
Saat mereka telah sampai di depan pintu utama rumah tersebut, Franda langsung membuka pintu tersebut dengan sangat lebar.
"Silahkan masuk kerumah bunda, sayang," ucap Franda yang dibalas senyuman oleh Sheilla sebelum perempuan itu menganggukkan kepalanya dan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah mewah itu.
Deg!
Debaran di jantung Sheilla tiba-tiba saja berdetak kencang saat dirinya sudah masuk kedalam rumah tersebut. Dan hal itu membuat Sheilla menjadi gusar sendiri jadinya.
"Ya Tuhan, kenapa aku deg-degan seperti ini? Apakah akan ada sesuatu yang akan terjadi nanti? Dan kenapa aku jadi takut kalau Digo menemukan bukti jika Uncle Bian ikut terlibat dalam pembebasan Yoga itu. Aku takut Digo nanti melukai Uncle Bian. Ya Tuhan! Kenapa aku tidak berpihak kepada Digo sekarang yang harusnya aku tidak takut jika Uncle Bian nanti mendapat balasan dari Digo jika memang beliau ketahuan terlibat dan mendukung apa yang akan Digo lakukan. Justru aku sekarang malah was-was dan takut hal itu terjadi," batin Sheilla dengan tatapan kosong yang menatap lurus kedepan.
Dimana hal itu di sadari oleh Franda. Hingga wanita paruh baya itu kini memeluk pundak Sheilla hingga membuat gadis tersebut tersadar dari keterbengongannya itu.
"Apa ada hal yang membuat pikiranmu tidak tenang Sheilla?" Sheilla menolehkan kepalanya lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu kenapa kamu melamun tadi hmmm?" tanya Franda.
"Ahhhh tidak apa-apa Bunda. Oh ya Sheilla boleh tanya sesuatu ke Bunda?" tanya Sheilla.
"Tanya apa sayang? Kalau bisa akan Bunda jawab pertanyaanmu itu. Tapi lebih baik kita duduk dulu yuk. Pegel juga kaki Bunda kalau harus berdiri lama seperti ini," ajak Franda.
"Ehhh ya sudah kita duduk saja Bun," ujar Sheilla yang diangguki oleh Franda sebelum keduanya kini berjalan menuju ke arah sofa di ruang tamu. Dan lagi-lagi mereka meninggalkan Digo yang kini berdecak malas sebelum ia kini angkat suara.
__ADS_1
"Aunty, Uncle Bian kemana?" tanya Digo dengan menghampiri kedua perempuan itu yang kini sudah mendudukkan tubuh mereka ke sofa di ruang tamu itu.
"Uncle kamu ada tuh di ruang kerjanya. Dia lagi menyelesaikan pekerjaannya," jawab Franda.
"Begitu ya. Kalau Al menyusul Uncle Bian di ruang kerjanya kira-kira mengganggu tidak?" tanya Digo.
"Mana Aunty tau. Coba saja sana."
"Huh, ya sudah deh. Al mau ke ruang kerja Uncle Bian dulu semoga saja kedatangan Al ini tidak menggangu Uncle," ujar Digo.
"Ya sudah sana gih. Aunty juga tidak mau diganggu sama kamu saat Aunty lagi bersama dengan Sheilla," usir Franda yang membuat Digo kini berdecak sebal. Dan seperti anak gadis saja, Digo berjalan menuju ke ruang kerja Bian dengan sesekali menghentak-hentakkan kakinya. Dan hal tersebut membuat Sheilla tak percaya melihatnya.
Sedangkan Franda, ia justru terkekeh sebelum dirinya mengalihkan pandangannya kearah Sheilla yang masih tak percaya dengan tingkah kekasihnya yang baru ia lihat itu.
"Sebelum Sheilla bertanya, Sheilla mau meminta maaf ke Bunda jika pertanyaan Sheilla ini nanti akan mengingatkan Bunda dengan seseorang." Franda mengerutkan keningnya sebelum dirinya menganggukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa sayang. Jadi katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan."
Sheilla tampak mengambil nafas dalam sebelum dirinya mulai angkat suara kembali.
