
Franda yang melihat Sheilla tengah menangis pun mereka berdua langsung berlari menuju kearah Sheilla, dimana Franda langsung memeluk tubuh perempuan tersebut kala dirinya telah sampai di samping Sheilla. Dan pelukan hangat yang diberikan oleh Franda tadi membuat Sheilla semakin sesenggukan.
Sedangkan Mama Ciara, ia yang tadi menyuruh bodyguard Digo untuk membawa belanjaan mereka bertiga pun ia kini berjalan mendekati Franda yang mencoba untuk menenangkan Sheilla itu.
"Kita ajak dia pulang saja," usul Mama Ciara dengan memberikan belaian di kepala Sheilla.
Dan ucapan dari Mama Ciara tadi diangguki setuju oleh Franda.
"Sheilla, kita pulang sekarang yuk sayang," ajak Franda sembari melepaskan pelukannya tadi dengan tangan yang sekarang tengah menangkup kedua pipi Sheilla tak lupa jari jempolnya pun bergerak untuk menghapus air mata Sheilla itu.
Sedangkan Sheilla yang masih shock dengan ucapan sang adik pun ia hanya bisa menimpali ajakan Franda tadi dengan anggukan kepala saja. Dan persetujuan dari Sheilla tadi membuat Franda dan Mama Ciara langsung menggiring Sheilla menuju ke parkiran mall tersebut.
Dan dengan menempuh perjalanan hampir setengah jam, akhirnya mobil yang ditumpangi ketiga perempuan itu telah sampai di mansion Digo. Dengan posisi Sheilla yang sudah tidak menangis seperti sebelumnya, perempuan itu angkat suara sebelum ia keluar dari dalam mobil tersebut.
"Mama Ciara, Tante Franda. Sheilla ke dalam dulu ya. Terimakasih untuk waktu Mama dan Tante tadi," ujar Sheilla dan tanpa menunggu dua wanita itu menimpali ucapannya, Sheilla langsung ngacir turun bahkan dengan langkah lebarnya ia memasuki mansion tersebut.
Dan tanpa mencari Digo terlebih dahulu, Sheilla justru langsung menuju ke kamarnya.
Sedangkan Mama Ciara dan Franda, keduanya menyusul Sheilla namun sayang mereka tak bisa menggapai Sheilla yang sudah masuk kedalam lift di mansion tersebut.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Franda yang tak tega melihat Sheilla bersedih seperti itu.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara perempuan sialan itu. Jika dia tadi tidak mengatakan hal sensitif seperti tadi, Sheilla tidak mungkin akan bersedih seperti ini. Huh menyebalkan!" timpal Mama Ciara yang ikut emosi saat perkataan dari Shinta tadi terngiang-ngiang di telinganya.
"Iya ihhhh kalau tadi Sheilla tidak melihat perempuan itu, kita pasti akan lanjut bersenang-senang."
"Sudahlah, semua ini juga sudah terjadi. Dan lebih baik kita sekarang cari Al karena aku yakin hanya dia yang bisa memenangkan Sheilla," ajak Mama Ciara yang diangguki oleh Franda sebelum keduanya kini berjalan menelusuri setiap ruangan di mansion tersebut. Dimana mereka akhirnya menemukan para laki-laki itu tengah bercengkrama di gazebo samping kolam renang di belakang mansion tersebut.
Dua wanita paruh baya itu, dengan berlari kecil mendekati para laki-laki tersebut hingga membuat mereka mengerutkan keningnya.
"Kalian berdua kenapa lari-larian seperti anak kecil?" ucap Papa Devano heran dengan tingkah Mama Ciara dan Franda itu.
"Iya, Mama sama Aunty gak ada yang ingat umur," timpal Digo.
"Tapi tunggu dulu, dimana Sheilla sekarang? Kenapa dia tidak bersama Mama dan Aunty?" sambung Digo dengan mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Sheilla yang tak kunjung memunculkan batang hidungnya itu.
"Maksud Mama?" tanya Digo tak paham.
"Ck, Sheilla tidak bersama kita berdua karena dia sekarang tengah bersedih," jawab Franda.
"Bersedih?" Beo Bian.
