hingga pelukan dari laki-laki itu terlepas dari tubuhnya yang langsung dimanfaatkan oleh Sheilla untuk keluar dari kungkungan laki-laki itu.
__ADS_1
"Tuan mesum!" teriak Sheilla sebelum dirinya berlari menuju kearah kamar mandi dengan sumpah serapah yang ia tujukan kepada Digo. Dan mungkin dia akan mengurung dirinya sendiri didalam ruangan lembab itu untuk menghindari ke mesuman yang akan Digo lakukan lagi kepadanya.
Sedangkan Digo, laki-laki itu terkekeh melihat wajah Sheilla yang semakin merah itu. Bahkan saking senangnya ia mengerjai Sheilla, ia sampai lupa rasa sakit akibat dari cubitan Sheilla tadi.