"Bunda punya putri yang bernama Yura kan?" Franda yang mendengar pertanyaan dari Sheilla pun ia tampak terkejut sesaat sebelum ia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kalau boleh tau kapan tanggal ulang tahun Yura?" tanya Sheilla. Entah kenapa ia ingin tau segala sesuatu mengenai sahabat kecil kekasihnya itu.
"Dia lahir di tanggal 6 Juni, 25 tahun yang lalu," jawab Franda.
"Ehhh 6 Juni dan 25 tahun yang lalu. Berarti tanggal ulang tahun Yura sama dengan tanggal ulang tahun Sheilla dong," ucap Sheilla tak menyangka.
"Iya kah?" Sheilla menganggukkan kepalanya.
"Wahhhhh kebetulan sekali ya kalau begitu," ujar Franda.
"Iya sangat-sangat kebetulan. Dan kalau boleh tau, Yura itu dulunya seperti apa Bun? Sumpah ya setelah Sheilla mendengar cerita Digo tentang Yura, Sheilla jadi penasaran dengan dia. Boleh kan Bun kalau Sheilla mau tau tentang Yura?" Franda tersenyum dengan tangan yang kini terulur untuk mengelus kepala Sheilla dengan sangat lembut.
"Tentu saja sayang. Bunda akan menceritakan semuanya tentang Yura," ujar Franda terlihat jelas tatapan matanya yang begitu sedih kala mengingat anaknya itu.
Dan setelah menghela nafasnya, ia mulai bercerita.
"Yura itu anaknya sangat-sangat periang tapi dia juga sangat manja ke Bunda ataupun Papa. Tapi satu hal yang membuat Bunda bangga sampai saat ini kepada dia yaitu bangga akan dirinya yang tidak pernah mengeluh sama sekali. Bunda yakin pasti Al sudah menceritakan semuanya tentang masa kelama Yura. Nah saat dia menjalani hidupnya yang benar-benar dikelilingi oleh orang-orang yang ingin membunuhnya, ia tak pernah mengeluh sama sekali. Dia justru selalu meyakinkan Bunda dan Papa untuk tidak terlalu mengkhawatirkan dia. Dan kamu tau Sheilla, berkali-kali dia terluka tapi dia tetap tersenyum karena dia tidak mau melihat Bunda dan Papa bersedih melihat dia. Dia juga sangat pintar dalam mata pelajaran apapun di sekolahnya. Dia benar-benar anak hebat yang selalu membuat Bunda dan Papa selalu bersyukur telah diizinkan oleh Allah yang maha kuasa untuk memilikinya selama 9 tahun. Dimana 9 tahun itu sangat sebentar untuk Bunda ataupun Papa bersama dengan dia, menghabiskan waktu kita di dunia ini dengan dia. Tapi Bunda dan Papa tidak bisa berbuat apa-apa saat takdir membuat Bunda dan Papa menjauh darinya. Ikhlas? Tentu saja Bunda dan Papa tidak ikhlas menerima takdir itu. Tapi lagi-lagi kita tidak bisa menolak takdir kita. Dan mungkin hal itu adalah jalan yang terbaik yang Allah berikan ke Bunda, Papa dan juga Yura," cerita Franda dengan menggenggam erat tangan Sheilla, bahkan tatapan matanya yang tengah berkaca-kaca itu kini menatap dalam manik mata Sheilla. Dimana Sheilla juga tengah berkaca-kaca setelah mendengar cerita dari Franda itu.
Tapi matanya yang kini tengah berkaca-kaca itu akhirnya mengeluarkan air matanya kala Franda memeluk dirinya.
"Biarkan bunda memelukmu untuk sebentar saja ya Sheilla," pinta Franda yang sepertinya ia juga tengah menangis.
__ADS_1
Dan ucapan dari Franda itu diangguki oleh Sheilla yang tengah membalas pelukan dari wanita paruh baya yang ada di dekapannya itu dengan memberikan elusan di punggung Franda, mencoba untuk memberikan ketenangan kepada wanita tersebut.