"Iya. Bahkan sesampainya kita di mansion ini tadi, dia langsung pergi ke kamarnya. Jadi Al, lebih baik kamu sekarang susulin Sheilla ke kamar sana, tenangkan dia. Karena aku yakin dia akan tenang kalau bersama denganmu." Digo yang mendengar ucapan dari Mama Ciara pun ia kini menganggukkan kepalanya sebelum dirinya beranjak dari tempat duduknya itu dan dengan cepat ia masuk kedalam mansionnya meninggalkan dua pasang suami-istri itu.
__ADS_1
Dan baru saja dua wanita paruh baya itu mendudukkan tubuhnya disamping suami mereka masing-masing, terdengar suara Bian bertanya kepada mereka berdua.
"Kata kalian tadi Sheilla menangis bukan?" tanya Bian yang dibalas dengan anggukan kepala dari Mama Ciara dan istrinya sendiri.
"Dan apa penyebab dia bisa sampai menangis?" tanya Bian
"Jika aku ceritakan, aku yakin sampai lebaran monyet tidak akan selesai. Intinya Sheilla tadi sempat bertemu dengan adiknya. Dimana adiknya itu mengucapakan hal-hal yang membuat Sheilla murka, sebenarnya bukan hanya Sheilla saja yang murka, melainkan aku dan Franda juga." Papa Devano dan Bian yang mendengarnya pun mereka berdua hanya bisa menganggukkan kepala.
Sedangkan disisi lain, pintu lift yang digunakan oleh Digo kini terbuka yang membuat Digo dengan cepat melangkahkan kakinya dengan lebar menuju ke kamarnya. Dimana saat ia sudah berada di depan pintu kamar itu, tanpa mengetuk terlebih dahulu ia langsung membukanya.
"Sayang," panggil Digo dengan mata yang kini tertuju kearah Sheilla yang tengah bersembunyi di balik selimutnya.
"Sayang heyyy. Kenapa?" tanya Digo yang telah duduk di atas ranjang disamping tubuh Sheilla sembari tangannya terulur untuk mengelus lengan kekasihnya itu.
"Cerita sini sama aku. Kenapa pulang-pulang kamu malah sedih seperti ini hmmm?" Dengan penuh kelembutan dan kesabaran, Digo mencoba untuk membuat Sheilla bercerita kepadanya.
Namun sayang beberapa saat setelah ia mengucapkan pertanyaannya tadi, Sheilla tak kunjung membuka selimut yang membungkus badan perempuan itu. Dan hal tersebut membuat Digo menghela nafas panjang.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau bercerita alasan kamu bersedih seperti ini kepadaku. Aku keluar dulu ya, sedihnya jangan lama-lama. Aku tidak suka," ujar Digo dengan memberikan kecupan di kepala Sheilla. Ia mencoba untuk memberikan ruang untuk Sheilla sendiri terlebih dahulu. Namun saat dirinya ingin beranjak pergi dari atas ranjang, Sheilla meraih tangannya yang membuat Digo mengurungkan niatnya. Kemudian ia menolehkan kepalanya kearah Sheilla yang wajahnya tampak memerah karena banyak menangis.
"Jangan pergi. Temani aku disini," ujar Sheilla dengan sesegukan. Digo yang di minta pun ia tersenyum kearah Sheilla sebelum dirinya mendekati tubuh kekasihnya itu kembali, berbaring disamping Sheilla lalu memeluk tubuh kekasihnya itu dengan usapan yang ia berikan di punggung Sheilla.
__ADS_1
"Kalau mau menangis, menangis saat tidak apa-apa, aku mengizinkannya tapi ingat hanya sebentar saja dan setelahnya jangan bersedih lagi," kata Digo yang langsung membuat Sheilla menangis sejadi-jadinya di pelukan nyaman Digo tersebut.
Digo yang mendengar isakan dari Sheilla pun tak henti-hentinya dia mengusap punggung Sheilla dengan sesekali ia mengecup puncak kepala Sheilla. Biarlah Sheilla meluapkan kekesalannya itu dengan cara menangis, Digo pun tidak akan memaksa Sheilla untuk menceritakan alasan kekasihnya itu bersedih karena ia bisa mencari tahu sendiri dari anak buahnya yang ia tugaskan untuk mengawal tiga perempuan kesayangannya tadi. Dan dia pastikan setelah ia tau siapa dalang yang membuat Sheilla bersedih, ia akan membuat perhitungan kepada orang itu.